PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 66


__ADS_3

“Apa? Faza yang memetik bunga saya?”


Kedua mata Sinta melebar setelah mendapat jawaban dari bibi bahwa Faza yang memetik bunga kesayangan-nya dipagi buta.


“Tapi untuk apa?”


Sinta tidak habis pikir. Faza tidak pernah sedikitpun berani menyentuh apapun miliknya tanpa izin. Tapi pagi ini Sinta mendapati bunga kesayangan-nya yang baru mekar dipetik dan yang memetiknya adalah Faza.


Tepat saat itu Zahra muncul dengan senyuman yang menghiasi bibirnya serta mawar merah yang terus dipegang dan dicium aroma wanginya.


“Itu bukan tante mawarnya?” Tunjuk Loly yang lebih dulu melihat kemunculan Zahra.


Sinta mengikuti arah tunjuk Loly. Rahangnya mengeras melihat Zahra yang sedang memegang bunga mawar yang sedang sangat disayangkan karna dipetik tanpa izin oleh Faza.


“Sudah aku duga pasti dia lagi biangnya.” Geram Sinta.


Loly tersenyum merasa senang melihat Sinta yang begitu geram. Loly melangkah dengan santai mengikuti Sinta yang mendekat pada Zahra.


“Hebat ya kamu..”


Zahra mengeryit ketika tiba tiba Sinta mendekatinya dengan ekspresi marah yang Zahra sendiri tidak tau karena apa.


“Mamah..”


“Sini bunganya.”


Zahra dengan sigap menjauh. Zahra tidak mau bunga pemberian dari suami tercintanya sampai direbut oleh siapapun termasuk oleh mamah mertuanya.


“Ada apa mah?” Tanya Zahra bingung.


Loly tersenyum. Wanita itu merasa sangat senang melihat Sinta marah pada Zahra.


“Kamu sudah membuat anak mamah berani mengambil milik mamah tanpa izin Zahra.”


Zahra menggeleng merasa bingung dengan tuduhan tiba tiba Sinta. Zahra tidak tau apa yang sedang Sinta bicarakan sekarang.


“Maksud mamah apa? Memangnya mas Faza ngapain?”


Sinta menyipitkan kedua matanya. Rasa kesalnya semakin memuncak melihat ekspresi Zahra yang terlihat kebingungan. Dan Sinta menganggap ekspresi Zahra sekarang hanya akting saja.

__ADS_1


“Tenang tante, biar aku yang ambilin bunga itu dari Zahra..” Ujar Loly.


Zahra semakin bingung. Zahra tidak tau ada apa dengan bunga pemberian Faza sehingga Loly dan Sinta ingin mengambil darinya.


“Tunggu tunggu.. Ini sebenarnya ada apa? Dan kenapa dengan bunga ini?”


Loly tidak menghiraukan ucapan Zahra dan tetap mendekat pada Zahra yang sempat menjauh saat Sinta hendak merampas mawar merah yang dipegangnya.


“Kamu jangan berani ambil bunga ini dari aku Loly atau aku bakal berbuat kasar sama kamu.” Zahra memperingati Loly yang mulai mendekatinya.


“Aku nggak takut Zahra.” Jawab Loly tersenyum sinis.


Zahra menghela napas. Merasa kesal karna Loly bermaksud merampas bunga yang Faza berikan padanya, Zahra pun menendang kaki Loly sehingga Loly jatuh terduduk dilantai dan meringis kesakitan.


“Awh...”


Sinta mendelik melihatnya.


“Zahra kamu..”


“Maaf mah, ini bunga dari mas Faza untuk Zahra. Zahra nggak bakal biarin siapapun mengambilnya. Sekalipun itu mamah.” Sela Zahra kemudian segera berlari menjauh dari Sinta.


“Awhh.. Tante ini sakit banget..” Ringis Loly mengeluh sambil memegangi kakinya yang ditendang Zahra.


Sinta berdecak kemudian segera membantu Loly untuk berdiri.


Bibi yang melihat kejadian itu tertawa. Bibi benar benar merasa geli melihat apa yang Zahra lakukan pada Loly. Bibi berpikir Loly memang pantas mendapatkan itu karna sudah berani mengganggu Zahra yang berstatus sebagai istri sah Faza.


“Awas ya kamu Zahra !!” Teriak kesal mamah Faza.


