
Karena pintu yang ditutup dengan sangat keras oleh Faza, Loly dan Fadly pun akhirnya memilih untuk langsung berangkat kerja. Mereka sempat kembali cekcok sebelum masuk kedalam mobil masing masing.
Sementara Faza dan Zahra, mereka berdua melanjutkan niat awalnya untuk sarapan dimeja makan.
“Lucu banget ya mereka berdua berantem nya... Aku pikir setelah apa yang Fadly lakukan Loly akan membenci kita semua..” Tawa Zahra sambil melahap sarapan paginya.
“Lucu dimana nya? Mereka berdua itu kekanak kanakan tau nggak sayang. Mereka berantem didepan rumah kita pagi pagi. Mengganggu ketenangan orang banget.” Komentar Faza.
Zahra hanya tertawa saja. Untung saja Fahri tidak terbangun dengan bantingan keras pintu yang Faza lakukan tadi.
Selesai sarapan, Faza pun berangkat dengan Zahra yang mengantarnya sampai depan rumah.
“Pokoknya kalau mereka berdua datang dan berantem lagi kamu tinggal banting pintu aja sayang.. Nggak usah ditanggepin apapun yang mereka aduin.” Begitu kata Faza sebelum masuk kedalam mobil dan melaju dengan kecepatan sedang berlalu dari kediaman mewahnya.
Seperti apa yang sudah Faza niatkan dari awal, sebelum datang ke perusahaan, Faza lebih dulu mampir ke klinik untuk menjenguk Reyhan yang memang menginap disana karena sakit. Faza sempat kaget dan terkejut karna disitu ada Tina. Namun kemudian Faza mengangguk paham. Faza hampir saja melupakan bahwa Tina dan Reyhan memang sedang dekat.
“Bagaimana keadaan kamu Reyhan?” Tanya Faza berdiri tepat disamping brankar Reyhan.
“Sudah mendingan pak.” Jawab Reyhan tersenyum tipis.
Faza menghela napas. Reyhan tampak sangat pucat dan lemas. Kedua matanya bahkan terlihat sangat tidak biasa. Hal itu membuat Faza meyakini bahwa sakit yang diderita oleh asisten-nya itu cukup parah.
“Bagaimana ceritanya kamu sampai berada disini Reyhan?” Tanya Faza yang memang sudah memendam rasa penasaran-nya pada apa yang terjadi terhadap Reyhan.
Reyhan meringis. Penyebab apa yang terjadi pada dirinya hingga akhirnya berakhir di klinik tersebut cukup memalukan menurutnya. Hanya karna makanan pedas Reyhan sampai harus berbaring lemas di brankar dengan tubuh lemas tak berdaya.
“Eemm.. Hanya karna salah makan pak..” Jawab Reyhan singkat.
Faza mengeryit. Rasanya sangat aneh mendengar jawaban dari Reyhan. Hanya karna salah makan, Reyhan sampai berakhir tidak berdaya di klinik.
__ADS_1
Tidak mau terlalu mengorek informasi yang sepertinya memang sengaja Reyhan tutupi darinya Faza pun mengangguk paham.
“Ya sudah kalau begitu. Saya harus segera ke kantor. Kamu cepat sembuh yah.. Minum obat dan jangan lupa banyak makan. Tidak perlu memikirkan pekerjaan lebih dulu.” Ujar Faza tersenyum.
“Baik pak.. Terimakasih sudah menyempatkan waktu kesini.” Angguk Reyhan pelan.
“Ya.. Kalau begitu saya pergi dulu. Tina.. Titip Reyhan yah..” Ujar Faza pada Tina yang duduk disamping brankar Reyhan.
“Ya pak Faza..” Jawab Tina.
Faza kemudian berlalu keluar dari ruangan tempat Reyhan berada. Faza tidak ingin terlambat yang tentu saja akan menjadi contoh yang tidak baik untuk para karyawan-nya.
“Kenapa kamu nggak jujur aja sama bos kamu kalau kamu berada disini karna makanan pedas?” Tanya Tina sambil meraih sebuah apel kemudian mengupasnya untuk Reyhan.
“Ya masa aku bilang jujur aku disini karna diajak makan bakso sama kamu.. Nanti kamu dapat amukan dari bos aku gimana? Apa lagi aku sama pak Faza itu udah jadi bestie.”
Tina meringis kemudian tertawa pelan. Reyhan dan Faza memang seperti menjalin hubungan yang sangat baik.
