PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 218


__ADS_3

“Siapa yang mengizinkan anda masuk kedalam rumah saya?!”


Faza tersenyum sinis ketika tiba tiba Santoso muncul dari balik tembok diruang tamu. Mungkin pria itu hendak mengejar putra sulungnya yang marah besar padanya tadi. Begitu yang ada dipikiran Faza sekarang.


Faza menghela napas menatap Santoso dengan tatapan santai.


“Nadeo yang menyuruh saya untuk masuk.” Jawabnya enteng sambil mengedikkan kedua bahu tegapnya.


“Nadeo...” Lirih Santoso.


Pria itu baru ingat putra bungsunya tadi mengejar Nanda yang pergi begitu saja setelah bertengkar dengan-nya.


“Nadeo.. Dimana Nadeo..”


Santoso mulai gelagapan sendiri. Pria itu tidak tau harus bagaimana sekarang. Nadeo pasti mengejar Nanda yang menggunakan motor gedenya.


Enggan meladeni kedatangan Faza, Santoso pun bergegas dan melewati Faza begitu saja untuk mencari keberadaan putra bungsunya. Pria itu bahkan berteriak menyebut nama Nadeo yang tidak menyaut.


Santoso juga bertanya pada pak satpam yang malah kebingungan karna sama sekali tidak melihat Nadeo keluar dari pekarangan rumah majikan-nya tersebut.


“Nadeo dimana kamu nak !!”


“Nadeo !!”


Santoso terus berteriak. Namun si empunya nama yang diteriaki semakin menyembunyikan dirinya didalam mobil Faza. Bocah itu ketakutan dengan suara lantang sang ayah yang disalah artikan olehnya.


Ya, Nadeo mengira Santoso meneriaki namanya karena marah seperti pada Nanda tadi. Padahal sebenarnya Santoso berteriak karena sangat mengkhawatirkan-nya.


“Ternyata selain tidak berguna sebagai suami anda juga tidak berguna sebagai ayah ya?”


Santoso berhenti meneriaki nama putra bungsunya ketika mendengar apa yang Faza katakan. Pria itu menoleh menatap Faza yang sudah berdiri dengan santai diambang pintu utama rumahnya.


Rahang Santoso mengeras. Faza sedang memancing emosinya.


Dengan langkah lebar Santoso mendekat pada Faza. Pria itu juga mencengkram kasar kerah jas hitam yang dikenakan oleh Faza yang dengan jelas dilihat oleh putra bungsunya tanpa Santoso sadari.

__ADS_1


Sedang Faza, Faza tetap terlihat tenang. Faza tidak ingin gegabah dan mencontohkan yang tidak baik pada Nadeo yang sedang berada didalam mobilnya.


“Apa maksud anda berbicara seperti itu hah?!” Marah Santoso.


Faza tersenyum sinis. Dengan tenang Faza meraih tangan Santoso melepaskan cengkraman-nya dan menghempaskan kedua tangan Santoso dengan kasar.


“Saya yakin anda tau apa maksud saya. Dan untuk yang terakhir kalinya saya meminta baik baik pada anda, jangan pernah ganggu istri saya lagi. Dan untuk semua barang yang anda kirimkan istri saya tidak butuh barang barang murahan seperti itu. Karna saya bisa membelikan yang jauh lebih bagus dari apa yang anda kirimkan.”


Kedua mata Santoso menatap nyalang pada Faza. Pria itu merasa direndahkan sekarang.


Saat Santoso hendak melayangkan tinjunya, Faza langsung menangkisnya kemudian menghempaskan-nya tanpa sedikitpun berniat untuk balas memukul Santoso. Faza tau batasan karna mereka berdua sedang diawasi oleh Nadeo. Bocah kecil polos yang tidak seharusnya melihat kekerasan apapun didepan-nya.


“Satu kali saja anda memukul saya, Saya jamin anda akan sangat menyesal seumur hidup anda.” Tekan Faza tajam.


Napas Santoso langsung memburu. Wajahnya merah menahan amarah. Sebenarnya Santoso sudah menyiapkan kata kata saat Faza mendatanginya. Tapi karna pertengkaran-nya dengan Nanda si putra sulungnya kata kata itu hilang entah kemana. Dan sekarang apa yang Santoso rencanakan seperti berbalik menyerangnya sendiri. Santoso menjadi marah tanpa bisa terkontrol.


“Satu lagi. Apa yang anda katakan tentang Siska dan saya pada Zahra itu tidak akan mempan. Karena pada kenyataan-nya Zahra hanya mencintai saya, dan begitu juga sebaliknya.”


