PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 244


__ADS_3

“Nyonya, Tuan !!”


Faza dan Zahra sedang menikmati sarapan paginya ketika mendengar jeritan mbak Lasmi dari arah dapur. Keduanya saling menatap sesaat sebelum akhirnya kompak bangkit dari kursi dan melangkah menuju dapur dengan terburu buru. Faza dan Zahra mendadak merasa khawatir mengingat Fahri yang sedang bersama mbak Lasmi pagi ini.


“Ada apa mbak? Fahri nggak papa kan?” Tanya Zahra begitu sampai didapur dan melihat mbak Lasmi yang sedang mengayun Fahri dengan pandangan fokus pada TV yang menyala.


Faza yang berada disamping Zahra hanya diam. Pria itu harap harap cemas menunggu jawaban mbak Lasmi tentang Fahri.


“Ada apa mbak?” Tanya Faza akhirnya tidak sabaran.


“Itu nyonya, tuan.” Ujar mbak Lasmi sambil menunjuk TV yang menyala.


Faza dan Zahra saling menatap lagi kemudian mendekat dengan kompak pada mbak Lasmi. Faza dan Zahra menatap TV dan terkejut melihat berita yang sedang disiarkan.


“Itu pak Santoso nyonya, tuan.” Kata mbak Lasmi.


Faza tersenyum sinis menyaksikan berita yang sedang disiarkan itu. Santoso mengalami kecelakaan tunggal dijalanan yang cukup sepi.


“Mbak ini, kirain ada apa. Ya sudah yuk sayang kita lanjut sarapan lagi.”


Zahra hanya diam saja. Santoso mengalami kecelakaan dan sampai disiarkan di TV itu artinya kecelakaan yang dialaminya tidak biasa. Bahkan Zahra juga melihat sendiri tadi kondisi mobil Santoso yang sampai rusak parah.


Zahra mengikuti Faza yang menuntun-nya untuk kembali menyantap sarapan paginya. Dan ketika di meja makan Zahra menghela napas. Bagaimanapun juga Santoso pernah begitu baik padanya.


“Kamu diam tidak sedang memikirkan laki laki itu kan sayang?”


Zahra mengerjapkan beberapa kali kedua matanya. Tidak baik memang memikirkan pria lain yang sudah berniat tidak baik pada hubungan-nya dengan Faza. Tapi Zahra juga tidak bisa memungkiri Santoso banyak menolongnya dulu.


“Mas.. Aku banyak berhutang kebaikan pada pak Santo dulu...” Katanya pelan.


Faza menghela napas pelan. Pria itu kemudian meraih segelas air putih dan meminumnya sedikit.


“Kalau kamu ingin membalas budi baik Santoso, kamu bisa membalasnya dengan perbuat baik pada Nadeo dan Nanda. Jangan berlebihan menyikapi laki laki seperti itu. Salah sedikit dia akan salah memahami maksud kamu sayang..”


Zahra menganggukkan kepalanya setuju dengan apa yang suaminya katakan. Masih ada Nadeo dan Nanda yang bisa menjadi jembatan Zahra membalas kebaikan Santoso padanya dulu.


“Sudah tidak usah memikirkan laki laki lain. Bahaya kalau sampai aku cemburu.”

__ADS_1


Apa yang Faza katakan berhasil membuat Zahra tertawa.


“Iya enggak.. Kan aku cintanya cuma sama kamu mas..”


“Yayaya... Buktikan nanti malam ya sayang..” Goda Faza mengedipkan sebelah matanya pada Faza.


“Hem maunya...” Geleng Zahra.


Faza ikut tertawa. Faza memang tidak bisa berhenti jika sudah melakukan itu dengan Zahra. Rasanya staminanya tidak sedikitpun berkurang meskipun sudah melakukanya beberapa kali dalam semalam.


Selesai sarapan Zahra mengambil Fahri dari mbak Lasmi dan mengajak bayi tampan itu untuk mengantar Faza yang akan berangkat bekerja sampai depan rumah.


“Hey jagoan-nya papah.. Papah kerja dulu ya.. Nanti papah telepon. Kamu yang anteng ya dirumah sama mamah..”


Zahra tersenyum mendengar apa yang Faza katakan. Faza memang senang sekali mengajak putra mereka berkomunikasi dan hebatnya meskipun baru berusia dua bulan Fahri seperti bisa mengerti dan menyauti apa yang Faza katakan padanya.


“Uuhh.. pinter banget jagoan papah ini.. Cepet gede ya sayang.. Biar kita bisa main bola sama sama..” Lanjut Faza kemudian menggesekkan ujung hidung mancungnya di pipi gembul Fahri.


