
Zahra mengeryit saat melihat kedua mata suaminya yang tampak memerah seperti orang yang baru saja menangis. Padahal biasanya jika baru pulang mengunjungi mamahnya Faza selalu terlihat sumringah.
“Mas kenapa?” Tanya Zahra setelah menyalimi Faza.
Faza tidak bisa berkata apa apa. Kali ini hatinya benar benar sangat sakit karena Sinta secara tidak langsung membanding bandingkan Zahra dengan Loly yang jelas bukanlah siapa siapa.
Itu baru Faza yang mendengarnya. Faza tidak berani membayangkan bagaimana rasanya menjadi Zahra.
Faza menggelengkan pelan kepalanya kemudian langsung menarik tubuh Zahra dan memeluknya erat. Kini Faza tau bagaimana istrinya berjuang seorang diri dengan perasaan-nya menghadapi sikap sang mamah yang terus saja memandangnya sebelah mata.
Zahra yang merasa aneh dengan sikap suaminya setelah mengunjungi kedua orang tuanya hanya diam saja. Nalurinya sebagai wanita langsung bangkit. Zahra yakin ada sesuatu yang terjadi disana.
Zahra membiarkan Faza memeluknya beberapa saat sampai akhirnya Faza melepaskan pelukan-nya dengan kedua pipi yang sudah basah oleh air mata.
Tidak ingin menuntut apapun dari suaminya yang pasti sedang dalam keadaan hati yang tidak baik baik saja, Zahra pun mengembangkan senyuman manisnya.
“Mas sudah makan?” Tanya Zahra penuh perhatian dengan menyeka lembut kedua pipi basah suaminya.
“Hem.. Ya, aku sudah makan.” Jawab Faza dengan suara seraknya. Faza tidak perduli meskipun sekarang dirinya sangat cengeng didepan istrinya. Karena apa yang sekarang dia rasakan benar benar sangat sakit. Sikap Sinta benar benar menyakitinya kali ini.
“Syukurlah.. Lebih baik sekarang kamu mandi terus istirahat. Fahri udah bobo kok..” Senyum Zahra menatap Faza yang terus saja menatapnya.
“Sayang...” Panggil Faza dengan suara seraknya.
“Ya mas..” Saut Zahra pelan.
Faza kemudian meraih kedua tangan Zahra yang masih mengusap lembut kedua pipinya. Faza mengecup kedua punggung tangan Zahra dengan kedua mata terpejam, dan air mata kembali menetes membasahi pipinya yang sudah kering.
“Maafin aku kalau selama ini aku nggak bisa menjadi suami yang baik buat kamu Zahra.. Maaf kalau selama ini aku kurang mengerti kamu.. Maaf juga kalau aku selalu nyakitin kamu dengan sikap aku tanpa aku sadari.. Tapi aku janji.. Aku janji sama kamu sayang.. Aku akan terus berusaha menjadi suami dan papah yang baik.”
Zahra tertawa pelan mendengar apa yang Faza katakan. Zahra tau suaminya tidak main main dengan ucapan-nya. Dan Zahra percaya dengan janji yang diucapkan oleh Faza, suami tercintanya.
__ADS_1
“Aku percaya sama kamu mas. Aku juga akan berusaha menjadi sosok yang baik untuk kamu juga anak anak kita..” Balas Zahra dengan senyuman dibibirnya.
Faza mengangguk percaya. Pria itu kemudian kembali menarik tubuh Zahra dan memeluknya erat. Kini Faza tau bahwa semuanya tergantung pada sikapnya. Faza juga yakin bahwa hubungan-nya dengan Zahra akan selalu baik baik saja selama dirinya bisa memposisikan posisinya ditengah Sinta dan Zahra dengan baik.
Karena seburuk apapun Sinta dia tetaplah mamahnya. Sedang Zahra, dia adalah amanat dari Tuhan untuk benar benar dia jaga dengan baik dari apapun.
Faza sudah yakin dengan tekadnya. Kepatuhan-nya pada sang mamah tidak harus dengan menuruti apapun yang mamahnya mau jika memang apa yang mamahnya mau adalah menyakiti Zahra yang jelas adalah sesuatu yang pasti tidak Tuhan sukai.
“Aku cinta banget sama kamu Zahra.. Teruslah berada disampingku sampai raga ini tidak lagi bernyawa..” Bisik Faza membuat Zahra tersenyum dalam pelukan-nya.
Pada dasarnya apa yang mereka hadapi tidaklah mudah. Tapi selama mereka melangkah bersama dengan kedua tangan saling bertautan semua itu akan bisa mereka lewati bersama.
