PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 99


__ADS_3

Saat ini Sinta, Faza, juga Zahra sedang berada diruang keluarga. Sinta terus bersikap dingin dan cuek pada keduanya karna kemarahan-nya.


“Oya mah.. Aku belum kasih tau ya sama mamah tentang aku yang naik jabatan. Mamah juga belum kasih ucapan selamat diulang tahun aku kemarin.”


Sinta tetap saja diam. Sinta memang sempat tidak mengingat hari ulang tahun putra sulungnya itu. Tapi kemudian karna Loly yang mengingatkan Sinta akhirnya ingat. Loly juga yang mengajak Sinta membeli kado untuk Faza.


Faza melirik mamahnya. Tidak ada respon apapun dari mamahnya.


Sedangkan Zahra, dia memilih untuk bangkit dari duduknya dan berlalu meninggalkan Faza hanya berdua dengan Sinta. Zahra berpikir mungkin mereka berdua akan lebih nyaman mengobrol jika tidak ada dirinya disana.


“Mah...”


“Mamah tau kamu ulang tahun makanya pagi itu mamah datang untuk merayakan dengan sarapan bersama. Tapi Lasmi bilang kamu sedang pergi ke Paris. Kamu tau bagaimana kecewanya mamah saat itu Faza?”


Faza diam. Faza memang tidak memberitahu mamahnya tentang bulan madunya dan Zahra ke Paris. Tapi Faza melakukan itu bukan tanpa alasan. Faza hanya tidak mau niatnya membahagiakan Zahra berujung kegagalan jika sampai mamahnya tau tentang keniatan-nya tersebut.


“Kamu sengaja merahasiakan-nya dari mamah hem?”


Faza menghela napas pelan. Faza tidak tau harus berkata apa pada mamahnya itu.


“Mamah kecewa sama kamu Faza. Kamu lebih memilih Zahra dari pada mamah.” Kata Sinta kemudian.


Faza menggelengkan kepalanya tidak percaya. Penilaian mamahnya pada Zahra tetap saja sama seperti dulu.


“Mah aku...”


“Cukup. Mamah nggak perlu penjelasan apapun dari kamu.”


“Zahra hamil mah.” Ujar Faza cepat.


Sinta kaget dan langsung bungkam.


“Apa?” Lirihnya tidak percaya.


“Ya mah.. Zahra hamil. Usia kandungan-nya sudah 4 minggu.” Senyum Faza penuh arti.


Sinta menelan ludahnya. Sinta memang ingin segera menimang cucu. Tapi bukan dari Zahra melainkan dari Loly. Wanita yang selalu Sinta anggap paling baik untuk menjadi pendamping hidup putra sulungnya.


“Bukan-nya mamah pengin secepatnya menimang cucu? Sebentar lagi itu akan terkabul mah.. Mamah akan punya cucu. Cucu pertama mamah..”


Faza berkata dengan senyuman lebarnya. Faza benar benar berharap mamahnya merubah penilaian-nya terhadap Zahra setelah ini.

__ADS_1


Sinta tidak tau harus ber ekspresi bagaimana. Zahra memang bukan wanita yang Sinta mau menjadi menantunya. Tapi jika memang benar Zahra hamil anak Faza, Sinta juga tidak bisa berbuat apa apa. Bagaimanapun juga Janin yang sedang dikandung Zahra adalah cucunya. Darah daging dari putra sulungnya sendiri. Faza Akbar.


-------


“Zahra...”


Zahra baru saja mendudukan dirinya dikursi teras samping rumah saat mendengar suara Fadly. Zahra langsung menoleh dan kembali bangkit berdiri.


“Fadly...” Senyum Zahra lebar.


“Kalian sudah balik? Mana kakak?” Tanya Fadly yang sudah rapi dengan kemeja lengan panjang warna biru serta celana bahan hitam yang dikenakan-nya.


“Mas Faza lagi ngobrol sama mamah diruang keluarga.” Jawab Zahra.


Fadly mengangguk dengan senyuman manis yang menghiasi bibirnya. Fadly senang karna Faza dan Zahra sudah kembali ke jakarta.


“Kamu kok masih dirumah jam segini. Nggak kerja?”


“Ini aku baru mau berangkat. Tapi karna ada kamu dan kakak mungkin aku akan menundanya.”


Zahra tertawa mendengarnya. Dirumah itu hanya Fadly yang mampu membuatnya menjadi dirinya sendiri selain Faza. Papah mertuanya meskipun sekarang sudah baik, Zahra masih merasa canggung.


“Oke..” Angguk Zahra.


