
Taksi yang Faza dan Zahra tumpangi sampai dihalaman rumah mereka sekitar pukul setengah 10 malam.
Kepulangan Zahra dan Faza disambut dengan hangat oleh pak satpam juga mbak Lasmi yang memang ditugaskan untuk menjaga rumah selama Zahra dan Faza berada di Paris.
“Nyonya dan tuan mau saya buatkan makan malam?” Tanya mbak Lasmi ketika mereka sampai didalam rumah.
“Eemm.. Enggak usah mbak. Kita berdua sudah makan. Tapi tolong bikinin teh hangat buat Zahra ya mbak. Nanti tolong langsung dibawa keatas saja.” Senyum Faza berkata pada mbak Lasmi.
“Baik tuan..”
“Makasih ya mbak. Kalau begitu saya dan Zahra keatas langsung.”
“Ya tuan, silahkan.” Angguk mbak Lasmi.
Mbak Lasmi tersenyum menatap Faza yang begitu sangat perhatian pada Zahra. Faza bahkan menuntun Zahra saat menaiki satu persatu anak tangga dirumahnya menuju lantai dua untuk istirahat.
Begitu sampai didalam kamar, Zahra langsung membersihkan dirinya kemudian mengganti bajunya dengan piyama longgar berwarna hitam.
Suara ketukan pintu membuat Zahra yang hendak naik ketempat tidur menoleh. Zahra tersenyum karna tau siapa berada dibalik pintu kamarnya. Siapa lagi kalau bukan mbak Lasmi.
Zahra membuka pelan pintu kamarnya dan menerima teh hangat yang sebelumnya memang dipesan oleh Faza untuknya.
“Makasih ya mbak.”
“Sama sama nyonya. Saya permisi mau istirahat.”
“Oh oke..” Senyum Zahra kemudian kembali menutup pintu kamarnya setelah mbak Lasmi berlalu.
Zahra melangkah kembali menuju ranjang dan meletakan secangkir teh hangat yang dibuatkan oleh mbak Lasmi untuknya. Ketika Zahra hendak membaringkan tubuhnya diatas ranjang, Faza keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya. Faza memang bertelanjang dada dengan rambut dan dada bidangnya yang masih terlihat basah.
Zahra yang melihat itu tersenyum. Entah kenapa Zahra merasa suaminya sangat tampan jika bertelanjang dada. Apa lagi ditambah dengan rambut basah berantakan-nya. Itu membuat Faza terlihat sexy dimata Zahra.
Zahra turun kembali dari tempat tidur kemudian melangkah mendekat pada Faza. Zahra akui sejak kehamilan-nya diketahui gairahnya memang mudah sekali memuncak.
__ADS_1
“Mas...”
Zahra mengusap dada bidang Faza yang basah dengan sangat lembut. Melihat suaminya seperti itu Zahra merasa tergoda dan kembali menginginkan sentuhan lembut dari pria itu.
“Sayang.. Aku masih sedikit basah. Biarkan aku mengenakan baju dulu setelah itu kita sama sama istirahat.” Ujar Faza lembut.
Zahra mendongak menatap wajah tampan Faza. Dengan pelan Zahra menggelengkan kepalanya.
“Aku kangen kamu mas...” Rengeknya manja.
Faza mengeryit. Selama di Paris mereka selalu sama sama. Faza tidak pernah meninggalkan Zahra sejak Zahra positif dinyatakan hamil. Tapi sekarang istrinya mengatakan kangen padanya. Benar benar sangat mengherankan.
Zahra kemudian memeluk tubuh Faza, menyenderkan kepalanya didada bidang pria itu.
Faza yang merasakan tingkah tidak biasa istrinya hanya bisa tersenyum. Pria itu kemudian membalas lembut pelukan Zahra. Seperti biasanya, Faza selalu mengecup puncak kepala Zahra sebagai tanda cinta juga kasih sayangnya pada wanita itu.
“Besok kita harus ke dokter untuk mengecek kandungan kamu sayang.. Besok juga kita harus kerumah mamah sama papah untuk memberitahu mereka tentang kabar bahagia ini. Mamah sama papah pasti akan sangat senang mendengarnya karna mereka akan mempunyai cucu.”
Zahra mengangkat kepalanya mendongak menatap Faza yang tersenyum padanya. Zahra hampir saja melupakan apa yang Sinta katakan saat Sinta datang kerumahnya dulu dan meminta mereka untuk tinggal bersama dikediaman-nya.
