PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 32


__ADS_3

Motor Faza sampai didepan taman tempat dimana Zahra berada sekarang. Zahra mungkin sedang menunggu Tina yang mengatakan akan datang dan mengajaknya makan bakso bareng.


Faza melepas helm yang dikenakan-nya kemudian segera turun dari motor gedenya. Faza berharap Tina tidak membohonginya. Zahra berada didalam taman itu dan sedang menunggunya.


Faza mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam area taman tersebut. Tidak perlu mencari pandangan Faza langsung tertuju pada Zahra yang sedang duduk merenung dikursi panjang dengan pandangan lurus ke depan. Faza yakin Zahra pasti sangat sedih juga terluka dengan apa yang didengarnya.


Perlahan Faza mendekat pada Zahra yang duduk dengan posisi memunggunginya. Sampai Faza berdiri tepat dibelakang kursi yang didudukinya Zahra belum juga menyadari kehadiran suaminya itu.


Faza tersenyum. Mungkin semua memang salahnya yang kurang tegas pada mamahnya.


“Sayang...”


Kedua mata Zahra melebar terkejut mendengar suara berat Faza. Zahra langsung bangkit dari duduknya kemudian berbalik.


Pandangan keduanya langsung bertemu. Faza tersenyum merasa sangat lega karna istrinya dalam keadaan baik baik saja meski memang hatinya pasti sedang sangat terluka.


“Mas..” Gumam Zahra pelan.


Faza melangkah mendekat dan berdiri tepat didepan Zahra.


“Aku cariin kamu dari tadi sayang. Aku bahkan sampai minta tolong sama Tina buat hubungi kamu.”


“Apa? Jadi Tina..”


“Ya.. Aku minta Tina buat telepon kamu dan menanyakan kamu dimana.” Sela Faza lembut.


“Aku lakukan itu karna aku tau kamu pasti nggak akan angkat telepon dari aku.”


Zahra menundukkan kepalanya. Untuk pertama kalinya selama berhubungan dengan Faza, Zahra merasa salah mencintai orang.


“Tentang ucapan mamah.. Aku minta maaf.. Mungkin aku yang kurang tegas sama mamah..”


Zahra mengangkat kepalanya mendongak menatap Faza yang berdiri menjulang didepan-nya. Zahra menggelengkan kepalanya pelan. Zahra tidak ingin jika sampai Faza menjadi anak durhaka hanya karna membelanya didepan mamahnya.


“Jangan terlalu tegas sama mamah kamu mas. Itu tidak baik. Tuhan tidak menyukai itu. Surgamu ada telapak kaki ibumu.”


“Tapi bukan-nya Tuhan juga tidak suka jika aku menyia nyiakan amanah terindahnya?”

__ADS_1


Zahra diam lagi. Faza sangat pandai berbicara. Tidak heran jika karirnya sebagai seorang manager begitu bagus. Karna selain otaknya yang cerdas, Faza juga adalah pria bermental tinggi.


“Zahra...”


Faza meraih kedua tangan Zahra. Tatapan-nya begitu intens dan lembut pada Zahra yang juga menatapnya.


“Dengarkan aku. Apapun yang mamah katakan kamu tidak perlu sedikitpun merasa khawatir. Karna yang aku mau hanya kamu Zahra. Bahkan Tuhan selalu memberi jalan dibalik kesulitan kita hingga kita mampu bertahan bahkan sampai pada titik sekarang.”


Zahra hanya diam mendengarkan tanpa bisa berkata apa apa. Zahra tidak bisa bohong. Hatinya sangat sakit bagaikan dicabik cabik begitu mendengar Sinta menyuruh Faza untuk meninggalkan-nya dan menikah dengan wanita lain.


“Aku mohon sama kamu sayang semenyebalkan-nya aku, dan semarahnya kamu, jangan pernah kamu berpikir sedikitpun untuk pergi dari aku. Karna aku tidak akan bisa berdiri tegak tanpa kamu disamping aku.”


Tangis Zahra pecah mendengar apa yang Faza katakan. Zahra kemudian melepaskan tangan-nya dari genggaman Faza dan menubruk tubuh Faza memeluknya dengan sangat erat.


“Sakit mas.. Sakit banget mendengar mamah kamu mengatakan itu.. HUHUHU..”


Faza membalas lembut pelukan erat istrinya. Zahra paham dan mengerti. Siapapun juga pasti akan merasa sakit hati dan menangis mendengar kalimat menyakitkan dari mertuanya.


