
Pagi ini Zahra tidak bisa membuatkan sendiri sarapan untuk Faza karena Fahri yang tidak mau ditinggal olehnya. Balita itu bahkan menangis jika Zahra tidak terlihat dari pandangan-nya barang sedetik saja.
“Anak papah lagi pinter banget ya? Kenapa sih sayang hem? Nggak mau jauh jauh dari mamah yah hem?”
Faza menciumi tubuh gempal Fahri yang asik menyusu pada Zahra. Pria itu sudah rapi dengan setelan jas warna abu abunya karena hendak berangkat ke kantor untuk menjalankan rutinitas setiap harinya yaitu bekerja.
“Semalam Fadly kesini ya mas?” Tanya Zahra pelan membuat Faza berhenti menciumi tubuh gempal putranya yang sama sekali tidak perduli karena asik menyusu.
“Eemm.. Ya sayang. Katanya dia abis ketemu sama Loly.” Jawab Faza.
Zahra mengangguk pelan. Zahra tau keadaan yang sekarang tidak lagi sama dengan keadaan yang dulu. Sinta sudah tidak lagi bisa dekat dengan Loly karena Loly yang dilarang untuk dekat dekat dengan keluarga Akbar oleh kedua orang tuanya.
“Ya udah yuk sayang kita turun sekarang. Aku ada rapat loh pagi ini..”
“Ah ya mas...”
Mereka berdua kemudian bangkit dari duduknya ditepi ranjang dan melangkah beriringan dengan Zahra yang menggendong dan menyusui Fahri yang sama sekali tidak mau lepas darinya pagi ini.
---------
Sementara itu di kediaman keluarga Akbar.
Semuanya sudah tidak lagi sama. Sinta tampak sangat berbeda sejak mengetahui sebab kenapa Erika memutuskan hubungan dengan-nya. Sinta bahkan menjadi sering melamun dan tidak pernah lagi ceria seperti dulu. Apa lagi tiga bulan belakangan Faza juga tidak pernah lagi datang atau menelepon-nya. Putra sulungnya seperti hilang ditelan bumi tanpa kabar apapun.
“Faza sudah tidak pernah lagi kesini sejak kamu mengusirnya mah..”
__ADS_1
Sinta hanya diam saja. Wanita itu bahkan terus ber ekspresi datar sembari mengaduk makanan dalam piringnya yang masih penuh dan sama sekali belum dia suapkan kedalam mulutnya.
“Sebentar lagi mungkin Fadly akan melakukan hal yang sama. Dia akan menjauh dari kita. Em maksud papah dari mamah.”
Sinta menggerakkan kedua bola matanya beralih menatap pada Akbar yang duduk dikursi paling ujung dimeja makan dimana Sinta tepat berada disampingnya.
“Papah menyalahkan mamah?”
“Bukankah semua memang salah mamah? Mamah melakukan segala hal menurut pemikiran mamah sendiri.” Jawab Akbar dengan tenang.
“Dulu mamah menginginkan Fadly bersama Loly juga. Dan sekarang saat mereka berdua sudah saling mencintai mamah menghalanginya. Apa sedikitpun mamah tidak pernah memikirkan perasaan anak anak kita? Apa mamah selalu berpikir bahwa apa yang mamah lakukan itu selalu benar?”
Sinta menelan ludah. Sampai detik ini sebenarnya Sinta juga masih berharap Loly menjadi menantunya. Sinta bahkan kadang membayangkan Erika dan suaminya datang dan meminta maaf atas hinaan yang pernah mereka lontarkan pada Fadly saat itu. Dan tentu saja Sinta akan langsung memaafkan kesalahan Erika.
Akbar tertawa pelan mendengarnya.
“Papah enggak pernah sekalipun merasa terhina mah. Faza, juga Fadly mereka juga tetap tenang dan sama sekali tidak merasa dihina oleh orang lain.”
“Itu karena kalian terlalu meremehkan harga diri.” Balas Sinta cepat.
“Apa itu artinya mamah adalah satu satunya orang dalam keluarga kita yang selalu menjunjung harga diri?”
Sinta diam. Sinta sendiri bingung sekarang. Sekarang wanita itu merasa apapun yang dilakukan-nya salah dimata suami juga anak anaknya. Padahal jelas jelas Sinta melakukan semua itu demi kebaikan bersama.
