PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 198


__ADS_3

Faza benar benar membantu Zahra mengurus Fahri secara langsung. Untungnya Faza memiliki Reyhan yang tanggap menangani apa saja selama Faza tidak ada diperusahaan.


“Capek yah?” Tanya Faza pada Zahra yang sedang menyusui Fahri. Faza juga mengusap lembut bahu Zahra yang duduk disofa diseberang ranjang mereka.


“Nggak kok.. Capek apa memangnya? Kan semua yang ngerjain mbak Lasmi.. Yang mandiin dan gantiin pampers Fahri dari tadi kan juga kamu mas.. Harusnya aku yang nanya sama kamu, kamu capek nggak bantuin aku ngurusin anak kita?”


Faza tersenyum mendengarnya. Menurut Faza apa yang dilakukan-nya tidaklah sepadan dengan pengorbanan yang sudah Zahra lakukan. Zahra sudah mengandung berbulan bulan menahan pegal pada sekujur tubuhnya. Zahra juga sudah bertaruh nyawa saat berjuang melahirkan Fahri kedunia ini.


“Nggak kok sayang.. Nggak capek. Aku malah seneng bisa bantuin kamu..” Jawab Faza pelan.


Zahra tersenyum. Senang rasanya karna Faza begitu peka. Faza selalu ada disampingnya, membantunya mengurus putra mereka.


“Kayanya Fahri udah lelap deh sayang.. Kamu makan sesuatu yah, aku ambilin..” Ujar Faza penuh perhatian.


“Tapi aku masih kenyang banget mas.. Kan aku udah sarapan sama minum vitamin tadi pagi..”


Faza menghela napas kemudian tersenyum.


“Itu kan tadi pagi sayang.. Sekarang sudah menuju siang loh.. Saatnya kamu ngemil sesuatu. Kamu mau aku ambilin apa? Biscuit atau buah?”


Zahra menatap Faza yang begitu sangat memperhatikan-nya. Sangat langka memang mengingat Faza yang selalu saja sibuk dengan pekerjaan-nya selama menjadi direktur di perusahaan tempatnya bekerja.


“Eemm.. Ya udah aku mau buah aja mas.. Anggur yang hijau ya..” Senyum Zahra.


“Siap mamah.. Papah segera ambilkan. Tunggu lima menit.” Kata Faza memberi hormat pada Zahra kemudian bangkit dari duduknya disamping Zahra dan melangkah cepat keluar dari kamar mereka untuk mengambilkan buah sesuai yang Zahra inginkan.


Zahra tertawa melihat tingkah suaminya. Kebahagiaan-nya terasa sangat lengkap sekarang. Apa lagi Faza juga sangat memperhatikan-nya sejak kelahiran Fahri.


Saat Faza sedang berlari menuruni anak tangga, Faza mendengar suara yang sangat tidak asing ditelinganya sedang mengobrol dengan mbak Lasmi.


“Kaya suara Loly..” Gumam Faza penasaran.

__ADS_1


Faza kemudian melangkah menuju sumber suara. Benar saja, ada Loly diruang tamu bersama mbak Lasmi.


“Kamu..”


Loly yang sedang mengobrol bersama mbak Lasmi menoleh mendengar suara Faza begitu juga dengan mbak Lasmi.


Loly tersenyum kemudian mendekat pada Faza.


“Aku baru tau Zahra sudah melahirkan mas. Aku kesini untuk melihatnya. Dimana Zahra sekarang?” Senyum Loly bertanya menatap Faza yang berada tepat didepan-nya.


Faza menyipitkan kedua matanya. Tiba tiba ucapan Fadly terngiang kembali ditelingan-nya.


Mendadak Faza khawatir. Faza takut Loly merasa kesal hingga akhirnya dendam pada Fadly yang sudah menyakitinya. Faza khawatir Loly berniat melakukan sesuatu pada istri dan anaknya.


“Eemm.. Zahra sedang beristirahat dan tidak bisa diganggu.” Jawab Faza berbohong.


Ekspresi Loly yang semula terlihat sangat sumringah langsung terlihat sendu. Loly menghela napas kemudian menganggukan kepalanya.


“Ya sudah kalau begitu. Aku pulang aja deh.. Salam ya buat Zahra sama baby nya. Dan itu aku bawain hadiah buat anak kalian. Semoga kalian suka yah.. Aku pulang..”


