PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 127


__ADS_3

Zahra dengan sangat telaten menyuapi Faza bubur. Namun baru beberapa suap Faza langsung memuntahkan-nya kemudian menolak lagi untuk melanjutkan memakan bubur buatan mbak Lasmi.


Zahra yang merasa kasihan melihat kondisi lemah suaminya tidak bisa memaksa. Zahra pun membantu Faza meminum obat yang diberikan dokter Gino kemudian menemaninya beristirahat setelah sebelumnya membersihkan muntahan Faza dilantai.


Zahra menatap wajah berpeluh suaminya. Dengan lembut Zahra menyekanya menggunakan tisu.


Selama mereka menikah dan hidup bersama baru kali ini Faza sakit sampai terlihat begitu lemah dan tidak berdaya. Padahal biasanya Faza hanya mengeluhkan pening kemudian sembuh setelah dibawa tidur sebentar. Tapi sekarang Faza benar benar terlihat lemah juga pucat.


“Apa yang mamah bilang memang benar? Aku hanya beban buat mas Faza?”


Batin Zahra mulai bertanya tanya. Ucapan Sinta benar benar menusuk relung hatinya tadi. Ditambah lagi melihat kondisi Faza sekarang. Itu membuat Zahra semakin merasa bersalah.


“Sayang...” Panggil Faza dengan suara purau dan kedua mata terus terpejam.


Segala pemikiran Zahra langsung buyar. Zahra membenarkan selimut yang menutupi tubuh suaminya kemudian membelai lembut pipi Faza.


“Ya mas.. Aku disini.. Tidurlah.. Aku akan tetap berada disamping kamu...” Bisik Zahra pelan.


Faza kembali anteng memejamkan kedua matanya. Namun pria itu beringsut mendekat pada Zahra dan menempelkan wajahnya tepat didada Zahra seperti sedang mencari kenyamanan disana.


Zahra tersenyum. Dengan penuh kasih sayang Zahra mendekap kepala Faza memberikan rasa nyaman pada suaminya yang sedang tidak baik baik saja saat itu.


Merekapun sama sama tertidur dengan Zahra yang terus mendekap kepala Faza didadanya sampai hari gelap.


Sekitar pukul 9 malam Faza terbangun. Pria itu meringis ketika kepalanya terasa berdenyut sangat hebat. Tubuhnya terasa panas namun juga dingin saat selimut yang menutupi tubuhnya dia buka.


Faza menoleh dan menemukan Zahra yang terlelap disampingnya. Faza tersenyum menatap istrinya yang begitu terlelap dengan sangat damai.


Faza perlahan mengangkat tangan-nya dan menyentuh lembut pipi Zahra yang berhasil membuat Zahra terbangun.


“Mas...” Zahra buru buru bangkit dari berbaringnya namun segera dicegah oleh Faza.


“Ssshhtt.. Aku nggak papa sayang..” Senyum Faza.


“Tapi mas..”


“Aku minta maaf..” Sela Faza membuat Zahra langsung berhenti berbicara.


“Maaf? Untuk apa?” Tanya Zahra bingung.


Faza tersenyum. Sinta selalu menyalahkan Zahra yang membuat Faza merasa sangat bersalah.


“Untuk semuanya. Aku belum bisa menjadi suami yang baik untuk kamu sayang..” Ujar pelan Faza membelai lembut pipi Zahra.

__ADS_1


Zahra tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.


“Tidak ada yang sempurna didunia ini mas. Untuk membangun semua yang sejak dulu kita impikan, mari kita berusaha sama sama untuk segala yang terbaik kedepan-nya.” Balas Zahra membuat Faza ikut tersenyum mendengarnya.


“I love you Aulia Zahra.” Ungkap Faza berbisik lembut.


“I love you to Faza Akbar.” Senyum Zahra membalas.


Mereka sama sama tertawa kemudian berpelukan erat sebelum akhirnya suara ketukan pintu terdengar.


Zahra segera melepaskan pelukan-nya.


“Itu pasti mbak Lasmi.” Katanya.


“Sebentar, aku buka dulu.” Lanjut Zahra kemudian turun dari ranjang dengan sangat pelan pelan karna perutnya yang besar.


Faza menghela napas pelan. Denyutan ngilu dikepalanya sama sekali tidak berkurang. Namun rasa menggigil ditubuhnya sudah tidak lagi terasa yang lengket dipenuhi peluh.


Benar saja. Saat Zahra membuka pintu kamarnya, Mbak Lasmi berdiri disana.


“Eh mbak... Ada apa mbak?” Tanya Zahra dengan senyuman dibibirnya.


