PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 163


__ADS_3

Setelah membicarakan semuanya dengan Mahendra tentang niatnya ingin mengganti Siska dengan yang lain-nya, Faza pun segera melaksanakan niatnya itu. Faza menyuruh bawahan-nya untuk membuatkan surat pemindahan Siska dari jabatan-nya sebagai sekretarisnya ke bagian yang lain.


Suara pintu yang dibuka membuat Faza yang sedang fokus dengan laptopnya langsung menoleh. Faza memasang wajah datarnya ketika mendapati Siska yang masuk kedalam ruangan-nya tanpa lebih dulu mengetuk pintu seperti biasanya.


“Pak Faza.”


Siska melangkah cepat sambil membawa amplop dan secarik kertas yang tidak lain adalah surat keputusan pemindahan-nya.


Faza yang melihat itu hanya menghela napas. Faza sudah menduga Siska pasti akan marah padanya. Tapi Faza meyakini apa yang dilakukan-nya adalah keputusan yang terbaik untuk semuanya.


“Apa apaan ini pak? Bapak memindahkan saya tanpa lebih dulu mengatakan-nya pada Saya. Dan dimeja saya bahkan sudah ada pengganti saya. Bahkan barang barang saya sudah bapak singkirkan? Memangnya apa salah saya pak? Apa kurangnya kinerja saya?”


Faza tersenyum miring. Siska sedang memperlihatkan sikap aslinya sekarang.


“Siska.. Kamu tidak salah apa apa. Hanya saya merasa kurang nyaman dengan kamu.” Jawab Faza dengan tenang.


Siska mengeryit.


“Tidak nyaman?”


Faza kemudian bangkit dari duduknya. Pria itu menatap penampilan sederhana Siska. Siska tidak seperti sekretaris pada umumnya yang selalu menggunakan baju baju sexy. Siska selalu berpenampilan simpel dan tertutup.


“Kamu sudah melewati tugas kamu sebagai sekretaris Siska. Itu yang membuat saya merasa tidak nyaman.”


Mulut Siska terbuka. Siska akui dirinya memang terlalu lancang sebagai sekretaris. Siska selalu menyiapkan semua yang Faza butuhkan bahkan tanpa Faza suruh. Tapi selama bekerja sebagai sekretaris Faza, Faza tidak pernah sekalipun komplain dengan apa yang Siska lakukan. Faza bahkan selalu mengucapkan terimakasih dengan senyuman manis dibibirnya. Siska pikir kata terimakasih disertai senyuman itu adalah isyarat bahwa Faza tidak keberatan dengan apa yang Siska lakukan.


“Kamu pikir saya senang dengan apa yang kamu lakukan Siska? Tidak. Saya malah merasa tidak nyaman. Kamu masih beruntung karna saya tidak memecat kamu. Saya hanya memindahkan kamu kebagian yang lain.”


Dada Siska langsung terasa sangat sesak. Ucapan Faza berhasil menusuk relung hatinya. Tapi Siska juga tidak bisa menyangkal bahwa apa yang dilakukan-nya memang terlalu berlebihan dan melewati batasnya sebagai sekretaris.

__ADS_1


“Ya Tuhan... Apa ini jawaban atas pertanyaan yang selama ini bersarang di benak hamba?” Batin Siska.


Siska bertanya tanya dalam hati. Siska memang memiliki perasaan lebih pada Faza. Siska bahkan sering membayangkan dirinya diposisi Zahra jika sedang menyiapkan makan siang untuk Faza.


“Kamu boleh keluar sekarang. Maaf dan terimakasih untuk semuanya. Sekali lagi, tidak ada masalah dengan kinerja kamu sebagai sekretaris saya. Kamu pintar dan tanggap. Tapi apa yang kamu lakukan perlahan membuat saya tidak nyaman Siska.”


Siska menundukan kepalanya. Tangan-nya mengepal sampai surat pemindahan-nya menjadi kusut karna kepalan eratnya. Siska tidak menyangka semuanya akan menjadi seperti sekarang.


“Saya permisi pak.”


Siska tidak tau harus berkata apa lagi. Wanita itu kemudian memilih untuk berlalu keluar dari ruangan Faza. Amarah pertanda tidak terimanya akan apa yang Faza lakukan itu langsung berganti dengan kesedihan yang memilukan hatinya. Siska menangis bukan karna dirinya dipindahkan tugas. Tapi karna mulai hari ini Siska akan jauh dari Faza.


