PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 265


__ADS_3

Faza merasa lega sekarang. Papahnya sudah kembali pulang kerumah. Fadly juga sudah menelepon-nya dan mengatakan bahwa mamah juga papah mereka sudah kembali akur dan saling memaafkan.


“Jadi apa kamu akan ke kantor hari ini mas?” Tanya Zahra saat mereka sedang menikmati sarapan bersama tanpa Akbar yang memang langsung pulang setelah pembicaraan-nya dengan Faza diruang tengah.


“Eemm.. Nggak lah. Aku mau sama kamu sama Fahri aja. Full hari ini.” Senyum Faza menjawab.


Zahra ikut tersenyum. Zahra merasa senang jika Faza berada dirumah bersamanya. Tentu saja, mereka jarang bisa bersama jika siang hari kerena Faza yang selalu bekerja seharian.


“Bagaimana kalau hari ini kita ziarah ke makam ayah sama ibu?” Tanya Faza menawarkan pada Zahra.


“Sekalian kita cek rumah. Walaupun ada yang ngurus tapi kan kita tetap harus cek sayang. Takutnya ada kurang apa atau mungkin ada yang perlu diperbaiki.” Lanjut Faza sambil mengunyah makanan dalam mulutnya.


“Oke.. Aku setuju.” Antusias Zahra.


“Ya sudah abis ini kamu langsung siap siap ya sayang.. Nanti aku bantuin siapin semua keperluan Fahri.”


“Ya mas...”


Faza dan Zahra kembali melanjutkan sarapan mereka sampai selesai. Setelah itu keduanya dengan kompak menyiapkan segala keperluan Fahri yang akan dibawa.


Setelah semuanya dipersiapkan dan yakin tidak ada yang ketinggalan, Faza dan Zahra pun segera berangkat menggunakan mobil yang Faza beli untuk Zahra.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, Mereka sampai di pemakaman umum yang tidak jauh dari rumah peninggalan kedua orang tua Zahra. Rumah yang dulu juga sempat menjadi tempat tinggal Faza dan Zahra saat Faza masih menjadi seorang manager.


“Sayang.. Kamu bawa bunganya, biar Fahri aku yang gendong sini..” Ujar Faza setelah mereka turun dari mobil.


“Oke..” Angguk Zahra.

__ADS_1


Zahra menyerahkan Fahri pada Faza kemudian mengambil dua buket bunga yang dia bawa dengan cara dipeluk didada. Zahra juga membawa keranjang kecil berisi banyak kelopak bunga mawar merah yang mereka beli saat dalam perjalanan menuju pemakaman kedua orang tua Zahra.


”Kamu duluan sayang..” Ujar Faza yang di angguki Zahra.


Mereka berdua melangkah beriringan dengan Zahra yang mendahului. Sedang Faza, pria itu melangkah dibelakang Zahra dengan menggendong putranya dan membawa payung hitam agar putranya tidak kepanasan.


Mereka berdua bahkan kompak mengenakan baju putih. Namun untuk bawahan-nya Faza mengenakan celana bahan warna hitam dengan sepatu hitam yang mengkilat. Pria itu terlihat sangat gagah dengan kemeja lengan panjang yang digulung sampai siku.


Sementara Zahra, dia mengenakan dress putih panjang. Baik panjang di lengan juga kaki. Zahra juga mengenakan kerudung panjang warna putih untuk menutupi rambutnya yang di kuncir tinggi.


Zahra tersenyum begitu sampai didepan makam ayah dan ibunya. Zahra kemudian meletakan dua buket bunga yang dipeluknya di masing masing nisan kedua orang tuanya. Setelah itu Zahra berjongkok ditengah makam antara makam ayah dan ibunya diikuti Faza.


“Hay nenek, kakek.. Ini Fahri.. Cucu nenek sama kakek yang paling ganteng..”


Zahra tertawa mendengar apa yang Faza katakan. Selama dua bulan berada didunia ini adalah kali pertama Fahri di ajak berziarah ke makam nenek juga kakeknya.


Zahra berkata lirih dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya. Zahra juga menaburi kelopak bunga pada makam ayah dan ibunya.


Tidak ada lagi pilu seperti dulu. Tidak ada lagi air mata yang menetes meskipun Zahra duduk diantara makam kedua orang tuanya.


