
Reyhan hampir saja mendapat bogeman mentah dari Rasya karena membuat Tina masuk rumah sakit.
Rasya juga tuan Renaldi sangat marah begitu mendapat kabar itu dari Reyhan.
Bagaimana tidak? Tina pergi dengan Reyhan dalam keadaan baik baik saja namun tiba tiba masuk rumah sakit karena tidak sadarkan diri yang Reyhan sendiri tidak tau apa sebabnya.
Tina tiba tiba pingsan saat Reyhan menanyakan apakah dirinya mau menikah dengan Reyhan atau tidak.
“Bagaimana keadaan adik saya dokter? Dia baik baik saja kan dok?” Tanya Rasya pada dokter yang baru saja selesai memeriksa keadaan Tina.
Dokter paruh baya berperut buncit itu tertawa pelan sebelum menjawab pertanyaan Rasya padanya.
“Semuanya baik baik saja tuan. Anda tidak perlu khawatir. Pasien tidak sadarkan diri karena shock berat.”
Rasya mengeryit bingung. Bagaimana mungkin dokter bisa mengatakan bahwa adiknya baik baik saja sedangkan sekarang saja adiknya masuk rumah sakit.
“Tapi dia pingsan dok.” Rasya benar benar tidak percaya dengan penjelasan dokter sekarang.
“Ya tuan.. Tapi semuanya normal.”
Rasya menoleh menatap Reyhan yang hanya diam saja. Pria itu berdecak kesal. Rasya bersumpah akan membunuh Reyhan jika sampai adik kesayangan-nya mengalami hal yang buruk.
“Bisa saya masuk dok?” Tanya Rasya kembali menatap dokter didepan-nya.
“Tentu saja. Silahkan.” Senyum dokter itu menganggukan kepalanya.
Rasya kemudian masuk kedalam ruangan tempat adik kesayangan-nya berada diikuti oleh Renaldi, sang papah.
Reyhan menghela napas. Entah apa yang terjadi pada Tina sehingga tiba tiba pingsan setelan Reyhan mengutarakan ke inginan hatinya untuk menikahinya.
Reyhan merasa sangat bersalah sekarang. Jika saja dirinya tidak menanyakan hal tersebut mungkin saja Tina tidak akan berada dirumah sakit seperti sekarang. Tapi Reyhan juga butuh kepastian. Apa lagi selama dekat Tina juga terlihat nyaman saat bersamanya.
“Kamu..”
Reyhan tersentak saat mendengar suara seorang wanita yang cukup tegas juga dingin. Reyhan menoleh dan menemukan Bunda Tina dan Rasya sudah ada tidak jauh dari tempatnya berdiri.
“Nyonya..” Reyhan menganggukan pelan kepalanya sebagai rasa hormatnya pada wanita tersebut.
“Dimana Renaldi dan Rasya?” Tanya nya.
Ya, wanita itu tau bahwa Reyhan sedang dekat dengan putri bungsunya.
__ADS_1
“Tuan ada di dalam nyonya..” Jawab Reyhan pelan.
Wanita itu menatap Reyhan sebentar kemudian masuk kedalam ruangan dimana sekarang Tina berada.
“Papah, kakak, Bunda...”
Tina mengeryit bingung melihat ketiganya yang sudah berdiri disisi kanan dan kiri brankar tempatnya berbaring. Namun disana tidak ada sosok yang sangat ingin Tina lihat. Siapa lagi kalau bukan Reyhan.
“Mana Reyhan?” Tanya Tina kemudian.
Rasya dan Renaldi saling menatap sebentar kemudian kembali menatap pada Tina.
“Bagaimana keadaan kamu dek? Bagian mana yang sakit?” Tanya Rasya lembut.
Tina bingung. Tina tidak merasa sesuatu terjadi padanya. Hanya saja Tina tidak tau kenapa tiba tiba dirinya berada diruangan serba putih dengan bau obat obatan menyengat tersebut. Padahal yang Tina tau dirinya sedang berada di restoran dan makan malam berdua bersama Reyhan.
“Aku baik baik saja kak. Dimana Reyhan?”
Rasya menghela napas merasa sedikit kesal karena sejak tadi yang ditanyakan oleh Tina tetap saja Reyhan. Namun Renaldi yang ada disamping kanan Tina tersenyum dan mengangguk pelan seperti meminta agar Rasya memaklumi sikap adiknya kali ini.
“Reyhan ada diluar.” Jawab Rasya.
“Aku harus ketemu sama Reyhan sekarang. Aku harus keluar.”
Bundanya yang melihat itu kebingungan. Wanita itu merasa sangat aneh. Putrinya begitu sangat cepat melangkah dan terlihat baik baik saja.