“Perlu mamah tau, kita itu hidup bukan atas penilaian diri kita sendiri. Tapi penilaian orang lain. Mereka suka atau benci juga mempunyai alasan.”
__ADS_1
“Apa pembicaraan ini akan membawa nama menantu kesayangan papah itu?” Tanya Sinta.
Akbar meraih segelas air putih berniat menyudahi sarapan paginya yang begitu tidak membuatnya selera.
“Oh tentu saja. Menantuku perempuan yang baik yang selalu diremehkan sama mamah. Papah pikir semua yang terjadi akhir akhir ini bisa membuat mamah sadar tapi ternyata mamah justru semakin egois. Mamah membuat Faza dan Fadly menderita. Bahkan mungkin mereka sudah merasa kehilangan sosok mamah yang dulu sangat mereka banggakan.”
“Apa maksud papah?” Tanya Sinta menatap tidak mengerti pada suaminya itu.
“Sudahlah. Berbicara sama mamah hanya akan membuang buang waktu papah yang berharga.”
Akbar bangkit dari duduknya kemudian berlalu begitu saja meninggalkan Sinta yang mulai terbakar emosi. Beberapa bulan ini Akbar memang sangat dingin dan terus saja menyudutkan-nya. Akbar bahkan tidak pernah sekalipun bersikap manis padanya. Setiap bersama pria itu selalu membahas semua tentang masalah yang Sinta lakukan sehingga membuat Sinta selalu mengalami mimpi buruk.
Merasa frustasi, Sinta pun melempar dan menjatuhkan semua hidangan yang ada diatas meja. Wanita itu berteriak frustasi karena merasa sudah tidak lagi dipedulikan oleh suami dan kedua anaknya.
Bibi yang menyaksikan itu dari balik tembok hanya bisa diam ditempat sambil mengelus dadanya. Bibi ingin membantu majikan-nya itu namun Akbar sudah mewanti wanti agar membiarkan saja apa yang Sinta lakukan tanpa mencegahnya. Namun meski begitu Akbar selalu meminta pada bibi untuk selalu mengawasi Sinta yang memang lebih sering diam dan melamun akhir akhir ini. Karena bagaimana pun juga Akbar tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa istrinya. Akbar memang sangat mencintai Sinta, namun Akbar juga masih mempunyai pemikiran yang waras dengan tidak menerima apapun alasan Sinta dalam melakukan kesalahan.
Akbar yang saat itu juga masih berada diteras depan rumah mendengar suara pecahan benda yang dibanting oleh Sinta. Namun Akbar tidak berniat sedikitpun untuk masuk kembali kedalam rumah dan mengecek apa yang sedang istrinya lakukan. Akbar hapal bagaimana Sinta. Wanita itu mungkin memang frustasi. Tapi frustasinya Sinta bukan karena menyadari kesalahan-nya melainkan karena menganggap semua orang orang disekitarnya berbuat salah dan tidak menghargainya.
“Tuhan.. Mungkin cara hamba menyudutkan istri hamba memang salah. Tapi hamba tidak punya pilihan lain lagi. Hamba tidak tau harus bagaimana menyadarkan istri hamba.” Batin Akbar memejamkan kedua matanya sebentar.
Akbar kembali menoleh kearah pintu utama rumahnya. Jika saja Sinta bisa menyadari semua kesalahan yang sudah diperbuatnya, Akbar juga tidak akan bersikap acuh dan pura pura tidak memperdulikan-nya. Tapi sikap keras kepala dan egois Sinta membuat Akbar tidak bisa lagi berpikir jernih. Akbar kehabisan cara untuk memberi tahu sesuatu yang benar pada istrinya sendiri.
Akbar menghela napas. Akbar akan membiarkan semuanya mengalir apa adanya. Akbar juga akan membiarkan istrinya itu merasakan kehilangan karena kedua putranya yang memang semakin hari semakin menjauh. Fadly yang biasanya kalem bahkan mulai berani bersuara membantah perintah Sinta. Sedangkan Faza, sudah tiga bulan putra sulungnya itu tidak menginjakkan kaki dirumahnya sejak siang itu.
Ya, Akbar tau kedatangan singkat Faza dan Zahra dari bibi.
__ADS_1