“Maaf mengganggu nyonya. Makan malamnya sudah siap. Apa mau saya bawa kesini saja?”


“Oh boleh boleh mbak.. Tolong bawain kesini aja ya.. Mas Faza masih lemes banget kayanya.”


“Ya mbak.. Makasih ya mbak. Maaf banget ya mbak saya ngerepotin terus.”


“Nggak papa nyonya.. Sudah menjadi tugas saya membantu nyonya..”


Zahra tersenyum mendengarnya. Zahra sangat bersyukur karna memiliki mbak Lasmi yang sudah Zahra anggap sebagai anggota keluarganya.


Setelah mbak Lasmi berlalu, Zahra kembali mendekat pada Faza yang sudah duduk bersender dengan punggung yang bersender dipangkal ranjang menggunakan bantal sebagai alasnya.


“Kamu aku lap aja ya mas.. Pake air hangat. Setelah itu kamu makan terus minum obat biar istirahat lagi..” Kata Zahra meraih baskom dan handuk kecil bekas kompresan. Zahra bermaksud mengambil air hangat dikamar mandi untuk mengelap tubuh suaminya yang lengket oleh keringat.


“Aku mandi aja deh.. Kayanya nggak nyaman kalau nggak mandi.”


Zahra berdecak.


“Mas nggak usah ngeyel deh. Mas itu lagi sakit.”


Faza menghela napas.

__ADS_1


“Ya udah deh iya iya...” Pasrah Faza terpaksa.


Saat Zahra masuk kedalam kamar mandi untuk mengambil air, Faza membuka sendiri satu persatu kancing kemeja putihnya. Dari sore Faza memang belum mengganti bajunya karna langsung merasa lemas dan tidak berdaya.


Ketika Faza hendak melepas kemejanya mbak Lasmi masuk berucap “permisi” dengan menundukan kepalanya. mbak Lasmi meletakan dua piring nasi lengkap dengan sayur dan lauk serta dua gelas air putih diatas nakas.


“Makasih ya mbak..” Senyum Faza.


“Ya tuan. Sama sama. Saya permisi.”


“Mbak, tolong tutup pintunya ya..”


“Ya tuan..”


Dengan langkah cepat mbak Lasmi keluar dari kamar Faza dan Zahra sambil menutup pelan pintu bercat putih tersebut. Faza yang melihat itu hanya menggeleng saja.


“Untung saja belum aku buka ini kemeja.” Gumam Faza.


Tidak lama setelah mbak Lasmi keluar, Zahra muncul dengan membawa air hangat dibaskom. Zahra mendudukan dirinya disamping Faza, membantu pria itu melepas seluruh kain yang menempel ditubuhnya kemudian dengan telaten mengelapnya.


Selesai mengelap tubuh Faza serta membantu Faza mengenakan piyama tidur, Zahra pun menyuapi Faza dan memberikan-nya obat.


Kini keduanya sudah selesai makan malam dan sama sama berada diatas ranjang dengan Faza yang tertidur dipaha Zahra.


“Sayang...” Panggil Faza sambil mengusap lembut perut besar istrinya.


“Ya mas...” Saut Zahra yang dengan lembut terus memijat kepala Faza.


“Dokter Gino.. Dia ganteng ya..”


Zahra mengeryit mendengar apa yang dikatakan suaminya tentang dokter Gino. Zahra tidak munafik, dokter muda itu memang sangat tampan dengan hidung mancung dan kulit putih semu merahnya.


“Kok tiba tiba ngomong begitu?” Zahra menatap Faza yang perlahan mengangkat kepala dari pangkuan-nya.


Faza membalas tatapan bingung Zahra dengan ekspresi sendunya. Untuk pertama kalinya Faza merasa tidak percaya diri. Dan itu karna dokter Gino.


“Menurut kamu aku sama dokter Gino gantengan siapa?”


Zahra melongo mendengar pertanyaan itu. Aneh sekali rasanya karna tiba tiba Faza membanding bandingkan dirinya sendiri dengan orang lain. Padahal dari dulu Faza adalah orang yang tidak pernah perduli dengan apapun tentang orang lain.


“Gantengan dokter Gino ya?”


Zahra mengerjapkan beberapa kali kedua matanya. Suaminya bersikap sangat tidak bisa secara tiba tiba. Zahra sampai berpikir apakah perubahan sikap suaminya karna demam yang dideritanya?

__ADS_1


“Iya deh.. Aku memang kalah ganteng sama dokter Gino.” Kata Faza lagi dengan helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya. Faza terlihat sangat tidak bersemangat.


Zahra tidak bisa berkata apa apa. Faza benar benar sangat aneh sekarang.


__ADS_2