Dulu setiap datang Zahra pasti akan menangis. Bahkan setiap mengingat keduanya juga Zahra selalu meratap sendiri. Tapi tidak lagi untuk sekarang. Zahra sudah benar benar mengikhlaskan segalanya. Zahra menyadari bahwa didalam dunia fana ini tidak akan ada yang kekal. Zahra juga menyadari umur manusia bukan milik manusia itu sendiri. Tuhan lah pemiliknya. Dan terserah Tuhan juga akan mengambilnya segera atau tidak. Sebagai makhluk yang tidak bisa abadi, manusia hanya bisa berusaha dan berdo'a pada sang pemilik segalanya yaitu Tuhan.


“Ayah ibu.. Putri kalian adalah perempuan paling hebat. Faza sangat mencintainya. Tolong iringi langkah kami dengan restu kalian yah bu... Faza akan berusaha membahagiakan putri ayah dan ibu..” Ujar Faza pelan.


Zahra tertawa pelan mendengarnya. Zahra tidak merasa sesempurna itu. Zahra tidak merasa seperti apa yang Faza katakan. Zahra justru terkadang merasa khawatir sendiri karena dirinya penuh dengan kekurangan.


Zahra menghela napas. Dengan lembut Zahra mengusap nisan kedua orang tuanya. Zahra sangat merindukan keduanya. Bahkan jika boleh meminta Zahra ingin keduanya tetap ada disampingnya. Tapi kembali lagi dengan cara pikir logikanya. Seorang yang sudah kembali pada Tuhan tidak mungkin bisa kembali lagi bersamanya kecuali jika Tuhan berkehendak. Dan Zahra yakin Tuhan mengambil keduanya begitu cepat karena Tuhan menyayangi keduanya.

__ADS_1


Zahra memejamkan kedua matanya. Saat itu pula belaian lembut tangan besar Faza terasa di pipinya.


Zahra kembali membuka kedua matanya menatap Faza yang tersenyum padanya.


“Ayah dan ibu tidak suka melihat putri kesayangan-nya menangis. Mereka berdua ingin melihat kamu selalu bahagia sayang..” Ujar Faza lembut.


Zahra menyentuh pipinya yang basah. Bahkan Zahra tidak sadar bahwa dirinya menangis.


“Ya mas.. Maaf..” Senyum Zahra kemudian segera mengusap air mata yang membasahi kedua pipinya.


Faza menggeleng.


“Nggak perlu minta maaf.. Mulai sekarang kamu nggak boleh lagi meratapi kepergian ayah dan ibu yah.. Kamu nggak sendiri sayang. Ada aku, kak Aries, kak Nadia, papah, juga Fadly yang akan selalu sayang sama kamu. Dan Aku.. Aku akan memastikan sendiri bahwa kamu akan selalu bahagia berada disampingku.”


Zahra tertawa pelan dan mengangguk anggukan kepalanya mengerti. Zahra percaya dengan apa yang Faza katakan. Karena sejauh ini Faza memang selalu berusaha yang terbaik untuk Zahra.


Faza bahkan tidak pernah mengenal rasa lelah. Bekerja sepanjang hari kemudian setelah pulang dirumah Faza membantunya mengurus Fahri. Faza juga selalu mendengarkan cerita dan keluh kesah Zahra sebagai ibu muda yang belum mempunyai banyak pengalaman dalam mengasuh anak.


“Ayah ibu.. Aku sudah menemukan laki laki yang begitu baik.. Bertanggung jawab, ganteng, penuh perhatian, sayang sama keluarga. Dia Faza Akbar. Suamiku.” Batin Zahra kembali menatap bergantian pada nisan kedua orang tuanya.


“Kakek, nenek, Fahri janji bakal bantuin papah jagain mamah cantik.”


Zahra tertawa pelan mendengar apa yang Faza katakan. Pria itu bersuara seperti anak kecil sembari mendekatkan Fahri pada Zahra yang kemudian langsung mendapat kecupan lembut dari Zahra di pipi gembul bayi tampan itu.


“Makasih ya mas.. Makasih untuk semuanya.” Lirih Zahra menatap tepat pada kedua bola mata suaminya.


“Ssshhtt.. Nggak ada kata terimakasih atas apapun yang aku lakukan untuk kamu sayang.. Kamu adalah tanggung jawab terindahku sayang.. Dan disini, didepan makam ayah dan ibu aku berjanji, aku akan selalu berusaha membahagiakan kamu juga anak anak kita bagaimanapun caranya..” Ujar Faza kemudian mencium kening Zahra.

__ADS_1


Zahra memejamkan kedua matanya merasakan ciuman penuh cinta suaminya. Zahra selalu mempercayai apa yang Faza katakan karena Zahra juga sangat mencintai Faza, sama seperti Faza mencintai Zahra.


__ADS_2