PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 268


__ADS_3

Faza dan Zahra membiarkan saja Fahri bersama mbak Lasmi dan bi Tatik. Keduanya hanya melihat dari jendela kaca yang ada diruang tamu.


Faza dan Zahra sesekali tertawa melihat mbak Lasmi dan bi Tatik yang begitu semangat mengajak Fahri mengobrol. Padahal jelas jelas Fahri bahkan belum bisa memahami apa yang mereka katakan.


Sorenya mereka memutuskan untuk pulang. Dan lagi lagi Zahra dan Faza dibuat tertawa karena tingkah bi Tatik dan mang Dadang. Mereka sampai meneteskan air mata karena tidak rela Fahri pulang.


“Kapan kapan kita bisa kesini lagi kok bi, mang..” Senyum Faza menatap bi Tatik dan mang Dadang bergantian.


“Ya tuan.. Kami hanya senang saja disini ada tuan muda.. Rasanya menjadi ramai dan hangat.” Kata mang Dadang sembari mengusap air mata yang membasahi pipinya.


Faza menggelengkan kepalanya pelan dengan senyuman yang terus menghiasi bibirnya.


Faza kemudian menyuruh mbak Lasmi juga Zahra untuk lebih dulu ke mobil.


Setelah Zahra dan mbak Lasmi keluar dari rumah, Faza mengeluarkan sesuatu dari saku celana hitamnya.


“Bi, mang.. Ini saya ada sedikit buat mamang dan bibi. Terimakasih sudah merawat dan mengurus rumah kami..”


Mang Dadang dan bi Tatik saling menatap saat Faza menyodorkan amplop yang terlihat tebal itu.


Keduanya tidak pernah mengharapkan apapun karena dengan sudah diberikan tempat tinggal yang layak saja mang Dadang dan bi Tatik sudah sangat bersyukur juga sangat berterimakasih pada Faza.


“Tuan kami sangat senang bisa tinggal dirumah ini. Dan kami juga sangat berterimakasih karena tuan juga nyonya sudah mengizinkan kami berdua untuk tinggal dirumah ini. Jadi kami berdua berpikir tuan tidak perlu memberikan apapun lagi.. Kami sudah banyak berhutang budi pada tuan..” Ujar mang Dadang dengan sopan.


Faza tertawa pelan mendengarnya. Faza kemudian meraih tangan mang Dadang dan memberikan amplop berisi uang itu pada mang Dadang dengan menjabat tangan-nya.


“Saya sangat senang karena kalian berdua sudah merawat rumah ini. Tolong terima ya mang, bi.. Mungkin ini bisa kalian gunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari hari kalian. Dan untuk keperluan yang lain-nya tentang rumah ini kalian bisa langsung memberitahu saya.”


“Tuan tapi...”


“Istri saya akan sangat marah pada saya kalau saya membawa pulang kembali amplop ini..” Sela Faza tersenyum sambil melepaskan jabatan-nya.


Mang Dadang menatap amplop ditangan-nya kemudian menoleh pada bi Tatik yang berdiri disampingnya.


“Kami tidak tau harus bagaimana caranya berterimakasih pada tuan dan nyonya..”

__ADS_1


“Tidak perlu memikirkan apapun tentang itu. Kalau begitu saya pulang ya.. Sehat sehat kalian berdua. Mungkin saya akan sangat jarang kesini.”


Faza menepuk pelan bahu kecil mang Dadang kemudian keluar dari rumah itu yang langsung di ikuti oleh mang Dadang dan bi Tatik.


Mereka berdua mengantar Faza sampai depan rumah.


“Hati hati tuan.. Semoga Tuhan selalu melindungi tuan sekeluarga..” Ujar mang Dadang yang diangguki oleh bi Tatik.


Faza tertawa pelan dan menganggukan kepalanya.


“Aamiin.. Do'akan yang terbaik untuk keluarga saya ya bi, mang. Saya pulang.”


“Ya tuan...” Angguk keduanya kompak.


Faza kemudian melangkah menuju mobil dan masuk kedalamnya dimana sudah ada Zahra yang memangku Fahri dan mbak Lasmi yang duduk dikursi belakang.


“Kita pulang sekarang ya sayang..” Senyum Faza menatap Zahra.


“Oke..”


