PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 35


__ADS_3

Ketika Faza sampai didepan kedai, Zahra langsung pamit pada Tina untuk pulang lebih dulu.


“Tumben banget ngopi..”


Zahra hanya diam saja enggan membalas ucapan suaminya. Rasa kesal masih menguasai hatinya karna Faza yang tidak memahami perasaan-nya.


“Ah ya sayang, aku ada beliin kamu sesuatu. Tapi aku taruh ditas. Aku harap kamu suka yah..”


Zahra mengeryit. Tidak biasanya Faza membelikan sesuatu padanya tanpa lebih dulu bertanya.


“Aku mau diet.”


“Oh ini bukan makanan sayang..”


Zahra mengeryit bingung.


“Terus?”


“Nanti juga kamu tau.” Senyum Faza.


Zahra berdecak kesal. Zahra kemudian naik keboncengan Faza setelah Faza memakai helmnya.


“Sudah?”


“Ya...” Jawab Zahra.


“Oke, kita pulang sekarang.”


Faza mulai melajukan motornya dengan Zahra yang memeluk erat pinggangnya. Meskipun sedang marah Zahra memang selalu memeluk pinggang Faza jika berada diatas motor.


Sekitar 25 Menit perjalanan mereka sampai dirumah. Zahra segera turun dan melangkah menuju pintu untuk membukanya. Tidak ada sepatah katapun yang keluar dari bibir Zahra selama mereka dalam perjalanan pulang bahkan sampai mereka dirumah.


“Mas mau makan apa?” Tanya Zahra ketika Faza hendak masuk kedalam kamar mandi.


Faza tersenyum. Istrinya tetap saja perhatian padanya meski sedang marah.


“Kamu nggak usah masak sayang. Kita makan diluar saja gimana?”


Zahra menoleh menatap Faza yang tersenyum padanya. Zahra menghela napas kesal kemudian menutup kembali pintu kulkas yang dibukanya.


“Kita harus bisa hemat. lagian aku sudah beli banyak bahan makanan. Aku masih bisa masak.” Ujar Zahra menatap Faza datar.


“Ya sudah kalau begitu.” Faza tetap tersenyum meski Zahra menolak secara tidak langsung ajakan-nya untuk makan malam diluar.


“Ah ya.. Aku taruh bingkisan yang aku maksud tadi diatas kasur.”

__ADS_1


Faza masuk kedalam kamar mandi setelah berkata demikian. Faza tau Zahra pasti tidak akan suka. Faza hanya ingin memastikan bahwa istrinya jauh lebih segalanya dari Anita yang berpenampilan sexy hari ini.


Zahra mengeryit penasaran. Tapi Zahra kemudian berpikir rasa penasaran-nya harus bisa dia kesampingkan. Yang terpenting sekarang adalah dirinya memasak lebih dulu untuk makan malam Faza juga dirinya.


Zahra berdecak pelan kemudian membuka pintu kulkas dan mulai meraih beberapa bahan makanan untuk dia olah.


Dalam diam Zahra memasak makan malam untuknya dan Faza yang masih berada didalam kamar mandi. Setelah selesai, Zahra segera menatanya diatas meja makan dan duduk diam menunggu Faza selesai.


“Eemmm.. Wanginya enak banget.”


Faza tersenyum melihat hidangan sederhana diatas meja makan. Hanya ada sayur capcay dan ikan suir pedas. Tapi dibalik kesederhanaan itu ada keistimewaan karna Zahra sendiri yang memasak untuknya.


Faza menarik kursi dan mendudukinya. Zahra masih tidak mau berbicara padanya.


“Sudah lihat isi dari bingkisan itu?”


Faza hanya bertanya saja. Faza sendiri tau Zahra belum membukanya. Bahkan Faza yakin Zahra juga belum melihatnya.


“Belum. Nanti aja.” Jawab Zahra pelan sambil mengambilkan nasi kepiring Faza.


Faza menghela napas. Entah harus bagaimana dirinya menyikapi kediaman Zahra sekarang. Faza berpikir cara Zahra menyikapi Faza yang selalu kontek dengan teman teman wanitanya sangatlah berlebihan. Padahal Zahra sendiri tau Faza hanya mencintainya.


“Makasih sayang...”


“Hem..”


“Zahra...”


Merasa tidak nyaman dengan kediaman istrinya, Faza pun memutuskan untuk mengurungkan niatnya menyantap makan malamnya.


