
Pukul 10 malam Faza baru sampai dirumahnya. Faza turun dari mobilnya dengan sangat tidak semangat. Dan semua itu tentu saja karna permintaan Mahendra padanya.
“Selamat malam tuan...”
Faza hanya mengangguk dengan senyuman tipisnya ketika mbak Lasmi menyapa. Faza benar benar sedang sangat bingung sekarang.
“Zahra mana mbak?” Tanya Faza ketika hendak menaiki anak tangga pertama.
“Nyonya sudah tidur tuan.. Tuan sudah makan? atau mau saya siapkan makan malam?”
Faza tersenyum lagi kemudian menggelengkan pelan kepalanya.
“Nggak usah mbak, saya sudah makan tadi. Makasih yah..”
“Ya tuan..”
“Saya langsung ke atas ya mbak.. Jangan lupa kunci pintu sama matiin lampunya.”
“Baik tuan...”
Satu persatu anak tangga Faza lalui dengan pelan untuk sampai dilantai dua dimana kamarnya dan Zahra berada.
Begitu sampai dikamar Faza tersenyum mendapati Zahra yang sudah terlelap dengan sangat damai diatas ranjang mereka.
Faza tidak langsung mendekat pada Zahra dan memilih untuk lebih dulu membersihkan dirinya kekamar mandi. Setelah dirasa dirinya bersih, Faza pun naik keatas tempat tidur dan mencium lama kening Zahra.
“Mmmhh..” Zahra melenguh ketika merasakan ciuman Faza dikedua pipi juga keningnya. Pelan pelan Zahra membuka kedua matanya dan mendapati Faza yang sedang tersenyum menatapnya.
“Mas.. Kamu udah pulang?” Tanyanya pelan.
“Ya sayang...” Balas Faza kemudian mencium bibir Zahra sebentar.
Zahra hanya diam dan pasrah saat Faza menciumnya. Wanita itu kemudian memeluk Faza dengan erat. Mendadak rasa kantuknya menghilang seketika.
“Mas.. Ada yang pengin aku bicarain sama kamu. Ini tentang mantan bos aku dulu... Pak Santo.”
Faza mengeryit mendengar apa yang Zahra katakan. Faza juga tau siapa Santoso. Dia adalah bos direstoran yang pernah menjadi tempat kerja istrinya beberapa bulan lalu. Namun Faza merasa kurang suka dengan pria itu yang sepertinya mempunyai rasa pada istrinya.
__ADS_1
“Memangnya kenapa dengan dia?” Tanya Faza melepaskan pelukan Zahra, menatap lekat kedua mata istrinya meskipun dengan cahaya temaram kamar mereka.
Zahra menghela napas pelan. Zahra tidak ingin Faza juga salah paham pada hubungan-nya dengan Santoso dulu yang memang hanya sebatas bos dan karyawan saja dulu.
“Tina cerita sama aku tadi siang tentang pak Santo dan istrinya yang sekarang sudah bercerai mas...”
“Terus?” Tanya Faza dengan sangat lembut juga penasaran.
Zahra menghela napas sekali lagi.
“Tina bilang salah satu penyebab mereka bercerai adalah karna pak Santo kedapatan menyimpan photo aku di dompetnya.” Jawab Zahra.
“Apa?” Faza terkejut. Bahkan sangat. Faza adalah seorang pria dewasa yang tau apa arti dari seorang pria yang menyimpan photo wanita dalam dompetnya.
“Katanya sampai sekarang istrinya maksud aku mantan istrinya pak Santo masih menyalahkan aku...”
“Aku bener bener nggak nyangka kalau kejadian-nya bakal kaya gini mas.. Padahal aku nggak pernah macem macem. Aku kerja dengan baik dan tidak pernah mempunyai maksud yang lain..”
Faza diam. Jika Santoso sampai rela bercerai dengan istrinya itu artinya perasaan Santoso pada Zahra sangat kuat.
“Tadi siang juga sebelum kamu dateng aku dan Tina secara tidak sengaja bertemu dengan pak Santo mas.. Nggak tau kenapa dia seperti tau bahwa kami baru saja membicarakan tentang dia.”
“Aku cerita ini semua sama kamu karna aku nggak mau kamu sampai salah paham nantinya mas.. Aku harap kamu percaya sama aku..”
Faza tersenyum kemudian mencium lagi kening Zahra lama.
“Tentu saja aku percaya sama kamu sayang..” Katanya lembut.
