
Pagi ini Zahra dan Faza langsung bergegas menuju ke bandara. Mereka berdua akan terbang pulang kembali ke indonesia.
“Kamu oke kan?” Tanya Faza pada Zahra yang duduk disampinnya.
Zahra mengangguk dengan senyuman dibibirnya. Sebenarnya Zahra mulai gelisah ditempatnya karna sebentar lagi pesawat akan memulai perjalanan di udara.
“Kalau kamu merasa mual atau pusing kamu bilang sama aku ya sayang..”
Zahra mengangguk lagi. Kali ini Zahra benar benar tidak ingin merepotkan suaminya. Faza sudah begitu memanjakan-nya bahkan selalu menyediakan keperluan Zahra. Suatu hal selama mereka menikah tidak sekalipun Faza lakukan. Zahra bahagia sebenarnya. Tapi Zahra tidak mau melihat suaminya yang begitu repot mondar mandir sendiri. Zahra khawatir Faza akan merasa malu karna apa yang dilakukan-nya itu.
-----------
“Tante...”
Sinta menoleh saat Loly menyentuh punggung tangan-nya. Saat ini mereka berdua berada didalam mobil Loly tepatnya didepan pintu gerbang kediaman Sinta dan Akbar. Sinta memang memutuskan untuk pulang pagi ini.
“Tante nggak tau ini benar atau tidak Loly. Tapi tante tidak bisa jika harus kehilangan suami tante. Tante sangat mencintainya. Bahkan dengan segala kekurangan yang dia miliki.” Gumam Sinta dengan air mata yang kembali menetes membasahi pipi tirusnya untuk yang kesekian kalinya.
Loly tersenyum mendengarnya. Loly yakin Sinta akan semakin mendukungnya dengan Faza jika Loly berhasil membuat Sinta dan Akbar kembali bersatu.
“Tante... Yang namanya cinta itu bukan tentang bahagia setiap saat. Tapi tentang bagaimana kita bisa saling mengerti dan memahami. Tentunya juga perjuangan.”
Sinta menoleh. Wanita itu mengusap air mata yang membasahi pipinya menatap Loly dengan ekspresi yang bisa dengan gampang Loly tebak.
“Tante dan Om enggak seharusnya bertengkar seperti ini hanya karna seorang Zahra. Tante seharusnya berjuang meyakinkan om kembali bahwa Zahra bukanlah wanita yang tante inginkan untuk menjadi pendamping mas Faza. Bukan malah bertengkar sampai harus keluar tanpa izin dari om..”
“Kamu keberatan tante menginap dirumah kamu Loly?”
Loly tertawa kemudian menggelengkan kepalanya.
“Bukan begitu tanteku sayang... Pintu rumah aku selalu terbuka untuk tante. Kapanpun tante menginap silahkan. Tapi harus dengan izin dari om.. Bukan kabur kaburan seperti kemarin..” Jelas Loly.
Sinta menghela napas. Sinta sadar apa yang dilakukan-nya dengan kabur dari rumah memang salah. Tapi saat itu Sinta benar benar kesal pada Fadly dan Akbar suaminya. Mereka sepakat menyembunyikan kepergian Faza dan Zahra ke Paris darinya.
“Sekarang lebih baik tante turun. Tante temui om. Bukankah tante sangat mencintai om Akbar? Aku yakin om juga sangat mencintai tante. Buktinya kemarin bahkan pagi tadi om datang lagi buat jemput tante pulang.”
__ADS_1
Loly berusaha meyakinkan Sinta. Loly berpikir ini adalah celah baginya untuk semakin masuk kedalam keluarga Akbar.
“Tante nggak tau harus berkata apa sama kamu sayang.. Tapi tante semakin yakin bahwa kamu memang pantas menjadi bagian dari keluarga kami. Makasih untuk semuanya sayang..”
“Sama sama tante.. Pokonya tante nggak usah khawatir. Aku akan selalu ada buat tante dalam keadaan apapun.” Balas Loly tersenyum.
Sinta tersenyum merasa terharu dengan kebaikan Loly. Kebaikan yang sebenarnya tidak benar tulus dari hati karna Loly menginginkan tempat disamping Faza.
“Ya udah kalau begitu tante turun yah.. Sekali lagi terimakasih sayang.. Kamu yang terbaik dimata tante. Tante akan selalu berusaha nyatuin kamu sama Faza.”
Loly menggelengkan kepalanya.
“Tante aku tulus bantuin tante.. Aku..”
