PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 199


__ADS_3

Seminggu berlalu.


Sejak kelahiran Fahri, Akbar dan Fadly hampir setiap hari selama seminggu itu terus mondar mandir hanya untuk menjenguk dan menggendong Fahri. Mereka berdua akan datang sore hari kemudian pulang setelah makan malam.


Namun berbeda dengan Sinta yang sama sekali tidak datang kerumah Faza dan Zahra sejak dari rumah sakit. Sinta bahkan selalu menghindar saat Fadly maupun Akbar suaminya membahas tentang Fahri.


“Mamah kenapa sih? Fahri itu cucu mamah loh.. Bukan-nya dulu mamah juga protes saat Zahra nggak kunjung hamil? Sekarang Zahra udah melahirkan, udah punya anak. Anaknya bahkan cowok. Persis seperti yang mamah inginkan. Terus apa lagi kurangnya mah?”


Sinta yang saat itu sedang membaca majalah langsung melengos. Enggan menanggapi apa yang Fadly katakan, Sinta pun memilih untuk bangkit kemudian berlalu meninggalkan Fadly yang berdecak dan menggelengkan kepalanya.


Fadly benar benar tidak tau harus bagaimana menyadarkan mamahnya. Sinta sangat keras kepala. Sinta juga sangat susah untuk diberi pemahaman.


Fadly menghela napas. Sebenarnya Fadly kasihan pada Zahra juga mamahnya. Mereka berdua sama sama wanita dan Fadly yakin keduanya memiliki perasaan yang sama. Zahra ingin diterima dan Sinta ingin dimengerti keinginan-nya.


------------


Hari ini adalah hari pertama Faza kembali menjalani rutinitasnya sebagai direktur diperusahaan tempatnya bekerja.


Dengan dibantu oleh Zahra, Faza pun bersiap siap.


“Pokonya kamu nggak boleh mikirin apapun ya sayang.. Prioritaskan Fahri. Nggak usah mikir ini itu yang penting Fahri anteng.. Kalau Fahri tidur kamu juga harus ikut tidur..”


Zahra tertawa pelan mendengar suaminya yang terus saja mewanti wanti dirinya. Faza sepertinya merasa tidak tenang jika harus kembali bekerja dan membiarkan Zahra mengurus putra mereka seorang diri.


“Iya iya papah.. Nggak usah terlalu khawatir gitu ah.. Kan aku juga nggak sendiri dirumah. Ada mbak Lasmi yang nemenin aku...” Balas Zahra dengan senyuman lebar yang menghiasi bibirnya.


Faza mengerang frustasi. Rasanya Faza ingin dirumah saja, membantu Zahra mengurus buah hati mereka yang memang sedang sangat membutuhkan perhatian dari mereka berdua.


Cup


Zahra mengecup sekilas bibir Faza membuat si empunya langsung fokus menatapnya.


“Yang tenang ya kerjanya.. Aku sama Fahri bakalan baik baik aja dirumah kok.. Kamu jangan lupa makan siang dan jangan pulang kemaleman..” Ujar Zahra pelan.


Faza menganggukan kepalanya mengerti.


“Ya sayang...” Balasnya.


“Ya udah mendingan sekarang kita sarapan mumpung Fahri masih anteng tidur.”

__ADS_1


Faza mengangguk lagi. Namun sebelum mengikuti Zahra keluar dari kamar, Faza lebih dulu menciumi wajah tampan putranya. Berat sebenarnya meninggalkan mereka berdua dirumah hanya dengan mbak Lasmi saja. Namun berada dirumah setiap saat juga tidak mungkin mengingat tanggung jawabnya sebagai pemimpin diperusahaan tempatnya bekerja.


Zahra melingkarkan tangan-nya di lengan Faza. Senyuman manis terus menghiasi wajahnya bahkan sampai mereka berada dimeja makan.


“Kamu mau sarapan apa mas?” Tanya Zahra saat mereka duduk dikursi dimeja makan.


“Eemm.. Aku mau sandwich selai kacang aja deh.. Sama minumnya susu hangat.” Ujar Faza menjawab.


“Oke..” Angguk Zahra kemudian segera meraih dua lembar roti tawar dan mengolesinya dengan selai kacang. Zahra juga meraih segelas susu hangat yang sudah disiapkan oleh mbak Lasmi kemudian memberikannya pada Faza beserta dengan sandwich selai kacang buatan-nya.


“Tina teman kamu tumben belum kesini sayang..?” Tanya Faza setelah menggigit sandwich ditangan-nya.


“Iya... Tina lagi pergi liburan sama papah sama kakaknya mas.. Tapi katanya nanti setelah pulang dia bakal kesini kok.. Sama Reyhan..” Senyum Zahra diakhir kalimatnya.