“Semoga Tuhan selalu melimpahkan segala yang terbaik untuk tuan dan nyonya ya bu.. Mereka sangat baik. Jarang sekali ada orang seperti tuan dan nyonya dijaman sekarang.” Gumam mang Dadang.


“Ya pak. Aamiin..” Angguk bi Tatik tersenyum kemudian masuk lebih dulu kedalam rumah meninggalkan mang Dadang yang kebingungan akan dipergunakan untuk apa uang dari Faza.


Apa lagi uang yang diberikan Faza bulan lalu juga masih tersisa banyak. Padahal mang Dadang sudah menggunakan-nya untuk membeli pupuk untuk bunga bunga di depan juga cat untuk memperbarui warna cat lama yang memang sudah sedikit kusam kemarin kemarin.


---------


“Nona, pak Fadly tidak mau pergi bahkan meski pak satpam sudah mengusirnya.”


Loly berdecak mendengar apa yang Mona katakan. Siang ini Fadly kembali datang keperusahaan-nya. Dan apesnya Loly sedang tidak ada diluar saat Fadly datang.


“Ya Tuhan.. Padahal aku udah laper banget Mona..” Loly meringis merasa sangat frustasi. Loly benar benar tidak tau harus bagaimana bersikap pada Fadly.


Bersikap lembut itu sangat tidak mungkin. Bersikap tegas dan selalu menghindar itu justru membuat Fadly semakin mengejarnya.

__ADS_1


“Kalau begitu biarkan saya yang membelikan makan siang untuk nona. Nona bisa tunggu disini dan kunci pintunya.”


Loly menghela napas. Loly tau Mona juga harus mengisi perutnya. Pasti akan merepotkan sekali jika Mona juga harus membeli dan menyiapkan makan siang untuknya. Bahkan mungkin Mona bisa kehabisan waktu makan siangnya.


“Tidak usah Mona.. Kamu makan siang sendiri saja.” Tolak Loly dengan senyuman dibibirnya.


Mona terdiam sesaat. Mona berpikir tentang Fadly yang memang akhir akhir ini begitu agresif pada Loly. Bahkan setiap hari jika sudah waktunya makan siang Fadly pasti datang dengan niat baik ingin mengajak Loly untuk makan bersamanya.


Mona menjadi berpikir mungkin Fadly sedang merasakan cinta setelah kebencian.


“Ya sudah nona. Kalau begitu saya permisi.”


“Oke...” Angguk Loly dan Mona pun berlalu keluar dari ruangan-nya.


Loly mulai berpikir bagaimana caranya membuat Fadly jera dan tidak lagi mendekatinya.


“Apa aku harus pura pura punya pacar saja supaya Fadly menyerah? Tapi siapa yang mau menjadi pacarku? Apa aku harus membayar orang untuk melakukan sandiwara?”


Loly bertanya tanya sendiri. Fadly benar benar membuatnya sangat frustasi. Pria itu terus saja mengejarnya tidak perduli meskipun beberapa kali Loly membuatnya susah.


Fadly bahkan masih bisa tersenyum dan menggodanya meskipun saat di mall sudah banyak mengangkut barang barang yang dibeli Loly.


Loly kemudian berpikir Fadly tidak mungkin menyerah begitu saja mengingat tingkahnya yang akhir akhir ini memang sangat ajaib.


“Lepaskan. Saya bisa menyuruh calon istri saya memecat kalian jika kalian terus memegangi saya seperti ini !!”


Loly mengerjapkan beberapa kali kedua matanya saat suara keras Fadly bahkan sampai terdengar kedalam ruangan-nya.


Penasaran, Loly pun langsung bangkit dari duduknya kemudian melangkah cepat menuju pintu.


Saat Loly membuka pintunya, Loly terkejut melihat tiga satpam yang sedang mencoba menahan Fadly. Dua satpam memegangi tangan kanan dan kiri Fadly, sedang satunya menaiki punggung Fadly seperti anak kecil yang sedang meminta digendong.


Loly melongo melihat pemandangan didepan-nya. Fadly bahkan masih bisa tegak berdiri meskipun satu satpam naik ke punggungnya.


“Sayang lihatlah.. Apa kamu tidak berniat memecat mereka yang sudah begitu kurang ajar pada calon suamimu ini?”

__ADS_1


__ADS_2