Sedangkan Faza, pria itu menghela napas merasa lega setelah apa yang dilakukan-nya. Faza yakin itu memang yang terbaik. Faza juga yakin dengan tidak lagi sering bertemu dengan Siska perlahan perasaan-nya akan menghilang.


“Demi istri dan calon anak kamu Faza. Ingat, bagaimana perjuangan kamu selama ini dalam mempertahankan rumah tangga kamu dengan Zahra.” Batin Faza meyakinkan dirinya sendiri.


Faza kemudian kembali duduk dikursinya dan mulai fokus kembali dengan laptop nya.


“Permisi pak..”


Seorang pria dengan kemeja putih tulang dan dasi hitam berdiri didepan meja Faza. Pria itu bernama Reyhan. Pria itu juga adalah sekretaris merangkap asisten yang menggantikan posisi Siska.


“Ya.. Ada apa Han?” Tanya Faza menatap Reyhan tenang.


“Ini laporan yang pak Faza minta.” Ujar Reyhan sambil menaruh map berwarna coklat yang dibawanya.


“Oke, terimakasih. Saya akan memeriksanya nanti.” Senyum Faza.


“Baik pak. Kalau begitu saya permisi.”

__ADS_1


“Ya.. Silahkan.” Angguk Faza dan kembali lagi fokus dengan laptopnya.


Hari pertama bekerja dengan Reyhan tidak sama sekali membuat Faza merasa jenuh ataupun merasa kehilangan Siska. Itu membuat Faza semakin yakin bahwa Siska memang orang yang juga dituliskan hadir dalam hidupnya oleh Tuhan sebagai penguji kesetiaan-nya sebagai seorang suami. Siska adalah sosok yang menyadarkan-nya bahwa Zahra adalah satu satunya wanita yang harus Faza jaga hati juga perasaan-nya. Meskipun memang Faza hampir saja melakukan kesalahan, namun Faza bersyukur karna ternyata Tuhan masih memberinya kekuatan untuk bertahan juga kesempatan untuk lebih memperbaiki dirinya lagi.


Tidak sampai malam Faza sudah pulang. Pria itu tidak menyangka Reyhan bisa lebih dari Siska. Reyhan sangat pintar dan tanggap dalam segala hal. Reyhan bahkan juga bisa menggantikan-nya saat rapat dengan para direksi. Padahal hari itu adalah hari pertama Reyhan bekerja bersama Faza.


Mobil Faza sampai tepat didepan halaman rumahnya tepat pukul lima sore. Pria itu segera turun dari mobilnya dengan membawa setangkai mawar merah ditangan-nya. Sedang satu tangan-nya menenteng tas berisi laptop miliknya. Pekerjaan-nya belum sepenuhnya selesai sebenarnya, tapi Faza berniat meneruskan-nya dirumah setelah makan malam nanti.


“Mas...!!”


Faza baru saja hendak masuk kedalam rumah saat mendengar seruan Zahra yang memanggilnya. Faza menoleh dan memutar tubuhnya. Pria itu mengeryit bingung ketika melihat Zahra yang melangkah pelan dengan mbak lasmi yang berada dibelakangnya.


Tidak sabar ingin bertanya pada Zahra, Faza pun melangkah mencegat langkah pelan Zahra.


“Kamu darimana?” Tanya Faza bingung.


Zahra tersenyum sambil menyalimi Faza. Wanita itu juga mengecup singkat pipi Faza yang menatap penuh rasa penasaran padanya.


“Aku tadi bosan banget dirumah. Jadi aku minta buat mbak Lasmi temenin aku jalan jalan sekitar rumah.” Senyum Zahra menjawab.


Faza mengangguk paham. Faza mengerti jika memang Zahra merasa jenuh, tentu saja karna Faza yang jarang mengajak Zahra jalan jalan keluar.


Faza kemudian menyodorkan bunga yang dibawanya pada Zahra.


“Buat aku?” Tanya Zahra pada Faza.


“Tentu saja. Masa buat mbak Lasmi..” Canda Faza yang berhasil membuat mbak Lasmi ikut tertawa.


“Haha.. Bisa aja kamu mas. Ya udah yuk masuk?”

__ADS_1


“Ayo..”


Faza merangkul mesra pinggang Zahra mengajaknya melangkah menuju pintu utama kediaman mereka.


__ADS_2