PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 168


__ADS_3

Setelah Santoso benar benar pergi, Faza kembali keluar dari rumah. Faza melangkah cepat menuju mobilnya untuk menggendong Zahra yang tertidur didalam mobil.


Faza menggendong Zahra masuk kedalam rumah dengan berbagai pikiran yang berkecamuk di otaknya. Faza tidak bisa memungkiri bahwa dirinya takut dengan apa yang Santoso katakan tadi. Meski memang Zahra juga mengenal sosok Siska baik namun itu tidak menutup kemungkinan Zahra menaruh curiga padanya. Apa lagi jika sampai Zahra tau Faza mendadak mengganti posisi Siska dengan Reyhan. Faza benar benar harus bisa memutar otaknya menghadapi situasi sulit itu. Terutama untuk menjaga hati dan perasaan istrinya, Faza benar benar harus sangat hati hati.


“Tuhan.. Hanya padamu aku meminta pertolongan..” Batin Faza sambil melangkah menaiki satu persatu anak tangga menuju lantai dua dimana kamarnya dan Zahra berada.


Begitu sampai dikamarnya, Faza segera membaringkan tubuh Zahra diatas tempat tidur dengan sangat hati hati. Hari ini cukup melelahkan untuk Zahra karna seharian Faza mengajaknya jalan jalan.


Faza menyelimuti tubuh Zahra sampai batas dada dengan selimut. Setelah itu Faza memutuskan untuk membersihkan dirinya dan mengganti bajunya lebih dulu sebelum tidur disamping istrinya.


Didalam kamar mandi Faza terus memikirkan tentang Zahra dan Santoso. Bayangan tentang Santoso dan Zahra bersama bahkan sempet terbesit dibenaknya. Faza merasa sangat marah juga takut.


“Brengsek !” Umpatnya kesal.


Faza merasa tidak tenang sekarang. Santoso seperti memegang kunci kehancuran hubungan-nya dengan Zahra.


Faza yakin sedikit saja dirinya lengah, Santoso pasti akan bertindak. Santoso akan menghancurkan segalanya menggunakan kelemahan Faza.


Faza menghela napas kasar. Pria itu mematikan shower kemudian meraih handuk dan segera mengeringkan tubuhnya.


Selesai membersihkan dirinya Faza pun keluar dari kamar mandi. Faza memakai baju ganti kemudian segera bergabung dengan Zahra tidur diatas ranjang.


Pikiran pikiran buruk memang terus saja berkecamuk dihati dan pikiran-nya. Tapi Faza terus meyakini, Tuhan tidak akan membiarkan hubungan-nya dengan Zahra dalam masalah. Dan Faza akan terus mengusahakan yang terbaik untuk menjaga dan melindungi hubungan-nya dengan Zahra. Terlebih sebentar lagi putra mereka akan lahir yang pasti akan sangat membutuhkan keduanya.


-------------

__ADS_1


Ditempat lain, tepatnya dikediaman keluarga besar Anita.


Anita baru saja sampai saat melihat kedua kedua orang tuanya cekcok. Penasaran dengan penyebab cekcoknya mereka berdua, Anita pun melangkah mendekat bermaksud melerai keduanya.


“Ada apa ini mah, pah?” Tanya Anita membuat perhatian kedua orang tuanya langsung terarah padanya.


Mamah Anita dengan kedua mata berkaca kaca langsung mendekat pada Anita. Satu tamparan keras dia layangkan di pipi Anita yang sukses membuat Anita terkejut bukan main.


“Mamah !!” Bentak papah Anita kemudian langsung menubruk Anita dan memeluknya melindunginya dari amukan mamah Anita yang sedang dalam keadaan emosi yang tidak bisa terkontrol.


“Apa apaan kamu? Jangan sakiti anak kita. Semua ini bisa kita bicarakan baik baik.”


Panas, sakit, perih menjadi satu terasa begitu jelas di kulit pipi Anita. Tamparan itu begitu penuh kekuatan dan amarah hingga membuat Anita bahkan merasakan ngilu sampai ke rahang.


“Anak kamu sudah mempermalukan mamah pah.. Dia anak kurang ajar. Tidak tau di untung !!”


“Mah.. Ada apa? Apa salah ku?” Tanya Anita lirih dengan suara bergetar.


