PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 85


__ADS_3

Hari terus berganti hingga tidak terasa sudah hampir dua bulan Faza dan Zahra menempati rumah itu. Loly dan Sinta memang tetap sering datang namun Faza selalu bersikap tegas dan terus menolak didekatkan dengan Loly oleh mamahnya.


Hari ini bisa dikatakan adalah hari keberuntungan Faza. Karena hari ini juga Faza naik jabatan dan resmi diangkat sebagai direktur diperusahaan tempatnya bekerja.


Semua itu tentu saja tidak lepas dari kegigihan dan kerja keras Faza selama ini.


Faza sangat terkejut bahkan sempat mengira dirinya sedang bermimpi. Hingga tepukan pelan dibahunya dari pemilik perusahaan menyadarkan-nya. Alex Mahendra, namanya.


“Saya percaya sama kamu Faza. Kamu pasti bisa lebih memajukan perusahaan ini dengan kinerja kamu.”


Faza tertawa pelan tidak menyangka dirinya bisa sampai pada tahap itu. Padahal sedikitpun Faza tidak pernah berniat mengejar jabatan. Faza bekerja sesuai dengan jabatan-nya dengan niat baik yaitu untuk menjalankan kewajiban-nya sebagai seorang suami, yaitu menafkahi istrinya, Zahra.


“Saya akan berusaha sebisa saya pak.” Balas Faza menganggukan kepalanya pelan.


Faza menghela napas. Diperusahaan itu kini sedang sangat ramai karna para karyawan yang dibebaskan dari pekerjaan-nya. Mereka bahkan juga memberinya kejutan ulang tahun yang ke 26 Tahun-nya. Itu semua benar benar sangat mengejutkan-nya.


“Selamat ya pak Faza.. Selamat ulang tahun juga, semoga sukses selalu.”


Itu adalah ucapan yang diberikan pada Faza dari semua karyawan termasuk Anita selaku wakil manager yang selalu bekerja satu ruangan dengan-nya.


Acara ulang tahun sekaligus acara pengumuman naiknya jabatan Faza berlangsung sangat meriah diperusahaan. Faza menerima banyak kado juga banjir ucapan selamat sampai dari para OG dan OB.


Tidak sampai sore acara itu selesai. Semua karyawan pulang menyisakan Faza dengan direktur utama yang tidak lain adalah pemilik juga diperusahaan itu.


“Saya sangat berharap kamu bisa membuat perusahaan ini semakin maju Faza. Ah maksud saya pak Faza...”


Faza tertawa pelan mendengarnya. Aneh sekali rasanya jika direktur utama pemilik perusahaan itu juga memanggilnya dengan embel embel pak. Rasanya sangat berlebihan.


“Anda bisa memanggil saya Faza saja pak.” Ujar Faza.


“Oh tidak tidak. Kamu sudah bukan lagi Faza Akbar si manager tapi Bapak Faza Akbar si direktur.” Balas Mahendra dengan diselingi candaan.


Keduanya sama sama tertawa setelah apa yang Mahendra katakan.


“Ah ya pak Faza. Anda bisa cuti dulu selama satu minggu untuk mempersiapkan semuanya. Ya.. Sekaligus kami mempersiapkan ruangan baru untuk anda. Dan ini.. Ini kado dari saya dan para direksi untuk anda dan istri anda.”


Faza mengeryit menatap amplop coklat yang disodorkan oleh Mahendra padanya. Meski ragu, Faza tetap meraih pemberian dari Mahendra.


“Terimakasih untuk semua ini pak.. Saya permisi pulang dulu..” Senyum Faza.


“Oh silahkan. Sekali lagi selamat pak Faza Akbar.”

__ADS_1


Mahendra menjabat lagi tangan Faza. Pria itu benar benar terlihat sangat bangga pada Faza yang memang selama bekerja diperusahaan-nya selalu menciptakan citra baik dan kinerja yang membuatnya selalu merasa puas dengan hasilnya.


“Terimakasih pak. Saya permisi.”


Faza kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan direktur utama Mahendra.


Faza melangkah menuju lift dan kembali keruangan-nya guna mengambil tas dan ponsel juga jasnya serta kado kado yang diberikan karyawan lain padanya. Sesaat Faza diam menatap amplop coklat yang dipegangnya. Penasaran dengan isinya Faza pun membukanya mengeluarkan isi dari amplop coklat tersebut.


Dan sekali lagi Faza terkejut melihat isi dari amplop tersebut.


“Ya Tuhan...” Lirihnya.


Faza seakan baru terbangun dari mimpinya. Faza sadar setelah menikahi Zahra dirinya belum benar benar bisa membuat istrinya tersenyum lebar.


Faza kembali memasukan isi dari amplop coklat itu lagi kemudian memasukan kedalam tas kerjanya. Dengan langkah cepat Faza keluar dari ruangan-nya yang sebentar lagi tidak akan dia tempati.


Faza tidak sabar ingin bertemu dengan Zahra dan menyampaikan kabar baik itu. Faza juga berharap Zahra akan senang dengan apa yang dibawanya juga apa yang baru saja Faza dapatkan.


