
“Anda bisa melihatnya sendiri tuan. Janin dalam kandungan nyonya Zahra sangat berkembang dengan baik.”
Zahra dan Faza saling menggenggam tangan dengan senyuman yang menghiasi bibirnya. Penampakan janin dalam kandungan Zahra kali ini begitu jelas dan sudah tampak seperti bayi. Meskipun memang masih kecil, namun janin tersebut begitu jelas dan sempurna bentuknya.
“Mas..” Zahra bergumam memanggil suaminya. Mereka melakukan USG saat pertama kali mengecek kandungan pada dokter Cindy. Saat itu bentuknya tidak sesempurna bentuk sekarang.
“Dia sangat sehat sayang..” Bisik Faza.
“Ya mas...” Angguk Zahra setuju.
Dokter Cindy yang sedari tadi menatap layar monitor USG tiba tiba menoleh pada Zahra dan Faza. Wanita itu mengingat permintaan Sinta yang bisa dengan halus dia tolak karna melihat Zahra yang terlihat tertekan kemarin.
“Apa kalian berdua juga ingin tau jenis kelamin anak kalian?”
Senyuman dibibir Faza dan Zahra seketika lenyap. Ketakutan langsung menghampiri keduanya. Meskipun mereka sudah bertekad akan tetap menyayangi anaknya nanti namun membayangkan Sinta yang tidak mau mengakui anaknya sebagai cucu membuat keduanya risau.
“Nyonya Sinta kukuh ingin mengetahuinya kemarin. Tapi saya menolak karna melihat nyonya Zahra yang tampak tertekan.”
Zahra menelan ludahnya. Zahra diam dengan tangan yang semakin erat membalas genggaman tangan Faza.
“Ya dok. Kami ingin tau jenis kelamin anak kami.” Senyum Faza menekan kuat kuat rasa takut dan khawatir yang menguasai hatinya.
“Baiklah kalau begitu.” Angguk dokter Cindy.
Jantung Zahra berdetak sangat cepat saat dokter Cindy mulai mengarahkan kursor pada bagian yang Faza ingin ketahui.
Zahra memejamkan kedua matanya. Zahra terus meyakinkan dirinya sendiri. Mau laki laki ataupun perempuan jenis kelamin janin dalam kandungan-nya, Zahra yakin Faza akan tetap menyayangi anak mereka dengan tulus.
“Bayi anda laki laki tuan, nyonya. Kalian bisa melihatnya dengan jelas disini.”
Zahra langsung membuka kedua matanya. Pandangan-nya kembali mengarah pada layar monitor dimana wujud janin dalam kandungan-nya begitu sangat jelas terlihat oleh matanya.
“Apa?” Gumam Zahra tidak percaya.
Faza tertawa dengan kedua mata berkaca kaca. Karna USG itu 4G sehingga Faza juga bisa melihat dengan jelas bagian fital calon anaknya. Dan Faza melihatnya dengan mata kepalanya sendiri bahwa yang sedang dikandung oleh istrinya adalah bayi laki laki.
__ADS_1
Seketika rasa takut dan risau itu sirna. Bayi yang berada dalam kandungan istrinya laki laki. Seperti apa yang di inginkan oleh mamahnya, Sinta.
Faza berharap setelah ini Sinta tidak akan lagi menyudutkan Zahra. Faza juga sangat berharap mamahnya berhenti mendekatkan-nya dengan Loly.
“Mas.. Putra kita..” Tawa Zahra merasa sangat terharu.
“Ya sayang.. Putra kita sehat.” Saut Faza sambil mengusap air mata yang menetes membasahi pipinya.
Dokter Cindy ikut tersenyum melihatnya. Sebenarnya dokter Cindy merasa kasihan pada Zahra yang sepenglihatan-nya selalu ditekan oleh Sinta.
Setelah mengetahui jenis kelamin janin yang sedang dikandung Zahra, Faza langsung memberitahu mamahnya.
Sinta yang mendengar itu semakin merasa kesal. Menginginkan cucu pertamanya laki laki sebenarnya hanya alibi saja. Sinta sengaja mencari cari kesalahan Zahra agar bisa menyingkirkan Zahra dari hidup Faza.
“Aku langsung berangkat lagi ke kantor ya sayang.. Kamu langsung istirahat setelah ini..” Senyum Faza saat mobilnya berhenti didepan gerbang.
Zahra tersenyum dan menganggukan kepalanya. Zahra merasa sangat lega sekarang. Janin yang dikandungnya laki laki. Seperti yang di inginkan Sinta. Dan sekarang Sinta sudah tidak lagi punya alasan untuk menekan-nya.
