
Seperti pagi pagi biasanya, Faza mengantar Zahra ke restoran sebelum berangkat kekantor.
“Kayaknya nanti aku pulang agak telat sayang, kamu nanti minta diantar saja ya sama Tina.” Ujar Faza ketika Zahra turun dari boncengan-nya dan berdiri disamping motor gede Faza dengan menghadap pada Faza yang tidak melepas helm yang dikenakan-nya.
Zahra menganggukan kepala dengan senyuman dibibirnya.
“Ya udah kalau begitu masuk gih, aku udah mau jalan..”
Zahra menganggukan lagi kepalanya kemudian menyalimi Faza.
“Hati hati..” Begitu titahnya sebelum Faza melajukan cepat kendaraan besar beroda duanya itu.
Setelah motor Faza tidak lagi terlihat, Zahra pun melangkahkan kedua kakinya masuk kedalam restoran.
“Selamat pagiii..” Sapa Tina ceria begitu Zahra masuk kedalam restoran.
Zahra mengeryit. Rasanya aneh sekali mendengar sapaan tidak biasa dari Tina. Apa lagi melihat ekspresi Tina yang begitu ceria dan tampak berbunga bunga.
“Kamu baik kan Tin?”
Ekspresi dan pertanyaan Zahra membuat Tina tertawa. Tina kemudian merangkul bahu Zahra.
“Aku bahkan sangat baik hari ini Ra.. Jauh lebih baik dari hari hari biasanya.”
Zahra semakin bingung. Setahunya Tina selalu baik baik saja setiap hari.
“Kamu tumben baru dateng jam segini?” Tanya Tina kemudian.
“Memangnya sekarang jam berapa?”
“Masih jam setengah 7 sih.”
Zahra berdecak. Mereka bahkan sering datang lebih dari jam 7 pagi.
“Kita sering berangkat hampir jam 8 Tina.” Jengah Zahra.
Tina hanya nyengir saja. Tina kemudian mengikuti Zahra menuju ruang ganti.
“Eh, kamu mau ngapain?” Tanya Zahra bingung.
“Kan kamu sudah ganti baju.” Lanjut Zahra.
Tina menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Terlalu bahagia membuatnya bingung bahkan sampai salah tingkah.
__ADS_1
“Aku mau temenin kamu ganti baju.”
Zahra menyipitkan kedua matanya menatap penuh selidik pada Tina yang sangat aneh menurutnya pagi ini.
“Kamu lagi kenapa sih Tina? Apa ada sesuatu yang aku tidak tau?”
Tina senyum senyum sendiri. ini kali pertama Tina merasa sangat bahagia setelah peristiwa perceraian kedua orang tuanya.
“Eemm.. Enggak, nggak papa. Ya sudah aku keluar yah..”
Zahra menggelengkan kepalanya. Tina memang selalu ceria setia hari. Tapi Tina tidak pernah sebegitu antusiasnya sampai membuatnya terlihat seperti orang bodoh.
“Sudahlah.. Lebih baik sekarang aku ganti baju terus mulai bekerja. Semangat Zahra.” Gumam Zahra tersenyum dan menyemangati dirinya sendiri.
--------
“Pak Faza..”
Panggilan Anita membuat Faza mengalihkan perhatian-nya dari laptop miliknya pada Anita yang duduk didepan-nya.
“Ya..”
“Ini sudah waktunya makan siang. Bagaimana kalau kita makan siang dulu saja? Kita bisa melanjutkan pekerjaan ini nanti lagi.”
“Kamu saja dulu. Saya nanti saja.” Senyum Faza kemudian kembali memusatkan perhatian-nya pada laptop yang sedang dipegangnya.
Senyuman dibibir Anita seketika memudar.
“Tapi kan pak..”
“Anita, kalau kamu mau makan siang dulu silahkan. Saya nanti saja. Sebentar lagi juga selesai.” Sela Faza menatap lagi pada Anita.
Anita langsung bungkam. Anita menganggukan pelan kepalanya mengerti dengan apa yang Faza maksud. Sejak menikah dengan Zahra, Faza memang sedikit dingin padanya. Tapi sikap dingin Faza tidak mampu membuat rasa suka dan kagum Anita pada Faza berkurang. Faza tetap menjadi penguasa dihatinya.
“Ya sudah kalau begitu. Saya permisi pak Faza.”