Faza mengeryit.


“Sama Reyhan?”


“Ya.. Mereka dekat akhir akhir ini mas..” Jawab Zahra.


Faza menganggukan kepalanya kemudian kembali melahap sandwich ditangan-nya. Reyhan pria yang baik juga pintar. Tidak heran jika Tina tertarik padanya.


Selesai sarapan, Zahra pun mengantar Faza sampai depan mobilnya. Dan lagi lagi Faza mewanti wanti istrinya itu dengan penuh ke khawatiran yang tentu saja dibalas dengan tawa oleh Zahra.


“Aku berangkat ya sayang..” Pamit Faza menatap lembut pada Zahra.


“Ya mas..” Angguk Zahra kemudian menyalimi suami tercintanya itu.


Faza masuk kedalam mobilnya kemudian berlalu dengan kecepatan sedang dari depan Zahra.


Lambaian tangan Zahra mengiringi keberangkatan Faza untuk bekerja hingga akhirnya mobil mewah Faza benar benar keluar dari pekarangan rumah mereka dan Zahra pun kembali masuk kedalam rumah.


Zahra akan memulai kesibukan-nya sebagai seorang ibu, yaitu mengurus putra pertamanya dengan Faza dengan bantuan mbak Lasmi tentunya.


Pukul 11 siang Zahra sedang asik mengajak bayinya itu mengobrol di balkon kamarnya hingga suara mbak Lasmi berhasil mengalihkan perhatian-nya.


“Ada apa mbak?” Tanya Zahra menatap mbak Lasmi.


“Itu nyonya, dibawah ada pak Santo..”

__ADS_1


Kedua mata Zahra membulat mendengarnya. Bagaimana mungkin Santoso masih berani datang kerumahnya. Zahra pikir Santoso sudah tidak akan lagi menemuinya.


“Bilang saja saya sedang istirahat mbak..” Pinta Zahra agar mbak Lasmi berbohong.


“Saya sudah mengatakan itu nyonya. Tapi pak Santo mengatakan dia melihat nyonya dibalkon kamar sedang mengayun Fahri.”


Zahra menoleh kebawah kemudian berdecak. Terlalu asik mengajak putranya mengobrol hingga membuat Zahra tidak menyadari kedatangan mobil Santoso.


“Ya sudah kalau begitu, mbak temenin saya temui dia yah..”


“Baik nyonya..” Angguk mbak Lasmi.


Zahra dan mbak Lasmi kemudian melangkah beriringan dengan Zahra yang melangkah lebih dulu didepan mbak Lasmi. Mereka berdua menuruni satu persatu anak tangga menuju lantai satu dengan sangat pelan karna Zahra yang sedang menggendong Fahri.


“Nyonya, apa saya buatkan minum dulu untuk pak Santo?” Tanya mbak Lasmi begitu mereka sampai dilantai satu dan hendak melangkah menuju ruang tamu.


“Tidak usah mbak..” Jawab Zahra.


Mbak Lasmi hanya menurut saja. Keduanya kemudian melangkah menuju ruang tamu dimana Santoso sedang menunggu.


Saat Zahra dan mbak Lasmi muncul, Santoso langsung bangkit dari duduknya. Pria itu tersenyum begitu melihat Zahra.


“Ah Zahra.. Apa kabar?” Tanya Santoso mulai berbasa basi.


Zahra menampakan wajah datarnya. Sungguh, Zahra merasa sangat tidak nyaman dengan kehadiran pria itu disekitarnya.


“Seperti yang pak Santoso lihat. Saya sangat baik.” Jawab Zahra ketus.


Santoso tertawa pelan dengan mengangguk anggukan kepalanya. Seperti tidak punya malu, Santoso bahkan pura pura tidak bisa mengartikan ekspresi datar dan jawaban ketus Zahra atas pertanyaan-nya.


Saat Zahra mendudukan dirinya diatas sofa, Santoso ikut mendudukan dirinya kembali. Pria itu kemudian menaruh beberapa paperbag berukuran besar diatas meja dan menunjukan-nya pada Zahra.


Zahra saling menatap sesaat dengan mbak Lasmi yang duduk disampingnya.


“Saya ada hadiah untuk kamu dan putra kamu Zahra.. Semoga kamu suka ya..”


“Terimakasih pak. Tapi saya rasa itu tidak perlu. Anda tidak harus berlebihan.” Balas Zahra dengan wajah datar.


Santoso tersenyum.

__ADS_1


“Saya tulus dan ikhlas memberikan ini untuk kamu dan anak kamu Zahra.”


Zahra hanya menghela napas. Entah harus bagaimana bersikap pada Santoso. Bahkan Santoso sepertinya tidak peka dengan sikap dingin Zahra saat ini.


__ADS_2