PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 176


__ADS_3

Mobil Fadly berhenti tepat didepan pintu gerbang kediaman keluarga Loly. Sebenarnya Fadly berniat membunyikan klakson namun Loly melarangnya. Loly tidak ingin suara klakson mobil Fadly terdengar oleh kedua orang tuanya yang memang sedang berada dirumah sekarang.


“Aku tau kenapa kamu nggak bolehin aku masuk.” Ujar Fadly tersenyum menatap Loly.


Loly tersenyum kecut.


“Ini semua karena kecerobohan aku. Aku melupakan tanggung jawabku diperusahaan.”


“Apa itu karena aku?” Tanya Fadly masih dengan senyuman yang menghiasi bibirnya.


Loly dengan cepat menggelengkan kepalanya. Meskipun memang pada kenyataan-nya lalainya Loly adalah karena kesibukan-nya berusaha selalu ada untuk Fadly, namun Loly tidak mungkin begitu gamblang jujur pada Fadly. Loly tau apa konsekuensinya.


“Tidak. Tentu saja tidak.” Jawabnya cepat.


“Lalu karena apa?” Tanya Fadly lagi. Fadly tau Loly sedang berbohong.


Loly diam dan terlihat gagap kebingungan mencari alasan.


“Eem... Mungkin karena akhir akhir ini aku memang sedikit malas.” Jawabnya berbohong.


Loly melengos tidak ingin Fadly tau bahwa dirinya sedang berbohong.


Fadly menggeleng pelan. Loly benar benar sudah terjerat dalam kepalsuan yang Fadly ciptakan.


“Loly...” Panggil Fadly pelan.


“Ya...” Saut Loly menatap kembali pada Fadly.


“Boleh tidak aku minta nomor Mona?”


Pertanyaan Fadly membuat Loly mengeryit bingung.


“Minta nomor Mona? Untuk apa?” Tanya Loly menatap aneh pada Fadly.


“Tentu saja untuk kamu. Aku nggak punya kontak siapapun yang dekat dengan kamu. Dan aku pikir Mona adalah satu satunya yang paling dekat dengan kamu selain kedua orang tua kamu. Aku juga berpikir aku bisa menanyakan tentang kamu kalau kalau kamu kembali tidak ada kabar seperti seminggu ini.” Jawab Fadly beralasan.


Loly terdiam sesaat. Loly tampak sedang memikirkan apa yang Fadly katakan. Loly memang sama sekali tidak menghubungi Fadly selama seminggu ini. Tentu saja karna ponsel miliknya disita oleh kedua orang tuanya.


“Ya sudah.. Aku akan kirim nomor Mona nanti.” Jawab Loly kemudian.


“Oke, aku tunggu..” Senyum Fadly.

__ADS_1


“Ya.. Kalau gitu aku turun yah.. kamu hati hati dijalan.”


Fadly hanya menganggukan kepalanya dengan senyuman yang kembali menghiasi bibirnya. Fadly sebenarnya tau apa yang sedang terjadi pada perusahaan yang dipimpin Loly. Tapi Fadly berpura pura tidak tau.


“Semuanya akan segera dimulai Loly.” Gumam Fadly menyeringai menatap Loly yang masuk kedalam pekarangan luas kediaman mewah keluarganya.


Fadly kembali melajukan mobilnya berlalu dari depan gerbang kediaman keluarga Loly. Pria itu merasa semua sandiwaranya sudah cukup. Fadly akan memulai menghancurkan Loly lewat Mona. Orang yang sangat dekat dengan Loly juga sangat Loly percaya selain kedua orang tuanya. Fadly yakin dengan memulainya lewat Mona, Loly pasti akan benar benar merasa sangat hancur.


---------


Pagi ini Rasya menatap kediaman keluarga Anita dari dalam mobilnya dengan jarak yang lumayan jauh. Sampai saat ini Anita masih belum hilang dari ingatan-nya. Rasya memang kecewa bahkan merasa dipermainkan. Tapi Rasya tidak membohongi hatinya sendiri. Rasya merindukan segalanya tentang Anita.


Secercah harapan muncul saat Rasya melihat Anita yang keluar dari rumahnya. Tanpa sadar bibirnya tertarik kebelakang membentuk sebuah senyuman. Namun senyuman itu hanya bertahan sebentar karna Rasya melihat Anita yang menarik koper berukuran besar menuju mobil papahnya.


Kening Rasya mengeryit. Anita seperti hendak pergi jauh.


“Papah tau kamu memang merasa bersalah pada Rasya nak.. Tapi bukan dengan begini caranya..” Ujar papah Anita dengan wajah memelas.


Pria itu benar benar masih tidak bisa menerima keputusan putri tunggalnya untuk hidup terpisah darinya juga istrinya.


“Pah.. Aku mau belajar dari pengalaman aku.. Dari kesalahan aku.. Aku sudah menyakiti Rasya.. Aku sudah mengecewakan mamah.. Aku pikir ini sudah keputusan yang sangat baik.” Senyum Anita menatap sang papah.


Anita tertawa mendengarnya. Anita tau papahnya sangat menyayanginya. Papahnya bahkan tidak marah meskipun Anita mengakui segala kesalahan-nya mencintai pria lain dan menjadikan Rasya sebagai pelampiasan.


