PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 178


__ADS_3

Reyhan mengeryit melihat Tina yang sedang bersama dengan istri dari atasan-nya.


“Tina...” Gumamnya pelan.


Reyhan mendadak merasakan sekujur tubuhnya kaku begitu tatapan-nya bertemu dengan Tina.


Ya, mereka memang saling mengenal sejak Tina tidak sengaja menabrak bagian belakang mobil Reyhan saat itu.


Tina benar benar sangat terkejut, tidak percaya, juga tidak menyangka dirinya bisa kembali dipertemukan dengan Reyhan. Pria yang sejak pertemuan pertama mereka saat itu membuat Tina merasakan perasaan yang tidak biasa. Pria yang sudah berniat Tina lupakan.


Zahra yang berada disamping Tina menatap bergantian pada Tina dan Reyhan. Zahra tidak tau bahwa keduanya sudah saling mengenal.


“Tina, kamu kenal Reyhan?” Tanya Zahra pelan bahkan bisa dikatakan bisikan.


Tina langsung tersadar. Cepat cepat Tina mengalihkan perhatian-nya dengan menoleh pada Zahra. Wajahnya mendadak terasa panas sampai telinganya.


“Eemm.. Kami tidak sengaja bertemu dulu.” Ujar Tina malu malu.


Zahra mengeryit. Tina tidak pernah menceritakan sosok Reyhan padanya selama ini.


“Begitu ya?” Gumam Zahra pelan.


Sedangkan Reyhan, pria bersetelan jas hitam itu tiba tiba merasakan hatinya menghangat. Harapan-nya kembali mencuat keluar membuat rasa berbunga bunga menguasai seluruh tubuhnya. Reyhan bahkan merasakan ada sesuatu yang begitu membahagiakan.


“Reyhan, Sini...”


Zahra memanggil Reyhan untuk mendekat padanya dan Tina. Dan dengan penuh semangat Reyhan mengangguk kemudian melangkah mendekat pada Zahra juga Tina.


“Ra.. Kok..”


“Ssshhttt.. Aku tau tentang ini.” Bisik Zahra mengedipkan sebelah matanya pada Tina.


Tina merasa sangat malu tapi juga bahagia. Detak jantungnya langsung bekerja diluar normalnya membuat sekujur tubuhnya terasa panas dingin bahkan kedua tangan-nya sampai berkeringat karna merasa grogi berada begitu dekat dengan Reyhan.


“Saya bu...” Senyum Reyhan begitu berada diantara Zahra dan Tina.

__ADS_1


Reyhan mencuri curi pandang pada Tina yang menundukan kepalanya malu malu saat berhadapan dengan-nya.


“Ini Tina teman saya.. Kamu pasti sudah tau itu kan?”


Reyhan tertawa pelan.


“Saya mengenal Tina bu. Tapi saya tidak tau kalau ternyata Tina adalah teman bu Zahra.” Balas Reyhan.


“Ya.. Dunia terasa sangat sempit jika sedang ada kebetulan seperti ini. Ah ya, kamu ada apa kesini?”


“Eemm.. Saya disuruh oleh pak Faza untuk mengambil berkas berkas untuk meeting nanti sore bu.. Dan pak Faza bilang saya harus bertanya pada ibu..” Jawab Reyhan.


Zahra mengeryit bingung. Zahra kemudian meraih ponselnya mengecek apakah ada pesan masuk dari suaminya. Dan benar saja, Faza mengirimnya pesan mengatakan bahwa berkas yang dimaksud ada dinakas disamping tempat tidur mereka.


“Ya sudah kalau begitu kamu tunggu sebentar yah.. Saya akan ambilkan berkas ya. Kalian bisa ngobrol ngobrol dulu..” Senyum Zahra kemudian berlalu dari hadapan keduanya.


“Loh Ra.. Kok...” Tina ingin mencegah Zahra namun tidak bisa karna Zahra sudah lebih dulu berlalu masuk kedalam rumah meninggalkan-nya berdua dengan Reyhan.


Begitu sampai diambang pintu hendak masuk kedalam rumah, Zahra menoleh lagi pada Tina dan Reyhan. Zahra tersenyum penuh arti menatap keduanya yang tampak sama sama salah tingkah saat berhadapan. Entah kenapa Zahra merasa keduanya sangat cocok. Tina dan Reyhan terlihat sangat serasi.


Reyhan menghela napas. Sekarang hanya ada dirinya dan Tina ditaman, tanpa Zahra.


Tina menggigit bibir bawahnya sendiri. Tina tidak menyangka Tuhan akan kembali mempertemukan dirinya dengan Reyhan.


