PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 117


__ADS_3

Mobil Fadly sampai tepat didepan kediaman kedua orang tuanya. Dengan rasa kesal yang sudah mencapai puncak ubun ubun-nya Fadly turun dari mobil dan menutup pintunya dengan membantingnya membuat pak Umar yang sedang menutup gerbang terkejut.


Namun itu tidak berlaku untuk Loly. Wanita itu justru cekikikan menertawakan Fadly yang kesal karna dirinya yang ikut nebeng ke mobilnya.


Loly kemudian turun setelah Fadly benar benar masuk kedalam rumah. Ketika Loly hendak menyusul Fadly masuk, suara klakson mobil Sinta membuatnya menoleh dan urung melangkah.


Loly mengeryit melihat mobil Sinta yang mulai memasuki pekarangan rumah. Loly penasaran darimana Sinta pergi. Padahal Loly pikir sore ini Sinta sedang bersantai dirumah.


“Tante darimana?” Tanya Loly begitu Sinta keluar dari mobil dan melangkah mendekat padanya.


Sinta menghela napas kesal.


“Kamu kesini sama siapa sayang? Mobil kamu mana?” Tanya Sinta masih dengan raut wajah kesalnya.


“Eemmm.. Aku nggak bawa mobil tante. Aku kesini sama Fadly.”


Seketika raut wajah Sinta berubah. Sinta benar benar tidak mengerti dengan perubahan sikap Loly.


“Tante belum jawab pertanyaan aku loh. Tante darimana? Dan kenapa mukanya kaya kesal banget begitu.”


Sesaat Sinta terdiam. Wanita itu tidak ingin berburuk sangka pada Loly maupun Fadly. Sinta menebak mereka berdua tidak sengaja bertemu dijalan kemudian Loly ikut ke mobil Fadly.


“Tante...” Panggil Loly sambil menyentuh lembut lengan Sinta.


“Ah ya Loly...”


“Ditanya kok malah bengong sih...” Tatap Loly pada Sinta dengan ekspresi sendu.


“Eemmm... Kita bicara didalam saja sayang.” Ujar Sinta mengajak Loly untuk masuk kedalam rumahnya.


Loly menganggukan kepalanya. Loly berharap setelah ini Fadly tidak lagi keluar rumah. Loly sendiri tidak tau apa yang terjadi padanya sehingga rasanya Loly ingin selalu berada didekat Fadly, bukan lagi Faza.


“Kamu tau nggak Loly, tante itu lagi kesel banget sama Cindy. Masa tante cuma minta buat USG kandungan Zahra saja harus dengan persetujuan Faza. Padahal tante kan temen-nya. Tante jadi nyesel merekomendasikan dia sama Faza.”


Loly mengeryit.


”Hanya USG harus dengan persetujuan suami?” Tanyanya.


“Ya.. Aneh banget kan? Padahal dia kenal tante dengan baik. Dia juga jelas jelas tau tante ini siapa. Heran tante.”

__ADS_1


Loly mengangguk pelan. Bukan-nya fokus mendengarkan apa yang Sinta ceritakan, Loly justru membayangkan dirinya yang hamil dan Fadly yang menjadi suaminya.


Konyol memang. Tapi begitulah kenyataan-nya. Sepertinya Loly mulai jatuh hati pada Fadly.


“Tante bagaimana kalau nanti malam kita kesana, tapi ajak Fadly juga yah..” Senyum Loly.


Sinta terkejut. Tidak biasanya Loly seperti itu. Biasanya Loly selalu menghindari Fadly jika sedang berada disekitar Faza.


“Mumpung aku lagi nggak sibuk tante. Ajak om sekalian juga boleh. Biar kita sama sama kesananya.”


Sinta benar benar tidak mengerti. Semuanya mendadak berubah. Fadly yang dingin, Faza yang super sibuk, suaminya yang selalu dirumah. Dan sekarang Loly yang aneh.


“Kita kesana juga percuma Loly. Faza selalu pulang larut. Kita tidak akan bertemu dengan Faza.”


“Tante kan bisa telpon mas Faza suruh dia pulang cepet. Aku yakin kok kalau tante yang ngomong mas Faza pasti mau dengerin.”


Sinta menghela napas kemudian mengangguk pelan. Wanita itu kemudian segera menghubungi Faza. Beberapa kali Sinta menelepon hingga akhirnya Faza mengangkat telepon darinya.


