PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 221


__ADS_3

Berbeda dengan hatinya yang mulai melunak menerima hubungan Fadly dan Loly, namun untuk merestui hubungan Faza dan Zahra Sinta benar benar masih merasa enggan. Sinta bahkan tidak pernah lagi datang kerumah Faza dan Zahra setelah perdebatan-nya dengan Faza saat itu.


Bahkan saat Faza menelepon Sinta juga membiarkan-nya dan enggan untuk mengangkatnya. Sinta merasa kecewa karna Faza lebih memihak pada Zahra yang menurut Sinta bersalah saat itu. Sedang padanya Faza justru terkesan menyalahkan.


“Mas, nggak tau kenapa aku tiba tiba kepikiran dengan mamah.. Bagaimana kalau besok kamu kesana dan jengukin mamah..”


Faza yang sedang mengayun ayun Fahri dengan penuh sayang pun tersenyum. Zahra selalu saja menyuruhnya untuk berbakti pada mamahnya meskipun Zahra sendiri tau Sinta sama sekali belum memberikan restu atas pernikahan mereka yang sudah berjalan lebih dari setahun.


“Eemm.. Ya sayang.. Besok pulang dari kantor aku mampir kerumah mamah sama papah yah..” Senyum Faza dengan menganggukkan pelan kepalanya.


“Jangan lupa beliin sesuatu buat mamah. Mungkin hadiah bisa membuat mamah senang.”


“Memangnya kamu nggak keberatan aku beliin sesuatu buat mamah?” Tanya Faza penasaran.


Zahra tertawa mendengar pertanyaan itu. Pertanyaan yang menurut Zahra adalah pertanyaan yang sangat konyol.


“Kenapa aku harus keberatan sih mas? Kalau kamu bisa ya beliin lah hadiah buat mamah. Masa iya aku keberatan cuma karena itu. Asal kamu adil dan tidak berat sebelah antara aku sama mamah aku bisa memahaminya.” Jawab Zahra.


Faza tertawa pelan. Pria itu kemudian melangkah menuju ranjang milik putranya dan meletakan tubuh kecil Fahri dengan sangat pelan dan hati hati disana. Setelah itu Faza mendekat pada Zahra yang sedang duduk ditepi ranjang.


“I Love you sayangnya mas..” Ungkapnya kemudian memeluk erat tubuh Zahra.


Faza benar benar merasa sangat bersyukur karna memiliki istri yang begitu sangat pengertian seperti Zahra. Padahal Sinta selalu bersikap tidak baik padanya namun Zahra selalu memikirkan wanita itu. Tentu saja Faza tau itu adalah bentuk dari rasa kasih sayang dan rasa hormat Zahra sebagai seorang anak pada orang tuanya.


“Nanti kalau aku lagi nggak sibuk kita sempetin buat ziarah ke makam ayah sama ibu ya sayang..” Bisik Faza masih memeluk Zahra.


Zahra hanya bisa menganggukkan kepalanya saja. Dadanya selalu terasa sesak jika mengingat kedua orang tuanya yang sudah pergi meninggalkan-nya sejak Zahra masih kecil.

__ADS_1


Faza melepaskan pelukan-nya. Pria itu menatap Zahra yang sudah meneteskan air mata dikedua pipi chuby nya.


“Kenapa hem?” Tanya Faza sembari menyeka air mata yang membasahi kedua pipi chuby istrinya.


“Aku.. Aku kangen sama ayah sama ibu mas...”


Tangis Zahra akhirnya pecah. Ditinggal oleh kedua orang tuanya dengan pamitan yang bahkan tidak disadari oleh Zahra dan Aries dulu adalah sesuatu yang sangat menyakitkan untuk Zahra.


Menyaksikan keduanya berlumuran darah kemudian dimandikan, di kafani sampai akhirnya dimasukan keliang lahat oleh para tetangga yang membantu memakamkan adalah saat saat kehancuran hati Zahra kecil saat itu. Tangisan dan air mata tidak bisa Zahra bendung. Zahra bahkan sampai tidak menyadari dengan tatapan iba dan tangisan para tetangga yang ikut menyaksikan kepiluan yang Zahra dan Aries alami saat itu.


