PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 285


__ADS_3

“Apa?”


Faza terkejut mendengar apa yang papahnya katakan siang ini. Akbar memang sengaja datang menemuinya dan mengajaknya makan bersama untuk membahas tentang keadaan Sinta sekarang.


“Tapi bagaimana mungkin hanya karena tante dan om memutuskan hubungan saja mamah sampai seperti itu pah..?”


Akbar tersenyum miris.


“Papah juga enggak tau Za.. Tapi kan kamu juga tau sendiri bagaimana dekatnya tante Erika dan mamah kamu dulu. Mereka bahkan sempat berniat menjodohkan kamu dan Loly kan?”


Faza menghela napas. Mendengar cerita papahnya Faza merasa sangat tidak tega. Tapi Faza juga lebih tidak tega lagi jika datang kesana karena Sinta selalu saja mencela Zahra, istrinya.


“Faza minta maaf pah. Tiga bulan belakangan Faza memang sengaja nggak datang. Zahra berulang kali menyuruh Faza buat jenguk mamah. Tapi rasanya masih sangat berat. Bukan karena merasa dendam. Tapi karena Faza nggak mau mamah terus mencela Zahra pah.. Aku nggak mau membuat batin Zahra terus tertekan karena perlakuan mamah...”


Akbar mengangguk paham.


“Papah mengerti nak. Kamu tenang saja. Yang penting sekarang kamu jaga istri dan anak kamu dengan baik. Untuk mamah kamu nggak perlu khawatir. Papah yang akan jamin semuanya akan baik baik saja.”


“Ya pah...” Angguk Faza mempercayakan semuanya pada sang papah.


“Ya udah, ayo makan lagi..”


Faza mengangguk lagi kemudian kembali melanjutkan makan siangnya.


Setelah makan siang bersama itu selesai, Faza dan Akbar kembali dengan aktivitasnya masing masing. Keduanya kembali fokus dengan pekerjaan mereka di perusahaan masing masing.


Faza menghela napas. Kali ini dirinya tidak berkonsentrasi dengan baik. Ucapan papahnya tentang keadaan Sinta membuat Faza tidak bisa untuk tidak khawatir.


Faza berdecak pelan kemudian meraih gagang telepon untuk menghubungi Reyhan. Tidak perlu menunggu lama Reyhan pun masuk kedalam ruangan Faza.


“Saya pak...”


“Duduk..” Ujar Faza mempersilahkan agar Reyhan duduk dikursi didepan-nya.


“Terimakasih pak.” Angguk Reyhan kemudian mendudukan dirinya dikursi tersebut.

__ADS_1


Sesaat Faza terdiam. Faza berniat meminta tolong pada Reyhan agar menggantikan-nya untuk meeting bersama client sore nanti.


“Begini Reyhan.. Saya mau minta tolong sama kamu untuk menggantikan saya menghadiri meeting nanti sore. Tapi jika kamu bisa, kalau memang enggak bisa ya nggak papa..” Ujar Faza menatap Reyhan.


Mendengar itu Reyhan tertawa pelan. Pria itu menganggukan pelan kepalanya. Tentu saja dirinya bisa.


“Baik pak. Saya akan menghadiri meeting itu pak.” Senyum Reyhan.


“Oh ya sudah. Terimakasih ya. Saya harus segera pulang setelah pekerjaan ini selesai soalnya Rey. Ada urusan mendadak yang tidak bisa saya abaikan.”


“Ya pak, saya paham. Ada yang lain lagi pak?” Tanya Reyhan kemudian.


“Oh tidak. Tidak ada. Cukup itu saja.” Geleng Faza dengan senyuman dibibirnya.


“Baik pak. Kalau begitu saya permisi mau melanjutkan pekerjaan saya..”


“Oh oke.. Terimakasih ya Rey..”


“Pak Faza tidak perlu sungkan pada saya.” Angguk Reyhan pelan kemudian bangkit dari duduknya.


“Ya Rey..” Angguk Faza mempersilahkan.


Setelah Reyhan keluar dari ruangan-nya, Faza menghela napas lega. Sudah ada yang menghandle meeting nanti sore itu artinya Faza bisa pulang cepat nanti.


Tidak mau membuang waktu, Faza pun kembali menfokuskan pikiran-nya pada pekerjaan-nya itu. Faza harus segera pulang dan mengatakan bagaimana keadaan Sinta sekarang.