Faza juga menciumi seluruh wajah menggemaskan putranya sebelum beralih pada Zahra yang menggendong Fahri.


“Iya mas.. Hati hati dijalan ya.. Jangan lupa makan siang..”


“Hem.. Kamu juga. Nggak usah ngerjain apa apa. Cukup jaga Fahri saja dan biarkan mbak Lasmi yang melakukan semuanya.”


Zahra menghela napas dengan ekspresi sendu.


“Tapi mas..”


“Aku bakal naikin gaji mbak Lasmi bulan ini sayang..” Sela Faza membuat Zahra tersenyum kemudian.


“Oke kalau begitu..” Angguk Zahra senang.


Faza tertawa pelan. Itulah Zahra. Zahra selalu merasa tidak enak hati jika terlalu sering merepotkan orang lain. Mungkin itu juga adalah didikan Aries pada Zahra sejak dulu.


“Ya sudah aku berangkat.”


Faza mencium kening Zahra lama. Setelah itu Zahra juga menyalimi Faza.

__ADS_1


Zahra melambaikan tangan-nya saat mobil Faza mulai melaju pelan keluar dari pekarangan rumahnya dengan bantuan dari pak satpam yang begitu sigap membukakan gerbang agar mobil Faza bisa melintas dengan mudah.


“Makasih ya pak..” Ujar Faza menurunkan kaca mobilnya berterimakasih pada satpam yang bekerja padanya.


“Siap. Sama sama tuan.” Balas pak satpam tegas sambil memberi hormat pada Faza.


Setelah mobil Faza keluar dari pekarangan rumah, pak satpam kembali menutup pintu gerbang.


Sedang Zahra, dia masuk kedalam rumah sambil berceloteh mengajak putra kesayangan-nya berbicara.


---------


Seperti kata banyak orang bahwa garis takdir setiap manusia itu sudah ditentukan oleh Tuhan. Dan tidak semua orang memiliki takdir yang sama. Ada yang bahagia diawal kemudian menderita di akhir. Begitu juga sebaliknya, ada yang menderita di awal namun pada akhirnya bahagia.


Begitu juga dengan yang dirasakan Santoso sekarang. Kebahagiaan yang dirasakan-nya kini telah hilang. Santoso bercerai dengan istrinya. Kemudian putra sulungnya selalu memberontak marah dan menyalahkan-nya. Sedang sikecil Nadeo, mendadak dia menjadi takut dan tidak mau dekat lagi dengan-nya. Semua itu tentu saja adalah akibat dari apa yang Santoso lakukan.


Karena semua itu Santoso pun frustasi hingga akhirnya mengalami kecelakaan tunggal dijalanan yang sepi. Mobilnya bahkan sampai ringsek parah dibagian depan karena menabrak pohon besar dan hampir saja terjun ke jurang.


Kecelakaan itu membuat Santoso harus dilarikan kerumah sakit dengan keadaan yang cukup memperihatinkan. Banyak luka ditubuhnya, antaranya dikepala, kaki juga lengan.


Mantan istrinya yang mendengar itu langsung mengajak kedua putranya untuk melihat keadaan Santoso. Dan meskipun kecewa tapi wanita itu tetap merasa sedih dan terus menangis melihat ayah dari kedua putranya tergolek lemah tidak berdaya di brankar rumah sakit dengan berbagai alat medis yang menempel ditubuhnya.


Untuk Nanda, remaja dengan postur tubuh tinggi itu hanya diam disamping tubuh sang ayah. Nanda sama sekali tidak bersuara dan hanya bisa menatap tubuh tidak berdaya Santoso dalam diam.


Berbeda dengan Nadeo yang terus menangisi kondisi Santoso. Bocah yang masih duduk dibangku sekolah dasar itu bahkan sampai menangis terisak sembari menggenggam dan sesekali menciumi tangan Santoso.


“Bunda nggak perlu nangisin ayah. Apa yang ayah alami saat ini adalah hasil dari perbuatan-nya sendiri yang menyakiti hati bunda.”


Mantan istri Santoso terkejut mendengarnya. Wanita itu menggeleng menatap tidak percaya pada putra pertamanya.


“Nanda kamu nggak boleh ngomong begitu. Bagaimanapun ayah, dia tetap ayah kamu.”


Nanda tersenyum miris.


“Aku benci sama ayah.” Katanya dengan nada dingin kemudian berlalu keluar dari ruangan tempat Santoso dirawat.


Tangis mantan istri Santoso semakin hebat. Wanita itu tidak menyangka jika keputusan-nya berpisah dengan Santoso membuat rasa benci tertanam begitu dalam dihati putra sulungnya pada Santoso.

__ADS_1


__ADS_2