Zahra tersenyum mendengarnya. Zahra berharap selamanya kepercayaan itu akan terus menjaga hatinya juga hati Faza.
“Sekarang giliran aku yang bicara.. Ini tentang pekerjaan aku sayang...”
“Memangnya kenapa dengan kerjaan kamu mas? Ada masalah.”
Faza menggeleng pelan.
“Bukan di kerjaan masalahnya. Tapi dihati aku..”
__ADS_1
Zahra mengeryit tidak mengerti dengan maksud suaminya.
“Jadi pak Mahendra meminta aku untuk menemui Client nya di Amerika dua hari lagi..”
Zahra diam dan terus menatap Faza mendengarkan apa yang sedang dikatakan suaminya dengan seksama.
“Di Amerika aku nggak sebentar sayang.. Paling tidak satu minggu. Itu juga baru perkiraan aku. Sedangkan kamu sekarang sedang hamil besar. Aku nggak mungkin meninggalkan kamu hanya dengan mbak dan pak satpam dirumah. Sedangkan kalau kamu sama mamah kamu pasti tidak akan merasa nyaman.”
Ekspresi Zahra berubah sendu. Zahra tau suaminya sedang bingung sekarang. Meski sebenarnya Zahra akan baik baik saja meskipun hanya ada mbak Lasmi dan pak Satpam yang menemaninya dirumah.
“Mas...” Zahra meraih pipi tirus Faza dan membelainya dengan lembut.
“Aku sebenarnya enggak papa sama mbak sama pak Satpam dirumah.. Aku juga memang rasanya nggak sanggup jika harus ada mamah disini.. Kamu tau sendiri bagaimana mamah kan? Jadi kalau memang kamu mau ke Amerika nggak papa kok. Asal komunikasi kita enggak ada kendala apapun. Kan walaupun kita jauh nanti itu hanya sebentar. Dan lagi, kita bisa video call kan? Jadi kamu nggak perlu bimbang atau bingung.”
Faza tertawa pelan. Pria itu meraih tangan Zahra yang membelai pipinya kemudian menciumnya lama dengan kedua mata terpejam.
“Jadi kamu tidak papa kalau aku pergi?” Tanya Faza.
“Tentu saja.. Pekerjaan kamu kan juga penting mas.. Lagi pula aku nggak mau ke khawatiran kamu sama aku berimbas pada karir kamu. Aku paham mas untuk mencapai titik sekarang itu kamu nggak mudah..”
Faza tersenyum menatap wajah Zahra. Zahra berpikir sangat dewasa kali ini.
“Tapi mas, boleh tidak kalau aku minta mas buat ngomong ke kak Aries dan kak Nadia supaya mereka nginep disini selama mas di Amerika?”
“Boleh saja.. Besok pulang kerja aku bakalan kesana dan meminta kak Aries dan kak Nadia buat temenin kamu selama aku di Amerika..”
Zahra tersenyum bahagia mendengarnya. Zahra kemudian kembali berhambur memeluk Faza erat. Saking eratnya bahkan janin dalam kandungan-nya sampai menendang perut Faza.
“Ya Tuhan...” Faza terkejut ketika merasakan gerakan yang seperti tendangan pada perutnya saat Zahra memeluknya. Pria itu kemudian tertawa dan melepaskan lembut pelukan erat Zahra.
Faza bangkit dari berbaringnya menatap perut besar Zahra. Pria itu tertawa melihat perut istrinya yang bergerak gerak begitu jelas.
“Sayang.. Kamu terlalu erat memelukku. Dan sepertinya anak kita protes karna itu.” Ujar Faza membuat Zahra tertawa.
“Hari ini memang dia sangat aktif mas.. Dia terus bergerak bahkan saat aku tidur sampai aku terbangun.”
Faza menggeleng takjub. Pria itu mengusap lembut perut Zahra yang akhirnya berhasil membuat pergerakan janin dalam kandungan Zahra berhenti secara perlahan.
__ADS_1
“Sudah malam nak.. Maaf kalau papah mengusikmu tadi..” Bisik Faza kemudian mencium lama perut Zahra.
Zahra tersenyum bahagia melihatnya. Kehidupan rumah tangganya dan Faza memang tidak selalu tentram. Karena masalah juga terkadang menghampiri. Namun selama masalah itu tidak menyangkut pada penghianatan Zahra yakin dirinya dan Faza akan tetap bisa bertahan.