PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 183


__ADS_3

Sampai malam Loly terus menangis didepan Zahra. Loly menceritakan segala apa yang dirasakan-nya pada Zahra dengan air mata yang bercucuran dari kedua matanya.


Sementara Zahra yang menjadi pendengar hanya bisa mengusap usap bahu bergetar Loly. Zahra tidak tau kenapa tiba tiba Fadly bersikap seperti itu. Tapi Zahra juga tidak mau berprasangka buruk pada Fadly. Zahra yakin Fadly pasti mempunyai alasan tersendiri.


Sampai Faza pulang Loly masih berada disana. Loly bahkan masih menangis karena tidak kuat dengan beban hatinya.


“Ada apa ini sebenarnya? Loly.. Kamu kenapa menangis seperti ini?”


Loly tidak kuasa menjawab pertanyaan Faza. Loly menggeleng kemudian menutup wajahnya menggunakan kedua telapak tangan-nya.


Faza semakin bingung dan bertanya tanya tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi pada Loly.


Faza menatap Zahra yang berada disamping Loly dengan tatapan penuh tanda tanya. Namun Zahra menggelengkan pelan kepalanya. Zahra tidak mungkin menceritakan kembali apa yang didengarnya dari Loly pada Faza tepat didepan Loly yang sedang menangis.


Faza menghela napas. Rasanya benar benar aneh karna tiba tiba Faza mendapati Loly sedang menangis dirumahnya dengan Zahra yang terus mengusap usap bahunya berusaha untuk menabahkan.


Tidak tega menyuruh Loly pulang, Faza pun ikut duduk diruang tamu menemani Loly yang terus saja menangis. Faza bisa memaklumi itu dan Faza juga berpikir mungkin dengan menangis beban yang sedang dirasakan oleh Loly bisa sedikit berkurang.


Faza bahkan sampai rela menahan lapar karena tau apa yang sedang terjadi pada Loly pasti karna adiknya, Fadly.


Faza terus mencoba sabar menahan rasa laparnya juga menahan agar perutnya yang keroncongan tidak berbunyi. Sebenarnya Faza sudah mulai merasakan pening di kepalanya. Tentu saja karna rasa lapar yang dia tahan.


Faza bahkan berpikir apakah istrinya dan Loly tidak merasakan apa yang sedang dia rasakan. Mereka bisa betah duduk hampir 2 jam bahkan mungkin lebih karna saat Faza masuk Loly sudah menangis dengan Zahra yang ada disampingnya.


Tidak lama mbak Lasmi datang dengan membawa dua piring bolu kentang yang masih mengepulkan asap diatasnya.


Melihat itu kedua mata Faza langsung berbinar. Saking senangnya Faza bahkan langsung meraih sepotong bolu kentang panas itu dan melahapnya. Faza bahkan tidak perduli dengan rasa panas yang terasa membakar rongga mulutnya. Faza tetap mengunyahnya meskipun sesekali Faza harus membuka mulut karna rasa panas tersebut.

__ADS_1


Zahra yang melihat tingkah suaminya diam diam tertawa geli. Zahra tau suaminya pasti sedang sangat kelaparan. Tapi Zahra juga tidak sampai hati meninggalkan Loly yang terus saja menangis. Beruntung mbak Lasmi sangat pengertian sehingga dengan inisiatifnya sendiri menyuguhkan dua piring bolu yang sepertinya baru keluar dari panggangan.


Namun ternyata bukan hanya Zahra saja yang menyadari itu. Loly pun juga melihat tingkah konyol Faza sehingga tanpa sadar dia tertawa dalam tangisnya.


“Suami kamu nyebelin banget sih Ra?” Ujar Loly dengan nada tanya yang membuat Zahra mengeryit bingung.


Padahal yang membuat Loly menangis adalah Fadly tapi sekarang yang dikatakan menyebalkan justru suaminya, Faza.


“Loh, kenapa jadi ke aku?” Tanya Faza dengan mulut penuh bolu.


“Ya kamu ngapain makan bolu sambil megap megap begitu? Sudah tau bolunya masih panas langsung saja diembat.”


Faza meringis. Kesal sebenarnya karna bagaimanapun juga penyebab dirinya menahan lapar adalah Loly yang terus saja menangis. Kalau saja bukan Fadly yang membuat Loly menangis, Faza tidak akan perduli. Tapi karna Fadly yang membuat Loly menangis itu membuat Faza sebagai kakak perlu tau apa penyebabnya.


