PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 83


__ADS_3

Dimeja makan Sinta terus saja menyanjung nyanjung Loly. Sinta juga memamerkan kemahiran Loly yang katanya bisa melakukan segala hal sendiri tanpa ingin merepotkan orang lain.


“Bagaimana nasi gorengnya Faza? Enak kan?” Tanya Sinta pada Faza yang sedang menyantap nasi goreng dipiringnya. Nasi goreng yang Faza kira dimasak oleh mamahnya atau mbak Lasmi.


“Ya mah..” jawab Faza malas.


Zahra yang berada disamping Faza hanya diam saja. Sesekali Zahra melirik Faza juga nasi goreng yang sedang dinikmati suaminya itu. Zahra yakin pasti nasi goreng itu bukan masakan mbak Lasmi. Makan-nya Zahra sama sekali tidak menyentuhnya.


“Hahahaa.. Kamu pasti suka banget kan nak? Ini tuh Loly yang masak. Dia sengaja bawa kesini supaya bisa sarapan sama sama dengan kita.”


Mendengar itu Faza hampir saja tersedak. Dengan sigap Faza meraih segelas air putih dan menenggaknya hingga menyisakan setengahnya.


“Apa?” Faza sangat terkejut.


Sedangkan Loly, dia terus tersenyum karna mendapat pujian berlipat dari Sinta didepan Faza juga Zahra.


“Loly sudah repot repot masak loh sayang buat kita.. Kamu makan yang banyak ya..”


Rahang Faza mengeras. Kedua tangan-nya yang berada diatas meja mengepal karna emosi yang mulai menguasainya. Faza tidak habis pikir, mamahnya bisa begitu santai mengatakan sesuatu yang sangat tidak disukai oleh Faza.


“Kamu..”


“Mamah cukup. Aku sudah kenyang.” Potong Faza tegas.


Senyuman dibibir Loly dan Sinta seketika luntur. Mereka tau Faza sedang marah.


“Ayo sayang..”


Faza meraih tangan Zahra dan mengajaknya untuk bangkit. Faza tidak tau harus bagaimana melarang mamahnya untuk keluar masuk seenaknya membawa Loly kerumahnya.


“Loh kok.. Mas..” Loly mencoba untuk menahan tapi Faza tetap berlalu dengan menuntun Zahra dari meja makan.


“Sudah biarkan saja Loly..”


“Tapi tante, mas Faza baru sarapan sedikit..” Loly hendak bangkit namun segera ditahan oleh Sinta.


“Sudah biarkan.. Kalau kita kejar nanti Faza marah. Diamkan saja. Yang penting Faza sudah memakan nasi goreng yang kamu buat dan mengatakan rasanya enak.” Senyum Sinta.


Loly diam kemudian menganggukan kepala dengan disertai helaan napas.


“Ya tante..” Jawabnya pelan.


Sinta tertawa pelan.

__ADS_1


“Sabar ya sayang.. Faza pasti akan menyadarinya tidak lama lagi. Kamu satu satunya yang terbaik untuk dia.”


Loly tersenyum menatap Sinta.


“Makasih ya tante udah percaya sama aku.”


Sementara itu Faza mengajak Zahra melangkah menuju dapur menghampiri mbak Lasmi yang saat itu juga sedang menikmati sarapan paginya.


“Mbak Lasmi.” Panggil Faza tegas.


“Saya tuan..”


Mbak Lasmi langsung bangkit dari duduknya dan menundukan kepala menghadap pada Faza juga Zahra.


“Mas kamu nggak boleh marah marah sama mbak.. Dia pasti juga nggak tau apa apa. Kamu kan tau sendiri bagaimana mamah sama Loly..”


Zahra berusaha membela mbak Lasmi karna takut mbak Lasmi terkena imbas kemarahan Faza karna apa yang dilakukan mamahnya juga Loly.


Faza menoleh dan menatap sesaat pada Zahra. Menurut Faza apapun alasan-nya mbak Lasmi juga salah karna tidak langsung memberitahunya begitu mamahnya dan Loly datang.


“Kenapa mbak nggak kasih tau saya dan Zahra saat mamah saya dan Loly datang?” Tanya Faza menatap tajam pada mbak Lasmi yang sama sekali tidak berani mengangkat kepala untuk menatapnya.


Mbak Lasmi tidak langsung bisa menjawab. Mbak Lasmi ketakutan karna nada pertanyaan yang dilontarkan oleh Faza.


Faza mendesis kesal. Memarahi mbak Lasmi juga tidak akan membuat mamahnya dan Loly pergi.


