PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 47


__ADS_3

“Bagaimana pestanya semalam?” Tanya Tina sambil merapikan seragam kerjanya.


“Cukup ramai. Tapi aku merasa tidak nyaman.” Jawab Zahra membuat Tina mengeryit penasaran.


“Kenapa?”


Zahra menoleh pada Tina yang sedang menatapnya kemudian tersenyum geli.


“Semua perempuan disitu seperti gegasi menurutku. Mereka begitu tinggi dan ramping seperti kamu.” Jawab Zahra sembari meledek Tina yang memang tinggi dan ramping.


Tina berdecak. Sebenarnya Tina tau Zahra dan Faza datang ke pertunangan kakaknya dan Anita. Itu juga salah satu sebab Tina tidak mau datang. Tina tidak mau Zahra tau siapa dirinya sebenarnya. Tina takut Zahra menjauh dan merasa tidak selevel dengan-nya. Karna yang Zahra tau Tina hanya anak kosan biasa.


“Oh iya Tin, nanti kan kita gajian. Eemm Gimana kalau kamu temenin aku ke mall? Aku lagi pengin beli sesuatu nih.”


Tina diam sesaat kemudian mengangguk dengan mantap.


“Nggak masalah.” Senyumnya.


Zahra ikut tersenyum. Zahra berencana untuk membelikan sepatu baru untuk mamah mertuanya. Zahra berharap tujuan baiknya ingin memberikan sesuatu untuk mamah mertuanya berujung seperti niatnya juga.


“Oke.. Kita mulai kerja sekarang?”


“Yuk..”


Tina merangkul bahu Zahra kemudian mengajak Zahra keluar dari ruang ganti untuk memulai aktivitas mereka pagi ini.


Seperti rencananya, Karna hari ini juga Zahra dan Tina mendapat gajinya saat pulang kerja keduanya segera meluncur ke mall terdekat. Mereka berdua keliling mall untuk mencari sepatu dengan harga yang pas dengan uang Zahra. Cukup lama mereka berdua berkeliling hingga akhirnya Zahra menemukan sepatu dengan model yang pasti disukai oleh mamah mertuanya.


“Ini itu sepatu buat tante tante Ra.. Masa iya kamu mau pake sepatu beginian sih?”


Tina menggelengkan kepalanya merasa aneh dengan pilihan Zahra. Sepatu berwarna hitam itu memang bagus, tapi menurut Tina itu tidak pantas untuk Zahra yang masih terlihat seperti anak dibawah umur.


“Ini bukan buat aku tau Tin. Ini itu buat mamahnya mas Faza. Lagian aku nggak biasa pake sepatu tinggi begini.”


Tina mengangguk paham. Tina kemudian melirik harga dari sepatu yang sedang dipegang Zahra. Tina mendelik. Harga sepatu itu sangat mahal dan uang Zahra tidak akan mungkin cukup untuk membelinya.


“Ra... Kamu bawa duit berapa?”


Zahra mengalihkan perhatian-nya pada Tina yang berdiri disampingnya.


“Memangnya kenapa?”


Bukan-nya menjawab, Zahra justru bertanya balik pada Tina dengan nada penasaran yang begitu kentara.

__ADS_1


“Itu liat harganya..”


Zahra mengikuti arah pandang Tina dan terkejut begitu melihat harga sepatu yang menjadi pilihan-nya.


“Ya Tuhan...” Lirih Zahra terkejut.


Zahra menggelengkan kepalanya menatap tidak percaya pada harga yang tertera dibawah rak yang menjadi tempat sepatu hitam itu.


“Uangku nggak akan cukup Tin..” Lirih Zahra.


Tina menghela napas. Tina ingin sekali membantu, tapi itu tidak mungkin. Tina takut Zahra curiga atau bertanya darimana uang yang dia miliki.


“Ra, ini mah aku kasih pinjem uangku juga nggak bakal bisa cukup buat beli sepatunya.”


Zahra mengangguk lemas. Semangatnya yang sejak tadi berkobar seketika hilang begitu saja karna melihat angka yang tertera di harga sepatu pilihan-nya.


“Mending kita cari yang lain aja deh Ra..” Saran Tina.


Zahra berdecak pelan. Zahra meletakan sepatu itu ditempatnya semula kemudian mengangguk lagi menyetujui saran Tina untuk mencari barang lain yang bisa dia beli dengan uang yang dimilikinya.