“Mas hati hati ya.. Jangan pulang kemalaman.” Titah Zahra lembut.
“Aku nggak janji. Tapi aku akan mengusahakan supaya bisa pulang cepat hari ini.”
Faza melajukan pelan mobilnya memasuki pekarangan rumahnya setelah pak satpam membukakan pintu. Pria itu ikut turun saat Zahra turun dari mobil. Satu kecupan lembut dikening Zahra dapatkan dari Faza yang kemudian kembali masuk kedalam mobilnya dan berlalu menjauh dari kediaman mereka.
Zahra menghela napas. Entah seperti apa respon Sinta setelah tau tadi. Tapi Zahra berharap itu bisa menjadi jembatan baginya mendapat restu dari Sinta.
“Nyonya...”
Zahra menoleh ketika mendengar suara mbak Lasmi. Senyumnya mengembang lagi menatap mbak Lasmi yang membawa dua kresek besar belanjaan dikedua tangan-nya.
“Eh mbak. Darimana?” Tanya Zahra pada mbak Lasmi.
“Ini saya dari alfamaret depan nyonya. Susu nyonya habis jadi saya yang beli.” Jawab mbak Lasmi.
Zahra mengangguk pelan. Dulu sebelum sesibuk sekarang selalu Faza yang membelikan-nya. Tapi sekarang sudah tidak bisa lagi. Pekerjaan suaminya selalu menumpuk setiap hari membuatnya tidak bisa menghandle semuanya.
__ADS_1
“Makasih ya mbak udah dibeliin.”
“Sama sama nyonya.”
“Ya sudah yuk masuk.” Ajak Zahra yang di angguki oleh mbak Lasmi.
Keduanya kemudian masuk kedalam rumah beriringan dengan Zahra yang berada didepan.
------------
“Tante kenapa?” Tanya Loly melihat Sinta yang tampak kesal setelah mengangkat telepon dari Faza siang ini.
Loly sebenarnya sangat penasaran dengan apa yang dibicarakan Faza sehingga mood Sinta terlihat langsung berubah jelek.
“Tante kesal.” Jawab Sinta dengan helaan napas.
“Kesal? Kesal kenapa Tante?” Tanya Loly lagi. Loly benar benar semakin penasaran dibuatnya.
“Barusan Faza memberitahu tante kalau ternyata mereka baru melakukan USG. Dan kamu Loly? Janin yang dikandung Zahra itu laki laki. Sekarang tante nggak tau lagi harus bagaimana. Semua keberuntungan sepertinya selalu berpihak pada Zahra. Heran tante.”
Loly diam diam tersenyum. Ide gila itu muncul darinya. Tapi Tuhan sepertinya sedang menuntun-nya perlahan keluar dari kesalahan-nya. Zahra mengandung anak laki laki yang artinya Sinta sudah tidak bisa lagi mengelak. Sinta harus menerima calon dan cucu menantunya dengan suka rela.
“Sekarang alasan apa lagi yang harus tante katakan coba?” Sinta berdecak, memejamkan sesaat kedua matanya sambil menarik napas dan menghembusnya kasar.
“Eemm.. Kalau menurut aku sih untuk sementara tante tenang saja dulu. Tante tidak perlu memikirkan cara apapun lagi sampai anak yang dikandung Zahra lahir.”
Sinta menyipitkan kedua matanya mendengar apa yang Loly katakan. Sinta kembali merasa aneh dengan sikap Loly yang mulai tidak lagi seperti diawal kesepakatan mereka.
“Loly, apa maksud kamu?” Tanya Sinta tidak mengerti.
Loly tampak berpikir. Loly tidak ingin sampai kebablasan berbicara sampai membuat Sinta tau perubahan rencananya sekarang.
“Eemm.. Jadi gini maksud aku tante. Kan sekarang Zahra itu sedang mengandung anaknya mas Faza. Cucunya tante. Ya kalau tante terlalu menekan Zahra yang ada nanti kondisi Zahra memburuk. Zahra jadi setres dan itu pasti akan berimbas pada janin yang sedang dikandungnya. Tante nggak mau kan cucu tante sampai kenapa napa?”
Sinta terdiam dan tampak berpikir kemudian mengangguk pelan. Sinta membenarkan apa yang Loly katakan. Cucunya memang harus baik baik saja sampai lahir nanti.
__ADS_1
“Kamu benar Loly..” Katanya pelan.
Loly tersenyum mendengarnya. Loly merasa dirinya harus berusaha lebih keras lagi untuk bisa keluar dari kesalahan yang membuatnya seperti dipenjara oleh sikap Sinta.