
Sinta mengompres Faza dengan wajah penuh ke khawatiran. Sinta bahkan sampai menyuruh Zahra menjauh karna menganggap Zahra lah yang menjadi penyebab sakitnya Faza.
“Ini semua gara gara kamu terlalu sibuk Faza. Harusnya sebanyak apapun pekerjaan kamu, kamu juga harus memikirkan kesehatan kamu.”
Sinta terus mengomel sambil mengompres Faza. Wanita itu duduk disamping Faza yang berbaring diatas ranjang.
Faza tersenyum mendengarnya.
“Mencari nafkah kan kewajiban seorang suami mah.. Faza sibuk juga karna memang pekerjaan Faza seperti itu.”
“Hhh.. Tapi bukan melulu harus begitu Faza. Sayangi juga diri kamu sendiri. Jangan cuma menyayangi orang lain yang belum tentu menyayangi kamu dengan tulus.”
Sinta menekan kata orang lain sambil melirik pada Zahra yang hanya diam berdiri didepan-nya. Sinta yakin kesibukan anaknya disebabkan karna Zahra yang dianggap menjadi beban berat bagi anaknya.
“Mah.. Aku kerja itu buat istri juga calon anak aku, cucu mamah. Mamah nggak boleh ngomong begitu..” Faza menatap sendu pada Sinta merasa keberatan dengan apa yang Sinta katakan yang jelas sekali sedang menyindir Zahra.
“Kamu itu kalau mamah ngomong ngeyel Faza. Nggak nurut kaya dulu lagi.” Nada suara Sinta mulai kesal.
Sedang Zahra, dia hanya bisa diam menatap suaminya yang terlihat menyedihkan. Wajah tampan-nya memerah, bibirnya nampak kering pucat, dan tubuhnya begitu panas.
“Mah...”
“Sudahlah.. Mamah akan telepon dokter.” Sela Sinta malas.
“Kamu Zahra, bilang sama Lasmi siapkan bubur untuk Faza. Sekarang.” Perintah Sinta menatap Zahra datar.
Faza menatap kasihan pada Zahra yang terus disalahkan karna kondisinya yang mendadak memburuk. Faza tidak tega sebenarnya. Tapi Faza juga tidak mungkin menegur mamahnya didepan Zahra. Itu akan membuat mamahnya salah paham.
”Iya mah..” Angguk Zahra tersenyum.
Zahra kemudian melangkah pelan keluar dari kamar meninggalkan Faza dan Sinta.
Faza menghela napas setelah Faza benar benar keluar dari kamar mereka. Hal itu Faza gunakan untuk menegur sang mamah yang melimpahkan kesalahan pada Zahra tanpa sebab.
“Mamah nggak boleh gitu dong sama Zahra. Aku hanya kelelahan mah.. Mamah nggak seharusnya menyalahkan Zahra.. Zahra nggak salah mah..”
Sinta berdecak. Wanita itu menatap kesal pada putranya yang dia anggap menyalahkan-nya.
“Jadi siapa yang salah? Mamah?” Tanya Sinta menatap Faza.
__ADS_1
“Aku nggak nyalahin siapa siapa mah.. Aku cuma minta sama mamah buat nggak nyalahin Zahra. Apa yang terjadi sama aku sekarang itu karna aku sendiri. Aku yang terlalu sibuk sampai sering mengabaikan waktu istirahat aku sendiri mah..” Faza berkata pelan agar mamahnya mengerti dan tidak salah mengartikan maksudnya.
“Hh.. Sudahlah, sepertinya kamu sudah tidak membutuhkan mamah disini. Sebentar lagi dokter akan datang. Mamah pulang dulu. Cepet sembuh nak.”
Sinta bangkit dari duduknya kemudian berlalu keluar dari kamar Faza dan Zahra meninggalkan Faza yang hanya bisa diam berbaring diatas tempat tidur.
Faza mendesah frustasi. Entah harus bagaimana dirinya bersikap jika berada didepan istri dan mamahnya. Sinta selalu mencari cari kesalahan Zahra. Sinta juga selalu melimpahkan kesalahan pada Zahra jika ada sesuatu yang terjadi.
Sinta menoleh pada Faza sebelum benar benar keluar dari kamar itu. Sinta menghela napas kemudian berlalu. Ketika hendak menuruni anak tangga Sinta melihat Zahra yang baru saja selesai berbincang dengan mbak Lasmi.
Sinta menatap penuh rasa kesal pada Zahra kemudian mendekat dengan langkah lebar.
“Zahra.” Panggilnya.
“Ya mah...” Zahra tersenyum menatap Sinta yang berdiri didepan-nya.
