PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 286


__ADS_3

Faza turun dari mobilnya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Hari ini Faza pulang lebih cepat dari biasanya.


Zahra yang sedang mencoba memberikan makanan pendamping ASI pada putranya mengeryit bingung melihat kepulangan suaminya yang lebih awal dari biasanya.


Zahra meletakan mangkuk berisi makanan yang sedang disuapkan pada Fahri kemudian meraih Fahri yang didudukan dikursi balitanya setelah itu bangkit berdiri untuk menyambut kepulangan suami tercintanya.


“Mas...” Senyum Zahra menyalimi Faza yang sudah sampai didepan-nya.


“Sayang...” Faza ikut tersenyum saat Zahra menyaliminya. Setelah itu Faza langsung mengambil Fahri dari gendongan Zahra.


“Lagi maem ya jagoan papah yah?” Tanya Faza sambil menciumi tubuh Fahri membuat balita itu tertawa karena kegelian.


Zahra hanya tersenyum saja. Kebahagiaan-nya benar benar terasa sangat lengkap karena memiliki Faza dan Fahri didalam hidupnya.


”Masuk yuk mas..” Ajak Zahra.


“Oke...” Angguk Faza kemudian melangkah mengikuti Zahra yang lebih dulu melangkah sambil membawa tas kerja Faza.


Begitu sampai didalam rumah, tepatnya diruang tengah Faza langsung menurunkan Fahri diatas karpet bulu berwarna abu abu. Seolah tidak mengenal rasa lelah, Faza langsung mengajak putranya untuk bermain dan bercanda dengan penuh semangat.


Zahra yang mengerti suaminya pasti merasa lelah segera mengambilkan minuman untuk Faza.


“Minum dulu mas..” Ujar Zahra menyodorkan minuman pada Faza.


“Makasih sayang...” Senyum Faza menerima segelas air putih yang disodorkan Zahra kemudian meminumnya separuh.


“Pa pah..”


Fahri yang melihat Faza sedang meminum segelas air putih yang diberikan oleh Zahra dengan semangat menggerak gerakan tubuhnya seperti sedang meminta minuman tersebut pada Faza.


“Oh anak mamah mau juga yah? Mau minum juga ya sayang ya?” Tanya Zahra dengan gemas.


“Sebentar sebentar, mamah ambilin minuman punya adek ya...”


Zahra kemudian bangkit dari karpet berniat mengambil minuman milik Fahri. Namun begitu Zahra sudah kembali dan membawa minuman Fahri yang didalam dot, Fahri pun melengos tidak mau. Fahri malah menunjuk setengah gelas air putih bekas minum Faza.


“Nggak mau dia sayang.. Dia maunya minum digelas.” Ujar Faza.


“Tapi kan dia belum bisa mas. Takutnya tersedak.”


Faza tersenyum dan meraih kembali tubuh gempal Fahri memangkunya kemudian meminumkan setengah gelas air tersebut pada Fahri dengan sangat telaten.


“Hati hati mas..” Khawatir Zahra.

__ADS_1


“Iya sayang.. Ini sudah hati hati kok..” Senyum Faza.


Zahra menghela napas. Zahra terus memperhatikan dengan seksama saat Faza meminumkan air pada putranya. Zahra sangat khawatir takut jika sampai putranya tersedak karna tidak terbiasa minum secara langsung menggunakan gelas.


“Eemm.. Segarnya..” Senyum Faza terus menuruti kemauan putranya yang begitu erat memegang gelas yang juga dipegang oleh Faza.


Zahra menggelengkan kepalanya dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Faza begitu lihai jika sudah bersama dengan Fahri. Pria itu juga begitu sabar jika Fahri sedang sangat aktif dan terus menangis. Tidak heran jika Fahri begitu lengket pada Faza yang meskipun sibuk namun selalu bisa meluangkan waktu untuk bercanda dan bermain bersama buah hati mereka.


“Mas.. Udah jangan kebanyakan Fahri minumnya, nanti dia kembung gimana? Mending sekarang kamu bersih bersih dulu deh.. belum cuci tangan juga udah gendong gendong Fahri kamu.”


Faza tertawa. Dirinya memang sering sekali lupa dengan aturan ketat istrinya untuk selalu mencuci tangan atau membersihkan dirinya dulu sebelum menggendong Fahri setelah beraktivitas diluar.


“Ya Tuhan... Mas selalu lupa tentang itu sayang. Abisnya gemes banget sama Fahri..”


Faza menjauhkan gelas tersebut dari Fahri kemudian menciumi kembali tubuh gempal Fahri membuat balita itu kembali tertawa tawa.


“Mas.. Udah ah sana mandi dulu.” Ujar Zahra membuat Faza langsung berhenti menciumi Fahri.