Perlahan seulas senyum terukir dibibir Zahra. Zahra berharap dengan memberikan kabar bahagia tentang kehamilan-nya sekarang pada Sinta, Sinta bisa memberikan restu padanya juga Faza.
“Aku harap dengan hadirnya anak ini mamah bisa memberikan restu pada pernikahan kita ya mas..” Lirih Zahra penuh harap.
Faza mengangguk dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Faza juga berharap demikian.
“Sekarang lebih baik kamu tidur yah..”
Zahra menganggukan kepalanya. Pikiran-nya langsung berubah karna ucapan Faza. Zahra tadinya sudah ingin sekali mendapat sentuhan dari Faza namun karna mereka membicarakan sedikit tentang Sinta keinginan itu sirna seketika berganti harapan besar yang sangat Zahra nantikan. Yaitu restu dari Sinta.
Faza membopong tubuh Zahra dan membawanya menuju ranjang mereka. Dengan lembut Faza membaringkan tubuh Zahra. Satu kecupan Faza daratkan dikening Zahra dengan sangat lembut.
“Selamat malam sayang...” Bisiknya.
__ADS_1
---------
Keesokan harinya Faza langsung mengajak Zahra kedokter spesialis kandungan. Dokter Cindy namanya. Dokter itu adalah dokter yang juga sudah lama Faza kenal karna dokter Cindy juga lumayan akrab dengan Sinta, mamahnya.
“Bagaimana dokter?” Tanya Faza setelah dokter Cindy mengecek kandungan Zahra.
“Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Tensi darah bagus. Berat badan juga sangat baik kenaikan-nya.” Senyum Dokter Cindy sambil melepas kaca mata yang dikenakan-nya.
Faza menghela napas lega mendengarnya. Faza senang karna keadaan istri juga janin dalam kandungan-nya baik baik saja.
“Eemm.. Apa kalian mau melakukan USG sekalian?”
Faza dan Zahra saling menatap sebentar kemudian tersenyum dan menganggukan kepala dengan kompak.
“Baik kalau begitu. Sebentar.”
Dokter Cindy meraih alat yang akan ditempelkan pada perut Zahra. Tidak lupa juga gel untuk diusapkan dipermukaan kulit perut Zahra.
Faza meraih tangan Zahra saat gambaran dalam kandungan Zahra mulai terlihat dilayar monitor USG itu. Faza sebenarnya tidak mengerti dengan gambar itu. Tapi entah kenapa rasa haru langsung menguasainya membuat kedua matanya berkaca kaca namun bibir tipisnya melengkung membentuk senyuman.
Tidak jauh berbeda dengan Faza, Zahra pun tersenyum menatap layar monitor USG itu.
“Ini.. Janin-nya masih sangat kecil. Tapi perkembangan-nya sangat bagus. Kalian berdua bisa melihatnya sendiri.” Ujar dokter Cindy.
Zahra tertawa pelan. Apa yang selalu dia panjatkan pada tuhan akhirnya terkabul. Zahra akan menjadi seorang ibu sebentar lagi.
Faza dan Zahra terus menatap layar monitor dengan penuh rasa haru. Mereka berdua merasa itu seperti mimpi yang begitu indah. Melihat gambaran janin yang masih sangat kecil dan belum jelas terbentuk membuat mereka sangat bahagia.
Setelah mengecek kandungan Zahra, Faza langsung mengajak Zahra menuju kediaman kedua orang tuanya untuk memberitahu kabar bahagia tentang kehamilan Zahra.
Faza memilih menggunakan taksi dari pada menggunakan motornya mengingat Zahra yang sedang hamil muda dan sangat tidak mungkin jika Faza mengajaknya untuk naik motor.
Kedatangan mereka disambut oleh Sinta dengan sikap diam dan angkuhnya. Sinta bahkan menatap keduanya dengan sinis dan menolak saat Zahra hendak menyaliminya.
__ADS_1
“Mah...” Tegur Faza pelan.
Zahra yang memang sudah terbiasa mendapat perlakuan tidak baik dari Sinta hanya bisa tersenyum. Zahra yakin setelah Sinta tau dirinya hamil Sinta pasti akan berubah. Sinta akan baik padanya dan memberi restu atas pernikahan-nya dengan Faza.