“Ini semua itu gara gara kamu. Kamu bisanya cuma nyusahin Faza. Kamu nggak bisa bantu apa apa.”
Zahra mengeryit bingung. Entah apa yang diperbuatnya sehingga Sinta begitu marah dan terus menyalahkan-nya.
“Maksud mamah apa?” Tanya Zahra meminta penjelasan.
Zahra menggelengkan kepalanya. Sinta selalu saja menggali gali masalah dan melimpahkan semua padanya.
“Mah.. Zahra minta maaf sebelumnya. Tapi mas Faza yang meminta supaya Zahra nggak usah kerja. Dan mas Faza yang sekarang dengan mas Faza yang dulu itu sudah jelas berbeda. Dulu mas Faza single sehingga mas Faza bisa santai melakukan semuanya. Tapi sekarang mas Faza sudah punya istri bahkan sebentar lagi akan punya anak. Wajar kalau mas Faza memikirkan itu semua. Lagi pula mas Faza sibuk juga karena sekarang dia direktur mah.. Tugas dan beban mas Faza sebagai pemimpin diperusahaan tempatnya bekerja itu nggak mudah.. Mamah nggak bisa dong apa apa selalu nyalahin Zahra..” Ujar Zahra berani.
Sinta mengepalkan kedua tangan yang ada di sisi kanan dan kiri tubuhnya. Wanita itu sangat gemas pada Zahra sekarang. Zahra berani melawan-nya.
“Zahra tau mah, mamah mungkin memang nggak pernah suka sama Zahra.. Tapi tolong jangan terus melimpahkan semua kesalahan pada Zahra.. Kalaupun Zahra salah, tolong mamah ingatkan Zahra dengan baik.” Tambah Zahra dengan tatapan sendu pada Sinta.
“Kamu...” Sinta hampir saja mengangkat tangan bermaksud melayangkan tamparan pada wajah Zahra saat dokter Gino muncul.
“Permisi nyonya..”
Sinta dan Zahra menoleh dan mendapati dokter tampan nan muda itu tersenyum ramah pada mereka.
“Saya sudah bertemu dengan asisten rumah tangga dan dia memberitahu saya untuk langsung naik ke lantai dua karna nyonya ada disini.”
Sinta menghela napas kasar. Hampir saja dirinya menampar Zahra didepan dokter Gino.
__ADS_1
“Ya.. Anak saya ada dikamarnya dokter.” Ujar Sinta.
“Bisa tunjukan dimana kamarnya nyonya?” Tanya dokter Gino ramah.
Sinta kemudian menatap kembali pada Zahra yang ada didepan-nya.
“Mamah mau pulang. Kamu antar dokter Gino supaya Faza bisa cepat mendapat penanganan yang baik.”
Sinta berlalu setelah itu. Wanita itu bahkan tidak perduli meskipun ada orang lain disana dan tetap memperlihatkan sikap angkuhnya pada Zahra.
Zahra menghela napas dan hanya bisa menggelengkan kepala menatap Sinta yang melangkah menuruni anak tangga. Entah apa yang harus Zahra lakukan supaya pandangan Sinta berubah padanya.
“Mari ikut saya dokter.” Senyum ramah Zahra pada dokter tampan itu.
“Oh ya nyonya..” Angguk dokter Gino kemudian melangkah mengikuti Zahra menuju kamar dimana Faza berada.
Faza langsung diperiksa dengan teliti oleh dokter Gino dengan Zahra yang selalu berada disampingnya.
“Bagaimana dokter?” Tanya Zahra setelah dokter Gino selesai memeriksa keadaan Faza.
“Panasnya sangat tinggi nyonya. Tuan Faza masuk angin berat karna kelelahan dan kurang istirahat. Sebaiknya jangan dulu beraktivitas berat sebelum kondisinya pulih dan sehat seperti sedia kala.” Jawab Dokter Gino.
“Ini obatnya. Diminum sehari tiga kali setelah makan ya nyonya.”
Dokter Gino menyodorkan tiga bungkus obat yang diterima oleh Zahra.
“Terimakasih dokter..” Senyum Zahra.
“Sama sama nyonya. Kalau begitu saya permisi. Tuan, semoga lekas sembuh.”
“Ya dok, terimakasih.”
Dokter Gino mengangguk kemudian membereskan alat yang dia keluarkan untuk memeriksa Faza tadi.
“Permisi nyonya, tuan.”
“Ya dokter, maaf tidak bisa mengantar.” Senyum Zahra pada dokter Gino.
“Tidak apa apa nyonya. Mari..”
__ADS_1