
Sore ini Sinta kembali menelepon Faza dan meminta Faza untuk kembali datang kerumahnya. Namun karna Zahra yang masih sedikit jutek padanya, Faza pun menolak dengan alasan sedang sangat capek dan tidak bisa mengendari motor dengan jarak yang terlalu jauh.
Setelah mengatakan alasan-nya, Faza pun menyudahi telepon-nya. Faza menghela napas kemudian menon aktifkan ponselnya. Faza tidak mau menerima telepon lagi dari sang mamah yang pasti akan berujung pada kebohongan yang akan menjadi alasan-nya untuk menghindar.
“Pak Faza..”
Faza menoleh pada Anita yang memanggilnya.
“Ya...” Saut Faza dengan wajah datar.
Anita tersenyum manis meskipun didalam hatinya begitu sakit dan kecewa.
“Ini ada undangan untuk pak Faza dan istri.”
Faza menerima undangan yang disodorkan oleh Anita. Pria itu membaca kedua nama yang tertera di sampul undangan berwarna pink tersebut.
“Kamu mau tunangan?”
Faza bertanya dengan wajah terkejut. Anita akan bertunangan.
“Ya pak. Tolong pak Faza datang ya.. Acaranya besok malam. Teman teman yang yang lain juga saya undang.”
Suara Anita sedikit bergetar saat mengatakan-nya. Anita terpaksa menerima pria yang dijodohkan dengan-nya oleh kedua orang tuanya karna tidak mau terus berharap pada Faza yang tidak mungkin bisa dia miliki.
Faza terdiam sesaat. Ekspresi Anita sama sekali tidak terlihat bahagia. Faza bahkan bisa melihat dengan jelas Anita yang tertekan dengan kedua mata berkaca kaca.
“Begitu ya? Oke, saya akan usahakan datang dengan istri saya.” Senyum Faza tipis.
“Kalau begitu saya permisi pak. Mari..”
“Silahkan..”
Anita berlalu sambil mengusap air matanya yang menetes di pipinya. Air mata yang sedari tadi Anita tahan saat menyodorkan undangan pada Faza. Berat bagi Anita untuk mengikhlaskan segalanya, menerima kenyataan bahwa pria yang selama ini dikaguminya bukanlah jodohnya.
Sementara Faza, pria itu menatap kembali undangan yang diberikan Anita. Entah kenapa melihat raut wajah penuh kesedihan Anita Faza merasa kasihan. Tapi Faza tidak ingin Anita salah paham jika Faza bertanya. Faza tidak ingin Anita semakin menaruh harapan padanya. Karna perasaan Anita padanya adalah salah jika tetap diteruskan.
Faza menghela napas.
“Kamu pasti akan bahagia dengan keputusan kamu Anita. Aku hanya bisa mendo'akan.” Lirih Faza.
__ADS_1
Faza kemudian bangkit dari duduknya setelah menyimpan undangan dari Anita dilaci meja kerjanya. Faza bermaksud untuk makan siang direstoran terdekat tempat biasa para karyawan mengisi perut nya yang keroncongan saat waktu istirahat siang tiba.
Tentang sikap Anita, beberapa hari ini sikapnya memang sedikit berbeda menurut Faza. Tepatnya sejak Faza bersikap tegas karna Anita yang mendekat secara tiba tiba padanya dengan pakaian terbuka seperti sengaja menggodanya. Faza sebenarnya tidak bermaksud marah. Faza hanya terkejut dan tidak suka dengan apa yang Anita lakukan. Sejak saat itu Anita menjadi pendiam dan hanya akan berbicara seperlunya saja. Tapi sikap Anita yang seperti itu justru membuat Faza merasa lebih nyaman.
Saat waktu pulang Faza melihat Anita yang sedang membuka bagian depan mobilnya. Anita juga terlihat kebingungan menatap apa yang ada didepan-nya. Faza yang mengerti segera mendekat pada Anita berniat untuk menolong.
“Mobilnya kenapa Anita?”
Pertanyaan Faza membuat Anita menoleh menatapnya.
“Ini pak tiba tiba nggak bisa di stater. Nggak tau kenapa, padahal baru kemarin di servis.” Jawab Anita dengan ekspresi sendu.
“Boleh saya lihat?” Tanya Faza mengajukan diri untuk membantu.