“Selamanya papah adalah laki laki paling hebat dihidup aku..”


Papah Anita langsung menarik Anita kedalam pelukan-nya. Melepaskan putri satu satunya pergi dan memilih hidup mandiri dengan jarak yang sangat jauh darinya adalah suatu yang sangat berat bagi pria itu.


Mamah Anita yang saat itu baru keluar dari dalam rumah memutar jengah kedua bola matanya. Amarahnya belum benar benar mereda karna apa yang sudah Anita lakukan sehingga Rasya membatalkan pernikahan begitu saja tanpa lebih dulu berpikir panjang. Saking marahnya bahkan mamah Anita tidak melarang Anita yang ingin pergi menjauh darinya juga suaminya. Mamah Anita juga begitu santai menanggapi ucapan Anita yang memilih untuk kembali melanjutkan pendidikan-nya diluar negeri.


“Sudahlah.. Tidak perlu begitu drama. Sebaiknya kita segera bergegas ke bandara dari pada nanti Anita ketinggalan pesawat.”


Ucapan mamah Anita membuat Anita dan papahnya segera melepaskan pelukan-nya. Anita tersenyum. Anita paham, bagi mamahnya harta adalah segalanya.


“Dimana hati kamu mah.. Anak kita ingin pergi jauh tapi kamu sama sekali tidak melarang. Apa dipikiran kamu hanya ada harta?”


Papah Anita terlihat sangat kesal karna sikap mamah Anita yang terlihat begitu santai tanpa sedikitpun merasa sedih meski Anita akan menjauh darinya.


“Anita pergi bukan untuk selamanya kok pah.. Anita juga pasti akan sering pulang. Dan lagi, Anita pergi untuk melanjutkan pendidikan-nya. Bukan pergi untuk meninggalkan kita selamanya. Yah.. Siapa tau begitu pulang dari belanda Anita juga semakin tau bagaimana caranya menghargai perasaan dan kebaikan seseorang.” Jawab mamah Anita dengan santainya.


Papah Anita menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan sikap istrinya sendiri. Padahal sebelum rencana pernikahan Anita dan Rasya gagal, wanita itu begitu sangat lemah lembut dan menyayangi serta penuh perhatian juga kasih pada Anita. Tapi setelah Rasya membatalkan pernikahan, mamah Anita mendadak berubah bahkan seperti tidak lagi perduli pada Anita yang tidak lain adalah anak yang susah payah dia lahirkan dengan mempertaruhkan nyawa.

__ADS_1


“Kamu...”


“Pah...” Anita meraih tangan papahnya yang mengepal erat. Anita tidak mau kedua orang tuanya kembali bertengkar karena dirinya.


“Mamah benar.. Lebih baik kita segera bergegas dari pada nanti aku ketinggalan pesawat.” Senyum Anita berusaha menutupi rasa sakitnya karna sikap sang mamah.


Papah Anita menghela napas kasar kemudian menganggukan kepalanya.


“Baiklah. Kita berangkat sekarang.” Angguk papah Anita.


Anita dan papahnya kemudian masuk kedalam mobil setelah sebelumnya papah Anita menaruh koper besar milik Anita di bagasi. Tidak lama mamah Anita pun ikut masuk kedalam mobil untuk sama sama mengantar Anita ke bandara.


Mereka kemudian berlalu dari pekarangan rumahnya tanpa menyadari ada sosok yang sedang memperhatikan-nya dari kejauhan.


Setelah mobil papah Anita berlalu, Rasya melajukan pelan mobilnya mendekat pada gerbang dimana pak satpam hendak kembali menutupnya.


“Pak...” Panggil Rasya menurunkan kaca mobilnya.


“Eh Den.. Ada yang bisa saya bantu?” Tanya pak satpam ramah.


“Eemm.. Saya mau nanya. Itu Anita dan mamah papahnya mau kemana ya?”


Satpam itu terdiam sesaat. Sudah bukan rahasia lagi memang tentang pernikahan Anita dan Rasya yang dibatalkan.


“Oh itu.. Non Anita mau melanjutkan pendidikan-nya diluar negeri den..”


Jawaban pak satpam membuat hati Rasya mencelos. Rasya tidak menyangka Anita bahkan langsung pergi begitu saja setelah apa yang sudah dilakukan-nya tanpa berniat meminta maaf padanya.


“Ohh.. Gitu ya pak..”


“Ya den.. setau saya begitu.” Angguk pak satpam ramah.


“Ya sudah kalau begitu saya permisi ya pak..”


“Oh iya iya den silahkan...”


Rasya kemudian kembali melajukan mobilnya, melesat dengan cepat berlalu dari depan gerbang kediaman keluarga Anita.


Rasya benar benar tidak menyangka Anita bisa sekejam itu padanya. Anita pergi setelah berhasil menguasai hatinya. Anita melukainya tanpa sedikitpun memikirkan bagaimana rasanya menjadi Rasya.


“Kamu benar benar perempuan tidak punya hati Anita.. Aku benci sama kamu..” Gumam Rasya mencengkram erat stir mobilnya.

__ADS_1


__ADS_2