PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)

PASUTRI (Tentang Cinta & Kebahagiaan)
BAB 238


__ADS_3

Malam ini menjadi malam yang sangat indah bagi Zahra. Dihari ulang tahun-nya Faza benar benar mengistimewakan-nya. Ajaibnya lagi Fahri, putra tampan-nya juga seperti mengerti. Bayi tampan itu begitu anteng bersama Nadia. Fahri bahkan sudah lelap dalam tidurnya saat Faza dan Zahra pulang.


“Ra.. Kakak nggak bisa kasih apa apa sama kamu.. Tapi selamat ulang tahun ya.. Semoga kamu sehat selalu dan selalu diberi kebahagiaan.” Ujar Nadia sambil menggenggam tangan Zahra.


Zahra menoleh pada Faza yang berdiri disampingnya sebentar kemudian tersenyum saat menatap kembali pada Zahra.


“Kak.. Kakak nggak perlu mikirin itu. Dengan kakak ingat hari ulang tahun aku saja aku sudah bahagia banget. Makasih ya kak, kakak udah mau jadi kakak terbaik buat aku.. Makasih juga karena kakak selalu ada buat aku..” Senyum Zahra tulus kemudian berhambur memeluk Nadia.


Nadia tersenyum dan membalas pelukan Zahra. Dari awal mengenal Zahra, Nadia memang sudah sangat menyayanginya. Apa lagi setelah Nadia tau bahwa Zahra adalah adik kesayangan suaminya. Nadia tidak pernah sekalipun merasa iri ataupun cemburu karena Aries yang selalu perduli dan menyayangi Zahra. Karena Nadia sendiri juga sangat menyayangi Zahra.


“Ya udah kakak pulang dulu ya.. Takut kemaleman. Kasihan Arka juga sudah tidur..”


Zahra melepaskan pelukan-nya kemudian menganggukan kepalanya. Zahra paham dan mengerti kalau memang Nadia tidak bisa menginap ditempatnya. Tentu saja karena Nadia ingin menyambut kepulangan suaminya.


“Eemm.. Biar aku yang gendong Arka kak..” Ujar Faza.


“Maaf ngerepotin ya Za..” Senyum Nadia merasa tidak enak hati pada Faza.


“Kakak nggak boleh ngomong begitu. Justru kami berdua yang sudah merepotkan kakak..” Balas Faza.


Nadia hanya tersenyum. Dulu Nadia sempat meragukan Faza karena melihat sikap ketus Sinta pada Zahra. Tapi setelah melihat sendiri bagaimana telaten-nya seorang Faza bahkan saat mengurus Fahri, Nadia menjadi yakin bahwa Zahra sudah berada ditangan orang yang tepat.


Faza mengantar Nadia dan Arka pulang. Sementara Zahra segera membersihkan dirinya untuk beristirahat sembari menunggu kepulangan suaminya.


Deringan ponsel membuat Zahra menoleh. Zahra yang sedang berbaring diatas ranjang segera meraih ponselnya yang berada diatas nakas dan tersenyum melihat kontak Aries yang tertera dilayar menyala benda pipih itu.


“Halo kak..”


“Ya dek.. Maaf ya kakak sibuk baru bisa nelepon kamu. Oh iya, selamat ulang tahun yah.. Bahagia selalu..”


Zahra tertawa mendengar ucapan dan do'a dari Aries, kakaknya. Aries memang tidak pernah telat mengucapkan-nya jika Zahra sedang berulang tahun.

__ADS_1


“Kamu mau hadiah apa dari kakak?” Tanya Aries kemudian.


“Aku nggak mau hadiah kak.. Aku cuma pengin kakak janji sama aku.. Kakak akan selalu ada sebagai ayah serta ibu buat aku..” Jawab Zahra dengan kedua mata berkaca kaca.


Zahra memang tidak bisa menahan perasaan-nya jika sudah menyangkut tentang kedua orang tuanya yang sudah lama tiada.


“Itu pasti dek.. Kakak akan selalu menyayangi kamu.. Kakak akan selalu ada untuk kamu.. Karena itu adalah janji kakak pada ayah juga ibu..”


Air mata Zahra menetes namun dengan segera Zahra mengusapnya. Zahra sadar, yang sudah tiada tidak seharusnya ditangisi. Yang harus Zahra lakukan adalah mendo'akan keduanya supaya tenang dan ditempatkan ditempat yang terindah oleh sang maha pencipta segala galanya.


“Makasih ya kak.. Aku bahagia banget punya kakak sebagai kakak aku..” Senyum Zahra.