Belum sempat menemukan barang pengganti sepatu itu, Faza sudah menelpon dan mengatakan sudah sampai didepan Restoran. Zahra hampir saja menangis saking kesal dan lelahnya.


“Udah.. Nggak papa.. Kan kamu bisa beliin sesuatu yang lain yang sesuai dengan uang kamu. Nggak usah terlalu memaksakan lah.. Mending sekarang kita balik. Mas Faza kamu udah nunggu depan restoran kan?”


“Iya Tin..”


“Ayo..”


Tina menggandeng tangan Zahra dan mengajaknya untuk kembali ke restoran karna Faza sudah menunggu Zahra disana.


--------------


Faza mengeryit ketika melihat Zahra dan Tina datang dari arah yang berlawanan dengan-nya. Ketika Tina berhenti tepat didepan motor gedenya Faza langsung menanyakan darimana istrinya itu.


“Kamu darimana Ra?” Tanya Faza tanpa memperdulikan Tina yang masih berada diantara mereka.


“Aku tadi abis ke mall yang ada disitu sebentar.” Jawab Zahra jujur.


“Ke mall? Kenapa nggak nunggu aku aja? Aku kan bisa anterin kamu kesana.”


Zahra melirik Tina yang hanya diam diatas motornya.


“Ini urusan perempuan mas.” Katanya membuat Faza menghela napas.

__ADS_1


“Ya sudah. Ayo pulang..”


“Oke...” Angguk Zahra.


“Tina, kami duluan ya.. Makasih karna sudah mau nemenin my Buntek jalan keliling mall.” Ujar Faza yang membuat Tina tertawa namun membuat Zahra yang sudah berada diboncengan-nya memekik karna kesal.


Sampai malam Zahra terus saja diam dan terlihat tidak bersemangat. Faza yang merasa penasaran pun mendekati istrinya yang sedang galau itu.


“Sayang...” Panggil Faza mendudukan dirinya disamping Zahra yang sedang melamun diatas tempat tidur mereka.


“Mas.. Hari ini aku capek banget. Libur dulu yah..” Ujar Zahra yang menganggap Faza hendak meminta jatah malamnya.


Faza tertawa mendengarnya.


“Memangnya wajah aku keliatan banget kaya orang lagi pengen ya sayang?”


Zahra tidak menjawab. Zahra terus memasang ekspresi sendunya pada Faza yang berada disampingnya.


“Enggak kok sayang.. Aku nggak akan maksain buat itu.. Aku cuma penasaran aja kenapa istrinya aku sepertinya sedang tidak semangat malam ini?”


Zahra menghela napas kemudian menundukan kepalanya. Mendengar pertanyaan Faza membuat Zahra teringat kembali dengan sepatu yang sudah Zahra yakini akan disukai oleh Sinta.


“Hey...”


Faza meraih lembut dagu Zahra dan mendongakkan-nya dengan lembut.


“Cerita sama aku ada apa? Ada masalah sama kerjaan kamu? bos kamu marahin kamu?”


Zahra menggeleng dan langsung berhambur memeluk Faza. Sedih sekali rasanya karna rencana yang sudah dia angankan begitu indah harus gagal karna uangnya yang terbatas.


Zahra akhirnya menceritakan penyebab kesedihan-nya pada Faza yang dengan seksama mendengarkan sambil memeluk dan mengusap lembut lengan Zahra.


“Mamah memang suka dengan barang barang mewah sayang.. Tapi bukan berarti kamu harus maksain diri kamu bahkan sampai menghabiskan uang kamu buat beliin sesuatu untuk mamah. Kamu bisa mengusahakan yang lain yang mungkin bisa lebih membuat dengan gampang memberi restu pada kita berdua.”


Zahra langsung melepaskan pelukan Faza dan menatap tepat pada kedua bola mata suaminya itu.


“Apa?” Tanya Zahra pelan.


Faza tersenyum. Faza menyentuh lembut perut rata Zahra. Entah kenapa Faza tiba tiba berpikir mungkin kedua orang tuanya akan memberinya restu jika Zahra hamil anaknya.


“Mamah sangat suka pada anak kecil. Dan aku pikir mungkin mamah dan papah akan luluh dan menerima pernikahan kita jika kamu hamil sayang...”


Zahra diam. Pernikahan mereka hampir menginjak bulan ke empat. Namun sampai sekarang Zahra belum juga hamil padahal mereka selalu rutin melakukan aktivitas berdua diatas ranjang.

__ADS_1


__ADS_2