
Faza benar benar merasa kesal karena kehadiran Loly. Apa lagi melihat tingkah mamahnya yang begitu sangat mengakrabi Loly dan terlihat sangat menyayangi juga memanjakan Loly.
“Hhh.. Giliran sama menantu sendiri kaya sama musuh. Sama anak temen kaya ke anak kesayangan. Dasar orang tua.”
Faza menggerutu sambil melangkah berlalu dari ruang keluarga tidak tahan melihat kedekatan mamahnya dengan Loly.
Faza mendudukan dirinya dikursi panjang diteras samping rumah. Pria itu menghela napas kemudian menyenderkan santai punggungnya di sandaran kursi.
Merasa bosan, Faza pun merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponsel berkesing hitam miliknya.
“Zahra pasti belum selesai kerjanya.” Gumam Faza sambil membuka pola yang menjadi kunci ponselnya.
Bingung harus apa dan bagaimana, Faza pun memilih melihat lihat photo photo Zahra yang sejak dulu diam diam Faza koleksi. Dari photo manis Zahra sampai photo jelek Zahra saat tidur dengan mulut terbuka.
Faza tertawa sendiri. Berbagai ekspresi istrinya benar benar membuatnya tidak bisa untuk menahan tawanya.
“Itu istri kamu ya mas?”
Pertanyaan tiba tiba Loly membuat Faza langsung menegakkan kepalanya. Faza langsung mematikan ponselnya dan menatap tidak suka pada Loly yang menurutnya begitu genit dan sok manis didepan mamahnya.
“Namanya Zahra ya... Nama yang cantik, pasti orang nya juga cantik.”
Loly mendudukan dirinya disamping Faza tanpa meminta izin lebih dulu.
“Dia beruntung banget karna bisa memiliki kamu mas.”
Faza tersenyum sinis. Faza merasa Loly bukan wanita yang apa adanya.
“Tidak juga. Justru kebalikan-nya. Aku yang beruntung karna bisa memiliki dia.”
Faza membalas sinis apa yang Loly katakan. Faza juga tidak buta. Loly jauh lebih segalanya dari Zahra. Tapi apa yang dimiliki Zahra belum tentu dimiliki oleh Loly, yaitu kejujuran dan sikap yang apa adanya. Tidak pencitraan seperti Loly.
“Tapi mas.. Banyak orang bilang kalau restu kedua orang tua itu juga restu dari Tuhan. Sementara hubungan kamu dan dia bahkan om dan tante tidak memberi restu. Apa mas yakin bisa bahagia dengan ketidak restuan om dan tante?”
Mendengar itu Faza langsung menoleh. Faza menatap Loly dengan pandangan sinisnya.
“Kedua orang tuaku bukan tidak merestui. Tapi belum merestui.” Tekan Faza.
Loly mengangguk dan tersenyum.
“Aku harap juga begitu, mas.”
__ADS_1
“Asal kamu tau Loly, aku sepakat menikah dengan Zahra bukan tanpa alasan. Bukan juga karna kami tidak perduli dengan restu. Tapi karna kami saling mencintai dan ingin memiliki hubungan yang baik. Baik dimata orang lain juga baik dimata Tuhan. Ngerti kan?”
Loly mengangguk lagi. Senyuman-nya terus menghiasi bibir pink nya.
“Ya mas. Aku paham. Mana mungkin ada orang tidak saling mencintai kemudian sepakat menikah. Kalaupun ada, salah satu dari mereka harus berusaha keras bukan?”
Faza enggan membalas. Faza merasa Loly bukan wanita yang baik.
“Kalian disini ternyata. Mamah cariin juga. Lagi ngobrolin apa sih? Kok kayaknya serius banget.”
Sinta muncul dari dalam dan tampak begitu bahagia melihat Faza dan Loly duduk dikursi yang sama.
“Hanya ngobrol ringan tante. Mas Faza sangat pandai dalam segala hal. Dia juga pintar.”
Sinta tertawa mendengarnya.
“Tentu saja sayang. Anak siapa dulu, Om sama tante.” Bangga Sinta.
Faza melengos merasa jengah dengan tingkah keduanya. Loly yang sok baik dan manis, dan mamahnya yang terlalu lebay dan memanjakan Loly.
“Ah ya Faza, tadi supirnya Loly pulang dulu dan tidak bisa menjemput lagi karna harus mengantar mamahnya Loly ke bogor. Kamu tolong nanti anterin Loly pulang yah.. Mamah nggak tega kalau Loly harus pulang sendiri naik taxi. Takut terjadi apa apa dijalan.”
