
Untuk pertama kalinya meja makan begitu ramai karena celotehan Fahri yang terus digoda oleh Fadly dan Akbar, opanya.
Ya, ini adalah pertama kalinya juga mereka makan siang bersama tanpa ada orang asing. Sinta awalnya menolak namun dengan penuh kelembutan Zahra mencegahnya dan mengatakan ingin merasakan makan siang bersama Sinta.
Sinta tersenyum kecil melihat putranya dan mantan suaminya yang terus berebut perhatian dari Fahri. Keduanya terus berlomba menarik perhatian balita tampan itu yang terus tertawa karena merasa terhibur dengan tingkah konyol opa dan om nya.
“Mah...”
Sinta menoleh mendengar suara pelan Faza. Wanita itu menelan ludah menatap putranya yang tersenyum begitu tulus padanya.
“Makasih banyak ya mah.. Faza seneng banget karena akhirnya mamah mau merestui hubungan Faza sama Zahra.”
Sinta hanya tersenyum saja. Wanita itu berpikir kenapa tidak dari dulu dirinya memberikan restu pada keduanya. Padahal jika saja itu Sinta lakukan sejak dulu mungkin sekarang dirinya dan Akbar masih bisa bersama. Tapi apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Mereka berdua sudah resmi bercerai dan tidak mungkin lagi bisa bersama.
Zahra yang sengaja memposisikan dirinya duduk disamping kanan Sinta tersenyum. Zahra belum berani banyak mengatakan sesuatu karena takut Sinta menjadi ilfil padanya.
Selesai makan siang bersama, Sinta pun pamit untuk pulang. Faza dan Fadly sempat menawarkan diri untuk mengantar namun Sinta menolak dengan alasan membawa mobil sendiri.
Sementara Akbar, pria itu tidak banyak bicara pada Sinta. Akbar hanya bertanya seperlunya seperti menanyakan kabar dan dimana Sinta tinggal sekarang.
--------
Satu minggu kemudian.
Siang ini adalah jadwal keberangkatan Fadly ke Amerika seperti yang sudah direncanakan oleh Ricard.
Faza, Zahra, Akbar juga Loly dengan kompak mengantar pria itu sampai di bandara.
“Aku akan menghubungi kamu kalau sudah sampai disana. Kamu baik baik ya disini, jangan nakal. Aku akan segera kembali dan menikahi kamu.” Kata Fadly sambil menggenggam kedua tangan Loly tanpa sedikitpun merasa malu didepan kakak dan papahnya.
“Iya.. Jaga kesehatan selalu ya.. Aku percaya sama kamu Fadly.” Angguk Loly dengan senyuman dibibirnya.
Fadly ikut tersenyum kemudian memberikan kecupan singkat di kening kekasih hatinya itu.
__ADS_1
Faza dan Zahra yang melihat itu hanya bisa tersenyum tanpa berniat berkomentar. Mereka berdua ikut merasa bahagia karena Ricard dan Erika sudah mau merestui hubungan Fadly dan Loly. Meskipun memang keduanya harus berpisah untuk sementara waktu.
Akbar mendekat pada Fadly kemudian menepuk pelan bahu putra bungsunya itu.
“Papah yakin kamu bisa nak. Ingat untuk lebih teliti saat membaca kontrak. Oke?”
Fadly tersenyum dan menganggukan kepalanya. Sulit memang belajar sesuatu yang sedikitpun tidak Fadly senangi. Tapi dengan usaha kerasnya akhirnya Fadly memahami apa yang kakak dan papahnya ajarkan padanya.
“Papah tenang aja. Fadly akan kembali dengan status yang sama seperti papah dan kakak.” Ujar Fadly penuh percaya diri.
Loly tertawa pelan mendengarnya. Pacarnya memang mempunyai kepercayaan diri yang terlalu tinggi. Kepercayaan diri yang sering kali membuatnya narsis.
“Oke oke, papah percaya.” Angguk Akbar beberapa kali.
Fadly menoleh pada Faza kemudian mendekat pada sang kakak.
“Kak.. Doakan Fadly ya.. Makasih banget sudah mengajari Fadly dengan sabar. Fadly janji akan pulang dengan penuh kebanggaan. Fadly akan kembali dengan gelar yang bisa membuat kakak bangga.”
Faza tertawa pelan mendengarnya. Pria itu menepuk nepuk pelan bahu Fadly yang berdiri di depan-nya.
