
Sementara itu dirumahnya, Zahra dan Faza sedang menyantap makan malam bersama. Mereka berdua mengobrol hangat tentang pekerjaan Faza juga rencana persalinan Zahra yang memang tidak terasa sebentar lagi akan tiba.
“Aku pikir tadi kamu mau makan malam bareng mamah sama papah..” Ujar Zahra sembari mengunyah makanan dalam mulutnya.
“Enggak. Aku males soalnya disana juga ada Loly.” Jawab Faza.
“Loly?” Tanya Zahra mengeryit.
“Iyah.. Aku dan Loly datang beriringan. Mamah bilang sih mamah yang nyuruh Loly buat dateng.”
Zahra menganggukan kepalanya mengerti.
“Kamu kok kayanya santai banget aku bicara tentang Loly?” Tanya Faza menatap Zahra penasaran.
Zahra menatap Faza kemudian tersenyum.
“Loly.. Dia sebenarnya orang baik.” Katanya.
“Maksud kamu?” Tanya Faza bingung.
“Kan sekarang Loly udah nggak ngejar ngejar kamu lagi mas.. Loly juga seperti sudah nggak begitu perduli sama aku. Jadi aku nggak ada alasan buat cemburu.”
“Kenapa kamu bisa begitu gampang merubah pandangan kamu pada Loly. Padahal bisa aja loh Loly itu cuma pura pura.” Kata Faza berasumsi.
Zahra tertawa pelan mendengarnya.
“Kamu lagi nggak ngarep Loly ngejar ngejar kamu kan mas?” Tanya Zahra meledek.
Faza berdecak.
“Ya nggak lah.. Cuma aku heran aja karna kamu bisa begitu yakin dengan Loly yang kata kamu adalah orang baik. Apa karna sekarang Loly mendekati Fadly?”
“Eemmm.. Itu salah satunya mas. Aku sama Loly itu sama sama perempuan. Jadi aku tau bagaimana membedakan yang hanya sekedar ambisi dan ketulusan.”
“Jadi maksud kamu dulu Loly ngejar aku hanya karna ambisinya saja begitu? Terus ke Fadly tulus?”
“Tepat sekali.” Senyum Zahra.
Faza tampak berpikir. Entah kenapa Faza juga merasakan hal yang demikian. Padahal respon Fadly tidak jauh berbeda dengan-nya. Fadly bahkan begitu terang terangan menolak kehadiran Loly disekitarnya.
“Padahal kalau dipikir pikir Fadly sama Loly itu cocok loh mas.. Tapi kayanya mamah pengin-nya kamu yang sama Loly..”
__ADS_1
Ekspresi Zahra mendadak berubah. Mengingat Sinta yang sampai saat ini masih menolaknya membuat Zahra sedih. Zahra sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi menantu yang baik. Tapi nyatanya Sinta belum juga mau menerimanya.
“Sudahlah nggak usah dipikirin sayang... Kan yang penting aku maunya sama kamu sayang..” Senyum Zahra meraih tangan Zahra dan menggenggamnya erat. Faza tidak ingin Zahra terlalu banyak pikiran hanya karna Sinta yang sampai saat ini belum bisa menerima kehadiran-nya di sisi Faza.
“Ya mas...” Angguk Zahra tersenyum.
“Udah.. mending sekarang kamu abisin ya makan-nya. Abis ini kita istirahat.”
“Oke...” Angguk Zahra setuju.
Setelah Zahra menghabiskan makanan-nya, Faza pun mengajak Zahra untuk beristirahat. Namun begitu sampai dikamar dan mereka berbaring bersama ditempat tidur rasa kantuk sama sekali tidak menyapa keduanya. Mereka saling berpelukan namun belum kunjung bisa memejamkan kedua matanya dengan tenang.
“Mas...”
“Hem...”
Zahra memainkan jari jarinya diatas dada bidang Faza yang memeluknya. Entah kenapa tiba tiba Zahra memikirkan tentang apa yang akan Sinta lakukan jika sampai tau Aries dan Nadia menginap dan menemaninya dirumah sampai Faza kembali dari Amerika.
“Apa mamah tau kak Aries dan kak Nadia akan disini untuk menemani aku?” Tanya Zahra pelan.
“Iya.. Mamah tau.” Jawab Faza tenang.
Faza diam. Sinta memang mengomelinya saat Faza mengatakan Aries dan Nadia akan menemani Zahra dirumah. Tapi Faza tidak mungkin berterus terang pada istrinya tentang kemarahan mamahnya itu.
