
Hubungan Fadly dan Loly semakin hari semakin dekat. Fadly dan Loly bahkan sudah mulai berani terang terangan didepan Sinta yang jelas selalu menentang kedekatan mereka.
“Fadly tunggu.”
Fadly yang baru pulang dan hendak masuk kedalam kamarnya langsung berhenti melangkah begitu mendengar suara Sinta yang memanggilnya dengan sangat lantang.
“Mamah...” Fadly tersenyum menatap Sinta yang melangkah mendekat padanya.
“Mamah perlu bicara sama kamu.” Katanya tegas.
Fadly mengeryit terlihat bingung sesaat namun kemudian tersenyum karna bisa menebak apa yang ingin dibicarakan oleh mamahnya.
“Eemm.. Oke, tapi bisa tunggu sebentar nggak mah? Fadly gerah banget soalnya pengin mandi.” Ujar Fadly tenang dan tetap tersenyum meski Sinta sudah memperlihatkan wajah kesalnya.
“Mamah kasih waktu kamu 10 menit.” Katanya kemudian berlalu begitu saja dari hadapan Fadly yang tertawa melihat kekesalan yang begitu kentara dari wajah mamahnya.
“Maafin aku ya mah.. Aku cuma pengin mamah sadar kalau Loly itu bukan perempuan yang baik.. Aku nggak bermaksud buat mainin mamah...” Gumam Fadly kemudian masuk kedalam kamarnya untuk membersihkan diri.
10 Menit kemudian Fadly sudah rapi dan berdiri tepat didepan Sinta yang duduk disofa dan sedang fokus dengan majalah dipangkuan-nya.
“Duduk.” Perintah Sinta kemudian menutup majalah yang sedang dibacanya dan melemparnya pelan keatas meja.
“Mamah mau ngomong apa? Kok kaya serius banget.” Ujar Fadly setelah duduk disofa disamping Sinta. Fadly sebenarnya sudah bisa menebak apa yang ingin dibicarakan mamahnya. Tapi Fadly berpura pura tidak tau apa apa.
Sinta menatap Fadly dengan tatapan penuh selidik. Sinta sudah cukup sabar untuk tidak berprasangka buruk pada putra bungsunya sendiri. Tapi kedekatan Fadly dan Loly yang begitu terang terangan membuat Sinta hilang kesabaran.
“Ini tentang kamu dan Loly Fadly.”
Fadly mengeryit.
__ADS_1
“Memangnya kenapa dengan aku dan Loly mah?” Tanya Fadly terus berpura pura tidak tau apa apa.
Sinta menarik napas dalam dalam dengan kedua mata terpejam dan menghelanya kasar.
“Ada hubungan apa kamu sebenarnya dengan Loly? Jujur sama mamah.”
Fadly tersenyum tipis. Dugaan-nya tepat sasaran.
“Mamah bukan orang bodoh yang tidak tau arti kebersamaan kamu dan Loly beberapa hari ini Fadly. Kamu tau kan mamah maunya Loly itu sama Faza, kakak kamu.”
Fadly menghela napas pelan kemudian menyenderkan punggungnya disandaran sofa yang didudukinya.
“Mah.. Kak Faza itu sudah punya Zahra. Kak Faza bahkan sebentar lagi akan punya anak hasil dari cintanya dengan Zahra. Sampai kapan mamah akan terus berharap sesuatu yang tidak mungkin? Kak Faza hanya mencintai Zahra mah istrinya.” Ujar Fadly pelan.
“Mamah nggak butuh wejangan dari kamu. Yang mamah tanya ada hubungan apa sebenarnya antara kamu dan Loly.” Tegas Sinta.
Fadly menghela napas sekali lagi.
“Dekat? Maksud kamu kalian saling suka begitu?” Tanya Sinta dengan nada mulai meninggi.
“Untuk itu mamah tanyakan sendiri saja sama Loly. Fadly nggak mau bohong sama mamah.”
Sinta menggelengkan kepalanya. Kecurigaan-nya benar benar terjadi. Loly dan Fadly mempunyai hubungan yang tidak biasa.
“Ya udah mah kalau gitu Fadly istirahat dulu ya.. Capek banget.”
Tanpa menunggu jawaban dari Sinta, Fadly bangkit dari duduknya meninggalkan Sinta yang masih tidak menyangka dengan kenyataan yang ada. Sinta sudah mewanti wanti Fadly dari awal, namun Fadly tetap saja dekat dengan Loly.
“Ya Tuhan....” Lirih Sinta masih tidak bisa menerima kenyataan tentang kedekatan Fadly dan Loly.