“Mungkin memang aku salah karna mencintai kamu.. Tapi aku juga tidak bisa mencegah rasa itu mas.. Aku cinta sama kamu.. Huhuhu..”


Faza mengecup kepala Zahra. Apapun yang terjadi selama Zahra masih mencintai dan setia kepadanya Faza akan tetap berjuang untuk mendapat restu dari kedua orang tuanya. Faza sadar, Faza tidak akan bisa berdiri dengan kedua kakinya sendiri tanpa cinta dari Zahra.


“Sudah ya.. Aku juga cinta sama kamu sayang.. Aku sangat sangat mencintai kamu. Jangan sedih lagi ya.. Aku nggak mungkin ninggalin kamu sayang.. Percaya sama aku..” Bisik Faza sambil mengusap usap lembut bahu bergetar Zahra.


Zahra terus menangis dengan kedua mata terpejam. Rasa sakit akibat ucapan Sinta hampir saja membuatnya menyerah dan melepaskan cintanya untuk Faza.


“Sekarang mending kita pulang. Sudah malam loh..”


Zahra melepaskan pelukan-nya pada Faza. Zahra mengucek kedua matanya mengeringkan air mata yang terus saja menetes itu.


Zahra tertawa kemudian. Perjalanan cintanya dengan Faza dari awal memang sangat tidak mudah. Faza bahkan pernah dikurung tiga hari didalam kamar oleh kedua orang tuanya karna ketahuan membonceng Zahra ketika pulang sekolah dulu hingga akhirnya Faza jatuh sakit dan Zahra tidak bisa menjenguk. Beruntung Fadly begitu baik sehingga mau membantu Zahra untuk bertemu dengan Faza dulu.


Faza ikut tertawa. Dengan lembut Faza menyingkirkan tangan Zahra dan menyeka dengan lembut pipi basah Zahra dengan kedua ibu jarinya.


“Kita berjuang sama sama ya.. Kita pasti bisa menemukan titik indah itu. Kita pasti bisa meyakinkan mamah dan papah.” Ujar Faza pelan.


Zahra tersenyum dengan menganggukkan kepalanya. Meski masih terasa begitu perih hatinya namun Zahra mencoba untuk tetap yakin dan percaya dengan kekuatan cinta mereka.

__ADS_1


“Udah.. Sekarang kita pulang. Aku beliin kamu bakso super pedas. Gimana? Mau?”


Zahra menganggukan kepalanya menjawab. Segala makanan pedas adalah makanan kesukaan-nya.


“Tapi aku mau digendong..”


Zahra menampilkan ekspresi memelas membuat Faza merasa gemas. Faza memencet gemas kedua pipi Zahra kemudian mencium singkat ujung hidung Zahra. Faza sudah sangat yakin dengan pilihan-nya. Zahra yang terbaik untuknya.


“Baiklah aku akan gendong kamu. Tapi malam ini harua tiga ronde ya sayang..” Goda Faza sambil mengedipkan sebelah matanya pada Zahra.


Kedua pipi Zahra langsung merona. Rasa panas seketika Zahra rasakan dari pipi sampai menjalar ke kedua telinganya. Membayangkan keintiman-nya diatas tempat tidur bersama Faza membuatnya merasa malu sendiri. Meskipun terkadang memang Zahra juga merasa ingin terus melakukan-nya.


“Apaan sih kamu mas. Nggak lucu tau.” Zahra mencebikkan bibirnya pura pura merajuk pada suaminya.


“Tapi suka kan?” Colek Faza didagu Zahra.


“Iiihhh.. Maaaas..!!”


Pekikan Zahra membuat Faza tertawa. Faza senang karna akhirnya bisa sedikit meredakan rasa sakit yang diderita oleh istrinya akibat ucapan mamahnya.


“Ayo sini.. Aku akan bawa kamu terbang kelangit ketujuh untuk sama sama mengarungi cerita indah kita.”


“Hahaha...”


Zahra tertawa mendengar bualan manis suaminya itu. Zahra kemudian melompat kepunggung lebar Faza yang dengan begitu enteng menggendongnya.


“Kamu berat sayang..”


“Masa sih?”


“Iya...”


“Apa aku harus diet?”


“Tidak usah. Kamu lebih cantik kalau gendut.”


Keduanya mengobrol dengan diselingi candaan saat berlalu dari taman. Meski kedua orang tua Faza juga Aris kakak Zahra belum bisa memahami mereka, namun keduanya sudah bertekad untuk terus bersama dan bertahan.

__ADS_1


__ADS_2