
Fadly melangkah keluar dari bandara dengan menarik kopernya. Pria dengan pakaian serba hitam itu berhenti begitu berada didepan bandara. Fadly melepaskan cekalan tangan-nya pada koper miliknya. Fadly kemudian merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel berkesing hitam miliknya.
Fadly tersenyum miring menatap layar ponselnya.
“Ini memang pantas untuk perempuan seperti kamu Loly...” Gumamnya kemudian segera menghubungi seseorang.
Tidak lama menunggu telepon Fadly langsung mendapat respon.
“Halo...”
Fadly tersenyum penuh arti mendengar suara dari seberang telepon. Itu adalah suara Loly. Ya, Fadly memang sengaja menelepon Loly.
“Loly.. Boleh aku minta tolong sama kamu...” Ujar Fadly dengan senyuman penuh arti yang terus menghiasi bibirnya.
“Tentu saja.. Kamu ingin aku melakukan apa Fadly.” Tanya Loly dengan nada sumringah yang begitu kentara dan bisa dengan gampang Fadly pahami.
“Oke.. Aku dibandara sekarang. Tolong kamu jemput aku.”
“Oh ya? Kamu sudah pulang? Sudah dibandara? Oke oke.. Aku akan segera kesana sekarang juga. Tunggu aku Fadly.”
“Ya...”
Sambungan telepon diputus oleh Loly. Fadly tertawa pelan dengan kepala menggeleng tidak menyangka Loly akan begitu gampang mengiyakan kemauan-nya. Padahal posisi Loly adalah direktur di perusahaan milik orang tuanya yang pasti mempunyai segudang kesibukan yang tidak bisa begitu saja Loly abaikan. Namun hanya karna Fadly menelepon dan meminta untuk dijemput Loly dengan sangat senang mengiyakan. Loly bahkan mengiyakan dengan sangat semangat.
“Saatnya pembalasan Loly. Kamu harus merasakan akibat dari perbuatan kamu padaku, pada Zahra, juga pada kakak ku..” Gumam Fadly tersenyum miring.
Fadly menghela napas. Selama berada disurabaya tepatnya setelah menelepon Loly saat itu tiba tiba Fadly berpikir untuk memanfaatkan Loly. Fadly akan berpura pura menerima Loly disampingnya untuk kemudian dia sakiti perlahan dan akan dia tinggalkan setelah Loly benar benar merasa hancur sehancur hancurnya.
Sekitar setengah jam menunggu mobil berhenti tepat didepan Fadly berdiri. Fadly tersenyum tipis melihat Loly yang turun dari mobilnya dengan sangat buru buru kemudian mendekat padanya.
“Fadly...” Senyum Loly terlihat sangat bahagia.
“Apa aku mengganggu waktu kerja kamu?” Tanya Fadly pelan.
Loly menggelengkan cepat kepalanya menjawab. Loly sudah sangat bahagia karna tiba tiba Fadly menelepon-nya dan menyuruhnya untuk datang menjemputnya dibandara.
“Tidak. Tentu saja tidak Fadly..” Katanya.
Fadly mengangguk pelan. Pria itu diam diam tersenyum sinis. Fadly merasa rencananya akan benar benar terwujud.
__ADS_1
“Eemm.. Apa kamu perlu bantuan Fadly?” Tanya Loly dengan begitu sigap.
“Oh tidak perlu Loly. Koperku berat. Biar aku angkat sendiri.” Jawab Fadly tersenyum.
“Nggak papa Fadly. Aku kuat kok.. Aku biasa ngegym. Beratnya koper kamu tidak ada apa apanya buat aku.”
Fadly tertawa mendengar apa yang Loly katakan. Fadly semakin merasa yakin bahwa rencananya akan benar benar berhasil.
“Tidak usah Loly.. Aku akan mengangkatnya sendiri. Kamu tolong bukakan saja bagasinya.”
“Oh oke oke...” Angguk Loly segera membuka bagasi mobilnya.
Setelah Fadly meletakan kopernya di bagasi, Loly pun segera mengajak Fadly untuk segera berlalu dari bandara.
“Apa aku sedang bermimpi? Fadly tiba tiba menelepon dan meminta aku menjemputnya?”
Loly terus bersorak dan bertanya tanya riang dalam hati. Loly benar benar tidak menyangka Fadly akan menghubunginya dan meminta untuk datang menjemputnya. Padahal bisa saja Fadly menelepon Sinta atau bahkan menumpangi taksi untuk pulang kerumahnya.
“Eemm.. Loly, aku haus. Bisa tolong kamu belikan aku air mineral?”
Fadly memulai rencananya dengan mencoba mengetes Loly apakah Loly mau menuruti keinginan-nya atau tidak.
