PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 210


__ADS_3

Nadia membuka pintu utama rumahnya. Helaan napas lega keluar dari bibirnya begitu Nadia mendapati Faza yang sudah berdiri didepan pintu rumahnya.


“Kak.. Mana Fahri dan Zahra kak?” Tanya Faza dengan raut wajah khawatir yang tidak bisa membohongi siapapun yang menatapnya termasuk Nadia.


“Dia ada dikamar. Ayo masuk.” Jawab Nadia dan segera menyuruh agar Faza masuk kedalam rumahnya.


Faza buru buru melangkah masuk kedalam rumah sederhana tempat Aries dan Nadia tinggal. Detak jantungnya langsung berdetak sangat cepat begitu mendengar suara Fahri yang menangis memenuhi setiap sudut ruangan rumah sederhana itu.


Faza mengikuti arah suara Fahri hingga langkahnya berhenti tepat didepan sebuah kamar yang akan ditempati Zahra malam ini.


Faza menghela napas kemudian mendekat pada Zahra yang sedang mengayun ayun Fahri yang terus saja menangis dalam gendongan-nya.


“Sayang...” Panggil Faza pada Zahra yang langsung berhenti mengayun putra mereka.


Zahra menelan ludahnya. Posisinya memunggungi Faza yang berdiri dibelakangnya.


Zahra menghela napas dan memejamkan kedua matanya sebelum akhirnya memutar tubuhnya perlahan menghadap pada Faza.


Seulas senyuman lembut Faza ukir untuk Zahra yang wajahnya memerah dengan sisa air mata yang masih menganak sungai dikedua pipi chuby nya.


Ajaibnya tangisan Fahri langsung berhenti begitu kedua orang tuanya saling berhadapan. Bayi tampan itu seolah tau bahwa Faza sudah berada didekatnya.


“Sabar ya sayang..” Lirih Faza sambil membelai lembut pipi chuby Zahra.


Zahra memejamkan kedua matanya merasakan belaian lembut tangan Faza di pipinya.


“Sini biar Fahri sama papah..” Ujar Faza pelan kemudian mengambil alih Fahri dari gendongan Zahra.


Saat berada di gendongan Faza, Fahri langsung anteng. Perlahan Fahri pun memejamkan kedua matanya tertidur dalam gendongan papahnya.


Nadia yang menatap keduanya dari ambang pintu hanya bisa tersenyum. Nadia tau keduanya sangat saling mencintai juga menyayangi. Dan Fahri seperti jembatan bagi keduanya untuk tetap bersama dalam menghadapi masalah apapun. Seperti sekarang contohnya. Nadia memang tidak tau masalah apa yang sedang menimpa keduanya mengingat Zahra tidak menceritakan apapun padanya. Tapi Nadia yakin masalah mereka berdua kali ini lumayan berat sehingga Zahra terpaksa menjauh dari Faza untuk sementara.


Tidak mau mengganggu keduanya, Nadia pun menutup pintu kamar tersebut dengan sangat pelan. Nadia membiarkan keduanya untuk bicara berdua supaya masalah yang sedang mereka berdua hadapi pun segera selesai.


Faza meletakan tubuh putranya yang sudah benar benar terlelap dalam gendongan-nya ke ranjang. Pria itu tersenyum dan mengecup lama kening putranya sebelum benar benar membiarkan Fahri berbaring dengan tenang ditengah ranjang.

__ADS_1


Faza menatap Zahra yang diam duduk ditepi ranjang. Sejak dirinya datang Zahra sama sekali tidak mengatakan apapun padanya.


“Kamu sudah makan sayang?” Tanya Faza yang tidak mungkin ikut diam seperti Zahra sekarang.


Zahra menelan ludah. Setelah mendengar jawaban Nadia atas pertanyaan-nya pagi tadi, Zahra pun menyadari sesuatu. Faza mungkin bersalah karna tergoda oleh wanita lain. Tapi setidaknya Faza masih bisa menjaga hati dan perasaan-nya. Faza mampu menahan semuanya dan terus meyakini bahwa Zahra adalah satu satunya istrinya yang harus selalu dia jaga baik hati, bahkan jiwa dan raganya.


“Belum mas.. Fahri rewel terus sejak sore tadi.” Jawab Zahra pelan.


Faza tersenyum tipis. Mungkin Fahri rewel karna merindukan-nya. Begitu pikir Faza.


“Ya sudah mumpung sekarang Fahri sudah bobo mending sekarang kamu makan yah.. Aku temenin. Atau kamu mau aku beliin sesuatu?”