“Ren.. Ada apa ini sebenarnya? Kenapa dengan Tina?” Tanya wanita itu pada mantan suaminya.
“Aku juga nggak tau. Tapi Rasya memberitahu padaku bahwa Tina masuk rumah sakit.” Jawab Renaldi.
Bunda Tina menghela napas. Wanita itu kemudian melangkah menyusul Tina yang sudah keluar dari ruangan tersebut.
“Reyhan.”
Itu suara Tina.
Reyhan dengan cepat mengangkat kepalanya. Pria itu diam menatap Tina yang berdiri di ambang pintu.
“Tina...”
Tina tertawa pelan. Tina akui dirinya memang sangat konyol. Ditengah rasa bahagianya mendapat pertanyaan yang sangat dia harapkan dari Reyhan dirinya malah pingsan bahkan sampai harus dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1
“Aku nggak bisa lagi memikirkan apapun Rey.. Pertanyaan itu membuat aku kehilangan akal bahkan sampai kesadaran. Dan aku mengakui itu adalah sesuatu yang sangat aku tunggu..” Ujar Tina sambil melangkah mendekat pada Reyhan yang baru saja berdiri dari kursi tunggu.
Reyhan masih diam. Hatinya terlanjur merasa tidak enak pada Rasya dan Renaldi dan itu mempengaruhi cara pikirnya sekarang.
“Aku minta maaf sudah membuat khawatir.. Tapi aku tidak apa apa. Aku baik baik saja Rey.. Aku pingsan mungkin karena terlalu bahagia.. Dan tentang pertanyaan kamu yang itu.. Aku.. Aku mau..” Senyum Tina begitu sampai tepat didepan Reyhan.
Reyhan masih diam dengan ekspresi yang sama. Reyhan juga mendengar apa yang Tina katakan. Tapi rasa khawatirnya akan keadaan Tina masih saja menguasainya.
Melihat ekspresi Reyhan yang hanya diam senyuman dibibir Tina pun langsung pudar. Tina berpikir mungkin Reyhan sudah berubah pikiran sekarang.
“Tina.. Aku rasa ini bukan saatnya kita membicarakan ini dulu. Sekarang yang terpenting adalah keadaan kamu.” Ucap Reyhan lirih.
“Reyhan tapi aku mau.. Aku mau menikah dengan kamu..”
Tina tidak ingin apa yang di impikan-nya selama ini berlalu begitu saja hanya karena kebodohan-nya. Karena Tina juga sangat mencintai Reyhan. Tina ingin bisa bersama dengan pria yang sangat dia cintai.
“Tina.. Dengar. Kita bisa bicarakan semua itu nanti. Sekarang lebih baik kamu tenang dulu.. Kamu harus baik baik saja.. Oke..”
Tina menggeleng. Tina langsung menangis mendengar apa yang Reyhan katakan. Tina takut Reyhan berubah pikiran dan tidak mau jika kesempatan-nya untuk bersama Reyhan hilang begitu saja.
“Apa apaan ini?!”
Suara tegas bunda Tina begitu menggelegar ditelinga Reyhan. Dan itu berhasil membuat Reyhan langsung panas dingin ditempatnya.
“Tina kenapa kamu menangis? Apa yang Reyhan lakukan sama kamu?” Tanya wanita itu dengan tatapan tajam yang mengarah pada Reyhan.
Tina buru buru mengusap air matanya. Tina kemudian menundukan kepalanya. Sekarang Tina juga takut Reyhan akan disalahkan oleh bundanya.
“Enggak bunda.. Aku nggak papa..” Geleng Tina pelan dengan suara serak.
Reyhan memejamkan sesaat kedua matanya. Posisinya sekarang sedikit sulit menurutnya. Reyhan berniat mengutarakan keinginan-nya pada Tina lebih dulu sebelum kemudian datang dengan Faza kerumah Renaldi secara langsung.
“Lalu kenapa kamu menangis?” Tanya bunda Tina lagi.
Tina diam disamping Reyhan. Semuanya berantakan karena kekonyolan-nya.
“Eemm.. Jadi begini nyonya. Saya melamar Tina tadi tapi nggak tau kenapa tiba tiba Tina kehilangan kesadaran-nya. Karena saya panik akhirnya saya membawa Tina kerumah sakit dan menelepon pak Rasya.”
Dengan sisa keberanian-nya akhirnya Reyhan berani untuk jujur. Tidak perduli apapun respon wanita itu karena Reyhan tidak mau Tina mendapat kemarahan dari bunda nya.
“Kamu melamar adikku?”
__ADS_1
Rasya yang baru muncul dari dalam ruangan tempat Tina ditangani dokter tampak sangat terkejut mendengarnya. Pria itu menatap tidak percaya pada Reyhan yang begitu berani jujur didepan bundanya.