PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 242


__ADS_3

Ditempat lain Fadly sedang berdiri dibawah pohon tidak jauh dari kediaman mewah Loly. Fadly terus mengawasi kediaman Loly yang tampak sangat sepi.


Fadly sendiri tidak tau kenapa dirinya begitu tidak bisa menahan diri untuk tidak mencari tahu tentang keadaan Loly. Fadly bahkan tidak bisa percaya pada orang lain tentang Loly sehingga enggan menyuruh orang untuk mencari tau tentang Loly. Fadly lebih memilih untuk bertindak sendiri dan memastikan sendiri bahwa Loly baik baik saja.


“Sepi banget.. Kaya nggak ada orang.” Gumam Fadly dengan helaan napas kasar.


Saat ini bahkan sejak saat dirinya menghina Loly dengan sangat disengaja Fadly merasa menyesal. Tapi Fadly enggan meminta maaf dan mengutarakan rasa penyesalan-nya itu. Ego dan gengsinya begitu tinggi sampai Fadly bahkan terus merasa bahwa apa yang dilakukan-nya sudah benar.


“Loly.. Kamu dimana sih? Apa kamu nggak dirumah?” Fadly bertanya tanya sendiri.


Ingin sekali rasanya Fadly bertanya pada satpam penjaga gerbang dirumah Loly. Tapi Fadly ragu. Fadly takut jawaban satpam itu tetap sama seperti sebelum sebelumnya saat Fadly bertanya. Yaitu Loly sedang tidak ada dirumah atau Loly sedang pergi bersama teman-nya.


Fadly berdecak pelan. Andai saja Fadly bisa memutar waktu Fadly tidak akan mengucapkan kata kasar itu. Fadly tidak akan merendahkan Loly meskipun memang mungkin dirinya akan tetap berkata yang tidak baik tapi setidaknya Fadly tidak merendahkan martabat Loly sebagai seorang wanita yang selalu menjaga kehormatan-nya.


“Aku disini Fadly.”


Kedua mata Fadly sontak membulat mendengar suara Loly yang begitu pelan namun terdengar sangat dekat. Bahkan seperti berada dibelakangnya.


“Ya Tuhan.. Bahkan aku sampai berhalusinasi..” Desis Fadly memejamkan kedua matanya dengan helaan napas lagi.


Fadly merasa sudah gila sekarang. Fadly juga tidak bisa tidur nyenyak akhir akhir ini karena terus memikirkan Loly yang tidak pernah lagi terlihat oleh jangkauan matanya. Loly seperti menghilang ditelan bumi. Bahkan dirumahnya Loly hanya terlihat sekali.


“Kamu nggak sedang berhalusinasi. Aku disini Fadly. Aku dibelakang kamu.”


Fadly menelan ludah. Kali ini suara Loly begitu jelas dan nyata terdengar di kedua indra pendengaran-nya.

__ADS_1


Karena penasaran, Fadly pun perlahan memutar tubuhnya. Fadly terkejut begitu melihat Loly yang sudah berdiri didepan-nya tepatnya disamping mobil VW silver miliknya.


Fadly mengerjapkan beberapa kali kedua matanya. Mobil Loly begitu dekat dengan-nya tapi Fadly bahkan tidak mendengar suara derunya.


“Loly...”


Loly menelan ludah menatap sosok tampan yang berhasil mencuri hatinya itu. Sosok yang tidak pernah hilang dari pikiran juga hatinya. Sosok yang selalu berhasil membuat Loly insomnia hampir setiap malam.


“Untuk apa diam diam kamu mengawasi rumahku Fadly? Apa yang kamu inginkan sebenarnya?” Tanya wanita ber dress orange itu dengan ekspresi datar menatap Fadly.


Fadly gelagapan sendiri. Fadly tidak ingin berbohong tapi Fadly juga enggan untuk berkata jujur bahwa dirinya terus memikirkan Loly akhir akhir ini.


“Dulu kamu sangat membenciku. Kamu bahkan berniat menghancurkan aku dan kamu sudah berhasil. Lalu kamu juga membuat Indra menjauh dariku. Setelah itu kamu menghina bahkan merendahkan kehormatanku. Tapi sekarang kamu disini. Kamu bahkan sering diam diam mengawasi rumahku. Apa yang sedang kamu rencanakan sebenarnya Fadly? Aku sudah tidak mengganggumu lagi sekarang.” Loly bertanya panjang lebar dengan emosi yang menguasainya. Tapi Loly begitu pintar menutupi emosinya dengan nada suara yang tenang juga santai.


Fadly menggantungkan ucapan-nya. Fadly tidak tau apa yang ingin dia katakan sekarang pada Loly.


