
Malam ini Faza belum pulang bahkan saat waktu makan malam tiba. Namun sebelum itu Faza sudah lebih dulu memberitahu pada Zahra bahwa dirinya akan pulang sedikit telat.
“Terimakasih untuk kedatangan-nya pak. Saya harap kerja sama kita bisa membuat perusahaan kita semakin maju kedepan-nya.”
Faza tersenyum mendengar apa yang dikatakan calon rekan bisnis barunya. Faza memang lumayan sibuk hari ini. Dan semua itu tentu saja karena Reyhan yang tidak bisa bekerja seperti biasanya karena sedang sibuk menyiapkan pernikahan dengan Tina. Sebagai atasan dan bos yang baik Faza memberi ruang pada Reyhan untuk berpikir mengenai pernikahan-nya dengan Tina. Faza tidak ingin terus menuntut agar Reyhan selalu menuruti kemauan-nya sebagai bos.
“Saya juga berharap demikian pak. Kalau begitu saya permisi.”
“Eemm.. Pak Faza, diluar hujan sangat deras. Apa tidak sebaiknya anda menunggu beberapa saat sampai hujan itu reda.”
Faza menggelengkan kepalanya pelan.
“Tidak perlu pak. Saya harus segera pulang.” Tolak Faza pelan.
“Baiklah kalau begitu. Mari saya antar sampai depan pak.”
“Terimakasih pak Doni.”
Faza kemudian bangkit dari duduknya diikuti calon rekan bisnis yang akan menjalin hubungan kerja sama dengan-nya itu. Mereka berdua berjalan beriringan keluar dari ruang meeting di perusahaan milik pria bernama Doni itu.
Pria bernama Doni itu juga membantu melindungi Faza dari guyuran hujan saat di parkiran dengan memayungi Faza sampai Faza benar benar masuk kedalam mobilnya.
“Terimakasih banyak pak Doni.” Ujar Faza menurunkan kaca mobilnya.
“Tidak perlu sungkan pada saya pak Faza. Hati hati dijalan, dan salam untuk anak juga istri anda.”
“Ya.. Selamat malam pak Doni.”
“Malam juga pak Faza.” Angguk Doni tersenyum tipis.
Setelah saling mengatakan selamat malam, Faza kembali menutup kaca mobilnya dan mulai menghidupkan mesin mobilnya kemudian berlalu dari parkiran depan gedung perusahaan yang dipimpin oleh Doni.
Faza mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang ditengah derasnya guyuran hujan lebat malam itu. Beberapa kali Faza menghela napas. Sejak kehadiran Fahri ini kali pertama Faza pulang sangat terlambat bahkan sampai lewat 3 jam dari waktu makan malam.
Faza juga merasa sedikit tidak konsentrasi saat berbincang tentang bisnis dengan Doni tadi. Faza khawatir putranya menangis karna dirinya tidak kunjung pulang. Faza tau bagaimana Fahri yang tidak akan bisa tenang sebelum dia ayun oleh Faza.
__ADS_1
Faza berdecak ketika melihat jalanan yang sangat padat malam ini. Rasanya sangat menyebalkan karena disaat dirinya ingin cepat cepat sampai dirumah untuk menemui istri dan anaknya setelah seharian bekerja ada saja yang membuatnya harus mengulur waktu.
Ditengah padatnya jalanan Faza tidak sengaja melihat Siska yang sedang dibonceng oleh kekasihnya menggunakan sepeda motor. Mereka kehujanan dengan Siska yang memeluk erat pinggang kekasihnya. Benar benar terlihat sangat romantis.
Faza tersenyum. Melihat itu entah kenapa Faza tiba tiba teringat dengan motor gede kesayangan-nya yang sudah tidak pernah lagi dia sentuh. Faza juga tiba tiba teringat masa masa sederhananya dengan Zahra. Masa dimana mereka selalu kemana mana berdua. Faza benar benar sangat merindukan moment itu.
“Mungkin besok aku bisa mengajak Zahra untuk berkencan.” Gumam Faza tersenyum membayangkan dirinya dan Zahra yang akan kembali mengendarai motor kesayangan-nya yang masih Faza simpan dengan perawatan yang baik sampai sekarang.
Faza menghela napas kemudian kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang saat jalanan mulai sedikit lega dari banyaknya kendaraan malam itu.
Sekitar 30 menit kemudian mobil Faza sampai tepat didepan halaman luas kediaman-nya dengan hujan lebat yang masih belum juga reda.
Satpam penjaga gerbang yang melihat Faza membuka pintu mobil dengan sigap berlari mendekat dengan membawa payung.
“Terimakasih pak..” Senyum Faza saat pak satpam memayunginya.
“Sama sama tuan.. Apa yang mau diturunkan?” Tanya pak satpam kemudian.
“Oh tidak ada pak..”