 ———————


“Apa kamu yakin mau berbicara sama mommy dan daddy tentang keniatan kamu buat nikahin aku?” Tanya Loly pada Fadly yang duduk disampingnya.


“Ya.. Aku yakin. Mereka pasti akan setuju dengan hubungan kita.” Jawab Fadly tersenyum dengan sangat yakin.


Loly menghela napas. Bukan tidak mempercayai kekasih hatinya, tapi Loly takut kedua orang tuanya sampai nekat berbuat kasar pada Fadly yang sekarang malah nekat ingin menemui keduanya dan melamarnya seorang diri.


“Hey.. Kamu nggak percaya sama aku?” Tanya Fadly meraih dagu Loly dan menuntun wajah cantik Loly agar menatapnya.

__ADS_1


“Bukan begitu. Aku hanya khawatir sama kamu Ly. Mommy sama Daddy bisa sangat kejam kalau sudah hilang kesabaran. Aku takut mereka sampai nekat.” Jawab Loly pelan.


Fadly tertawa mendengarnya. Dengan lembut Fadly menangkup kedua pipi tirus Loly. Tatapan-nya begitu lembut pada Loly yang membalas tatapan Fadly dengan sorot mata penuh ke khawatiran.


“Aku tau dan aku selalu percaya om dan tante adalah orang yang baik. Mereka begitu karena mereka sedang marah saja. Aku juga yakin mereka pasti ingin putri satu satunya ini bahagia dengan orang yang di cintainya.” Ujar Fadly lirih.


Loly berdecak pelan kemudian tertawa. Loly melepaskan tangkupan kedua tangan besar Fadly kemudian menatap kearah lain.


“Memangnya tau darimana kamu kalau aku cinta sama kamu?” Tanyanya meledek Fadly.


Senyuman dibibir Fadly langsung sirna mendengar itu. Pria itu meraih kedua pundak Loly menyuruh agar Loly kembali menatapnya.


“Kok kamu ngomongnya gitu sih? Memangnya kamu nggak beneran cinta sama aku?”


Loly ingin sekali tertawa mendengar pertanyaan yang Fadly lontarkan. Apa lagi melihat ekspresi Fadly yang seperti sangat tidak rela jika memang benar Loly tidak mencintainya.


“Nggak lah. Kamu kan brengsek. Kamu nyakitin aku. Kamu bahkan pernah mau berbuat kasar ke aku ditengah hutan.” Jawab Loly berusaha menahan tawanya.


Fadly menghela napas. Ekspresinya langsung sendu mendengar jawaban atas pertanyaan yang Fadly lontarkan sendiri.


“Iya.. Aku tau aku salah. Aku brengsek. Dan mungkin aku nggak pantes buat dapat maaf dari kamu juga om sama tante. Tapi aku serius ingin memperbaiki semuanya. Aku akan menebus semua kesalahan aku sama kamu. Bahkan kalau om sama tante mau aku jadi budaknya, aku nggak keberatan. Yang penting mereka izinin aku buat selalu sama sama, sama kamu Loly..”


Loly benar benar tersentuh mendengar apa yang Fadly katakan. Menjadi budak? Itu benar benar sangat tidak mungkin karena Loly juga tidak akan membiarkan-nya.


“Loly.. Bahkan kalau kamu dan kedua orang tua kamu menginginkan nyawa aku, aku pasti akan dengan rela memberikan-nya. Asal mereka mau merestui hubungan kita.”


Loly mengeryit. Bagaimana mungkin mereka bisa bersama kalau Fadly saja rela berkorban nyawa.


“Ya ampun Fadly.. Kamu kok ngomongnya ngawur begitu sih? Aku kan cuma bercanda. Lagian memangnya mommy sama daddy aku sejahat itu apa? Dan juga kalau kamu mati bagaimana bisa kita bersama? Aneh deh kamu..” Sebal Loly menatap Fadly.


“Kan kan.. Sekarang ketauan kalau kamu juga cinta banget sama aku.. Keliatan tau dari raut wajah kamu yang ketakutan..” Ujar Fadly tersenyum lebar meledek Loly yang langsung mengerucutkan bibirnya. Ya, Fadly mengerjainya kali ini.


“Iiihh.. Kamu nyebelin banget sih? Dasar jelek.”


Karena kesal Loly pun bangkit dari duduknya kemudian berlalu meninggalkan Fadly yang tertawa tawa sendiri dikursi tempat mereka duduk.

__ADS_1


__ADS_2