“Kita sudah selesai dengan segala hinaan yang kamu berikan padaku Fadly. Jadi tolong jangan pernah lagi muncul dihadapanku. Seperti yang aku lakukan. Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan tante Sinta. Aku juga selalu memastikan tidak ada kamu disekitarku.”


Fadly menggelengkan kepalanya. Dugaan-nya memang benar. Loly sengaja menghindarinya.


“Fadly.. Aku tau aku memang dulu sangat jahat. Aku bahkan pernah memfitnah kamu. Tapi lucunya aku juga akhirnya jatuh cinta sama kamu sampai akhirnya kita dekat. Kamu tau Fadly, aku merasa terbang diatas awan saat kita dekat. Sehingga tanpa sadar aku sampai lalai dengan tanggung jawabku diperusahaan dan hampir saja membuatnya bangkrut. Kedua orang tuaku sangat marah saat itu. Mereka lalu menyuruhku untuk menjauhi kamu. Tentu saja karena mereka menganggap kamu pengaruh buruk buat aku. Tapi karena aku cinta sama kamu aku bela kamu didepan kedua orang tuaku. Aku bahkan diam diam menemui kamu tanpa sepengetahuan keduanya. Sampai akhirnya kamu menyudahi sandiwara itu. Sandiwara yang berhasil membuat aku langsung jatuh terperosok ke jurang yang begitu dalam.”


Loly menarik napas kemudian menghelanya dan tertawa pelan.


“Kamu menang Fadly. Kamu hebat. Kamu berhasil dan kamu boleh tertawa. Sekarang aku sedang mendengarkan apa kata orang tuaku untuk melupakan kamu dan mencari kebahagiaan lain yang mungkin sedang menantiku diluar sana. Yah.. Tuhan pasti sudah menyiapkan laki laki yang baik yang mau menerima diriku dengan segala kekuranganku. Tapi Fadly.. Aku menyadari kesalahanku dimasa lalu juga berkat kamu. Itu yang membuat aku bahkan tidak akan bisa membenci kamu sampai sekarang.”

__ADS_1


“Sudah cukup. Cukup bicaranya Loly.” Tegas Fadly menyela.


Fadly menatap Loly yang tampak begitu rapuh sekarang. Detik itu juga Fadly sadar bahwa apa yang dilakukan-nya pada Loly memang salah. Seperti apa yang pernah Faza ingatkan padanya dulu. Dan Fadly baru sadar bahwa apa yang Faza katakan saat itu memang benar. Tidak seharusnya Fadly bersikap seenaknya pada Loly yang sedang mengejarnya saat itu.


“Untuk semua yang telah aku lakukan sama kamu, aku minta maaf. Dan tolong jangan seperti ini. Jangan menghilang dari pandanganku. Jangan menjauhiku. Tetaplah menjadi Loly yang dulu. Loly yang tidak pernah merasa lelah membujukku.” Ujar Fadly dengan kedua mata berkaca kaca karena mengingat kesalahan fatalnya.


Mendengar itu Loly tertawa. Namun Loly juga menangis secara bersamaan. Permintaan maaf Fadly memang belum terlambat. Tapi apa yang Fadly lakukan sudah menciptakan jurang penghalang yang begitu dalam ditengah mereka. Kedua orang tua Loly bahkan sudah tidak mau lagi mempunyai hubungan apapun dengan keluarga Akbar. Termasuk Mommy Loly yang memutuskan sepihak pertemanan-nya dengan Sinta.


“Loly aku..”


“Fadly tolong hargai aku.. Hargai keputusanku. Aku tidak membencimu tapi aku ingin bisa melupakan kamu. Jadi tolong berhenti mengawasiku seperti ini.” Sela Loly menatap Fadly dengan kedua pipi yang sudah basah oleh air mata.


“Ya Tuhan Loly.. Aku minta maaf.. Aku mengaku salah.. Aku minta maaf Loly...”


Loly menggelengkan kepalanya.


“Kamu nggak salah dan kamu nggak perlu minta maaf. Apa yang kamu lakukan aku anggap adalah karma setelah apa yang aku lakukan dimasa lalu.”


“Tolong Fadly. Jangan pernah kamu muncul di hadapanku lagi.” Tangis Loly.


Fadly menggelengkan kepalanya. Air matanya ikut menetes tidak terima dengan apa yang Loly katakan agar Fadly menjauh darinya.


Ketika Loly memutar tubuhnya dan hendak masuk kembali kedalam mobilnya, Fadly mencegahnya dengan memeluk Loly dari belakang.


“Aku cinta sama kamu Loly..” Lirihnya spontan.

__ADS_1


__ADS_2