“Ssshhttt.. Sudah sayang.. Kamu tidak salah. Kamu anak yang baik.”


Papah Anita memeluk erat tubuh Anita dengan mencium beberapa puncak kepala putri tunggalnya itu. Tidak tega rasanya melihat putri satu satunya tersakiti hanya karna sebuah masalah yang belum jelas duduk perkaranya.


“Kamu tau Anita? Rasya tadi datang kesini. Dia membatalkan pernikahan kalian. Dan itu karna kesalahan kamu. Kamu membuat impian mamah hancur. Kamu membuat semua yang sudah mamah banggakan atas diri kamu musnah begitu saja.” Marah mamah Anita.


Anita membulatkan kedua matanya. Anita tidak menyangka Rasya akan begitu cepat mengambil tindakan. Pernikahan mereka tinggal menghitung hari. Kedua orang tuanya sudah banyak mengeluarkan uang untuk persiapan pernikahan yang memang sudah hampir 100% itu. Tidak heran jika sang mamah sampai begitu murka. Apa lagi dari awal mamahnya memang yang paling semangat menyiapkan semuanya.

__ADS_1


“Mah sudahlah.. Kenapa mamah jadi nyalahin anak kita sih? Kalau Rasya membatalkan pernikahan itu jauh lebih bagus. Dari pada mereka sudah menikah tapi akhirnya cerai juga.” Papah Anita terus membela putri kebanggan-nya itu.


“Nggak bisa pah.. Anita itu sudah salah. Dia harus tau dan sadar atas apa yang sudah dia lakukan. Gara gara dia kita kehilangan banyak uang. Kita rugi besar papah !!”


“Mamah sudahlah.. Uang itu masih bisa dicari. Papah masih bisa mencari uang lebih banyak lagi buat mamah. Kebahagiaan anak kita itu nomor satu mah..”


Anita hanya bisa diam mendengarkan. Semuanya memang salahnya. Rasya marah karna Anita jujur tentang perasaan-nya pada Faza.


“Lalu bagaimana dengan undangan yang sekian banyaknya kita sebar? Bagaimana dengan harga diri kita pah? Mau ditaruh dimana muka kita? Papah nggak malu sama rekan rekan bisnis papah?”


Papah Anita menggelengkan kepalanya tidak menyangka dengan amarah istrinya yang begitu membludak. Padahal jika dipikir lagi, menurut papah Anita harusnya yang disalahkan Rasya karna membatalkan pernikahan begitu saja tanpa sebab. Apa lagi pagi tadi Rasya masih bersikap seperti biasanya. Ramah dan begitu lembut serta perhatian memperlakukan Anita.


“Papah nggak perduli dengan semua itu mah.. Yang penting adalah Anita baik baik saja.” Tekan papah Anita menatap marah pada istrinya.


“Tapi mamah malu sama temen temen arisan mamah pah. Mamah sudah terlanjur menceritakan semuanya. Mau ditaruh dimana muka mamah kalau sampai mereka tau pernikahan Anita dan Rasya gagal? Papah mikir nggak sih?!”


“Cukup mah.. Kamu hanya memikirkan diri kamu sendiri.” Bentak papah Anita kemudian membawa Anita menjauh dari istrinya.


Mamah Anita terus berseru membahana disetiap sudut rumah memanggil suaminya namun papah Anita tidak perduli. Yang terpenting baginya sekarang adalah menenangkan putrinya yang pasti juga merasa sangat hancur karna Rasya.


Papah Anita membawa Anita ke kamar Anita. Pria berumur yang masih terlihat tampan itu dengan penuh kelembutan mendudukan Anita ditepi ranjang. Dari kecil Anita adalah putrinya yang sangat manja namun juga mandiri. Anita adalah kebanggan-nya.


“Pah aku...” Anita tidak kuasa melanjutkan ucapan-nya. Suara tertelan oleh tangisan-nya.


“Papah percaya sama kamu nak.. Jangan dengarkan apa kata mamah kamu yah.. Mamah hanya sedang emosi.”

__ADS_1


Papah Anita kembali memeluk Anita dengan lembut. Beberapa kali pria itu mencium puncak kepala putrinya yang menangis dalam dekapan nyaman-nya.


“Maaf pah.. Maafin aku..” Tangis Anita merasa sangat bersalah karna sudah membuat kedua orang tuanya berantem.


__ADS_2