PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 64


__ADS_3

Faza dan Zahra sampai tepat didepan hotel tempat Zahra tidak sengaja melihat sosok yang sangat mirip dengan papah mertuanya itu.


“Ini hotelnya?” Tanya Faza sambil menatap gedung menjulang tinggi didepan-nya.


“Iya mas..” Angguk Zahra.


Faza menghela napas. Dugaan Faza tentang apa yang papahnya sembunyikan entah kenapa semakin kuat terasa. Faza tidak terlalu memperhatikan gelagat papahnya yang memang selalu sibuk dan hampir setiap bulan keluar kota akhir akhir ini. Tapi setelah mendengar percakapan papahnya dengan seseorang saat itu Faza menjadi sedikit curiga. Apa lagi Zahra juga mengatakan hal yang semakin membuat Faza curiga pada papahnya itu.


“Mas..” Panggil Zahra pelan.


“Ya sayang..” Faza menoleh menatap Zahra yang berdiri disamping motornya.


“Kita mau masuk kedalam?” Tanya Zahra.


“Ya, kita akan masuk kedalam.”


Zahra terdiam sesaat. Entah kenapa Zahra tiba tiba merasa khawatir.


“Tapi...”


“Pokonya aku mau beli tas ini ya mas..”


Ucapan Zahra tersela oleh seorang wanita yang berhasil menarik perhatian Zahra juga Faza. Saat itu juga rahang Faza mengeras dengan tangan yang mencengkram erat setang motornya. Merasa sangat geram Faza pun segera turun dari motornya kemudian melangkah lebar menghampiri papahnya yang sedang melangkah bergandengan tangan dengan seorang wanita yang Faza tau adalah sekertaris papahnya sendiri.


“Papah.” Panggil Faza dengan suara lantang.


Papah Faza menoleh dan langsung berhenti melangkah begitu juga dengan wanita yang ada disampingnya. Sesaat pria yang masih terlihat tampan diusianya yang sudah tidak lagi muda itu terlihat terkejut namun kemudian tersenyum tipis seperti tidak merasa bersalah dengan apa yang sudah dilakukan-nya.


“Kamu duluan saja. Nanti saya akan menyusul ” Bisik papah Faza pada sekretarisnya yang menurut kemudian berlalu begitu Faza berdiri tepat didepan-nya.


“Faza.. Sudah papah duga.”

__ADS_1


Napas Faza mulai tidak beraturan karna emisi yang menguasainya sekarang. Papahnya tetap terlihat santai dan tenang meskipun perbuatan tidak terpujinya terlihat dengan jelas oleh anak sulungnya itu.


“Apa yang papah lakukan dibelakang mamah selama ini seperti ini?” Geram Faza dengan nada menekan disetiap katanya.


Papah Faza menghela napas kemudian menatap pada Zahra yang berdiri disamping motor putranya. Papah Zahra tersenyum. Kemarin dirinya juga melihat Zahra sedang mengobrol bersama teman-nya di kedai ice cream yang tidak jauh diseberang hotel tempatnya menginap. Papah Faza sudah menduga apa yang dilakukan-nya akan diketahui oleh Faza.


“Kita bicara didalam saja Faza. Ajak istrimu juga masuk.”


Benar benar seperti tidak terjadi apa apa. Papah Faza melangkah begitu cool memasuki lobi hotel berlalu dari hadapan Faza yang sudah dikuasai oleh emosinya.


Faza kemudian mendekat kembali pada Zahra dan meraih tangan istrinya menuntunnya untuk mengikuti sang papah yang sudah masuk lebih dulu kedalam hotel. Faza bahkan terus terdiam dan melangkah begitu lebar dan cepat tanpa menghiraukan Zahra yang tampak kesusahan melangkah mengimbanginya.


Begitu sampai dikamar tempat papahnya menginap Faza langsung menodong papahnya dengan berbagai pertanyaan tanpa perduli ada Zahra disampingnya.


“Kenapa papah lakukan ini pah? Apa salah mamah?”


Faza marah tapi juga sedih. Faza ingin menangis melihat kelakuan bejat papahnya sendiri. Pria yang selama hidupnya Faza banggakan karna selalu bisa tenang menghadapi sikap egois mamahnya.


Pertanyaan dan umpatan keluar dari mulut Faza tanpa sadar. Zahra yang ada disamping Faza hanya bisa diam dan mengusap lembut lengan suaminya berusaha untuk menenangkan-nya lewat sentuhan. Meski sesekali Zahra meringis merasakan cengkraman erat Faza ditangan-nya yang semakin terasa kencang.