“Tidak.. Mamah hanya bilang akan kesini untuk melihat kamu.” Jawab Faza yang tentu saja adalah sebuah kebohongan karna apa yang Faza katakan tentu saja berbanding terbalik dengan kenyataan-nya.
Zahra tersenyum. Zahra yakin apa yang Faza katakan pasti adalah kebohongan. Karna pada kenyataan-nya Sinta sangat membencinya juga keluarganya. Sinta pasti berkomentar pedas tentang Aries dan Nadia yang akan menginap selama Faza melakukan pekerjaan-nya di Amerika.
“Tidurlah sayang.. Besok aku harus pagi pagi sekali ke bandara.”
“Apa kak Aries dan kak Nadia akan ikut ke bandara untuk mengantar kamu mas?”
“He'em.. Katanya sih begitu.” Jawab Faza.
“Tidurlah sayang.. Aku sangat mencintaimu.” Ujar Aries sembari mengungkapkan cinta pada Zahra.
“Eemm.. Ya.. Aku juga mas.” Balas Zahra.
Keduanya kemudian dengan kompak memejamkan kedua matanya menunggu rasa kantuk itu menyapa yang akan mengantarkan-nya kedalam tidur lelapnya.
-------------
__ADS_1
Pagi pagi sekali Aries dan Nadia sudah datang ke rumah Faza. Arka bahkan masih tertidur dengan lelap dipangkuan Nadia saat itu. Mereka berniat mengantar Faza yang harus berangkat ke bandara pagi ini.
“Mana Zahra?” Tanya Aries pada mbak Lasmi yang sedang menyiapkan hidangan pagi itu untuk sarapan.
“Nyonya masih ada diatas tuan. Mari tuan silahkan duduk..”
“Ya...” Saut Aries kemudian duduk dikursi dimeja makan.
Sedangkan Nadia, wanita itu melangkah menuju kamar tamu yang ada dilantai bawah untuk membaringkan Arka. Setelah membaringkan Arka diatas ranjang, Nadia pun melangkah keluar dari kamar tamu menuju meja makan.
“Saya bantu ya mbak...” Senyum Nadia menawarkan diri untuk membantu mbak Lasmi yang masih sibuk menyiapkan sarapan.
“Oh tidak perlu nyonya. Biar saya saja..” Tolak mbak Lasmi dengan halus.
“Udah nggak papa mbak. Saya juga biasa apa apa nyiapin sendiri kok..”
“Ya sudah kalau begitu nyonya. Maaf merepotkan nyonya.”
“Mbak ini ada ada saja. Saya yang bakal ngerepotin mbak loh nanti...”
Keduanya tertawa bersama sambil menyiapkan sarapan pagi bersama.
Tidak lama setelah sarapan siap, Faza dan Zahra muncul. Mereka tersenyum melihat Aries dan Nadia yang sudah menunggu dimeja makan.
Mereka pun akhirnya sarapan bersama dengan diselingi obrolan hangat. Namun tidak dengan Aries yang hanya diam menikmati hidangan didepan-nya.
Selesai sarapan, Mereka pun segera berangkat mengantar Faza ke bandara. Tidak lupa Nadia membangunkan Arka dan menyuapinya didalam mobil dalam perjalanan menuju bandara.
Mobil Faza dan mobil Aries melaju beriringan di pagi buta itu. Meskipun memang suasana tegang dan dingin masih menyelimuti keduanya jika sedang bersama toh keduanya tetap saling perduli. Terbukti dengan Aries yang mau datang pagi pagi buta hanya untuk mengantar Faza ke bandara.
Sekitar setengah jam perjalanan mereka sampai dibandara. Mereka turun dari mobil dan berkumpul tepat didepan mobil Faza.
“Kamu hati hati ya mas.. Jaga kesehatan. Jangan sampai telat makan dan istirahat. Cepat pulang, aku menunggu kamu.”
Kedua mata Zahra berkaca kaca saat mengatakan-nya. Selama menikah ini kali pertama mereka berdua harus berjauhan.
“Iya sayang.. Kamu nggak usah khawatir. Aku pasti akan jaga diri dengan baik.”
Zahra kemudian memeluk Faza dengan erat. Nadia dan Aries yang melihatnya hanya bisa diam.
“Jaga anak kita ya.. Aku akan segera pulang setelah semuanya selesai.” Bisik Faza membalas lembut pelukan erat Zahra.
__ADS_1