“Justru karna ketulusan kamu itu tante semakin yakin sama kamu sayang.. Tolong jangan menolak apapun keniatan tante. Karna dari dulu tante sudah yakin sama kamu sayang..”
Loly tersenyum. Loly kemudian memeluk Sinta yang langsung mendapatkan balasan lembut dari Sinta.
“Tante memang yang terbaik. Loly benar benar akan sangat bangga kalau punya mamah seperti tante..” Senyum miring Loly dibalik punggung Sinta.
“Tante turun yah..” Ujar Sinta membuat Loly segera melepaskan pelukan-nya.
“Ya tante. Maaf aku nggak bisa ikut masuk. Aku harus ke kantor sekarang. Aku nggak mau kesiangan dan membuat contoh yang tidak baik untuk semua karyawan aku..”
Sinta tersenyum dan menganggukan kepalanya pelan.
“Tante mengerti sayang.. Kamu semangat kerjanya hari ini. Tunjukan bahwa kamu memang lebih segalanya dari Zahra.”
“Tidak perlu begitu tante. Kami berdua sama kok.” Balas Loly.
Sinta hanya tertawa. Wanita itu kemudian turun dari mobil Loly dan memanggil pak Umar untuk membukakan pintu gerbang.
Loly menurunkan kaca mobilnya dan tersenyum saat Sinta menatapnya lagi sebelum akhirnya berlalu melangkah menuju rumahnya.
“Hhh.. Kenapa keluarga satu ini drama sekali. Benar benar menyedihkan. Kalau saja bukan karna mas Faza aku tidak akan mau terlibat didalamnya.” Gumam Loly menggelengkan kepalanya menatap remeh kediaman keluarga Akbar.
__ADS_1
Loly kemudian berlalu dari depan gerbang kediaman keluarga Akbar dengan mobilnya. Namun ketika sampai didepan gerbang keluar masuk kompleks mobil Loly dicegat oleh mobil Fadly yang tiba tiba muncul dari arah berlawanan bahkan hampir menabraknya. Loly yang terkejut langsung menginjak rem sehingga membuat bunyi gesekan antara jalan dan ban mobil milik Loly.
“Brengsek !!” Umpat Loly kemudian turun dari mobilnya.
Saking kesalnya Loly melangkah begitu lebar menghampiri mobil sport milik Fadly dan menggedor kaca mobil Fadly.
Fadly yang memang sengaja mencegat mobil Loly menanggapinya dengan santai. Fadly keluar dari mobilnya dan menatap tenang pada Loly yang terlihat sangat emosi padanya.
“Apa kamu berniat membunuhku hah?!” Bentak Loly menatap Fadly tajam.
Fadly melipat kedua tangan-nya didepan dada membalas tatapan penuh emosi Loly dengan santai.
“Jika membunuh tidak berdosa dan tidak akan mendapat hukuman dari negara ini mungkin aku sudah melakukan-nya dari dulu Loly.”
Loly menyipitkan kedua matanya menatap tidak percaya dengan apa yang Fadly katakan. Loly tidak menyangka Fadly akan berkata seperti itu padanya.
“Fadly kamu...”
“Aku tidak seperti mamahku Loly. Aku tau bagaimana kamu yang sebenarnya. Kamu tidak benar benar tulus membantu mamahku bukan? Kamu melakukan itu demi menarik perhatian kakak ku.”
Loly menelan ludahnya. Apa yang Fadly katakan memang benar. Sebenarnya Loly tidak merasa klop dengan Sinta.
“Kamu tidak berhak menilai buruk tentang aku Fadly. Aku menyayangi tante tulus.”
Fadly tertawa mendengarnya. Pria itu menatap Loly dari atas sampai bawah dengan remeh.
“Aku tidak perduli dengan apapun itu. Tapi aku mau kamu jauhi mamahku. Atau aku bakal ngelakuin sesuatu yang bahkan kamu dan mamah tidak menyangkanya.”
“Kamu mengancam aku Fadly?” Tanya Loly dengan kedua tangan mengepal menahan emosi.
“Ini bukan ancaman Loly. Tapi ini peringatan buat kamu.” Jawab Fadly menatap Loly sinis.
Fadly kembali masuk kedalam mobilnya setelah berkata. Pria itu berlalu meninggalkan Loly yang terbakar oleh emosi karna apa yang Fadly lakukan juga katakan.
“Aku tidak takut sama kamu Fadly !! Aku tidak takut !!” Teriak Loly yang tentu saja tidak didengar oleh Fadly.
__ADS_1