
Rasya tampak tidak semangat menemani Tina bermain basket. Akibatnya Tina pun banyak memasukan bola kedalam ring. Sedang Rasya sama sekali tidak bisa memasukan satu kalipun.
Tina yang melihat itu menggelengkan kepalanya. Tina tau penyebab kakak nya tidak bisa berkonsentrasi. Apa lagi jika bukan karna Anita.
“Kak..”
Tina mendekat pada Rasya yang sudah berpeluh. Napas pria itu tersengal sengal antara capek dan kesal.
“Minum dulu..” Tina menyodorkan sebotol air putih untuk kakaknya yang langsung disambar dengan kasar oleh Rasya kemudian ditenggaknya sampai habis tidak tersisa.
Tina menggeleng lagi. Tina paham bagaimana rasanya. Tina juga pernah merasakan cinta yang tidak terbalas yang sampai saat ini berusaha Tina tutupi dari dunia luar.
“Bunda sama papah udah cerita sama aku kak..”
Rasya tersenyum kecut. Sudah dia duga. Kedua orang tuanya pasti sudah memberitahu adiknya.
“Lalu bagaimana? Apa keputusan kakak salah? Apa yang kakak lakukan dengan membatalkan pernikahan dengan Anita sudah benar?”
Tina menghela napas pelan. Tina akui dirinya memang kurang suka dengan Anita. Tentu saja karna orang tua Anita adalah orang yang memandang segala hal dari segi harta dan materi.
Tapi Tina juga tau Rasya sangat mencintai Anita. Terbukti dari cara Rasya menyikapi Anita. Rasya bahkan rela bolak balik untuk mengantar jemput saat Anita hendak berangkat dan pulang dari kerjaan-nya.
“Jujur kak aku memang kurang suka sama kak Anita. Terlepas dari itu aku tidak pernah keberatan dengan semua keputusan kakak.. Tapi aku, bunda juga papah perlu tau alasan kenapa kakak tiba tiba membatalkan pernikahan.”
Rasya menelan ludahnya. Mengingat ucapan Anita membuatnya merasa sangat terhina. Rasya merasa dibanding bandingkan secara tidak langsung dengan Faza.
“Anita.. Dia hanya menganggap kakak sebagai pelarian. Kakak nggak bisa terima itu.”
Tina menoleh. Yang Tina tau Anita pernah memiliki rasa pada Faza, suami dari sahabatnya, Zahra.
“Dia mencintai laki laki lain. Dan laki laki itu adalah Faza Akbar, suami dari Zahra sahabat kamu.”
Tina tersenyum tipis. Melupakan orang yang dicintai memang tidak semudah saat mengatakan-nya. Semua itu tentu butuh proses dan waktu yang tidak sebentar.
__ADS_1
“Kakak akui kakak memang tidak sebanding dengan Faza. Faza pintar, cerdas, dan berprestasi. Bahkan dia sekarang menjadi pemimpin di perusahaan tempatnya bekerja dalam waktu yang cukup singkat. Sedangkan kakak, kakak jadi direktur karna kakak adalah anak papah, pemilik dari perusahaan. Kakak sadar kakak tidak sesempurna Faza. Tapi kakak juga tidak mau dipermainkan. Kakak punya hati dan perasaan. Anita tidak bisa begitu saja menjadikan kakak sebagai pelarian.”
Tina paham dan Tina mengerti dengan apa yang sedang dirasakan oleh kakaknya. Tapi satu sisi Tina juga tidak bisa menyalahkan Anita. Tina sendiri merasakan bahkan sakitnya mencintai dalam diam.
“Apapun keputusan kakak aku yakin itu yang terbaik. Bukankah masih banyak perempuan diluar sana yang pasti jauh lebih baik dari kak Anita? Yang bisa mencintai kakak dengan tulus.”
Rasya menggelengkan kepalanya.
“Semuanya tidak semudah itu dek.. Kakak hanya manusia biasa. Hati kakak bukan baja ataupun batu. Kakak bisa merasakan sakit dan kecewa.”
Tina tersenyum. Tina tidak bisa memberikan solusi apapun sekarang. Permasalahan kakaknya bukan tentang pekerjaan, tapi tentang hati yang tentu saja tidak semua orang bisa mengerti dan merasakan. Adapun yang bisa merasakan, tidak akan bisa memberikan obat penawar akan rasa sakit yang sedang dirasa.
“Aku paham kak..” Senyum Tina.