“Hemm..” Saut Faza dengan perhatian terus tertuju pada laptopnya.
Anita bangkit dari duduknya kemudian berlalu dari ruangan-nya dengan Faza. Ketika sampai didepan pintu, Anita kembali menoleh pada Faza yang terus fokus dengan laptopnya. Anita tidak mengerti dengan hatinya sendiri. Faza bukan pria lajang. Faza sudah mempunyai istri yang bahkan sangat dicintainya. Tapi hati Anita terus terpaut pada pria yang sedikitpun tidak pernah menganggap keberadaan-nya.
Anita menghela napas kemudian keluar dan menutup pelan pintu ruangan-nya dengan Faza.
Anita tidak tau apakah dirinya bisa melupakan Faza atau tidak. Karna hingga detik ini perasaan itu masih sangat kuat meskipun Anita sendiri tau bahkan menyaksikan saat Faza duduk berdampingan dengan Zahra dan mengucapkan ijab kobul dengan sangat lancar hari itu.
__ADS_1
Diruangan-nya Faza menghela napas kemudian menutup laptopnya. Faza sengaja bersikap dingin pada Anita. Semua itu Faza lakukan agar Anita tidak berharap padanya. Faza bahkan beberapa kali memberikan makanan yang Anita berikan padanya pada karyawan lain yang kemudian Anita menyaksikan-nya sendiri. Alasan Faza selalu sama ketika memberikan makanan pemberian Anita pada karyawan lain, yaitu sudah kenyang atau sudah dibawakan bekal oleh Zahra dari rumah.
Faza tau apa yang dilakukan-nya mungkin menyakiti hati Anita. Tapi itu lebih baik dari pada Faza harus menyakiti Zahra, istri yang sangat dia cintai.
Faza kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan-nya. Faza berniat untuk makan siang direstoran terdekat. Faza berharap setibanya direstoran yang dia tuju Anita tidak disana atau sudah duduk dengan teman yang lain.
Harapan Faza ternyata tidak kenyataan. Karna saat Faza sampai direstoran, Anita sedang duduk seorang diri. Faza mencoba memutar otak untuk berpikir. Anita pasti akan menghampirinya atau melambaikan tangan menyuruh Faza untuk duduk satu meja dengan-nya.
“Faza...”
Itu suara Rosa. Faza sangat mengenalinya karna belum lama ini mereka hampir beberapa kali bertemu.
Faza menolehkan kepalanya dan menemukan Rosa yang berdiri disampingnya.
“Ya Tuhan... Dunia ini sempit banget sepertinya. Kita sering banget ketemu loh..”
Faza tersenyum mendengarnya. Mungkin itu yang dinamakan jodoh. Bukan jodoh sebagai pasangan, tapi sebagai teman.
“Mungkin kita jodoh..” Senyum Faza.
Rosa sempat terkejut mendengarnya namun kemudian perlahan tersenyum mendengar apa yang Faza katakan.
“Emm.. Sorry, maksud aku jodoh untuk kembali berteman.” Ralat Faza tidak ingin menimbulkan kesalah pahaman.
Rosa tertawa.
“Ya ya ya.. Aku mengerti. Adik kelas kita yang imut itu tetap yang nomor satu untuk kamu Faza.”
Faza ikut tertawa. Zahra memang adalah wanita pertama yang berhasil menarik perhatian-nya dulu. Dan Faza sangat bersyukur karna Faza bisa memiliki Zahra seutuhnya. Zahra benar benar menjadi istrinya meski belum benar benar mendapat restu dari kedua orang tuanya.
“Bagaimana kalau kita cari tempat duduk yang nyaman untuk mengobrol? Kamu mau makan siang kan?”
“Ide yang bagus.” Senyum Faza setuju.
Rosa tertawa dengan kepala menggeleng. Mereka berdua kemudian melangkah untuk mencari tempat duduk dan makan siang bersama.
Tanpa Faza sadari, Anita ternyata melihatnya dengan Rosa. Anita bahkan memperhatikan-nya sejak Rosa menyapa Faza kemudian mengobrol dan akhirnya keduanya sepakat mencari tempat duduk untuk makan bersama satu meja.
Anita mengepalkan kedua tangan-nya melihat itu. Anita cemburu melihat Faza yang begitu dekat dengan Rosa yang tidak pernah dikenalnya.
________
Selamat hari raya idul adha teman teman🥰
__ADS_1