------------


“Ya mah... Kenapa?”


Faza meringis mendengar pertanyaan omelan Sinta. Pria itu membuka pintu mobilnya dan turun dari kendaraan roda empat itu.


Ya, Faza memang sengaja pulang cepat hari ini. Faza berniat menemani dan mengajak Zahra untuk jalan jalan. Faza juga ingin meminta maaf karna tidak bisa menemani Zahra cek kandungan ke dokter siang tadi.


“Maaf mah tadi aku lagi dijalan. Ini aku baru sampe dirumah.” Jawab Faza pelan.


“Dirumah? Kamu sudah pulang?”


“Ya mah.. Aku sengaja pulang lebih awal hari ini buat nemenin Zahra. Sekalian minta maaf karna tadi siang nggak bisa nemenin Zahra cek ke dokter. Aku juga mau berterimakasih sama mamah karna mamah udah mau nemenin Zahra ke dokter.”


“Oke. Nanti malam mamah datang.”


Sambungan telepon langsung ditutup oleh Sinta. Faza hanya berdecak pelan dengan helaan napas. Pria itu kemudian melangkah masuk kedalam rumahnya.


Faza terkejut karna kedatangan-nya disambut oleh pelukan tiba tiba Arka. Pria itu kemudian tertawa. Hampir saja dirinya oyong karna tidak bisa menjaga keseimbangan tubuh saat Arka menubruknya.


“Hey.. Kamu disini?” Tanya Faza mengangkat tubuh Arka, menggendongnya.

__ADS_1


“Ya om.. Pulang sekolah Arka langsung kesini sama mamah.” Jawab Arka sambil menyalimi Faza.


“Eemm.. Sekarang mamah sama tante mana?” Tanya Faza kemudian.


“Ada didapur om. Lagi buat kue.”


“Oh ya? Bagaimana kalau kita kesana?”


“Oke om...”


“Anak pinter...” Puji Faza kemudian membawa Arka melangkah menuju dapur untuk menemui istrinya juga kakak iparnya, Nadia.


Faza tersenyum melihat istrinya yang tertawa tawa tampak sangat bahagia dengan Nadia. Faza yakin jika mamahnya melihat Zahra sedang berkutat didapur pasti akan marah marah.


“Itu tante sama mamah om..” Tunjuk Arka.


“Ya.. Ya sudah kamu boleh main lagi. Om mau salim dulu sama tante dan mamah kamu.”


“Oke om..”


Faza menurunkan Arka dari gendongan-nya. Setelah Arka kembali berlari untuk melanjutkan main-nya, Faza pun melangkah mendekat pada Zahra dan Nadia yang sedang asik membuat adonan kue dengan mikser.


“Aku pulang...”


Suara Faza berhasil menarik perhatian keduanya terutama Zahra. Sesaat Zahra terdiam. Wanita itu tidak langsung mendekat pada Faza. Zahra justru terlihat bingung hingga panggilan Nadia menyadarkan-nya.


“Gih kamu kesana dulu..” Senyum Nadia memerintah dengan lembut.


“Ya kak..” Angguk Zahra tersenyum membalas tatapan Nadia.


Zahra kemudian segera melangkah mendekat pada Faza. Zahra menyalimi Faza kemudian berhambur memeluk tubuh kekar suaminya. Rasanya Zahra seperti ingin menangis. Dadanya sesak dengan kedua matanya yang mendadak memanas dengan pandangan sedikit mengabur karna air yang menggenangi kedua kelopak matanya.


Faza membalas pelukan Zahra dengan erat namun tetap dengan penuh kelembutan. Rasanya sudah lama Faza tidak mendapat sambutan pelukan penuh kerinduan seperti sekarang dari Zahra. Semua itu tentu saja karna dirinya yang sangat sibuk.


Faza melepaskan pelukan Zahra, menangkup kedua pipi chuby istrinya kemudian mengecup lama kening Zahra. Faza tidak merasa malu sedikitpun meskipun disana bukan hanya ada dirinya dan Zahra, tapi juga ada Nadia.


“Mas...”


Zahra merasa lidahnya kelu untuk mengatakan isi hatinya pada Faza sekarang. Zahra bahkan tidak bisa melanjutkan kata rindu yang ingin dia nyatakan secara langsung pada suaminya itu.

__ADS_1


“Aku minta maaf sayang...” Lirih Faza menatap dalam kedua mata belo Zahra.


__ADS_2