PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 65


__ADS_3

Sejak mendapati papahnya bermain api dibelakang mamahnya beberapa hari yang lalu Faza menjadi pendiam. Faza bahkan tidak memeluk Zahra saat mereka tidur. Pikiran-nya terus saja fokus pada perasaan mamahnya saat ini. Faza khawatir mamahnya akan sakit hati dan kecewa jika sampai tau apa yang dilakukan papahnya dan sekretarisnya diluar sana.


Faza tersenyum miris. Ternyata alasan papahnya keluar kota selama ini hanya agar bisa bersenang senang diluar sana dibelakang mamahnya.


Zahra yang berbaring disamping Faza hanya diam saja. Pelan pelan Zahra mengubah posisi berbaringnya menjadi miring membelakangi Faza. Zahra tau bagaimana perasaan suaminya sekarang. Melihat sendiri papahnya bermain api bersama sekretarisnya pasti membuat Faza merasa sakit hati. Tapi bagaimanapun juga Faza sakit hati, menurut Zahra tidak seharusnya Faza berkata seolah dirinya juga bisa menyakiti wanita.


Tanpa sadar air mata Zahra menetes. Zahra bisa bersikap tidak perduli dengan sikap angkuh Sinta. Tapi jika Faza yang bersikap demikian Zahra benar benar tidak bisa menerima itu.


“Hiks hiks..”


Semua pemikiran Faza buyar seketika saat mendengar suara isak tangis Zahra. Faza menoleh dengan cepat dan terkejut melihat punggung Zahra bergetar.


Tidak tau apa yang terjadi, Faza pun segera mendekat. Faza meraih bahu Zahra dan menyentuhnya dengan lembut.


“Hey... Ada apa?” Tanya Faza sambil membalikan lembut tubuh Zahra agar menghadapnya.


Zahra terus saja menangis terisak. Hatinya benar benar sakit mengingat ucapan suaminya ketika bersitegang dengan papah mertuanya dihotel.


“Sayang.. Kamu kenapa?”


Faza terus bertanya dengan penuh kelembutan. Padahal mereka tidak berdebat beberapa hari terakhir ini. Faza mengakui jika dirinya memang sedikit tidak perduli dengan apapun sekarang kecuali hati mamahnya. Tapi Faza merasa tidak melakukan apapun yang menyakiti istrinya.


“Zahra..” Panggil Faza sambil menyeka air mata Zahra.


Zahra menepis tangan Faza kemudian bangkit dan terduduk sambil menutupi wajah basahnya dengan kedua tangan.


Faza semakin kebingungan. Zahra tiba tiba marah padanya. Padahal saat makan malam Zahra tampak biasa saja.


Faza ikut duduk dan kembali mencoba menyentuh bahu Zahra namun lagi lagi Zahra menepisnya menghindari sentuhan-nya.


“Kamu kenapa sayang?” Lirih Faza kebingungan.


“Kamu jahat mas. Aku benci sama kamu.”


Faza terkejut. Faza benar benar tidak tau apa yang dilakukan-nya.


“Zahra..”


“Aku tau mas kamu kecewa sama papah kamu. Tapi bukan berarti kamu lampiasin semua itu ke aku.”


Zahra berkata dengan suara sedikit tersendat karna isak tangisnya. Wajah basahnya memerah dengan sorot mata penuh kepiluan menatap Faza yang masih tidak menyadari kesalahan-nya.

__ADS_1


“Apa maksud kamu Zahra. Jangan membuatku semakin bingung. Apa salahku?”


Zahra menggelengkan kepalanya. Ketika dirinya hendak bangkit untuk menjauh Faza langsung mencegah dengan memeluk pinggangnya erat menahan agar Zahra tetap berada disampingnya.


“Katakan. Katakan apa yang membuat kamu membenciku.” Lirih Faza memeluk Zahra erat.


Zahra terus meronta meminta untuk dilepaskan namun semakin Zahra meronta, pelukan Faza justru semakin erat.


“Kamu jahat mas. Kamu egois.. Huhuhu..” Tangis Zahra semakin hebat.


Tidak tau apa lagi yang harus dilakukan, Faza pun membalikan tubuh Zahra dan mencium dengan kasar bibir istrinya. Zahra sempat meronta namun perlahan akhirnya Zahra bisa tenang.