“Mbak udah nggak papa.. Tapi lain kali kalau ada mamah sama Loly kesini mbak segera kasih tau saya ya...”


Zahra berusaha tetap tenang. Zahra mengusap pelan bahu mbak Lasmi mencoba meredakan rasa takutnya karna pertanyaan tajam Faza.


“Udah mbak bisa lanjutin lagi sarapan-nya..” Lanjut Zahra.


Faza menghela napas kasar. Pria itu benar benar sangat kesal pada mamahnya dan Loly pagi ini.


“Mas aku buatin sandwich aja ya.. Sebentar. Mas duduk dulu..”


Zahra meraih kursi dan mendekatkan pada Faza menuntun suaminya untuk duduk dan menunggu sembari dirinya membuatkan sandwich.


“Nyonya biar saya saja yang membuatnya.” Mbak Lasmi menawarkan diri membantu Zahra.


“Nggak usah mbak.. Mendingan mbak lanjutin lagi sarapan-nya. Siapin tenaga buat melakukan pekerjaan penting setelah ini.” Senyum Zahra mengedipkan sebelah matanya memberi kode pada mbak Lasmi.


Mbak Lasmi tampak kebingungan. Wanita itu kemudian berdiri dibelakang Faza yang sedang menunggu dibuatkan sandwich untuknya sarapan.

__ADS_1


Selesai membuat sandwich, Zahra dan Faza memakan-nya sama sama didapur dengan mbak Lasmi yang juga kembali melanjutkan sarapan-nya. Mereka tidak perduli dengan apa yang sedang Loly dan Sinta lakukan dimeja makan.


“Kamu hati hati ya mas dijalan.. Jangan ngebut ngebut..” Ujar Zahra ketika membereskan piring bekas makan-nya dan Faza untuk ditaruh ditempat pencucian piring.


Mbak Lasmi yang berada diantara mereka hanya diam saja dan fokus dengan pekerjaan-nya mencuci beras untuk memasak nasi.


“Aku nggak akan berangkat ke kantor sebelum mamah dan Loly pergi dari sini.” Tegas Faza.


Zahra merengut. Kalau Faza tidak kunjung berangkat itu artinya rencananya untuk kembali mengerjai Loly akan gagal.


“Tapi kan mas.. Nanti mas telat loh kekantor.. Mas kan harus memberikan contoh yang baik untuk bawahan mas..”


“Aku nggak perduli. Aku nggak mau kamu ditindas sama mamah dan Loly.” Balas Faza tidak mau dibantah.


Zahra mengerucutkan bibirnya. Padahal Zahra sudah memikirkan ide yang menurutnya bagus untuk memberi pelajaran pada Loly pagi ini.


“Kan ada mbak Lasmi mas.. Aku nggak sendiri kok. Aku bisa hadapi mamah sama Loly..” Zahra tidak mau kehilangan moment itu, yaitu mengerjai Loly.


“Zahra benar Faza. Kamu tenang saja, mamah nggak akan lakuin hal yang buruk kok sama istri kamu..”


Zahra dan Faza menoleh menatap Sinta yang entah sejak kapan sudah berada diambang pintu dapur.


Tidak lama kemudian Loly muncul dengan membawa setumpuk piring kotor ditangan-nya. Loly tersenyum manis pada Faza sembari melangkah menuju tempat piring kotor berada.


Zahra yang melihat itu tersenyum. Zahra kemudian memulai aksinya untuk mengerjai Loly dengan berpindah berdiri disebelah kiri kursi yang diduduki suaminya. Ketika Loly melangkah hendak melewatinya, Zahra memasang kakinya menghalangi Loly hingga akhirnya Loly tersandung dan jatuh terjerembab kelantai dengan posisi yang membuat Faza sampai menahan tawa begitu juga dengan mbak Lasmi.


“Awh...” Loly meringis begitu merasakan sakit dibagian siku juga lututnya.


“Loly !!”


Sinta yang terkejut segera mendekat dan membantu Loly kembali berdiri.


“Kamu nggak papa?” Tanya Sinta khawatir.


“Aku nggak papa tante..” Geleng Loly berusaha untuk menahan sakit.


Zahra mati matian menahan tawanya yang rasanya hampir saja meledak. Zahra tidak menyangka jatuhnya Loly akan sekonyol itu.


“Udah mending sekarang kita pulang saja.. Ayo.. Tante yang bawa mobilnya.” Kata Sinta menuntun Loly melangkahkan keluar dari dapur.


Namun sebelum benar benar berlalu dari dapur, Loly menoleh dan menatap tajam pada Zahra yang malah tersenyum mengejek menantangnya.


“Awas kamu Zahra.” Batin Loly menahan amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2