Papah Faza tersenyum mendengarnya. Salah, tentu saja pria itu juga menyadarinya. Tapi bagaimanapun juga sabarnya papah Faza menghadapi ke egoisan istrinya, pria itu tetaplah manusia biasa yang tidak bisa menghindari godaan saat hatinya sedang terasa kosong.


“Duduk dulu Faza.” Katanya tenang.


Faza menggelengkan kepalanya. Tinjunya terasa sangat gatal ingin Faza layangkan pada pria yang sudah salah dia nilai selama ini. Pria yang tidak lain adalah papahnya sendiri, panutan yang Faza anggap hebat.


“Aku tidak sudi duduk ditempat kotor seperti ini pah.. Sekarang lebih baik papah sudahi semua ini sebelum mamah tau. Aku nggak mau kalau sampai mamah tersakiti karna kelakuan papah ini.”


Papah Faza tertawa pelan. Pria itu bisa membaca apa yang sekarang bersarang di otak putra pertamanya itu.


“Kamu tenang saja Faza. Tempat ini bersih. Tidak ada seorang pun yang masuk sebelum kamu dan istri kamu ini. Kalaupun ada paling hanya tukang bersih bersih. Papah masih tau batasan Faza.” Ujarnya tenang.

__ADS_1


Papah Faza menatap Faza dari atas sampai bawah sampai akhirnya tatapan-nya berhenti pada tangan Faza yang menggenggam dengan erat tangan kecil Zahra.


“Lepaskan genggaman tangan kamu pada istri kamu kalau kamu memang tidak ingin istri kamu terluka.” Saran-nya.


“Papah nggak usah menasehati aku. Aku tau apa yang harus aku lakukan. Papah saja bisa menyakiti mamah.”


Ucapan Faza membuat Zahra terkejut. Faza seperti sedang menunjukan pada papahnya bahwa dirinya juga bisa menyakiti wanita.


Papah Faza bangkit dari duduknya kemudian melangkah mendekat pada Faza dan berdiri tepat didepan Faza.


“Jangan mengikuti jejak papah. Istri kamu tidak seperti mamah kamu.” Katanya pelan.


“Kenapa? Papah tidak mau aku menyakiti perempuan tapi papah malah menyakiti mamah?”


Sesaat papah Faza menundukan kepalanya sebelum akhirnya kembali menatap Faza yang terus menatap penuh kebencian padanya.


“Perlu papah tau, bagi aku mamah adalah perempuan yang sangat berharga. Mamah tidak akan bisa dibandingkan dengan siapapun apapun alasan-nya.” Tekan Faza.


Entah kenapa mendengar itu Zahra merasa sakit. Zahra merasa tidak ada artinya untuk Faza sekarang. Zahra tau dirinya tidak pantas cemburu karna Faza mempunyai cinta yang berbeda untuknya dan Sinta. Tapi Zahra merasa ucapan Faza seolah sedang menjunjung mamahnya tapi lupa dengan keberadaan-nya.


“Semua anak akan menganggap seperti itu pada mamahnya Faza. Tapi papah yakin kamu pasti tau bagaimana mamah kamu. Papah melakukan ini bukan karna tidak mencintai mamah kamu. Papah hanya ingin ada perempuan yang benar benar bergantung pada papah. Perempuan yang bisa menghargai papah, percaya sama papah bahwa papah bisa. Tapi papah tidak menemukan itu pada mamah kamu. Mamah kamu hanya ingin selalu benar dan didengarkan. Bahkan untuk yang terbaik untuk kamu dan Fadly papah tidak pernah didengarkan. Semua harus mengikuti mamah kamu termasuk kamu juga Fadly. Papah yakin kamu juga merasakan itu Faza. Papah minta maaf sudah membuat kamu kecewa dengan apa yang kamu lihat. Tapi perlu kamu tau Faza papah tidak pernah melakukan apapun dengan bella. Papah hanya merasa senang dan nyaman karna dia menghargai dan mau mengandalkan papah.”


Faza tidak tau harus berkata apa sekarang. Ucapan panjang lebar papahnya memang benar. Mamahnya selalu mau menang sendiri dan selalu merasa paling benar. Tapi apapun alasan-nya Faza tetap tidak bisa memaklumi apa yang dilakukan oleh papahnya.


“Apapun alasan papah Faza tetap tidak bisa terima. Dan kalau sampai mamah tau dan sampai sakit hati karna ini Faza tidak akan pernah bisa memaafkan papah.”


“Ayo Zahra kita pergi dari sini.”


Zahra menurut saja saat Faza menariknya keluar dari kamar hotel tempat papahnya menginap. Faza tidak menyadari istrinya yang sudah tidak bisa melihat dengan jelas arah pijakan-nya karna air mata yang menggenang di kedua kelopak matanya.


“Ya Tuhan... Kenapa rasanya sakit sekali..”

__ADS_1


__ADS_2