Setelah dirasa Zahra tenang, Faza pun melepaskan pagutan bibirnya. Pelan pelan Faza membaringkan tubuh Zahra yang sudah terlihat tenang dan menurut padanya.


“Sekarang katakan apa salahku.” Bisik Faza mengurung tubuh Zahra dibawahnya.


Zahra kembali menangis namun tidak lagi meronta. Ucapan Faza serta genggaman erat yang membuat tangan-nya membiru berhasil menyerempet hati Zahra, menimbulkan sayatan kecil yang membuat Zahra merasakan sakit juga perih dihatinya.


“Zahra tolong katakan.. Jangan membuatku seperti orang jahat..”


Zahra melengos namun Faza meraih dagunya menyuruh agar Zahra kembali menatapnya.


“Katakan sayang...” Mohon Faza.


Faza terkejut. Emosi benar benar membuatnya kalap.


“Kamu berhasil membuat aku merasa tidak penting untuk kamu mas. Bahkan beberapa hari ini kamu diamkan aku. Kamu memunggungi aku setiap malam. Aku juga perempuan mas. Aku punya perasaan, sama seperti mamah.”


Faza menelan ludahnya. Tanpa sadar Faza sudah menyakiti hati Zahra.


“Kamu tau mamah bakal sakit hati dengan apa yang papah lakukan mas. Tapi kamu lupa dengan hati aku yang harusnya juga kamu juga.”


Faza terdiam. Tatapan-nya terus tertuju pada kedua mata Zahra yang menyiratkan luka yang begitu dalam.


“Apa yang aku lakukan?” Batin Faza menyesal.


Faza berusaha menjaga perasaan mamahnya namun tanpa sadar Faza telah menyakiti hati Zahra.


“Maaf.. aku minta maaf Zahra.. Aku tidak bermaksud menyakiti kamu..”


Zahra melengos lagi. Suaminya memang egois.

__ADS_1


“Zahra.. Kamu mau kan maafin aku?”


Faza meraih dagu Zahra dan menuntun-nya agar menatapnya lagi. Faza kembali mencium bibir Zahra dengan mesra membuat Zahra hanyut terbuai dengan sentuhan-nya yang akhirnya membuat Zahra pasrah dan perlahan melupakan rasa sakitnya.


----------


Pagi ini Faza bersikap begitu romantis pada Zahra. Faza bahkan berinisiatif memetik bunga mawar merah kesayangan mamahnya di pagi buta secara diam diam ditaman samping rumah dan memberikan-nya pada Zahra begitu Zahra membuka kedua matanya.


Faza tau mamahnya pasti akan sangat marah nanti. Tapi Faza tidak perduli karna membeli juga tidak mungkin dapat karna hari masih pagi.


“Mas kamu kenapa sih?”


Zahra menatap aneh pada Faza yang terus tersenyum menatapnya. Zahra bukan tidak suka, tapi menurut Zahra ekspresi Faza saat ini terlalu berlebihan.


Faza bangkit dari duduknya ditepi ranjang kemudian memeluk mesra pinggang Zahra.


“Sayang...” Bisiknya.


“Aku pengen lagi...”


Kedua pipi Zahra langsung memerah. Zahra tau apa maksud suaminya.


“Apaan sih kamu mas. Kan semalem udah.” Zahra tersipu membalasnya.


“Nggak tau kenapa aku pengin sama kamu terus sayang.. Sekali lagi mau ya..”


Zahra langsung melepaskan pelukan mesra Faza. Zahra sedikit menjauh dari suaminya yang entah kenapa terlihat sangat aneh pagi ini.


Zahra menatap Faza dan mengeryit melihat wajah suaminya yang memerah dan berkeringat.


“Mas, kamu kenapa?”


------


“Bi? Lihat mas Faza nggak?” Tanya Loly pada bibi yang baru saja menghidupkan kompor.


Bibi membalikan tubuhnya menatap Loly yang memang sedang menginap dari semalam.


“Tadi setelah menghabiskan teh yang non buatkan den Faza kembali masuk kedalam kamarnya non.” Jawab bibi membuat Loly berdecak.


Setelah mendengar jawaban dari bibi Loly pun berlalu begitu saja. Rencananya gagal sudah untuk menjebak Faza. Semua yang Loly pikirkan dengan matang benar benar tidak sesuai harapan.

__ADS_1


Sementara bibi yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepalanya. Loly benar benar sangat jauh berbeda dengan Zahra menurutnya.


__ADS_2