“Ya sudah kalau begitu aku pulang yah? Makasih banget kamu udah mau dengerin keluh kesah hati aku.. Aku nggak bermaksud mengadukan tentang Fadly sama kamu Ra.. Aku hanya butuh teman untuk mencurahkan segala apa yang aku rasa..”


“Bagaimana kalau kita makan malam dulu? Mbak pasti sudah membuatkan makan malam untuk kita.” Ujar Zahra pelan.


Loly menggelengkan kepala dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


“Tidak perlu. Terimakasih untuk tawaran-nya. Mungkin lain kali saja. Aku harus pulang sekarang. Mommy dan Daddy ku pasti sudah menungguku dirumah.”


Zahra menatap pada Faza yang hanya diam disofa tunggal. Zahra kemudian menatap kembali pada Loly yang masih menggenggam tangan-nya.


“Sekali lagi makasih banget ya Ra.. Sekarang kita temen yah..”


Itu bukan sebuah pernyataan bukan pula pertanyaan. Itu adalah permintaan yang benar benar tulus dari hati Loly.

__ADS_1


“Teman?” Tanya Zahra bingung.


“Ya.. Kamu mau kan temenan sama aku? Ya aku tau aku dulu jahat banget. Aku bahkan pernah loh berniat menjebak mas Faza.. Aku yakin kamu ataupun mas Faza tau. Makanya dari lubuk hati yang paling dalam aku bener bener tulus minta maaf sama kalian berdua. Aku sadar apa yang aku lakukan salah.. Aku minta maaf mas, Zahra.”


Sekali lagi Zahra menoleh menatap pada Faza yang hanya diam saja. Zahra tidak tau menau tentang Loly yang berniat menjebak Faza dulu. Tapi pengakuan Loly berhasil membuat Zahra sedikit percaya bahwa Loly memang sudah benar benar berubah.


Zahra menghela napas kemudian membalas genggaman tangan erat Loly. Zahra tersenyum menatap Loly yang masih menunggu jawaban atas permintaan Loly untuk menjadi teman Zahra.


“Loly.. Jujur aku dulu juga kesal banget sama kamu. Kamu selalu mencari gara gara sama aku. Kamu bertingkah seolah aku selalu salah dan kamu yang paling benar dan baik didepan mamah.. Tapi aku nggak pernah merasa dendam sama kamu. Aku bisa maklum kok, mungkin karna sekarang kamu sadar sih. Tapi ya sudahlah.. Ya lalu tidak perlu lagi di ungkit. Dan tentang teman.. Aku nggak keberatan berteman sama kamu.”


Senyum Loly melebar mendengar ucapan Zahra. Loly kemudian memeluk Zahra yang langsung mendapat balasan dari Zahra.


“Makasih ya Ra.. Kamu baik banget. Aku sudah salah menilai kamu selama ini. Aku dibutakan oleh cinta yang salah...”


“Iya.. sama sama..” Balas Zahra tersenyum dibalik punggung Zahra.


Loly memejamkan kedua matanya. Lagi lagi dirinya menyadari kesalahan-nya karna Fadly. Jika Fadly tidak bersikap begitu kejam padanya mungkin Loly tidak akan datang pada Zahra. Loly juga tidak akan mungkin mencurahkan segala beban dihatinya dengan menangis. Fadly.. Pria itu benar benar berperan penting dalam kesadaran Loly akan semua kesalahan-nya.


Loly kemudian melepaskan pelukan-nya. Loly mengusap air matanya kemudian tertawa. Hatinya terasa sedikit tenang sekarang setelah semua beban itu dia curahkan pada Zahra.


“Aku pulang yah..” Lirihnya.


“Ya.. Hati hati..” Saut Zahra menganggukan kepalanya.


Loly kemudian menatap pada perut besar Zahra. Dengan sangat hati hati Loly mengusapnya.


“Hey kamu yang didalam sana.. Cepat keluar yah.. Aunty akan kasih hadiah untuk kamu nanti.” Katanya pada perut Zahra.

__ADS_1


Zahra tertawa mendengarnya begitu juga dengan Faza. Keduanya merasa lega karna akhirnya satu orang yang pernah berencana merusak hubungan-nya sudah benar benar sadar akan kesalahan-nya.


__ADS_2