
Setelah apa yang Sinta katakan pada Faza saat itu Zahra menjadi sering melamun. Zahra tidak tau apa salahnya sehingga mamah mertuanya bisa begitu sangat membencinya.
Zahra memang belum berusaha meluluhkan hati mertuanya. Selama ini Zahra hanya diam dan berlindung dibalik punggung Faza yang memang selalu sigap menjaganya.
“Apa aku coba aja ya buat berusaha mulai dari sekarang?”
Zahra menoleh pada Faza yang terlelap disampingnya. Pria itu sama sekali tidak bergerak dan tetap anteng dengan posisi tidurnya sejak mulai memejamkan kedua matanya.
“Tapi.. Apa mas Faza bakal setuju dengan niat aku?”
Zahra mulai ragu lagi. Zahra juga sedikit merasa takut dengan berbagai penolakan Sinta dan suaminya nanti.
“Tapi kalau aku tetap diam dan tidak berusaha pasti aku nggak akan tau bagaimana hasilnya. Mamah juga pasti akan menyangka aku yang buruk buruk menganggap aku tidak punya i'tikad baik.”
Zahra menghela napas pelan. Sampai sekarang Faza bahkan belum bisa akrab lagi dengan Aris, kakaknya.
“Kenapa lagi hem?”
Zahra menoleh dan tersenyum mendapati Faza yang sudah membuka mata dan menatapnya meski dengan mata yang sepertinya memang sangat berat untuk melek.
“Enggak papa mas. Aku hanya sedang memikirkan gajiku yang sudah lewat dua hari ini belum juga turun.”
Faza tersenyum.
“Memangnya uang gajiku kurang untuk memenuhi kebutuhan kita hem?”
Faza kembali menutup kedua matanya. Suaranya serak pertanda kantuk masih sangat menguasainya.
“Bukan begitu mas...”
“Sudahlah, tidur sayang. Sudah malam. Besok kita harus kembali bekerja.”
Zahra menganggukan kepalanya kemudian mulai memejamkan kedua matanya untuk tidur. Faza benar, besok pagi mereka harus menjalani aktivitasnya seperti hari hari biasanya.
Paginya dimeja makan.
Suara notifikasi dari ponsel Faza yang berkali kali terdengar membuat Zahra mengeryit merasa sangat penasaran. Padahal sejak dirinya memblokir semua kontak kontak wanita diponsel suaminya, Zahra jarang mendengar ponsel itu berbunyi. Tapi beberapa hari ini ponsel Faza kembali sering berdering dan banyak sekali nada notifikasi masuk entah malam ataupun pagi seperti saat mereka sarapan sekarang.
“Siapa sih mas? Brisik banget.” Sungut Zahra kesal.
__ADS_1
Faza tersenyum.
“Paling juga teman kantor sayang.”
Faza menjawab santai sambil menyuapkan kembali nasi goreng buatan Zahra kedalam mulutnya.
“Teman kantor? Maksudnya Anita?”
Faza berdecak pelan. Zahra gampang sekali terpancing kecemburuan-nya jika sudah menyangkut Anita, Rosa ataupun teman wanita Faza yang lain-nya.
“Teman kantor aku banyak sayang, nggak cuma Anita. Ada Cindy, Mona, Bagus, Kevin dan karyawan lain-nya baik atasan maupun bawahan..”
Dengan tetap berusaha sabar Faza berkata lembut pada Zahra. Faza tau kecemburuan Zahra karna rasa cinta Zahra padanya yang begitu besar.
“Heran deh, udah nikah masih aja kontek sama teman perempuan.” Sindir Zahra.
“Kan mereka cuma teman sayang. Nggak papa dong. Masa cuma karna aku udah nikah terus aku harus putus hubungan pertemanan dengan mereka.”
“Dulu juga kita cuma teman kan mas? Bahkan aku adik kelas kamu. Kita bahkan bermula dari tidak saling kenal hingga akhirnya kita saling jatuh cinta.”
Faza menelan sisa makanan dalam mulutnya.
“Kenapa jadi nyama nyamain hubungan kita dulu sama hubungan pertemanan aku sama teman teman aku sih Ra?”
“Zahra..”
“Sudahlah, aku nggak mau ribut.” Sela Zahra ketus.
Faza menghela napas mengurungkan niatnya untuk menjelaskan pada Zahra. Toh, percuma saja. Jika sedang marah Zahra tidak akan mau mendengarkan apapun penjelasan Faza. Dan Faza pikir Faza akan mencari waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya pada Zahra nanti.