Zahra tetap diam namun melayangkan pandangan-nya pada Faza yang seperti ingin mengatakan sesuatu.


“Aku mohon sama kamu tolong ngertiin aku.”


Zahra mengeryit.


“Apa maksud kamu mas?” Tanya Zahra tidak mengerti.


“Tentang teman teman aku. Kami hanya mencoba tetap menjalin hubungan pertemanan yang baik. Tidak ada maksud lain. Adapun Anita, dia itu wakil manager, dia rekan kerja aku yang memang harus selalu terhubung. Tapi itu hanya untuk kepentingan pekerjaan.”


“Lalu bagaimana dengan Rosa?” Tanya Zahra kemudian.


“Dia hanya teman sekelas aku dulu saat masih SMA. Kamu juga pasti kenal kan?”


“Ada kepentingan apa sama Rosa sampai harus makan siang bareng terus bercanda bercanda dengan begitu bahagianya tanpa aku tau..”

__ADS_1


Faza mengeryit.


“Makan siang sama Rosa? Kapan?”


Zahra memutar jengah kedua bola matanya. Anita mengirimkan photo Faza dan Rosa yang sedang tertawa tawa bahagia sambil makan siang bersama direstoran dekat perusahaan tempat Faza bekerja.


Zahra mengeluarkan ponselnya dari saku celana kemudian menunjukan apa yang Anita kirimkan padanya pada Faza.


“Masih nggak ingat ini?” Tanya Zahra.


Faza tersenyum melihatnya. Anita mungkin sengaja mengirim photo itu pada Zahra agar mereka bertengkar.


“Aku baru membukanya tadi siang. Aku pikir ini hanya pesan tidak penting dari nomor orang iseng. Tapi ternyata pesan ini penting buat aku tau. Kamu dan Rosa makan siang begitu bahagia tanpa aku tau.”


Faza tidak bisa menahan tawanya. Kali ini Zahra benar benar menunjukan kecemburuan-nya.


“Jadi kamu marah marah karna kamu cemburu?”


Zahra menggelengkan kepalanya tidak mengerti dengan jalan pikiran suaminya.


“Istri mana yang tidak cemburu melihat suaminya berduaan dengan teman lamanya yang cantik dan sexy ditempat umum dengan tawa bahagia seolah menunjukan pada dunia bahwa hubungan kalian begitu indah.”


Faza menghela napas kemudian meraih tangan Zahra.


“Kamu ragu sama aku?” Tanya Faza pelan.


Zahra diam. Zahra sendiri tidak bisa membedakan antara keraguan-nya pada Faza juga kecemburuan-nya.


“Zahra dengar aku. Waktu itu aku sedang menghindar dari Anita. Aku tidak bodoh Zahra. Aku tau Anita sedang mencoba menarik perhatian aku. Dan saat itu kebetulan ada Rosa. Aku samperin dia dan mengabaikan Anita supaya Anita berhenti memupuk perasaan-nya sama aku. Mungkin Anita marah dan mengambil diam diam photo aku sama Rosa kemudian mengirimnya ke kamu.”


Zahra menatap tepat pada kedua bola mata Faza mencoba mencari kebohongan lewat tatapan Faza. Tapi hanya kejujuran yang Zahra lihat.


“Tapi kenapa harus dengan Rosa? Kenapa tidak dengan teman laki laki saja? Aku nggak suka mas..”


Zahra ingin menangis rasanya. Faza menghindar dari Anita tapi mendekat pada Rosa. Benar benar seperti pria bodoh yang tidak bisa berpikir.


“Aku tidak punya pilihan lain. Saat itu Rosa melambai kearah ku sayang..”


Zahra melepaskan pelan genggaman tangan Faza.


“Kamu ngerti maksud aku nggak sih mas? Aku mau kamu jaga jarak dengan mereka. Aku tidak suka. Aku cemburu.”


Suara Zahra mulai bergetar dengan kedua mata berkaca kaca. Hidungnya mulai memerah karna menahan tangis.


Faza menatap Zahra sendu. Maksudnya dekat dengan teman teman-nya baik teman pria maupun wanita itu baik. Faza tidak ada sedikitpun niat menyakiti perasaan istrinya.

__ADS_1


Faza bangkit dari duduknya kemudian mendekat pada Zahra dan memeluknya dengan sangat lembut juga sesekali mencium puncak kepala Zahra.


“Aku minta maaf..”


__ADS_2