Faza tersenyum sinis setelah berkata demikian. Pria itu kemudian melangkah meninggalkan Santoso yang dikuasai oleh amarah menuju mobilnya.


Santoso yang sudah sangat dikuasai amarah menendang, melempar dengan brutal semua barang barang yang Faza kembalikan padanya. Santoso benar benar tidak menyangka jika semuanya akan berbalik dan malah menghancurkan-nya.


“Nadeo.. Aku harus cari Nadeo sekarang juga..” Gumam Santoso.


“Aku tidak menyangka ayahku bisa begitu jahat.”


Faza yang sedari fokus dengan kemudinya menoleh sebentar mendengar apa yang Nadeo katakan.


Faza tersenyum. Semua itu jelas menguntungkan-nya. Meskipun sebenarnya Faza juga tidak berniat membuat Santoso terlihat buruk dimata anak anaknya.


“Dulu papah sangat lembut.. Perhatian dan tidak suka berteriak marah saat memanggilku. Bahkan pada kak Nanda. Ayah selalu memanjakan dan menuruti apapun yang kak Nanda mau tanpa syarat apapun.” Lanjut Nadeo yang seperti sedang menumpahkan rasa kecewanya setelah melihat bagaimana sikap sang ayah yang tidak pernah dia tau selama ini.


“Mungkin ayahmu sedang banyak masalah, Nadeo..” Faza tidak ingin memperburuk citra seorang ayah dimata anaknya. Karna bagaimanapun juga dirinya sekarang adalah seorang ayah juga.


“Tapi tadi ayah juga hampir saja memukulmu kak.. Apa kamu tidak marah?” Tanya Nadeo yang membuat Faza tersenyum tipis.

__ADS_1


Faza diam. Faza tidak ingin berbohong karena sebenarnya Faza tidak bisa menerima apa yang baru saja Santoso lakukan padanya.


“Bahkan kak Nanda juga sempat ditampar sama ayah tadi..”


Mendadak nada suara Nadeo melirih. Bocah itu menunduk sedih setelah tau bagaimana temperamentalnya sang ayah. Nadeo bahkan juga ikut merasa takut melihat tatapan nyalang juga tajam pria yang tidak lain adalah ayahnya sendiri itu.


“Aku bahkan juga sangat takut saat ayah berteriak marah memanggilku tadi.” Katanya lagi.


“Sudahlah.. Tidak usah dibahas. Lebih baik sekarang kamu tunjukan arah rumah bunda kamu..”


Nadeo menghela napas kemudian mulai mengarahkan jalan kearah rumah bundanya pada Faza.


Selama dalam perjalanan Nadeo sama sekali tidak mengatakan apapun selain mengarahkan jalan pada Faza.


Setelah mereka sampai tepat didepan gerbang kediaman mantan istri Santoso, Faza langsung membunyikan klakson mobilnya membuat satpam segera membukakan pintu gerbang untuknya.


“Terimakasih sudah mengantarku sampai rumah dengan selamat kak.. Tapi sepertinya kak Nanda tidak pulang kerumah. Motornya tidak ada.”


Faza mengedarkan pandangan-nya ke seluruh halaman rumah mantan istri Santoso dan disana memang tidak ada motor gede warna hijau milik Nanda.


“Mungkin dia sedang mencari ketenangan. Bertemu dengan pacarnya mungkin.”


Nadeo menoleh padanya.


“Bunda tidak memperbolehkan kak Nanda untuk pacaran dulu sebelum jadi sarjana.”


Faza melongo. Bagaimana mungkin remaja seumuran Nanda mau mendengarkan larangan seperti itu. Sedang Faza juga pernah merasakan bagaimana rasanya menjadi remaja seperti Nanda.


“Ya sudah kak aku turun dulu kalau begitu. Kakak mau mampir dulu?” Tawar Nadeo sebelum turun dari mobil Faza.


“Oh tidak.. Tidak perlu. Aku ada kerjaan setelah ini.” Tolak Faza dengan senyuman dibibirnya.


“Ya sudah kalau begitu. Salam buat kak Zahra ya kak.. Sekali lagi terimakasih sudah mengantar aku pulang. Jangan bilang ayah aku ikut kakak yah.. Aku takut ayah marah.”


Faza tertawa pelan. Bagaimana mungkin Faza mengatakan sesuatu yang tidak penting pada Santoso.

__ADS_1


“Oke..” Angguk Faza.


__ADS_2