
Setelah makan malam selesai, Faza kembali meneruskan pekerjaan-nya yang tinggal sedikit lagi. Namun sebelum itu Faza sudah lebih dulu menyuruh agar Zahra beristirahat dikamar mereka.
Sekitar 30 menit berkutat dengan laptopnya, Faza pun menyusul Zahra kekamarnya. Namun begitu masuk kedalam kamar pandangan Faza langsung mengarah pada paket pemberian Santoso untuk istrinya. Paket yang tentu Santoso pikir akan diterima dengan senang hati oleh Zahra.
Faza menghela napas kemudian mendekat pada meja kecil yang berada tidak jauh dari pintu balkon. Faza meraih paket tersebut kemudian membawanya menuju sofa. Faza melirik Zahra yang sudah tertidur pulas sebelum akhirnya Faza mulai membuka paket itu dengan tangan kosong.
Faza menggelengkan kepalanya ketika melihat isi dari paket tersebut. Isinya tidak lain adalah beberapa pasang baju bayi lengkap dengan sepatu dan topi yang senada. Di antara lipatan baju baju itu bahkan ada secarik kertas berisi pesan yang menurut Faza lumayan romantis. Itu sudah sangat jelas menunjukan bahwa Santoso masih mengharapkan Zahra.
“Zahra hanya milikku. Tidak boleh ada pria manapun yang mendekatinya.” Gumam Faza sambil meremas kertas kecil berwarna pink berisi pesan romantis untuk Zahra dari Santoso.
Faza sesaat terdiam. Dulu Santoso memang selalu memperlihatkan sikap tidak suka padanya secara terang terangan. Dulu Faza tidak perduli karna Faza tidak tau bahwa Santoso memiliki rasa pada istrinya. Meskipun memang beberapa kali merasa aneh dengan sikap mantan bos istrinya itu namun Faza merasa tidak perlu memusingkan hal tersebut. Tapi sekarang, Faza merasa sikap Santoso perlu ditindak lanjuti. Apa lagi Santoso sudah berani mengirimkan sesuatu tanpa sepengetahuan-nya pada Zahra.
Faza melempar pemberian Santoso untuk Zahra ke tong sampah. Faza benar benar merasa harus menegaskan pada Santoso bahwa Zahra hanya miliknya dan tidak boleh ada seorang pun yang merebutnya dari darinya.
Setelah membuang pemberian Santoso, Faza segera melangkah menuju ranjang dan naik keatasnya.
Faza menatap wajah lelap Zahra dari dekat. Lagi lagi Faza mengingat akan kesalahan yang hampir saja menjerumuskan dirinya ke perbuatan yang tidak akan pernah dibenarkan apapun alasan-nya.
Faza sadar dengan kesalahan-nya sendiri. Dan tiba tiba Faza berpikir mungkin apa yang dirasakan istrinya lebih parah dari yang sedang Faza rasakan setelah membuka paket pemberian Santoso yang ditujukan pada Zahra. Padahal Zahra sudah sangat jujur dan terbuka, namun Faza tetap merasa tidak bisa diam saja. Faza takut jika Santoso terus bersikap manis pada Zahra, Zahra akan terbuai. Apa lagi jika sampai Zahra tau apa yang pernah Faza rasakan pada Siska, pasti Zahra akan sangat kecewa dan tidak segan untuk meninggalkan-nya kemudian pergi dengan Santoso.
Faza berdecak. Pria itu menggeleng pelan kemudian memejamkan kedua matanya. Pemikiran-nya terlalu buruk pada Zahra.
“Nggak nggak.. Istriku perempuan yang setia. Dia tidak mungkin mau dengan Santoso.” Gumam Faza dalam hati.
Tidak ingin terlalu panjang berpikir yang pasti akan membuat Faza semakin berpikir buruk terhadap istrinya sendiri, Faza pun memilih untuk tidur karna malam juga sudah hampir larut.
__ADS_1
-------------
“Mas, kamu nggak berangkat kerja?”
Pertanyaan Zahra membuat Faza yang sedang fokus berkutat dengan laptopnya disofa langsung menoleh dengan cepat. Entah kenapa Faza merasa Zahra seperti sedang mengusirnya.