Faza mengendarai motornya dengan kecepatan maximal. Beruntungnya hari itu jalanan tidak sepadat biasanya hingga Faza bisa leluasa mengatur kecepatan laju kendaraan roda duanya.


Dalam waktu singkat Faza sampai didepan gerbang. Faza memanggil pak satpam dan menyuruhnya untuk segera membukakan gerbang tanpa membunyikan klakson seperti biasanya.


“Selamat sore tuan...” Sapa pak satpam begitu membuka pintu gerbang untuk Faza.


Faza kemudian turun dari motornya dan menuntun-nya masuk ke pekarangan luas rumahnya. Hal itu berhasil membuat pak satpam kebingungan karna tingkah tidak biasa majikan-nya.


Faza memang sengaja menuntun motornya agar Zahra tidak mengetahui kepulangan-nya.


Faza berhenti menuntun motornya kemudian melepas helm dan menaruhnya diatas motor gede kesayangan-nya itu. Faza kemudian berlari masuk kedalam rumah untuk menemui istri tercintanya tanpa menghiraukan sekarung kado yang dia letakan diboncengan-nya.


“Mbak, Zahra dimana?” Tanya Faza pada mbak Lasmi yang sedang menata bunga segar di vas bunga diruang tamu.


“Tuan.. Nyonya ada ditaman belakang rumah tuan.” Jawab mbak Lasmi.


“Oke, terimakasih.”


Tanpa melepas jas dan tasnya Faza buru buru melangkah menuju taman belakang rumah dimana sekarang istrinya berada.


Begitu sampai diambang pintu Faza tersenyum. Zahra sedang memetik bunga yang sudah mekar yang memang selalu Zahra bawa masuk kerumah untuk dijadikan hiasan diruangan didalam rumah.


Pelan pelan Faza melangkah menghampiri Zahra yang belum menyadari kehadiran-nya karna posisi Zahra yang memunggungi Faza.

__ADS_1


“Sayang...” Panggil Faza begitu sampai tepat dibelakang Zahra.


Zahra menoleh dan membalikan tubuhnya menatap Faza yang masih terlihat rapi dengan pakaian formalnya. Faza bahkan masih menenteng tas kerjanya.


“Loh mas.. Tumben udah pulang.” Ujar Zahra menyalimi Faza.


Faza tersenyum kemudian langsung memeluk tubuh Zahra lembut.


Zahra tersenyum. Faza memang tidak pernah lupa memeluk dan menciumnya saat hendak berangkat bekerja ataupun saat pulang bekerja.


“Bunganya cantik. Sama seperti kamu.” Puji Faza setelah melepaskan pelukan-nya pada Zahra.


Zahra tertawa pelan. Suaminya sedang menggombal.


“Lebay banget sih kamu mas.” Katanya.


Faza ikut tertawa. Terlalu senang dan bahagia membuat Faza bersikap terlalu berlebihan sampai melontarkan gombalan garingnya pada Zahra.


“Ah ya mas.. Aku minta maaf banget ya, Aku lupa kalau hari ini ulang tahun kamu. Selamat ulang tahun ya sayang.. Semoga sehat selalu, sukses dan murah rezeki. Ini bunga buat kamu. Aku nggak tau harus kasih kamu kado apa..”


Faza menatap bunga kertas yang disodorkan Zahra kemudian meraihnya menerimanya dengan senang hati.


“Paling tidak bunga ini tidak berduri.” Katanya tersenyum menatap Zahra.


“Eemm.. Aku juga punya sesuatu untuk kamu. Ayo kita duduk..”


Zahra mengangguk menurut saja saat Faza merangkul mesra pinggangnya dan mengajaknya untuk duduk dikursi panjang bercat putih dibawah pohon yang cukup rindang ditaman itu.


“Ini apa mas?” Zahra mengeryit bingung ketika Faza memberikan amplop coklat padanya.


“Bukalah..” Titah Faza lembut.


Zahra diam sesaat kemudian membuka amplop tersebut. Kedua mata Zahra melebar dengan mulut terbuka ketika melihat isi dari amplop coklat itu.


“Mas ini...”


“Hari ini aku naik jabatan sayang.. Aku sekarang sudah menjadi direktur. Dan itu adalah hadiah dari pak Mahendra, pemilik perusahaan tempat aku bekerja. Dan satu minggu kedepan aku cuti. Kita bisa bulan madu ke paris.” Senyum Faza.


Zahra menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan kebaikan bertubi tubi hari ini di umur suaminya yang genap 26 tahun.


“Ya Tuhan.. Mas ini..”

__ADS_1


“Sshhttt.. Jangan ada air mata oke? Besok juga kita berangkat ke paris. Kamu mau kan?”


Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya. Zahra kemudian berhambur memeluk erat tubuh Faza yang langsung membalasnya dengan lembut. Faza juga beberapa kali mengecup bahu Zahra dengan kedua mata terpejam.


__ADS_2