“Mas Faza benar Fadly. Yang utama adalah kesehatan dan kewarasan kamu dulu. Karena dengan begitu kamu bisa melakukan semuanya semaksimal mungkin. Kamu bisa menjadi apa yang kamu mau.” Imbuh Zahra dengan bijak.
“Ya Ra..” Angguk Fadly tersenyum menatap kakak iparnya itu.
Fadly menghela napas kemudian mengedarkan pandangan-nya keseluruh area bandara yang bisa dijangkau oleh penglihatan-nya.
Sinta belum juga datang. Padahal mamahnya itu sudah janji akan menyusul untuk mengantarnya sampai bandara. Bahkan saat dalam perjalanan tadi Sinta juga masih mengiriminya pesan singkat.
Faza dan Zahra yang mengerti dengan gerak gerik adiknya hanya bisa ikut menghela napas. Sejak papah dan mamahnya bercerai, mereka memang jarang bertemu dengan Sinta. Apa lagi kabarnya Sinta juga sedang menekuni usahanya di bidang kuliner.
“Kenapa mamah belum dateng juga..” Batin Fadly menilik waktu pada jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Beberapa menit menunggu namun Sinta belum juga muncul. Hal itu membuat semangat yang tadinya berkobar perlahan surut.
__ADS_1
Fadly akan pergi lama tapi Sinta belum juga muncul untuk mengucapkan kata perpisahan padanya.
Loly yang juga memahami perasaan kekasihnya hanya bisa diam saja. Sebelumnya Loly juga sudah menelepon Sinta yang mengatakan sedang berada dalam perjalanan menuju bandara.
Dengan pelan Loly mengusap lengan Fadly mencoba untuk menyabarkan-nya menanti kedatangan Sinta.
“Apa mamah nggak akan datang?” Gumam Fadly yang bisa dengan jelas didengar oleh semuanya termasuk Akbar.
“Tante pasti datang kok.. Kamu sabar ya..” Senyum Loly.
Akbar menghela napas. Bukan ke inginan-nya berpisah dengan Sinta. Apa lagi sampai sekarang dirinya juga masih sangat mencintai wanita itu. Wanita yang meskipun egois tapi tetap menjadi pemilik hatinya. Wanita yang bisa membuat Akbar selalu bersabar dan mengalah meskipun pada akhirnya perpisahan itu terjadi.
“Fadly !!”
Fadly menoleh kearah sumber suara dimana Sinta baru saja turun dari taksi. Seulas senyum langsung menghiasi bibir Fadly saat melihat sang mamah yang akhirnya muncul menepati janjinya.
“Mamah..” Gumam Fadly.
Fadly langsung berlari menghampiri mamahnya dan memeluknya erat. Air mata menetes langsung begitu deras di kedua pipi Fadly mengingat dirinya yang akan berpisah dengan sang mamah dalam waktu yang bahkan belum bisa Fadly tentukan sendiri.
Sinta melepaskan pelukan erat putranya kemudian menangkup kedua pipi Fadly yang basah oleh air mata.
“Anak mamah nggak boleh cengeng. Calon pengusaha sukses itu harus tahan banting oke?” Ujar Sinta dengan suara bergetar.
Sinta akui dirinya tidak bisa jauh dengan Fadly. Karena Fadly adalah putranya yang penuh perhatian dan selalu ada untuknya. Bahkan setelah Sinta berpisah dengan Akbar, putra bungsunya terus bersikap lemah lembut tanpa sedikitpun menyalahkan-nya atas apa yang sudah terjadi.
“Mah.. Fadly minta restu mamah supaya Fadly bisa dengan mudah menjalani semua ini disana..”
Sinta menganggukkan cepat kepalanya beberapa kali.
“Jujur mamah awalnya tidak setuju dan sangat marah karena kamu meninggalkan begitu saja profesi kamu. Tapi kalau memang ini yang terbaik dan untuk kebahagiaan kamu mamah nggak bisa melarangnya nak. Mamah hanya bisa mendo'akan segala yang terbaik untuk kamu.” Lirih Sinta dengan suara bergetar.
Fadly tersenyum penuh haru kemudian kembali memeluk erat sang mamah. Berat rasanya harus jauh dari sang mamah. Tapi demi bisa bersama dengan Loly apapun akan Fadly lakukan.
__ADS_1
Faza, Zahra, Loly, juga Akbar tersenyum melihatnya. Mereka kemudian melangkah mendekat pada Fadly yang terus memeluk erat Sinta.