Setelah menyelesaikan sarapan-nya, Faza dan Zahra berangkat bekerja. Sepanjang perjalanan menuju restoran tempat Zahra bekerja, Zahra terus saja diam. Meski Zahra tetap memeluk erat pinggang Faza namun Zahra tidak mengatakan sepatah katapun.
Begitu sampai didepan Restoran, Zahra langsung turun dari motor Faza kemudian segera menyalimi suaminya itu tanpa berniat menunggu Faza membuka helmnya.
Faza tau itu adalah jurus menghindar Zahra yang sedang merajuk padanya.
Faza tertawa geli dibalik helm full face nya. Entah kenapa setelah menikah Zahra selalu saja punya alasan untuk cemburu yang terkadang memang berhasil membuat Faza kesal juga gemas.
Setelah memastikan Zahra masuk kedalam restoran, Faza pun melajukan motornya berlalu dari depan Restoran itu untuk menuju tempat kerjanya sendiri.
__ADS_1
Sesampainya diparkiran depan gedung perusahaan tempatnya bekerja, Faza mendapat sapaan ramah dari para karyawan lain-nya yang juga baru datang pagi itu. Disana juga ada Anita yang baru turun dari mobilnya. Seperti biasa, Anita selalu berpenampilan cantik dan modis bahkan hari ini terkesan sangat sexy menurut Faza.
Faza sempat melirik kebelahan dada rendah Anita. Jakun-nya naik turun melihat gundukan besar yang sepertinya hendak menyembul keluar dari sarangnya itu.
Faza berdecak kemudian memejamkan kedua matanya. Bagaimanapun juga Faza adalah pria normal yang pasti akan tergoda jika melihat sesuatu yang sensitif.
“Pagi pak Faza..” Sapa Anita tersenyum manis.
Anita tau Faza sempat melirik nakal pada ***********. Namun bukan-nya merasa malu, Anita malah merasa geli melihat Faza yang tampak sedikit salah tingkah didepan-nya.
“Ya.. Pagi. Saya duluan ya..”
Tanpa menunggu jawaban dari Anita, Faza pun berlalu. Faza tidak mau jika pandangan-nya sampai kemana mana. Apa lagi penampilan Anita kali ini sangat mengundang siapapun pria yang menatapnya.
Faza masuk kedalam ruangan-nya yang tidak lama kemudian disusul oleh Anita. Sekali lagi Faza melirik pada Anita dan berdecak.
“Fokus Faza, Zahra lebih segalanya dari dia.” Gumam Faza dalam hati.
Faza menggeleng pelan. Anita membuatnya merasa tidak nyaman pagi ini.
Sementara itu Anita yang menyadari tingkah tidak biasa Faza pun tersenyum. Anita merasa senang melihat Faza yang sudah dua kali pagi ini meliriknya. Meski Faza melirik bagian dadanya yang memang begitu penuh dan seperti hendak menyembul keluar.
Anita berdehem mencoba memancing Faza untuk kembali menatapnya namun sayang, Faza tetap fokus pada laptop yang ada didepan-nya.
Tidak kehilangan akal, Anita pun meraih laporan yang dari bawahan mereka yang memang harus mereka diskusikan hari ini. Anita membuka jas hitamnya menyisakan blus ketat berdada rendah yang membuatnya terlihat sangat menggoda.
Anita kemudian mendekat dengan langkah pelan pada Faza. Entah setan apa yang sedang merasukinya sehingga Anita dengan berani dan terang terangan mencoba menggoda Faza menggunakan tubuhnya pagi ini.
Anita berdiri disamping meja Faza memilih posisi yang sedekat mungkin dengan Faza. Anita berpikir mungkin dengan cara itu dirinya bisa membuat Faza menatapnya.
Anita membungkukkan sedikit tubuhnya menyodorkan pemandangan tidak biasa pada Faza yang langsung melompat dari kursinya terkejut dengan apa yang Anita lakukan.
“Apa apaan kamu Anita?!” Sentak Faza tidak suka.
Anita juga tidak kalah terkejut dengan respon tak terduga Faza. Anita pikir Faza akan tergoda sampai akhirnya terpesona dengan penampilan-nya.
”Pak, maaf. Ini ada laporan yang harus kita bahas hari ini juga.”
“Ya saya tau. Tapi bisa kan kamu tidak terlalu dekat pada saya?”
__ADS_1
Malu, itu yang Anita rasakan sekarang. Dugaan-nya benar benar keliru. Faza tidak tergoda, tapi justru marah padanya.
“Maaf pak.” Anita menundukan kepala menahan rasa malu akibat kepercayaan dirinya yang terlalu tinggi.