Zahra menghela napas menatap punggung Fadly yang berlalu meninggalkan-nya. Zahra yakin Faza pasti sudah memberitahu Sinta tentang kehamilan-nya. Entah akan seperti apa respon mamah mertuanya itu Zahra tidak tau. Tapi Zahra berharap dengan kehamilan-nya sekarang hubungan-nya juga mamah mertuanya akan membaik.


Zahra kembali mendudukan dirinya dikursi. Tatapan-nya lurus kedepan. Perlahan seulas senyum terukir dibibir Zahra. Tangan-nya mengusap lembut perutnya yang masih rata. Zahra membayangkan perutnya yang sebentar lagi akan membuncit kemudian dia akan melahirkan dan memiliki buah cintanya dengan Faza.


“Mamah harap kamu bisa menjadi jembatan untuk hubungan mamah dan oma kamu ya sayang.. Sehat sehat ya kamu.. Cepat lahir. Mamah akan mengajari kamu banyak hal.” Gumam Zahra dengan senyuman.


Kabar kehamilan Zahra disambut dengan suka cita oleh Fadly dan Akbar. Fadly bahkan sampai jingkrakan saking senangnya karna sebentar lagi akan menjadi seorang om. Fadly akan memiliki keponakan yang akan sangat dia sayangi.


Berbeda dengan Sinta yang tampak uring uringan setelah mendengar kabar tersebut. Sinta berpikir dengan hamilnya Zahra, dirinya tidak akan bisa lagi mendekatkan Loly dengan Faza.


Sekarang Faza dan Zahra sudah kembali pulang kerumahnya. Tentunya tanpa sepengetahuan Sinta karna Sinta yang langsung masuk kamar dan enggan menemui Zahra juga Faza lagi.


Sinta menghela napas. Wanita itu meraih ponselnya dan segera menghubungi Loly. Sinta yakin Loly sudah pulang dari bekerja sore ini.


“Ya Tante...”


Sinta menghela napas sekali lagi begitu mendengar suara Loly dari seberang telepon. Sinta harus membicarakan tentang kehamilan Zahra pada Loly agar mereka bisa sama sama mencari solusi.

__ADS_1


“Loly.. Kamu dimana sekarang?” Tanya Sinta dengan ekspresi sendu.


“Ini aku lagi dijalan mau pulang tante. Kenapa?”


“Kebetulan kalau begitu. Ada yang mau tante bicarakan. Kita ketemu direstoran biasa ya..”


“Oke tante.”


Sinta menyudahi telepon-nya setelah itu. Wanita itu bergegas meraih tas juga kunci mobilnya kemudian melangkah menuju pintu. Ketika membuka pintu kamarnya Sinta terkejut mendapati Akbar sudah berdiri didepan pintu.


“Papah.. Kamu ngagetin aja.” Kesal Sinta.


Akbar mengeryit melihat istrinya membawa tas serta kunci mobil ditangan-nya.


“Mamah mau kemana?” Tanya Akbar.


Sinta menghela napas kasar. Wanita itu hendak melangkah melewati suaminya namun segera ditahan dengan dicekal lengan-nya oleh Akbar.


“Mamah mau kemana?” Tanya Akbar mengulang.


Sinta melepaskan cekalan tangan Akbar dengan pelan.


“Memangnya selama ini kalian perduli sama mamah?”


Akbar kembali mengeryit tidak mengerti dengan apa yang istrinya katakan.


“Apa maksud kamu mah?”


“Sudahlah pah.. Mamah lagi malas debat. Mamah mau keluar sebentar. Cari angin.”


Setelah berkata seperti itu Sinta pun berlalu meninggalkan Akbar yang hanya bisa menghela napas melihat sikapnya. Akbar tau istrinya pasti sedang dalam keadaan hati yang buruk. Padahal Akbar pikir Sinta akan sangat senang juga mendengar kabar baik tentang kehamilan Zahra.


----------


“Apa? Zahra hamil tante?!” Loly sangat terkejut mendengar apa yang Sinta katakan padanya. Loly menggeleng tidak percaya. Loly pikir Zahra tidak akan bisa hamil.


“Tante jadi bingung sekarang. Tante maunya Faza sama kamu. Tapi sekarang Zahra hamil. Tante udah nggak bisa berbuat apa apa lagi. Tante nggak mungkinkan berbuat jahat pada Zahra supaya Zahra keguguran?”


Diam diam Loly mengepalkan kedua tangan-nya tanpa diketahui Sinta. Loly sangat marah tapi dia berusaha terus menutupinya didepan Sinta.


“Eemm.. Aku ikut bahagia mendengarnya tante..” Katanya tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2