“Terus, kapan dong kita jenguk Zahra sama bayinya? Aku nggak enak banget loh.. Udah semingguan dia lahiran tapi aku belum dateng.” Lanjut Tina.
Reyhan menghela napas.
“Setelah aku sembuh aku bakal anterin kamu kesana. Oke?”
Tina tersenyum kemudian menganggukan kepalanya. Entahlah, padahal hanya karna ke tempat Zahra seharusnya Tina bisa datang sendiri dengan mobil atau mungkin mengajak Rasya kakaknya atau Renaldi, papahnya. Namun Tina tidak tau kenapa dirinya ingin datang bersama dengan Reyhan ke tempat Zahra. Konyolnya lagi Tina rela menunggu sampai Reyhan sembuh. Padahal sekarang saja Reyhan masih berbaring lemas di brankar klinik.
“Ya udah makan-nya kamu cepet sembuh biar kita bisa cobain jajanan lagi. Janji deh nggak yang pedes pedes lagi.” Ujar Tina yang di akhiri tawa.
Reyhan ikut tertawa. Reyhan pikir Tina akan menertawakan jika tau dirinya tidak bisa memakan makanan pedas. Tapi ternyata salah. Tina justru dengan setia menemani dan merawatnya. Tina bahkan tidak mengeluh saat harus memapahnya bolak balik ke kamar mandi.
__ADS_1
“Tina..” Panggil Reyhan membuat Tina yang sedang mengupas apel menoleh dan menatapnya. Tina bahkan berhenti sejenak dari aktivitas mengupas buah apelnya.
“Ya Rey.. Kenapa?” Saut Tina menatap penuh perhatian pada Reyhan.
Reyhan tidak langsung mengatakan apa yang bersarang di hatinya. Pria itu menatap pada Tina dengan pandangan penuh cinta dan kelembutan. Sampai sekarang Reyhan sebenarnya masih tidak percaya. Reyhan bahkan sempat berpikir dirinya sedang bermimpi saat sedang bersama Tina. Tapi sosok Tina begitu nyata didepan-nya. Tina bahkan bisa dia sentuh.
“Berawal dari sesuatu yang tidak sengaja kita akhirnya bertemu dan saling mengenal. Tapi kemudian kita berpisah dan lewat pak Faza dan bu Zahra kita dipertemukan kembali hingga akhirnya kita sedekat ini. Kita sering jalan berdua.. Kemana kamu pergi aku selalu tau. Bahkan aku sudah kenal baik dengan kakak dan papah kamu sebenarnya dari dulu.”
Tina tersenyum. Semuanya memang seperti sebuah kebetulan. Tapi Tina tau segala sesuatu yang ada didunia tidak ada yang namanya kebetulan karna Tuhan yang maha kuasa sudah menggariskan takdir hidup pada setiap makhluknya.
“Jadi kita kan terlalu sering bersama yah.. Aku takutnya ada orang yang marah kalau kita terlalu dekat.”
Senyuman dibibir Tina langsung pudar. Tina menyipitkan kedua matanya menatap Reyhan.
“Ada orang yang marah? Maksudnya kamu sudah punya pacar?”
Reyhan langsung menggelengkan kepalanya. Tina salah mengartikan maksudnya.
“Bukan, bukan begitu Tina maksud aku..” Mendadak Reyhan gagap. Reyhan takut Tina menjauh darinya jika Reyhan tiba tiba mengutarakan maksud hatinya.
“Terus?” Tanya Tina masih dengan ekspresi yang sama.
Reyhan menghela napas.
“Jadi sebenernya kamu sudah punya pacar atau belum?”
Ekspresi Tina langsung berubah. Tina tertawa pelan kemudian mengalihkan kembali tatapan-nya pada apel yang sedang dia kupas untuk diberikan pada Reyhan.
“Kalau aku udah punya pacar ya aku nggak mungkinlah semalaman nemenin kamu disini. Bisa diputusin aku nanti.” Jawab Tina dengan senyuman malu malu yang terukir dibibirnya.
__ADS_1
Mendengar itu seketika Reyhan merasa lega. Reyhan semakin yakin sekarang bahwa Tina adalah wanita yang Tuhan takdirkan untuk menjadi miliknya. Mungkin Reyhan belum bisa mengutarakan semuanya sekarang. Tapi nanti Reyhan akan mengatakan semuanya dan menjadikan Tina menjadi pendamping hidup yang akan selalu menemaninya melanjutkan hidup dimasa mendatang.