Rasya menarik napas panjang kemudian menghembuskan-nya perlahan. Saat ini yang ada dipikiran-nya hanya Anita. Sedang dimana Anita sekarang? Sedang apa? Bersama siapa?
“Lebih baik sekarang kita masuk dan istirahat kak.. Kakak nggak perlu khawatir. Tuhan hanya satu. Tuhan nggak pernah tidur. Tuhan adil. Dan Tuhan tau yang terbaik untuk semua makhluknya.”
Rasya tertawa pelan. Ucapan adiknya sama sekali tidak mampu mengurangi beban dihatinya.
Tina menepuk pelan bahu Rasya kemudian melangkah lebih dulu masuk kedalam rumah. Tina tidak tau harus bagaimana menyikapi masalah kakaknya. Meskipun Tina tidak menyukai Anita, tapi bukan berarti Tina bahagia Anita gagal menikah dengan kakaknya. Karna kegagalan itu juga meninggalkan luka dihati kakak satu satunya, Rasya Renaldi.
-------------
“Mas...” Panggil Zahra pelan pada Faza yang sedang memeluknya dari belakang sambil mengusap lembut perut besar Zahra yang sejak tadi janin didalamnya bergerak begitu aktif karna usapan lembut tangan besar Faza.
Saat ini mereka berdua sedang berdiri dibalkon kamarnya menatap bintang dan bulan yang menghiasi langit gelap.
“Ya sayang...” Saut Faza lembut.
“Tentang nama untuk putra kita, apa kamu sudah memikirkan-nya?” Tanya Zahra membuat Faza meringis.
Faza terlalu sibuk setiap harinya sehingga belum sempat memikirkan nama yang bagus untuk calon putra mereka.
__ADS_1
“Maaf sayang.. Aku belum sempat memikirkan tentang itu.” Jawab Faza menyesal.
Zahra tersenyum. Zahra maklum jika memang Faza belum memikirkan-nya. Zahra sendiri tau bagaimana sibuknya Faza setiap hari. Zahra juga mengerti hari hari Faza sudah sangat sibuk oleh berkas berkas yang selalu menumpuk setiap hari di meja kerjanya.
“Enggak papa kok mas, aku ngerti. Lagian kan kamu sibuk setiap hari. Kamu juga pasti sudah sangat lelah setiap pulang dari kantor.”
Faza ikut tersenyum. Faza bersyukur Zahra bisa mengerti posisinya.
“Aku akan memikirkan-nya nanti sayang..”
“Oke...” Angguk Zahra pelan.
Faza menghela napas pelan. Jika boleh meminta pada Tuhan Faza ingin hubungan-nya dengan Zahra selalu lancar tanpa gangguan. Faza ingin hubungan-nya dengan Zahra selalu manis dan harmonis. Namun Faza juga sadar itu tidak akan mungkin. Tuhan memang pasti akan melindunginya dan Zahra dari gangguan apapun. Terlepas dari itu semua Faza juga harus berusaha semampunya untuk kemudian menyerahkan hasil dari usahanya pada Tuhan.
“Mas telepon mamah nggak?” Tanya Zahra kemudian.
Faza menggeleng pelan. Lagi lagi alasan sibuk membuatnya tidak terlalu memperhatikan orang orang yang dicintainya.
“Tidak sayang.”
Zahra menghela napas. Sejak ribut dengan Aries, Sinta memang tidak pernah lagi datang kerumahnya. Dan Zahra merasa khawatir dengan keadaan mamah mertuanya itu meskipun beberapa kali Fadly mengatakan bahwa Sinta dalam keadaan selalu baik baik saja.
“Saat kamu di Amerika mamah berantem dengan kak Aries mas. Dan atas nama kak Aries aku mau minta maaf sama kamu.”
Faza tertawa pelan.
“Nggak ada yang perlu dimaafkan sayang. Aku tau bagaimana mamah. Aku juga tau bagaimana kak Aries. Aku yakin kak Aries berdebat dengan mamah karna membela kamu. Harusnya aku yang berterimakasih pada kak Aries karna sudah membantu aku menjaga kamu dirumah selama aku berada di Amerika.”
Zahra melepaskan tangan Faza yang terus memeluk dan melingkari perut besarnya. Zahra kemudian membalikan tubuhnya menatap Aries bingung.
“Kamu nggak marah?” Tanya Zahra menatap Faza serius.
Faza tersenyum kemudian mendekatkan wajahnya pada wajah Zahra. Satu kecupan lembut Faza daratkan dikening Zahra.
__ADS_1
“Tentu saja tidak istriku.”