“Air mineral? Kamu haus?” Tanya Loly.
Loly terdiam sebentar. Loly sebenarnya mempunya air mineral didalam mobil. Tapi Loly yakin air tersebut sudah tidak lagi dingin karna Loly membawanya pagi tadi saat hendak berangkat bekerja.
“Emm.. Ya sudah sebentar ya. Aku akan belikan. Ada yang lain Fadly?”
“Oh tidak. Hanya air saja.”
“Oke...” Angguk Loly kemudian menghentikan mobilnya tepat didepan warung yang cukup besar.
Loly keluar dari mobil untuk membeli minuman dingin seperti yang di inginkan oleh Fadly.
Fadly menggeleng pelan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Fadly tidak menyangka Loly mau menuruti keinginan-nya. Padahal Fadly sendiri melihat ada air dalam botol minum didalam mobil Loly.
Loly kembali masuk kedalam mobil dan memberikan minuman dingin yang dibelinya pada Fadly. Wanita itu terus tersenyum menatap Fadly yang menerima minuman yang disodorkan-nya.
“Makasih ya..” Ujar Fadly kemudian membuka tutup botol air mineral itu dan meminumnya sedikit.
__ADS_1
“Iya sama sama.. Kalau kamu perlu apa apa kamu bilang aja sama aku. Aku pasti bakal selalu siap buat kamu.” Ujar Loly tersenyum.
Fadly tertawa. Bak gayung bersambut. Loly begitu siap untuk selalu ada untuknya. Dan Fadly bisa melihat dengan jelas dari tatapan Loly bahwa apa yang dikatakan Loly adalah benar benar dari hati.
Namun sepertinya ketulusan Loly tidak membuat Fadly mengurungkan niatnya. Fadly sudah benar benar bertekad ingin membuat Loly hancur.
“Kamu serius?” Tanya Fadly.
“Tentu saja. Aku sangat sangat serius. Kamu nggak usah sungkan sama aku..”
Fadly mengangguk anggukan kepalanya. Loly sepertinya memang benar benar menyukainya. Begitu pikir Fadly.
“Oke kalau begitu. Bagaimana kalau sekarang kamu antar aku pulang? Aku sudah sangat lelah.. Aku ingin beristirahat.”
“Siap.” Hormat Loly pada Fadly.
Fadly tertawa melihat tingkah Loly. Fadly bahkan diam diam sering mencuri curi pandang pada Loly selama dalam perjalanan menuju pulang. Jika saja bukan karna niatnya Fadly tidak mau berada satu mobil dengan Loly. Karna pada dasarnya Fadly sangat membenci Loly yang sudah membuat kepercayaan Sinta padanya hilang.
Satu jam perjalanan mobil sampai didepan gerbang kediaman keluarga Akbar. Loly membunyikan klakson membuat pak Umar dengan sigap membuka gerbang.
Tidak biasanya Loly bahkan menurunkan kaca mobilnya saat melaju pelan melewati gerbang untuk mengucapkan terimakasih pada pak Umar yang sudah membukakan gerbang untuknya. Loly juga seakan sedang menunjukan kebahagiaan-nya pada pak Umar karna Fadly yang tiba tiba menghubunginya dan memintanya untuk datang menjemputnya di bandara.
Loly menghentikan mobilnya dihalaman rumah keluarga Akbar.
“Sampai...” Senyum Loly.
Fadly mengangguk pelan kemudian menoleh pada Loly.
“Terimakasih sudah mau mengantarku pulang selamat sampai tujuan..” Senyum Fadly menatap Loly.
Loly tersipu malu. Tatapan Fadly membuatnya salah tingkah. Apa lagi sikap Fadly yang tiba tiba baik padanya. Loly menganggap Fadly mulai merespon perasaan-nya. Loly juga berharap itu menjadi awal yang baik untuk hubungan-nya dan Fadly kedepan.
“Ya sudah kalau begitu aku turun yah.. Kamu nggak mampir dulu?”
Loly menggelengkan kepalanya.
“Aku masih harus kembali kekantor.”
“Oh.. Oke kalau begitu. Sekali lagi terimakasih. Kamu hati hati ya dijalan.. Nggak usah kebut kebutan.” Ujar Fadly kemudian turun dari mobil Loly.
__ADS_1
Loly merasakan jantungnya seakan akan hendak keluar dari tempatnya saking cepatnya berdetak. Loly benar benar masih merasa semua itu seperti mimpi.
Loly segera melajukan mobilnya karna sudah tidak tahan ingin berteriak bahagia karna sikap Fadly padanya yang mendadak begitu baik. Dan begitu mobilnya keluar dari pekarangan rumah keluarga Akbar, Loly bersorak begitu bahagia.