Apa lagi saat itu Aries hanya remaja yang baru tumbuh. Sedang Zahra, dia masih duduk dibangku SD saat itu.


Tapi sekali lagi, Tuhan itu baik. Tuhan mencoba Zahra dan Aries sesuai dengan kemampuan yang mereka berdua miliki. Karena buktinya keduanya mampu bertahan bahkan sampai sekarang.


Tidak tega melihat istrinya menangis, Faza pun merengkuh tubuh Zahra kedalam dekapan hangatnya. Faza mengusap usap lembut lengan terbuka Zahra berharap bisa membuat wanitanya tenang.


Zahra tersenyum dalam tangisnya. Zahra juga berharap demikian. Zahra berharap kedua orang tuanya sudah tenang dan bahagia disana. Mereka tidak akan merasakan susah dan sakit lagi. Dan mereka juga tidak perlu lagi mendengar omongan pedas tetangga yang tidak menyukai mereka.


“Ayah sama ibu itu orang yang baik mas.. Mereka itu kalau ngomong selalu dengan sangat pelan dan penuh kelembutan. Aku sama kak Aries tidak pernah kena marah. Kalaupun kami berdua salah ayah sama ibu akan menegur kami dengan cara yang penuh dengan perhatian.”


Faza tersenyum sambil mencium puncak kepala istrinya. Faza semakin merasa kagum pada istrinya sendiri. Meskipun tidak pernah mendapat perlakuan keras dari kedua orang tuanya tapi Zahra tidak kaget dengan perlakuan buruk Sinta padanya. Zahra justru tetap hormat pada Sinta.


“Ya sayang.. Aku percaya. Tuhan pasti menempatkan ayah sama ibu ditempatnya yang terindah..” Bisik Faza.


Zahra menganggukan kepalanya. Zahra kemudian melepaskan diri dari dekapan Faza. Zahra mendongak menatap Faza yang juga sedang menatapnya.


“Mas.. Aku mau kamu berjanji sesuatu sama aku..”

__ADS_1


Faza mengeryit bingung. Permintaan Zahra membuat Faza merasa sedikit takut.


“Apa? Jangan aneh aneh deh sayang.. Aku janji kok bakal selalu ada buat kamu dan anak kita..”


Zahra tersenyum kemudian menggelengkan pelan kepalanya.


“Bukan itu mas..” Katanya.


Zahra menghela napas kemudian meraih tangan besar Faza, menggenggamnya dengan erat.


“Aku mau kamu janji sama aku satu hal. Yaitu kamu mencontohkan segala yang baik untuk anak kita.. Karna kamu adalah laki laki pertama yang akan menjadi idola dan kebanggaan bagi Fahri. Aku juga akan berusaha sebisa aku untuk mencontohkan yang terbaik pada Fahri.”


Faza tertawa pelan. Pria itu mengira Zahra akan mengatakan sesuatu yang aneh. Tapi ternyata Zahra hanya memintanya untuk menjadi contoh yang baik untuk Fahri. Sesuatu yang terdengar mudah memang namun tidak semua bisa melakukan-nya. Mungkin termasuk Faza yang setiap harinya selalu disibukkan dengan pekerjaan-nya yang menggunung.


“Ya ampun sayang.. Kamu itu buat aku mikir macem macem tau nggak. Denger ya.. Tanpa kamu meminta aku untuk janji pun aku pasti akan melakukan itu. Aku akan berusaha menjadi papah yang baik buat Fahri.”


Zahra tersenyum.


“Contoh yang baik juga mas.. Baik saja tidak cukup loh..”


“Iya begitu maksud aku sayang.. Aku bakal mencontohkan segala sesuatu yang baik untuk anak anak kita. Aku janji.” Senyum Faza.


Zahra mengangguk percaya. Zahra yakin Faza pasti akan memegang janjinya.


“Udah malam. Mending sekarang kita istirahat juga, mumpung Fahri juga udah tidur.” Ajak Faza yang mendapat anggukan setuju dari Zahra.


Keduanya kemudian naik keatas ranjang dan tidur dengan Zahra yang berada dalam dekapan hangat Faza.

__ADS_1


__ADS_2