Mbak Lasmi yang tau Faza sedang berbohong hanya diam saja. Meskipun sebenarnya mbak Lasmi terus bertanya tanya mengapa Faza berbohong pada Loly yang jelas jelas datang dengan niat baik. Yaitu menjenguk Zahra dan bayinya.


Setelah Loly keluar dari kediaman-nya Faza menghela napas. Faza kemudian memutar tubuhnya dan melangkah menuju dapur. Faza kembali dengan niat awalnya yaitu mengambilkan buah untuk Zahra.


Setelah mengambil buah anggur hijau seperti yang di inginkan Zahra, Faza pun kembali naik ke lantai dua rumahnya tanpa sedikitpun memperdulikan paperbag berukuran besar berisi kado pemberian dari Loly yang dibawa oleh mbak Lasmi. Faza tau bohong adalah kesalahan. Tapi mengingat apa yang Fadly katakan membuat Faza merasa harus berjaga jaga. Faza tidak ingin jika Loly sampai berbuat macam macam pada istri juga anaknya. Keduanya adalah prioritas utama untuk Faza.


“Kok lama banget? Katanya tadi cuma lima menit?” Tanya Zahra yang baru saja meletakan Fahri di ranjang bayinya.


Faza hanya tersenyum sambil meletakan sepiring kecil buah anggur diatas meja didepan sofa tempat dirinya duduk.


“Tadi ada Loly. Dia nanyain kamu sama anak kita.” Ujar Faza memilih untuk berbicara apa adanya tentang kedatangan Loly tadi.

__ADS_1


“Terus Loly nya mana? Kok nggak disuruh kesini aja?”


Faza menghela napas.


“Aku bilang sama dia kamu sedang istirahat dan tidak bisa diganggu.” Ujar Faza membuat Zahra mengeryit.


“Kok begitu?” Tanya Zahra bingung.


“Aku keinget aja sama apa yang Fadly katakan semalem sayang.. Fadly bilang kalau setelah apa yang dia lakukan Loly tidak balas dendam itu artinya Loly adalah perempuan yang baik. Tapi jika tiba tiba Loly balas dendam, itu artinya Loly adalah perempuan yang memang tidak pantas untuk dicintai.” Jawab Faza.


Kedua mata Zahra melebar mendengarnya. Zahra merasa keberatan dengan apa yang Faza ucapkan kata Fadly.


“Nggak bisa begitu dong mas.. Harusnya Fadly itu minta maaf sama Loly. Bukan malah menjelekkan Loly dan secara tidak langsung memprovokasi kita supaya kita juga menjauh dari Loly. Loly sudah benar benar berubah loh. Dia sudah menjadi orang baik.” Protes Zahra tidak setuju.


Faza menganggukan kepalanya.


“Ya.. Tapi sayang, aku juga sedikit parno. Karna apa yang sudah Fadly lakukan pada Loly itu sangat keterlaluan.”


“Lah itu kamu tau adik kamu keterlaluan. Harusnya kamu kasih tau dia buat minta maaf sama Loly. Bukan malah ikut ikutan menjauhi Loly yang sudah berubah. Jangan pada egois kenapa sih?”


Faza mengerucutkan bibirnya. Niatnya ingin berjaga jaga malah mendapat omelan dari istrinya.


“Iya iya maaf...” Katanya mengalah.


Zahra berdecak kesal. Zahra kemudian melangkah mendekat pada Faza dan mendudukan dirinya tepat disamping Faza. Zahra mulai memakan buah yang diambilkan suaminya.


Pukul 13: 15 Menit Nadia dan Aries datang beserta dengan Arka, putranya. Mereka membawa banyak barang bawaan yang diperuntukan untuk Zahra dan putranya. Keduanya memang diberitahu oleh Faza saat Zahra melahirkan. Bukan tidak mau menghubungi, tapi karna Faza begitu kalut sehingga hanya mengingat sang papah saja.


Karna hal itu Aries tidak terima dan mengomeli Faza yang diterima dengan lapang dada oleh Faza. Meskipun dirinya sebenarnya tidak sepenuhnya salah namun Faza memilih diam saat Aries mengomelinya.


“Mas.. Jangan keterlaluan begitu dong marahin Faza.. Mungkin Faza punya alasan tidak langsung menghubungi kita..” Ujar Nadia mengusap lengan Aries.

__ADS_1


“Apapun alasan-nya, tidak memberi kabar padaku tentang kelahiran Fahri adalah kesalahan.” Tegas Aries.


Sedang Zahra, dia hanya bisa menghela napas merasa kasihan pada Faza yang begitu pasrah saat Aries memarahinya.


__ADS_2