“Memangnya kenapa? Kamu nggak suka aku dirumah?”
Zahra mengeryit. Wanita itu merasa sangat tidak biasa dengan pertanyaan balik yang dilontarkan oleh suaminya.
“Loh kok...” Zahra menelan ludahnya. Bahkan tatapan Faza seperti orang yang sedang menahan amarah.
“Memangnya ada yang salah dengan pertanyaan aku mas?”
Seketika itu juga Faza sadar. Ketakutan-nya terlalu berlebihan tentang Zahra dan Santoso. Padahal sudah jelas jelas Zahra menolak pemberian Santoso dan memilih jujur padanya.
Faza bangkit dari duduknya, melangkah mendekat pada Zahra kemudian mencium lama kening wanita itu.
Zahra benar benar tidak mengerti sekarang. Suaminya sangat aneh pagi ini.
“Hari ini aku kerja dari rumah sayang..” Katanya berkata dengan sangat lembut dan pelan.
Faza sedikit menunduk menatap kedua mata Zahra yang terus menatapnya dengan penuh rasa bingung juga penasaran. Faza tau arti tatapan itu. Tentu saja karna sikapnya tadi.
“Maaf.. Aku hanya sedang sedikit pusing..” Katanya lagi.
__ADS_1
“Pusing kenapa?” Tanya Zahra pelan dan hati hati.
Faza diam. Dengan lembut tangan besarnya membelai pipi chuby Zahra. Faza tidak sampai hati mengatakan semuanya sekarang. Zahra pasti akan sangat tersakiti jika dirinya jujur tentang semuanya yang saat ini sedang menghantui hatinya. Antara cemburu, takut, marah, juga curiga menjadi satu. Hal itu membuat pikiran dan hati Faza mulai tidak searah.
“Tidak apa.. Tidak perlu dibahas.” Senyum Faza berusaha mengalihkan dengan penuh kelembutan.
Zahra menelan ludahnya. Wanita itu menghela napas mencoba menghilangkan pikiran pikiran buruknya terhadap sikap aneh suaminya pagi ini.
“Oke..” Angguk Zahra berkata lirih.
Faza kemudian berlutut didepan Zahra. Pria itu menatap penuh sayang perut besar Zahra tempat calon putranya bersemayam dengan penuh kehangatan didalamnya. Denyutan ngilu sepintas terasa dihati Faza. Hampir saja Faza menghancurkan segala keindahan yang dia rajut bersama Zahra selama bertahun tahun. Beruntungnya Tuhan langsung menyadarkan-nya sebelum Faza benar benar terjerumus pada dosa yang bisa menghancurkan semuanya.
“Jagoan-nya papah.. Hari ini kita ke dokter yah..”
Ucapan Faza membuat Zahra meringis. Zahra sama sekali tidak mengingat hari ini adalah waktunya dirinya mengecek kehamilan-nya.
“Sebentar lagi kita ketemu sayang.. Kita bisa main bola sama sama.. Bisa bobo sama sama.. Makan sama sama.. Papah janji deh nggak akan sibuk sibuk lagi..”
Zahra tersenyum mendengar apa yang Faza katakan. Sejak pulang dari Amerika memang Faza sudah tidak lagi sesibuk dulu. Dan Zahra senang akan hal itu. Faza menjadi punya banyak waktu untuk bersamanya.
“Nggak terasa ya mas.. Kehamilan aku sebentar lagi akan memasuki bulan ke 8. Rasanya sangat singkat.”
Faza mendongak menatap Zahra. Waktu memang terasa begitu singkat. Namun dibalik waktu yang terasa singkat itu Faza pernah merasakan bagaimana rasanya menunggu waktu yang sangat dia impikan terjadi. Menunggu waktu yang sampai saat ini belum juga terwujud. Satu impian yang sangat Faza dambakan, yaitu melihat Sinta memeluk penuh kasih sayang pada istrinya. Faza benar benar masih menunggu itu. Menunggu dengan penuh rasa sabar yang Faza pendam sendiri.
“Ya.. Aku mencintai kamu sayang..” Lirih Faza.
__ADS_1
Zahra terus tersenyum menunduk menatap wajah tampan suaminya yang tepat berada didepan perut besarnya.
“Aku juga mas..” Balasnya.