“Kakak jauh lebih bahagia kalau kamu bahagia dek. Selamanya kakak selalu menyayangi dan mencintai kamu.”


Air mata Zahra kembali menetes mendengarnya. Namun kali ini Zahra membiarkan-nya.


“Ya sudah kalau begitu kamu istirahat yah.. Besok kakak kesana. Salam untuk Faza.. Kakak tutup ya..”


“Ya kak..”


“Terimakasih untuk semua yang kau berikan padaku Tuhan.. Aku akan berusaha menjaganya dengan baik...” Lirih Zahra dengan kedua mata terpejam.


-------


Ditempat lain Fadly dan Akbar sedang sibuk keliling mall. Mereka berdua terlihat tidak menenteng apapun. Namun wajahnya terlihat kebingungan campur frustasi.


“Bukanya katanya kamu kenal Zahra dari sekolah Ly, masa kamu tidak tau apa yang Zahra suka?” Tanya Akbar dengan helaan napas pelan.


Fadly berdecak. Fadly memang sudah mengenal Zahra bahkan jauh sebelum Zahra bersama dengan kakaknya Faza. Namun Fadly juga tidak begitu tau apa saja yang Zahra suka. Selain karena gaya hidup Zahra yang memang sederhana sejak dulu, Zahra juga bukan wanita yang suka pamer ini itu pada teman teman-nya. Zahra selalu apa adanya. Itu yang membuat Fadly tidak bisa menebak apa yang Zahra inginkan.


“Ya tapikan aku sama Zahra cuma teman pah. Aku nggak tau apa yang disuka ataupun yang tidak disuka Zahra. Yang aku tau hanya Zahra perempuan yang baik. Itu saja.” Jawab Fadly.

__ADS_1


Akbar berdecak mendengarnya. Akbar benar benar bingung sekarang. Akbar ingin memberikan sesuatu yang istimewa dihari ulang tahun menantu pertamanya itu. Tapi Akbar tidak tau sedikitpun apa yang disukai oleh Zahra.


Deringan ponsel dalam saku celana bahan warna hitamnya membuat Akbar segera merogoh dan meraih benda pipih itu. Akbar menghela napas frustasi. Sinta sudah menelpon-nya lebih dari tiga kali.


“Siapa pah? Mamah lagi?” Tanya Fadly yang langsung bisa menebak dengan tepat.


“Iya..” Jawab Akbar kemudian segera mengangkat telepon dari sang istri.


Sedang Fadly, dia hanya diam saja sambil mengedarkan pandangan-nya mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa Fadly dan Akbar beli sebagai kado ulang tahun Zahra.


“Halo mah...”


“Papah dimana?”


Akbar memejamkan kedua matanya. Pertanyaan Sinta masih saja sama. Padahal Akbar sudah mengatakan dirinya sedang sibuk karena masih ada yang harus dikerjakan. Jawaban bohong memang. Tapi kebohongan itu terpaksa Akbar lakukan karena Akbar tau Sinta pasti akan sangat marah jika tau Akbar sedang mencari kado bersama Fadly untuk diberikan pada Zahra besok.


“Eemm.. Papah sudah mau pulang mah..” Jawab Akbar pelan.


“Ya sudah. Hati hati. Mamah tunggu ya..”


“Ya mah..” Balas Akbar sebelum menyudahi telepon tersebut.


Akbar menghela napas. Pria itu benar benar bingung sekarang. Akbar ingin menebus kesalahan-nya dulu yang tidak merestui hubungan Faza dan Zahra dengan berbuat baik pada Zahra. Tapi bahkan untuk memberikan kado ulang tahun saja Akbar tidak tau harus memberikan apa.


“Jadi...”


Akbar tidak meneruskan ucapan-nya begitu menyadari Fadly sudah tidak ada lagi bersamanya. Akbar langsung mengedarkan pandangan-nya dan menggeleng ketika mendapati Fadly yang baru saja masuk kedalam sebuah toko tas ternama.


Karena penasaran Akbar pun akhirnya menyusul Fadly. Akbar akan mencari alasan lain nanti jika Sinta kembali menelepon-nya.


“Kamu mau beli tas Ly?” Tanya Akbar setelah berada disamping Fadly didalam toko tersebut.

__ADS_1


“Kita kan nggak tau Zahra sukanya apa pah. Setau Fadly perempuan itu sangat suka sekali dengan tas. Kita coba saja, siapa tau Zahra suka.” Ujar Fadly.


“Papah setuju kali ini.” Senyum Akbar menganggukan kepalanya setuju.


__ADS_2