“Memangnya tidak merepotkan?” Tanya Anita yang merasa tidak enak.
“Tidak, tenang saja.”
”Oh baik, terimakasih sebelumnya pak.”
Faza hanya menganggukan kepalanya kemudian mulai mengecek mobil Anita.
Anita yang sedikit menyingkir tersenyum menatap Faza yang terlihat semakin mengagumkan jika sedang fokus dengan sesuatu. Faza pria yang baik dan Anita yakin bukan hanya dirinya yang mengagumi sosok Faza. Tapi menurut Anita tetap Zahra wanita yang paling beruntung karna bisa meluluhkan hati Faza.
Anita menganggukan kepalanya pelan. Padahal dirinya sedang buru buru karna sudah ada janji dengan calon tunangan-nya.
“Enggak papa kok pak, sudah dibantu saja saya sudah sangat berterimakasih.” Senyum Anita.
“Saya bisa naik taxi.” Lanjut Anita.
“Ya sudah kalau begitu. Kalau begitu saya duluan ya..”
Faza menutup bagian depan mobil Anita kemudian berlalu dari hadapan Anita.
Ketika Faza hendak mengenakan helmnya, Anita memanggilnya dan melangkah mendekat pada Faza yang berdiri disamping motor gedenya.
“Kenapa Anita?” Tanya Faza bingung.
“Pak, maaf sebelumnya. Boleh saya minta waktu pak Faza sebentar? Hanya lima menit saja. Ada yang mau saya bicarakan.”
__ADS_1
Faza terdiam sesaat. Lima menit waktu yang cukup singkat. Tapi bukan tentang singkat waktu itu yang Faza pikirkan sekarang, melainkan perasaan Anita yang akan salah mengerti jika Faza mengiyakan.
“Maaf Anita, saya sedang buru buru dan harus menjemput istri saya tepat waktu.” Jawab Faza.
“Hanya lima menit saja pak. Tidak akan lebih.”
Faza menelan ludahnya. Perasaanya sedikit tidak enak dengan ucapan bernada memohon Anita.
“Pak, tolong disini saja. Hanya lima menit.” Ujar Anita lagi.
Faza berpikir sejenak sebelum akhirnya menganggukan kepalanya.
“Baiklah. Apa yang bisa saya bantu?”
“Tolong dengarkan saya pak.”
Faza mengeryit bingung namun tetap diam saja.
Sedang Anita, dia memejamkan beberapa detik kedua matanya seperti sedang mengumpulkan keberanian-nya untuk mengatakan segala rasanya pada Faza.
“Saya tau saya salah pak. Tapi sebelum saya bertunangan saya ingin pak Faza tau. Saya mengagumi bahkan mencintai pak Faza sejak pertama kali kita bekerja bersama. Saya tidak memaksa pak Faza untuk balik mencintai saya. Saya hanya ingin mengatakan-nya untuk membuang beban dihati dan pikiran saya selama ini. Saya akan berusaha melupakan pak Faza dan mencintai tunangan saya.”
Faza terdiam. Faza bukan pria bodoh meskipun Faza telat menyadari bahwa Anita memendam perasaan padanya.
Faza menghela napas pelan kemudian menganggukan kepalanya.
“Saya mengerti. Dan terimakasih untuk rasa indah itu Anita. Saya harap kamu bisa melupakan saya dan mencintai tunangan kamu dengan tulus. Saya juga mendo'akan supaya kamu bahagia dengan tunangan kamu.” Senyum tipis Faza.
Anita meneteskan air mata meski bibirnya menyunggingkan senyuman. Anita mengangguk menyetujui apa yang Faza katakan.
“Do'akan saya ya pak..” Pintanya dengan suara bergetar.
“Ya...” Angguk Faza.
“Kalau begitu saya duluan.”
“Ya pak. Terimakasih atas waktunya.”
“Ya...”
__ADS_1
Faza kemudian mengenakan helmnya dan menaiki motornya kemudian melesat dengan cepat meninggalkan Anita yang tidak kuasa menahan air matanya.
Tubuh Anita meluruh ketanah dengan tubuh bergetar karna tangisan-nya. Berat, sakit, juga kecewa Anita rasakan saat itu. Tapi Anita tau itu memang yang terbaik untuknya.