Sementara Zahra yang terus berlari malah tertawa merasa senang karna berhasil menjatuhkan Loly meskipun dengan cara kekerasan.


 -------


Siang ini papah Faza datang keperusahaan tempat Faza bekerja sengaja untuk bertemu langsung dengan Faza yang tidak pernah mau mengangkat telpon atau membalas pesan darinya. Kedatangan-nya disambut hangat oleh para karyawan bahkan oleh CEO diperusahaan itu karna mereka tau siapa papah Faza.


Papah Faza mengajak Faza untuk bicara berdua dan mencari tempat yang sekiranya nyaman. Dan tempat yang mereka tuju adalah restoran tempat biasa Faza dan karyawan yang lain-nya makan siang saat waktu istirahat tiba.


“Papah sudah memecat bella.”

__ADS_1


Faza melengos merasa sangat tidak perduli dengan apapun yang papahnya katakan. Sejak saat itu, ini memang kali pertama mereka bertemu lagi. Tentu saja karna papah Faza belum pulang kerumah dan masih membohongi istrinya, Mamah Faza.


“Papah akan pulang dan mengakui semuanya sama mamah.”


Faza langsung kembali menatap papahnya yang tetap terlihat tenang seperti tidak ada masalah.


“Papah benar benar nggak punya perasaan yah? Papah jujur itu sama saja papah nyakitin mamah.”


“Lalu papah harus bagaimana? Berbohong terus? bukankah kamu tidak suka dengan kebohongan papah?”


Faza mengepalkan kedua tangan-nya. Jika saja yang sekarang berada didepan-nya bukan papahnya mungkin Faza sudah melayangkan tinjunya sebagai lampiasan amarahnya.


“Faza tolong kamu mengerti perasaan papah juga. Papah akui papah memang salah karna menyakiti mamah kamu. Tapi apa kamu pernah menyadari bagaimana sikap mamah kamu sama papah? Kita sama sama laki laki Faza. Papah yakin kamu juga tidak mau berada diposisi yang sama seperti papah.”


Faza diam. Mamahnya memang sangat keras kepala dan selalu ingin mau menang sendiri bahkan pada papahnya sekalipun. Faza tau dan hapal bagaimana mamahnya dari dulu. Tapi Faza tidak pernah berpikir papahnya akan merasa jenuh sampai akhirnya mencari hiburan lain diluaran.


“Faza, papah sudah katakan semuanya dengan jujur sama kamu saat di hotel. Jujur papah juga malu karna Zahra juga melihat bagaimana buruknya perilaku papah sebagai seorang suami juga orang tua untuk kalian.”


Faza menghela napas. Entah kenapa tiba tiba Faza merasa dirinya juga egois dan selalu mau menang sendiri dari Zahra. Dan tiba tiba Faza juga dihantui rasa takut Zahra akan merasa jenuh dan bosan padanya lalu lari ke pelukan pria lain.


Faza menggelengkan kepalanya menepis semua pikiran buruknya. Faza yakin dan percaya pada Zahra. Zahra wanita yang setia.


“Sudahlah.. Aku nggak mau bahas apapun lagi tentang itu. Dan papah tidak usah jujur semuanya sama mamah. Aku nggak mau mamah sakit hati. Cukup papah sudahi permainan papah dan jangan mengulanginya lagi.”


Mendengar itu papah Faza tersenyum. Setidaknya Faza tidak lagi berbicara penuh amarah dan kebencian padanya.


“Jadi kamu maafin papah?”


“Asal papah tidak mengulanginya lagi dan lebih terbuka sama mamah.” Jawab Faza.


Papah Faza menganggukan kepalanya mantap. Pria itu sadar apa yang dilakukan-nya memang salah. Seharusnya dia lebih tegas pada istrinya bukan terus mengalah namun akhirnya mencari hiburan lain juga.


“Ya.. Papah tidak akan mengulanginya lagi.”


Faza tersenyum tipis. Walau belum bisa sepenuhnya memaafkan kesalahan yang diperbuat papahnya tapi Faza juga tidak bisa sepenuhnya melimpahkan semua kesalahan itu pada papahnya. Mamahnya juga salah karna tidak pernah bisa menghargai papahnya.


“Kita makan dulu sebelum kembali bekerja.” Senyum papah Faza kemudian memanggil pelayan di restoran itu untuk memesan makanan.


“Yah..” Angguk Faza setuju.

__ADS_1


__ADS_2