PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 121


__ADS_3

Setelah membicarakan tentang rencana untuk mensyukuri usia genap empat bulan kandungan Zahra, Akhirnya Faza dan Zahra sepakat untuk menyisihkan sedikit uang dari penghasilan Faza untuk berbagi dengan anak yatim serta orang yang kurang mampu.


Acara bagi bagi itu dibantu oleh Fadly juga Loly yang ikut serta yang langsung di laksanakan keesokan harinya. Lebih tepatnya bukan membantu, tapi merecoki Fadly yang dibuat kesal dan hampir emosi karna tingkahnya.


“Fadly..”


Fadly yang baru selesai dari kamar mandi menoleh mendengar suara Faza yang memanggilnya. Hari ini Faza memang mengambil cuti satu hari demi bisa memenuhi keinginan istrinya.


“Eh ya kak.. Kenapa?”


Fadly melangkah menghampiri Faza yang berdiri dengan kedua tangan yang dimasukan kedalam saku celana jins nya.


Faza tersenyum geli saat Fadly berdiri didepan-nya. Entah kenapa tiba tiba Faza teringat dengan tingkah ribed Loly yang sepertinya memang sedang berusaha mencari perhatian Fadly.


“Kenapa sih kak?” Fadly menatap aneh pada Faza yang seperti sedang sengaja meledeknya.


Bukan-nya menjawab Faza malah tertawa tidak tahan membayangkan bagaimana Loly yang terus berusaha mencari perhatian Fadly.


“Apaan sih? Nggak jelas banget. Ditanyain malah ketawa.” Fadly semakin merasa kesal.


“Oke oke maaf.. Jangan marah marah dong..”


Faza menahan Fadly yang merasa kesal dan hendak berlalu dari hadapan-nya.


“Apaan kak cepetan. Aku nggak ada waktu buat bercanda. Aku mau pulang sekarang..”


“Loly masih didepan loh.. Memangnya kamu mau Loly ngebuntutin kamu lagi?” Faza menaik turunkan kedua alisnya menggoda Fadly.


“Nggak jelas banget sih. Udah ah..”


“Eh eh.. Ly serius nih kakak mau nanya.”


“Nanya apaan?” Tanya Fadly sambil melangkah bermaksud menghindari Faza.


“Kamu ada hubungan apa sama Loly?”


Pertanyaan Faza membuat langkah Fadly langsung berhenti. Fadly mengeryit kemudian memutar tubuhnya kembali menghadap Faza.


“Aku? Sama Loly? Hubungan? Kakak bercanda?”

__ADS_1


Faza tersenyum. Faza akan mendukung dengan siapapun Fadly berhubungan. Faza tidak akan melarang ataupun menghalangi. Yang penting Fadly berhubungan dengan orang yang tepat.


“Kakak lihat sepertinya Loly mulai menyukai kamu Ly.. Dia bahkan terlihat sedikit berubah sekarang.”


Fadly memutar jengah kedua bola matanya.


“Amit amit deh kalau aku sampai punya rasa sama dia kak. Udahlah, aku harus pulang sekarang. Ada pekerjaan yang harus segera aku selesaikan.”


“Ati ati amit amitnya loh Ly..” Goda Faza sambil tertawa.


“Terserah kakak aja.” Balas Fadly tidak perduli kemudian berlalu meninggalkan Faza yang menertawakan-nya.


Sementara itu diteras rumah Zahra sedang duduk dengan Loly yang asik memainkan ponselnya. Mereka berdua duduk dikursi yang berbeda dan terhalang oleh meja kecil yang ada ditengah tengah mereka.


Zahra mencuri curi pandang pada Loly yang begitu fokus pada ponselnya. Zahra bingung harus berkata apa pada Loly. Loly sudah membantunya dan Faza berbagi sesama setengah hari ini. Dan Zahra tidak tau harus bagaimana berterimakasih pada Loly.


“Kamu nggak pulang?” Tanya Zahra pelan.


Loly menoleh dengan cepat pada Zahra yang menatapnya. Sesaat Loly terdiam menatap Zahra yang berada begitu dekat dengan-nya.


“Setelah aku membantu kamu dan mas Faza kamu mau langsung ngusir aku begitu?” Tanya Loly sinis. Meskipun Loly merasa sudah tidak lagi tertarik pada Faza, tapi Loly masih belum merasa respect pada Zahra. Keinginan-nya merebut Faza dari Zahra memang sudah sirna. Dan semua itu tentu saja karna Fadly.


