PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 41


__ADS_3

Zahra merasa sangat lega sekarang. Rosa bukan wanita yang mengincar suaminya. Rosa sudah akan menikah dengan Cio.


“Zahra tunggu.”


Zahra yang saat itu hendak masuk kedalam kamar mandi kembali membalikan tubuhnya dan menatap Faza dengan penasaran.


“Ya..” Sautnya.


Dengan wajah datar Faza mendekat pada istrinya itu.


“Apa apaan tadi? Kamu panggil Cio kak, sedang sama aku dulu tidak. Lalu kamu diam dan pasrah begitu saja saat Cio menggandeng tangan kamu. Kamu senang digandeng dia? Iya?”


Zahra mengangkat sebelah alisnya bingung dengan sederet pertanyaan bernada tidak suka yang dilontarkan oleh suaminya.


“Dari dulu juga aku panggil dia kak kan? Kalau sama kamu bukan-nya sudah ada panggilan sendiri yaitu Mas Faza. Apa aku perlu menambahkan lagi panggilanku untuk kamu mas?”


Faza berdecak. Melihat Zahra disentuh oleh pria lain Faza benar benar merasa panas. Meskipun memang orang itu adalah Cio, teman lamanya sendiri.


“Ah ya aku lupa. Aku juga punya pertanyaan untuk kamu mas. Apa itu Buntek? kenapa kak Cio menyebutku si Buntek?”


Faza mengerjapkan kedua matanya. Dulu Faza memang memanggil Zahra si Buntek. Tentu saja karna Faza belum mengenal ataupun dekat dengan Zahra. Buntek, adalah sebutan untuk Zahra dari Faza karna memang postur tubuh Zahra yang lumayan pendek dan tubuhnya yang sedikit berisi.


“Aku tau apa arti Buntek mas. Buntek itu pendek dan gendut bukan? Jadi dulu kamu ngejek aku begitu? Kamu sebut aku Buntek karna aku tidak seperti teman teman kamu yang cantik dan tinggi langsing itu? Iya?”


Faza tergagap sendiri. Niatnya untuk marah marah pada Zahra justru seperti senjata makan tuan untuknya. Zahra balik marah padanya.


“Tega kamu mas ngatain fisik aku.”


“A aku..”


“Pokonya malam ini kamu jangan deket deket sama aku yang Buntek ini.”


Kesal Zahra kemudian masuk dan menutup pintu kamar mandi dengan sedikit membantingnya.


Faza terkejut sampai mengusap pelan dadanya. Baru kali ini Zahra marah marah sampai membanting pintu.


“Loh, kok malah jadi dia yang marah marah sih?” Faza mengusap kasar rambut basahnya merasa frustasi.

__ADS_1


“Ini semua gara gara Cio. Dasar brengsek.” Umpat Faza.


Faza menatap pintu kamar mandi sebentar kemudian berlalu.


Zahra benar benar marah dengan sebutan si Buntek yang Zahra yakini adalah sebutan dari Faza dulu untuknya. Karna setau Zahra Cio bukanlah orang yang bisa sembarangan menghina orang. Meski memang Cio sedikit konyol tapi Zahra tau Cio orang baik yang tidak mungkin suka menghina orang lain.


Zahra menghela napas dengan posisi memunggungi Faza. Tubuhnya dia tutupi dengan selimut sampai batas leher.


Perlahan seulas senyum mulai menghiasi bibir Zahra ketika mengingat ucapan bahwa Rosa akan menikah dengan Rosa.


“Paling enggak Rosa bukan salah satu wanita yang menyukai suamiku.” Batin Zahra kemudian mulai memejamkan kedua matanya.


Berbeda dengan Zahra yang tampak terlelap memejamkan kedua matanya, Faza justru terlihat resah dan gelisah. Faza masih tidak bisa terima dengan apa yang Cio lakukan dengan menggandeng tangan Zahra. Bagi Faza tidak ada seorang pun yang boleh menyentuh secuil pun tubuh istrinya selain dirinya.


“Awas nanti kalau dia benar benar tidak memberi aku izin untuk datang ke pernikahan-nya.”


Faza menghela napas kasar. Dengan gusar Faza mengubah posisinya dari miring memunggungi Zahra menjadi terlentang menatap langit langit kamar mereka.