Faza dan pak satpam melangkah beriringan menuju teras dengan satu payung merah yang melindungi keduanya.
“Oh iya tuan. Siap. Ada lagi tuan?”
“Tidak ada. Hanya itu saja. Kalau begitu saya masuk ya..”
“Oh iya tuan, silahkan.”
Faza tersenyum dan menepuk pelan bahu pak satpam dua kali sebelum masuk kedalam rumah.
Faza langsung menuju lantai dua dimana kamarnya dan Zahra berada. Dengan langkah cepat Faza menaiki satu persatu anak tangga dirumahnya. Rasa lapar yang sedang dirasakan-nya tidak mampu mengalahkan rasa ingin bertemunya dengan Zahra juga Fahri, putranya.
Begitu sampai dikamar Faza mendapati Zahra yang sedang mengayun sambil menyusui putra mereka. Namun Faza tampak merasa sedikit pangling dengan penampilan Zahra malam ini.
“Sayang...” Panggil Faza membuat Zahra langsung menoleh padanya.
__ADS_1
Zahra tersenyum kemudian melangkah mendekat. Dalam diam Zahra menyalimi Faza kemudian mengecup singkat pipi suaminya itu.
“Say...”
“Ssshhtt.. Fahri udah mau bobo mas..” Bisik Zahra menyuruh agar Faza untuk mengecilkan suaranya karena takut mengganggu Fahri yang belum benar benar terlelap dalam gendongan Zahra.
Faza langsung menutup rapat rapat mulutnya dan mengangguk mengerti. Tidak ingin mengusik ketenangan putranya, Faza pun memilih untuk langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Zahra tersenyum melihatnya. Zahra yakin suaminya sangat kelelahan setelah seharian bekerja menguras tenaga juga pikiran-nya diperusahaan.
Setelah Faza masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, Zahra pun lanjut mengayun Fahri. Zahra berharap Fahri sudah terlelap dengan damai setelah Faza membersihkan tubuhnya nanti karena Zahra berniat menemani Faza makan malam jika memang suaminya itu belum sempat makan diluar tadi saat bergelut dengan kesibukan-nya.
Harapan Zahra terkabul. Fahri sudah berhenti menyedot asi-nya pertanda bahwa bayi tampan itu sudah benar benar terlelap dalam tidurnya.
Pelan pelan Faza menaruh tubuh gempal putranya itu diatas ranjang bayinya. Setelah itu Zahra menyiapkan baju ganti untuk suaminya. Ketika melirik kaca besar diseberang ranjangnya dan Faza, Zahra tersenyum. Usia Fahri sudah hampir genap dua bulan. Itu artinya Zahra sudah bisa kembali melayani Faza dengan baik. Zahra bahkan sengaja merias dirinya semenarik mungkin untuk Faza malam ini.
Suara pintu kamar mandi terbuka memunculkan Faza yang hanya mengenakan handuk putih yang melilit dipinggangnya. Pandangan keduanya bertemu dan keduanya pun sama sama diam. Zahra dengan rasa gugupnya karena ini adalah kali pertama Zahra akan kembali melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Sedang Faza, pria itu terpana dengan penampilan tidak biasa istrinya malam ini. Memang Zahra selalu terlihat manis dan cantik dimata Faza setiap hari. Tapi malam ini Faza merasa sangat berbeda. Faza merasa Zahra memang sengaja mempercantik diri dengan penampilan-nya yang membuat birahi Faza langsung memuncak.
“Mas.. emm.. Aku udah siapin baju ganti buat kamu..” Senyum Zahra menundukan kepala merasa malu sendiri.
Faza tersenyum. Dengan rambut basahnya yang acak acakan serta tubuh setengah telanjang yang terlihat mengkilat karena cahaya lampu, Faza pun melangkah mendekati Zahra.
Faza berdiri tepat didepan Zahra dan meraih lembut dagu istrinya mendongakkan-nya lembut agar Zahra menatapnya.
“Kamu terlihat berbeda malam ini sayang..” Ucap Faza lirih juga lembut seperti bisikan.
Wajah Zahra merona. Malu rasanya jika mengatakan secara langsung bahwa dirinya sudah siap untuk kembali melayani suaminya itu.
Perlahan Faza mendekatkan wajahnya dan Zahra pun memejamkan kedua matanya mengerti dengan apa yang ingin dilakukan suaminya. Namun belum benar benar melakukan-nya suara perut Faza yang keroncongan membuat Zahra kembali membuka kedua matanya.
“Mas...”
“Hehehe.. Aku lapar sayang..” Tawa Faza salah tingkah.
Zahra tertawa. Seketika moment romantis mendebarkan itu berubah menjadi moment penuh canda.
__ADS_1
“Ya udah aku siapin makan malam buat kamu ya..” Senyum Zahra.
“Oke...” Angguk Faza setuju.