“Dengar ya Zahra..”


Merasa penasaran Zahra pun menolehkan kepalanya dan mendapati Fadly yang sudah berdiri dibelakangnya.


Zahra kemudian tersenyum dan mengangguk mengerti. Sikap Loly semakin kentara. Loly sedang mencoba menarik perhatian Fadly.


“Apa?!” Tanya Fadly ketus pada Loly yang terus tersenyum menatapnya.


“Mau pulang kan?” Tanya Loly dengan tidak tau malunya.


“Ya..” Jawab Fadly singkat juga cuek.


“Aku ikut. Kan aku nggak bawa mobil.” Senyum Loly lebar.


“Nggak nggak. Kamu pulang sendiri. Naik taksi.” Tolak Fadly keras.


Namun Loly tidak mengindahkan penolakan Fadly. Loly justru berlari lebih dulu menuju mobil Fadly yang akhirnya mereka berdua seperti orang yang sedang balapan.

__ADS_1


Melihat itu Zahra tertawa. Loly dan Fadly benar benar sangat lucu dan membuatnya merasa tergelitik.


Faza yang berdiri diambang pintu utama juga tertawa melihat Fadly dan Loly yang terus saja bertengkar. Faza berharap jika memang Loly benar benar mempunyai rasa pada adiknya, Loly bisa benar benar tulus tanpa mempunyai niat apapun.


Setelah Loly dan Fadly pergi, Faza mengajak Zahra untuk istirahat siang.


“Menurut kamu Fadly sama Loly cocok nggak mas?” Tanya Zahra sambil memainkan jari jarinya didada bidang Faza.


“Cocok atau nggak nya itu bukan masalah sih sebenarnya. Aku cuma berharap saja Loly benar benar tulus pada Fadly tanpa ada niat buruk apapun.”


Zahra tersenyum dan mengangguk pelan setuju dengan apa yang Faza katakan. Kecocokan memang tidak hanya dilihat dari luar saja. Karna kecocokan yang sebenarnya adalah perbedaan. Perbedaan dimana pasangan bisa menjadikan itu sebagai pelengkap dalam sebuah hubungan.


“Sudahlah.. Lebih baik sekarang kita istirahat. Besok siang kita lakukan USG.”


“Memangnya kamu nggak kerja?” Tanya Zahra bingung.


“Aku akan sempatkan waktu makan siang untuk kita pergi kedokter Cindy.” Jawab Faza mulai memejamkan kedua matanya.


“Oh, oke.” Angguk Zahra setuju kemudian mulai memejamkan kedua matanya.


----------


Loly dan Fadly sampai didepan kediaman keluarga Akbar. Dengan sangat kesal Fadly turun dari mobilnya dan membanting pintu meninggalkan Loly yang masih anteng duduk disamping kemudi.


Loly menghela napas dan menatap sendu pada Fadly yang berlalu meninggalkan-nya masuk kedalam rumah.


“Emangnya aku ini kurang apa sih? Aku punya karir bagus. Aku juga sudah bisa masak beneran sekarang. Tapi kenapa Fadly tetap bersikap dingin sama aku?” Loly bergumam tidak semangat karna sikap Fadly padanya.


Loly sudah sangat berusaha. Loly bahkan sampai rela belajar masak bersama asisten rumah tangganya demi bisa menarik perhatian Fadly.


“Ternyata kamu lebih susah dideketin.” Katanya dengan helaan napas.


Loly kemudian turun dari mobil Fadly. Loly menatap kediaman keluarga Akbar dengan wajah sendu. Tidak berniat masuk, Loly pun menghubungi supir dirumahnya agar segera menjemputnya.


“Saya tunggu ya pak.” Ujarnya kemudian menyudahi sambungan telepon-nya.


Loly kembali memasukan ponsel miliknya kedalam tas slempangnya. Wanita ber dress peach itu kemudian melangkah menjauh dari mobil Fadly. Namun ketika Lol hendak keluar dari pintu gerbang yang sudah dibukakan oleh pak Umar, tiba tiba Sinta muncul dan memanggilnya.


Loly memutar tubuhnya dan tersenyum menatap Sinta yang sedang melangkah mendekat padanya.

__ADS_1


“Tante...” Senyum Loly begitu Sinta sampai tepat didepan-nya.


“Tante mau bicara sama kamu.”


__ADS_2