__ADS_1
Fadly yang baru beberapa langkah menjauh berhenti dan menoleh menatap Sinta yang terlihat sangat syok. Fadly menelan ludahnya. Fadly tidak bohong. Dirinya memang dekat dengan Loly. Namun tentang suka, Fadly tidak bisa menjawabnya. Fadly tidak ingin berbohong juga tidak mungkin jujur karna niatnya mendekati Loly adalah untuk membuat Loly hancur.
Tidak ingin melontarkan sedikitpun kebohongan pada mamahnya, Fadly pun memilih untuk menjauh dengan alasan lelah dan ingin beristirahat. Itu bukan berbohong bukan?
Fadly kembali meneruskan langkah meninggalkan Sinta sendiri diruang keluarga. Fadly yakin Sinta pasti juga akan menanyakan hal yang sama pada Loly nanti. Dan Fadly akan meminta pada Loly untuk berbicara yang sejujurnya tentang perasaan-nya.
---------
Hari ini adalah tepat 10 hari Faza berada di Amerika. Itu membuat Zahra meradang karna yang Zahra tau suaminya hanya akan berada selama satu minggu disana.
Faza memang sudah kembali menghubunginya lagi setelah Zahra menanyakan-nya pada Siska. Dan hebatnya Faza tidak marah. Faza justru bersikap begitu lembut padanya. Faza bahkan terus mengiriminya pesan singkat hampir setiap hanya untuk menanyakan Zahra sedang apa.
Namun semua itu tidak bisa membuat Zahra tenang. Sinta memang tidak lagi datang setelah cekcok dengan Aries pagi itu. Tapi masalah baru justru muncul. Yaitu Santoso. Pria itu tiba tiba mengiriminya paket yang entah apa isinya Zahra sendiri tidak tau. Zahra tidak merasa penasaran tentang paket yang dikirim oleh Santoso. Namun Zahra tetap menyimpan-nya untuk diperlihatkan pada Faza nanti begitu Faza pulang dari Amerika.
Suara notifikasi masuk ke ponselnya membuat Zahra tersadar dari lamunan-nya. Zahra melangkah pelan menuju nakas disamping tempat tidurnya. Satu pesan dari Faza masuk dan segera Zahra buka. Zahra tersenyum tipis. Entah kenapa tiga hari ini Faza selalu mengirim pesan singkat yang membuat Zahra heran meskipun senang.
I LOVE YOU. Kalimat itu selalu Faza kirim padanya bahkan saat Zahra baru membuka matanya dipagi hari pesan singkat itu sudah masuk sebanyak dua atau tiga kali bahkan bisa lebih.
“Padahal tanpa kamu mengirim pesan seperti ini juga aku tau mas kamu cinta sama aku.” Gumam Zahra sambil menatap pesan pesan tersebut yang tiga hari ini begitu banyak Faza kirim untuknya.
“Yang aku mau itu kamu pulang mas.. Bukan kata kata ini sekarang.. Aku kangen sama kamu...”
Air mata Zahra tiba tiba menetes. Zahra tidak bisa jauh terlalu lama dengan suaminya. Meskipun memang Zahra percaya, tapi bukan berarti Zahra tidak punya ketakutan seperti ketakutan yang dirasakan oleh wanita diluar sana saat jaraknya dengan pasangan sedang tidak dekat.
Zahra mengusap air matanya. Kehadiran Aries dan Nadia tiga hari ini tidak mampu membuat rasa sepi Zahra hilang. Zahra bahkan rasanya sulit untuk tertawa meski Aries sudah melontarkan candaan saat mereka sedang berkumpul bersama.
Gerakan keras diperutnya membuat Zahra menunduk. Zahra tertawa dalam tangisnya. Zahra yakin anak dalam kandungan-nya juga merasakan hal yang sama seperti apa yang dirasakan-nya.
“Sabar ya sayang.. Kita sama sama meminta pada Tuhan supaya papah kamu selalu baik baik saja disana.. Dan semoga papah kamu juga cepat kembali berkumpul lagi sama kita.” Senyum Zahra sambil mengusap lembut perut besarnya.
__ADS_1
Seakan memahami apa yang Zahra katakan, gerakan janin dalam perutnya berlahan melemah namun tetap anteng pada bagian perut yang Zahra usap.
“Kangen papah ya sayang? Mamah juga. Kangen banget sama papah kamu..” Zahra kembali meneteskan air matanya dan kali ini Zahra biarkan menetes dan membentuk anak sungai dikedua pipi chuby nya.