“Aku baik. Kamu sendiri bagaimana?” Jawab Tina pelan kemudian bertanya balik. Seumur umur baru kali ini Tina merasakan malu yang sangat luar biasa rasanya. Malu bercampur bahagia yang membuatnya tidak tau harus melakukan apa sekarang.


“Aku.. Aku sangat baik.”


Tina benar benar tidak tau harus bagaimana bersikap didepan Reyhan sekarang. Reyhan adalah pria pertama yang mampu menggetarkan hatinya. Reyhan pria pertama yang berhasil meracuni pikiran-nya membuat Tina senang juga sedih secara bersamaan.


“Eemm.. Tina boleh aku minta nomor kamu?”


 ---------


Setelah makan siang, Faza langsung menemui Santoso direstoran tempat dulu Zahra dan Tina bekerja. Faza benar benar merasa harus menegaskan pada Santoso bahwa Zahra hanya miliknya dan tidak seorang pun bisa merebut Zahra darinya.

__ADS_1


Faza bahkan juga sampai menyuruh untuk Reyhan menggantikan posisinya dalam meeting hari ini. Tentu saja demi bisa berbicara pada Santoso tentang Zahra.


“Pak Faza... Suatu kehormatan bagi saya anda datang kesini.. Ah saya punya banyak menu andalan disini. Hampir semua pengunjung menyukainya pak. Apakah anda juga mau mencobanya. Tenang saja, untuk anda saya berikan gratis.”


Faza tersenyum sinis menatap Santoso yang berbicara begitu sok akrab padanya.


“Saya datang bukan untuk makan disini. Saya sudah sangat kenyang.” Ujar Faza dingin.


Santoso mengangguk paham. Pria itu kemudian mengangkat tangan-nya memanggil salah satu waitrees dan menyuruhnya untuk menyuguhkan minuman untuk menemaninya mengobrol bersama dengan Faza.


“Jadi ada apa gerangan seorang terhormat seperti anda tiba tiba datang ke restoran saya?” Tanya Santoso menatap Faza dengan santai.


Faza mengepalkan kedua tangan-nya erat bahkan sampai kuku jarinya memutih. Faza ingin sekali melayangkan tinjunya pada wajah memuakkan Santoso. Tapi Faza sadar dirinya tidak mungkin bisa seenaknya bersikap ditempat umum karna itu pasti akan berpengaruh pada nama dan karirnya.


“Saya datang kesini ingin menegaskan pada anda. Zahra itu istri saya.”


Santoso tertawa pelan mendengarnya.


“Pak Faza, anda ini lucu sekali. Seluruh dunia juga tau tentang itu. Zahra memang istri anda.”


Faza tersenyum sinis. Santoso benar benar pria tidak tau malu menurutnya.


“Kalau memang anda sudah paham kenapa anda masih berani menemui istri saya saat saya sedang tidak ada? Apa anda sengaja mencari masalah dengan saya? Atau memang anda ini laki laki yang tidak punya harga diri?”


Santoso menggelengkan kepala dengan tawa yang masih menguasainya.


“Pak Faza, anda benar benar sangat lucu. Saya tidak ada maksud apa apa menemui istri anda. Saya dan Zahra hanya berteman. Dan kedatangan saya adalah kedatangan seorang teman yang ingin menjenguk Zahra. Itu saja. Mungkin seperti hubungan anda dengan Siska.”


Faza tersenyum miring. Santoso menjadikan Siska sebagai alat untuk menyelusup masuk kedalam hubungan-nya dengan Zahra.


“Pak Santoso, saya masih menghargai anda sebagai orang yang lebih tua dari saya. Saya tidak bertindak bukan berarti saya takut. Saya hanya masih menggunakan logika saya. Tapi kalau anda masih berani menemui istri saya diam diam saya tidak akan segan untuk melakukan sesuatu yang bahkan tidak pernah anda bayangkan.”


Santoso tersenyum tipis.


“Bagaimana dengan Siska pak Faza? Apa anda tidak takut Zahra tau?”

__ADS_1


“Anda tidak perlu mengancam saya dengan membawa bawa nama Siska. Karena saya dan Siska hanya partner kerja saja. Zahra juga tau itu.” Jawab Faza tenang.


Faza tau sekarang. Santoso tidak mungkin mengetahui apa apa tentang perasaan-nya pada Siska. Karna Faza bahkan tidak pernah memberitahu siapapun tentang rasa itu. Hanya Tuhan dan hatinya yang tau tentang itu semua.


__ADS_2