“Oke oke.. Tapi beri aku satu ciuman dulu sayang..” Goda Faza pada Zahra.


“Iisshh.. Didepan anaknya juga. Udah ah sana mandi dulu. Aku juga mau gantiin baju Fahri tuh basah karena kebanyakan minum.” Tolak Zahra membuat Faza mengerucutkan bibirnya.


“Kamu mah gitu..”


“Iya iya sayangku...” Angguk Faza menurut saja.


Faza kemudian menyerahkan Fahri pada Zahra dan bangkit berlalu dari ruang tengah untuk membersihkan dirinya.


“Pa pah..” Celoteh Fahri menatap Zahra dengan ekspresi menggemaskan-nya seolah protes karena dipisahkan dari Faza.


“Ya sayang.. Ntar ya.. Papahnya bersih bersih dulu..” Senyum Zahra menatap putranya penuh kasih sayang.


Mendengar itu Fahri menangis. Balita itu merasa tidak rela jika harus dipisahkan dengan Faza saat sedang bermain bersama.


“Cup cup cup anak ganteng mamah.. Ntar ya sayang ya.. Papahnya mandi dulu.. Nanti main lagi...”


Bukan-nya diam, Fahri malah semakin menangis menjerit tidak terima. Balita itu bahkan sampai meronta ronta dalam gendongan Zahra.


“Ya ampun sayang.. Sabar ya..”


Kewalahan karena Fahri yang semakin kencang menangis, Zahra pun langsung mengajak Fahri menuju lantai dua dimana kamarnya dan Faza berada. Dan sesampainya disana ternyata Faza baru akan masuk kedalam kamar mandi.


“Loh kenapa sayang kok Fahri nangis?” Tanya Faza kebingungan.

__ADS_1


“Pa pah..” Panggil Fahri merentangkan kedua tangan-nya pada Faza yang sudah bertelanjang dada karena baru akan masuk kedalam kamar mandi.


“Ya ampun sayangnya papah.. Papahnya masih bau asem sayang harus mandi dulu...”


Faza mengusap air mata yang membasahi kedua pipi gembul Fahri kemudian mencium kening balita itu dengan penuh kasih sayang.


“Pa pah au pa pah..”


Faza menatap Zahra meminta persetujuan istrinya. Faza merasa tidak tega jika harus membiarkan putranya menangis sampai sesenggukan.


“Ya udah mas cuci tangan aja dulu deh..”


“Ya sayang..” Angguk Faza kemudian masuk kedalam kamar mandi.


Seolah mengerti dengan ucapan kedua orang tuanya, Fahri pun berhenti menangis. Balita itu menunggu dengan sabar saat Faza berada didalam kamar mandi untuk mencuci tangan-nya. Dan setelah Faza kembali keluar dari kamar mandi, Fahri langsung merentangkan kedua tangan-nya dengan sangat antusias meminta digendong oleh Faza.


Zahra yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya saja karena dari baru lahir Fahri memang sangat lengket pada Faza, papahnya.


“Aku ambilin baju ganti ya mas buat kamu sama Fahri.”


“Oke sayang..” Angguk Faza sambil melangkah membawa Fahri menuju sofa dan mendudukan dirinya disana.


Setelah Zahra mengambilkan baju ganti untuknya, Faza segera mengenakan-nya. Faza juga menggantikan baju Fahri yang basah karena minum langsung dari gelas tadi.


Faza dan Zahra kemudian dengan kompak mengajak Fahri bercanda dan bermain main hingga akhirnya Fahri tertidur karena kelelahan dalam pangkuan Faza.


“Hh.. Pinter banget ya anak kita mas. Dia lengket banget sama kamu..” Ujar Zahra sambil mengusap lembut kepala putranya yang begitu damai terlelap di pangkuan Faza.


“Iya sayang.. Aku juga seneng banget Fahri mau sama aku..” Balas Faza tersenyum menatap buah hati tercintanya.


“Ya udah mas mending kamu tidurin Fahri deh.. Kamu kan juga harus bersih bersih..”


Faza menoleh menatap Zahra kemudian tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


“Mandi bareng yuk sayang?” Ajaknya membuat wajah Zahra langsung merona malu.


“Iiihh.. Apaan sih kamu mas. Malu tau..”


“Ayo dong sayang.. Please.. Mumpung Fahri tidur. Mau yah..” Mohon Faza.


Zahra tidak menjawab. Dia hanya diam saja yang membuat Faza mengartikan bahwa kediaman istrinya adalah pertanda setuju untuk mereka mandi bersama.


“Ya udah aku tidurin Fahri dikasur dulu, abis itu kita mandi sama sama..”

__ADS_1


Saking bahagianya, Faza bahkan mencium pipi Zahra sebelum bangkit dari duduknya untuk menidurkan Fahri diranjang bayinya.


__ADS_2