Faza menoleh menatap Zahra yang tampak sudah bernapas dengan lembut dan teratur. Itu tandanya Zahra sudah benar benar tidur dengan nyenyak.


Faza bertanya tanya dalam hati. Selama ini Faza memang selalu menyepelekan kecemburuan istrinya yang memang terkadang sedikit keterlaluan.


Faza menarik napas dalam dalam dan menghembuskan-nya perlahan lewat mulut. Faza tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Melihat Zahra di gandeng oleh Cio tadi siang membuat ubun ubun-nya terasa mendidih. Ditambah lagi dengan panggilan KAK yang Zahra berikan pada Cio. Rasanya benar benar membuat telinga Faza sakit mendengarnya.


“Sudahlah Faza.. Tenang saja, Zahra sudah menjadi milik kamu. Tidak ada yang berani mendekatinya.”


Faza kembali membatin mencoba mengusir rasa gelisah dihati dan pikiran-nya.


“Oke, sekarang lebih baik kamu tidur. Lupakan dan lepaskan semuanya. Tuhan akan menjaga semua milikmu Faza.”


Lagi, Faza mengangguk. Kali ini disertai dengan anggukan kepala sebelum akhirnya Faza benar benar memejamkan kedua matanya dan mulai mengarungi bunga tidurnya.


--------


Paginya dikediaman kedua orang tua Faza.


“Bagaimana mah?” Tanya papah Faza sambil mengunyah sandwich buatan istri tercintanya.

__ADS_1


“Bagaimana apanya pah?”


“Rencana mamah kemarin untuk mempertemukan Faza dan Loly. Berhasil tidak?”


Senyuman dibibir mamah Faza perlahan terukir menghiasi bibirnya. Mamah Faza menatap suaminya dengan tatapan penuh arti.


“Mamah memangnya belum cerita ya ke papah?”


Papah Faza berhenti mengunyah sandwich dalam mulutnya kemudian menggelengkan kepalanya.


“Belum.” Jawabnya.


Mamah Faza menghela napas dan meminum air putih dalam gelas berukuran sedangnya dan menyisakan-nya sedikit.


“Tau nggak sih pah.. Kemarin mamah berhasil membujuk Faza supaya mau mengantar Loly pulang. Yah... Meskipun Faza masih enggak mau memakan masakan Loly sih.. Tapi enggak papa, mamah tidak akan menyerah. Mamah yakin Faza pasti akan berubah pikiran suatu saat nanti dan sadar bahwa pilihan mamah memang yang terbaik.”


Papah Faza mengangguk anggukan kepalanya meski sedikit tidak yakin. Papah Faza sebenarnya tidak terlalu mengolok agar Faza bersama dengan Loly. Pria tinggi tegap itu hanya meyakini bahwa semua pilihan istrinya memang yang terbaik.


“Tapi mah..”


“Kenapa pah?” Tanya mamah Faza mengeryit menatap suaminya.


“Memangnya Loly beneran bisa masak?”


Mamah Faza mengeryit menatap curiga pada suaminya.


“Papah ragu sama pilihan mamah?” Tanya Sinta menatap suaminya dengan kedua mata menyipit tidak suka.


“Ya bukan begitu maksudnya mah.. Cuma dizaman sekarang anak orang kaya seperti Loly bisa masak itu benar benar langka loh mah. Apa lagi kedua orang tuanya kan punya nama sangat jarang bahkan mungkin hampir tidak ada anak perempuan yang mau terjun kedapur untuk bergelut dengan sutil dan wajan. Apa lagi bau bauan bawang mentah yang sering kali dihindari oleh anak anak masa kini.”


Senyuman dibibir Sinta kembali menghiasi bibirnya.


“Pah, mamah itu sangat yakin sama Loly. Orang teman mamah sendiri kok yang cerita kalau Loly itu memang rajin dan serba bisa. Teman mamah nggak mungkin bohong pah. Dia teman baik mamah sejak mamah SMP dulu.”


Papah Faza mengangguk lagi. Tidak yakin sebenarnya. Tapi dari pada istrinya marah lebih baik mengiyakan saja. Begitu pikir papah Faza selalu.


“Pokonya papah percaya saja. Pilihan mamah selalu yang terbaik. Apa lagi kalau untuk anak anak mamah. Mamah nggak mungkin sembarangan.”

__ADS_1


__ADS_2