Zahra meneteskan air matanya mendengarnya. Faza begitu sangat lembut bersikap padanya. Padahal sekarang Faza sendiri tau Zahra sedang tidak ingin bersamanya. Tapi dengan kebesaran hatinya Faza tetap mau ada disampingnya. Bahkan saat Nadia menelepon tidak sampai menunggu Faza sudah datang.


“Mas..” Panggil Zahra dengan suara lirih juga bergetar.


“Ya sayang..” Saut Faza menatap Zahra dengan penuh perhatian. Faza juga mengusap lembut air mata yang membasahi pipi Zahra.


“Aku minta maaf..”


“Minta maaf untuk apa sayang? Kamu nggak salah.. Aku ngerti. Aku paham apa yang kamu rasakan.. Jadi kamu nggak perlu minta maaf sama aku..” Bisik Faza lembut.


Mendengar apa yang Faza katakan, Zahra langsung berhambur memeluk Faza dengan sangat erat. Zahra menangis terisak dalam pelukan Faza yang dengan sangat lembut mengusap dan menciumi kepala Zahra.


“Aku harusnya nggak terlalu berlebihan dengan apa yang sudah kamu katakan jujur mas.. Aku salah..” Tangis Zahra.


“Sshhtt.. Jangan menyalahkan diri kamu sendiri sayang.. Aku yang salah disini. Jadi sekarang kamu nggak boleh nangis yah.. Aku minta maaf...”


Faza kemudian melepaskan pelukan Zahra. Pria itu menangkup kedua pipi Zahra dengan sangat lembut.


“Kamu mau kan maafin aku?” Tanya Faza sedikit menundukan kepalanya menatap tepat pada kedua mata Zahra.


Zahra tersenyum dalam tangisnya kemudian mengangguk dan kembali berhambur memeluk tubuh kekar suaminya.


“Ya udah.. Sekarang kamu makan dulu yah.. Kamu mau makan apa sayang?”

__ADS_1


Zahra melepas pelukan-nya kemudian mengusap air matanya sendiri. Dengan senyuman yang menghiasi bibirnya Zahra memasang wajah seolah sedang berpikir dan Faza dengan setia menunggu jawaban Zahra atas pertanyaan yang dirinya lontarkan.


“Eemm.. Aku makan apa yang ada aja deh mas.. Kebetulan tadi kak Nadia udah siapin dimeja makan. Oh iya kamu sendiri udah makan?”


Ketika Faza hendak membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Zahra, cacing cacing dalam perutnya lebih dulu berbunyi seperti menjawab pertanyaan yang Zahra lontarkan.


Mendengar bunyi perut keroncongan Faza, Zahra pun tertawa. Zahra kemudian meraih lengan Faza melingkarkan tangan-nya disana dan mengajak Faza keluar kamar untuk sama sama menikmati hidangan yang sudah sejak dua jam lalu disiapkan oleh Nadia.


Mereka berdua makan dengan obrolan ringan tentang putranya yang memang sejak sore terus saja rewel dan terus menangis tidak mau diam.


Ditengah obrolan mereka, tiba tiba ponsel Faza berdering membuat obrolan tersebut berhenti.


“Siapa mas?” Tanya Zahra saat Faza meraih dan menatap layar ponselnya yang berdering.


“Reyhan sayang..” Jawab Faza.


“Sebentar aku angkat dulu yah..” Senyum Faza yang mendapat anggukan setuju dari Zahra.


Zahra kembali menyuapkan makanan kedalam mulutnya sementara Faza mengangkat telepon dari Reyhan.


“Ya Rey...”


“Halo pak, selamat malam. Maaf saya mengganggu waktu pak Faza sebentar. Saya sekarang sedang dalam perjalanan menuju rumah pak Faza dengan Tina. Katanya Tina ingin sekali bertemu dengan bu Zahra juga Fahri.”


“Eemm.. Rey.. Saya dan Zahra sekarang sedang tidak dirumah. Saya sedang menginap dirumah kakak saya.. Kalau kamu mau kamu langsung saja kesini. Nanti saya kirim alamatnya.” Ujar Faza.


“Oh ya pak baik. Saya kesana sekarang.” Saut Reyhan dari seberang telepon.


“Oke.. Saya kirim alamatnya sekarang.”


Setelah itu Faza memutuskan sambungan telepon-nya. Faza pun segera mengirimkan alamat rumah Nadia dan Aries pada Reyhan agar Reyhan langsung datang kerumah Aries saja.


“Kenapa mas?” Tanya Zahra mengeryit menatap Faza penasaran.


“Ini sayang.. Reyhan sama Tina katanya mau lihat Fahri.. Berhubung mereka sudah dijalan kasihan dong kalau harus pulang begitu saja. Jadi aku suruh saja mereka kesini.”

__ADS_1


“Oohh.. Begitu.” Angguk Zahra mengerti.


__ADS_2