Faza protes dan tidak mau mengantar Loly pulang karna harus menjemput Zahra ketempat kerjanya pulang nanti.
“Emm.. Nggak usah tante nggak papa Loly naik taxi saja. Loly sudah biasa kok kemana mana naik taxi.”
“Tuh kan mah.. Loly itu sudah biasa mandiri. Nggak usah terlalu manjain dia lah.. Kan dia bukan anak kecil lagi..”
Sinta mendelik kesal pada Faza yang menolak keinginan-nya.
“Enggak sayang, kamu nggak boleh pulang sendirian. Tante nggak mau kamu kenapa napa. Faza tolong anterin ya sayang. Mamah minta tolong banget sama kamu kali ini.”
“Mah tapi...”
Faza bangkit dari duduknya hendak protes lagi namun ucapan-nya menggantung ketika Sinta menatapnya dengan tatapan penuh memohon.
“Ck, ya udah iya..” Kesal Faza mengalah.
Loly menatap Faza dengan tatapan merasa tidak enak hati.
“Mas, maaf aku ngerepotin kamu.” Katanya pelan.
__ADS_1
Faza tidak menjawab dan berlalu begitu saja meninggalkan Sinta dan Loly diteras samping rumah. Penolakan-nya diremehkan oleh mamahnya sendiri.
Faza hanya diam saja saat Sinta menuntun Loly didepan-nya. Faza yakin sebenarnya supir Loly bukan sibuk mengantar mamah Loly ke bogor. Tapi memang mamahnya lah yang beralasan atau mungkin memang Loly yang berbohong. Entahlah, Faza tidak tau mana yang merencanakan agar Faza mengantarkan Loly pulang. Yang jelas Faza sangat kesal dan tidak suka dengan cara itu.
“Kalian berdua hati hati yah.. Loly, kamu peluk Faza yang erat supaya tidak jatuh.”
Loly tertawa mendengar petuah dari Sinta yang begitu sangat mengkhawatirkan-nya.
“Dan kamu Faza, pelan pelan saja bawa motornya. Takutnya Loly masuk angin kalau kamu ngebut.”
Faza memutar jengah kedua bola matanya. Mamahnya benar benar lebay.
“Ya udah tante, aku pulang dulu ya..”
“Ya sayang.. Sering sering kamu main kesini ya..”
Loly mengangguk dengan senyuman dibibirnya kemudian menyalimi Sinta. Mereka juga bercipika cipiki lebih dulu sebelum Loly naik ke boncengan Faza.
Faza menstater motornya kemudian perlahan melaju di iringi lambaian tangan dari Sinta yang tersenyum bahagia melihat kedekatan Faza dan Loly.
“Mas, aku nggak papa turun didepan kompleks. Aku bisa naik taksi kok. Aku tau kamu tidak mau terlambat menjemput Zahra kan?”
Faza tersenyum dibalik helm full face nya. Ucapan itu yang sangat Faza tunggu tunggu.
“Oke..”
Faza mempercepat laju motornya agar cepat sampai didepan kompleks perumahan-nya. Begitu sampai didepan gerbang keluar masuk kompleks perumahan tempat hunian kedua orang tuanya, Faza segera menginjak rem membuat motornya berhenti.
Loly yang mengerti dengan maksud Faza segera turun dari boncengan Faza.
“Makasih ya mas atas tumpangan-nya.” Ujarnya tersenyum manis pada Faza.
Faza hanya menatap sebentar pada Loly. Faza bahkan sama sekali tidak membuka helmnya dan kembali memutar gas melaju dengan kencang meninggalkan Loly yang terus saja bersikap manis didepan-nya.
Loly menghela napas kemudian menggelengkan kepalanya.
“Faza Akbar.. Kamu membuat aku semakin penasaran. Baiklah mungkin disini aku harus benar benar berjuang..” Senyum Loly menatap Faza yang melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata rata meninggalkan-nya.
Loly mengeluarkan ponsel dalam tas jinjing kecil warna peach nya kemudian segera menghubungi supir pribadinya yang sebelumnya Loly katakan pada Sinta sedang mengantar mamahnya ke kota hujan.
“Pak, jemput saya sekarang didepan gerbang kompleks. Enggak pake lama.” Ujar Loly memerintah kemudian segera menyudahi sambungan telepon-nya.
__ADS_1