Beberapa menit berpelukan Zahra pun akhirnya melepaskan diri. Wanita itu mengecup singkat bibir tipis suaminya kemudian menyuruh agar suaminya segera membersihkan dirinya agar bisa dengan cepat mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan karna beraktivitas diluar rumah seharian ini.
Zahra menghela napas setelah Faza masuk kedalam kamar mandi.
Zahra tau suaminya memang bukan pria yang sempurna. Faza kadang egois dan seperti tidak perduli padanya. Tapi Zahra selalu meyakini mungkin itu adalah kekurangan yang dimiliki oleh suaminya dan harus dengan sabar Zahra terima. Karena Zahra juga yakin Faza pasti juga merasakan apa yang kurang atas diri Zahra namun terus mencoba untuk menerimanya.
---------
Malam ini Reyhan mengajak Tina untuk makan malam berdua diluar. Tentunya setelah mendapat izin dari Renaldi, Rasya.
Reyhan dengan sangat gentle menjemput Tina dikediaman tuan Renaldi bahkan secara langsung meminta izin untuk membawa Tina pergi sebentar.
“Eemm... Tina.” Panggil Reyhan yang sejak tadi sama sekali tidak menyentuh makanan didepan-nya.
“Ya Rey.. Kenapa?”
Tina bingung sekarang. Reyhan terlihat aneh sikapnya sejak menjemputnya.
“Eemm.. Ada yang mau aku omongin. Ini penting.”
__ADS_1
Tina menatap Reyhan menunggu apa yang ingin dikatakan oleh pria itu. Namun bukan-nya mengutarakan maksudnya, Reyhan justru diam dan lagi lagi menghela napas seperti sedang mengumpulkan keberanian-nya. Benar benar tidak seperti Reyhan yang biasanya menurut Tina.
“Ini tentang kita Tina..”
Tina mengangguk pelan. Tina dibuat semakin penasaran. Tapi Reyhan tidak juga kunjung mengatakan-nya. Pria itu malah terlihat gugup dan kikuk sekarang.
“Aku tau mungkin ini terlalu cepat Tina.. Tapi aku sudah merasa yakin. Aku juga sudah menunggu sejak lama kebersamaan kita ini.. Dan aku...”
Reyhan benar benar seperti orang bodoh sekarang.
“Ya.. Terus?” Tanya Tina mulai merasa gemas dengan sikap Reyhan.
“Aku merasa nyaman sama kamu Tina.. Aku merasa menjadi diri aku sendiri saat bersama kamu.. Dan aku juga merasa kita cocok. Kita sering pergi bersama bahkan hampir setiap saat kita bersama. Ya kan?”
Tina melongo tidak mengerti dengan apa yang sedang dikatakan oleh Reyhan. Karena semua itu terdengar sangat aneh ditelinganya.
“Kamu ingat tidak saat kita pertama kali bertemu? Kau membuat mobilku baret saat itu. Ya kan?”
Apa apaan ini? Tina benar benar tidak mengerti sekarang. Apa yang keluar dari mulut Reyhan benar benar tidak nyambung. Reyhan tiba tiba mengatakan tentang nyaman kemudian kebersamaan dan tiba tiba mengungkit tentang pertemuan pertama mereka yang bahkan sudah lebih dari satu tahun itu.
“Sejak saat itu aku selalu mengingat kamu Tina. Dan aku.. Aku mau kamu menjadi milikku. Kamu mau kan menikah denganku?”
Tina terkejut, bahkan sangat. Pertanyaan terakhir yang Reyhan ucapkan membuat Tina langsung kaku ditempatnya. Bahkan untuk sekedar menggerakkan jari saja rasanya Tina tidak mampu. Rasa penasaran, juga gemas pada Reyhan juga hilang begitu saja karena pertanyaan tersebut.
“Aku butuh jawaban kamu sekarang Tina. Karena aku sudah meminta pada pak Faza untuk menemaniku datang kerumah tuan Renaldi untuk melamar kamu.”
Tina mencoba menggerakkan mulutnya yang terbuka namun rasanya sangat sulit hingga akhirnya Tina tidak bisa lagi melihat apa apa. Lampu disekitarnya mendadak padam bersamaan dengan suara bising pengunjung lain mengobrol yang entah hilang karena apa.
“Tina !! Ya Tuhan..”
Dan suara pekikan Reyhan menjadi suara yang terakhir Tina dengar.
__ADS_1